
"Zam Ada Budi di luar." Ibu baru saja memanggil Nizam di kamarnya.
NIzam mulai melangkahkan kaki keluar demi menemui sang tamu. Sementara Laela melangkah masuk menyiapkan minuman untuk Nizam dan tamunya.
Di ruang tamu, seorang pria yang hanya berbeda beberapa tahun lebih mudah dari Nizam tengah duduk dengan memangku kedua tangan. Hanya melirik sekali saat mendengar langkah kaki mendekat lalu pandangannya kembali ke bawah.
Wajah pucat, menandakan ia sedang letih, mungkin memang hidupnya kini tengah di bawah.
" Bang tolong aku!" Belum apa-apa matanya telah terlihat tergenang.
Nizam masih diam, perihal masalah pria itu telah diketahui oleh seisi rumah.
"Istriku sakit Bang!" Ucapnya lagi, sesekali tangannya terangkat mengusap kasar mata hingga pipinya, bahkan suara pun telah tercekat di tenggorokan.
Pria itu sedang butuh biaya, demi mengobati sang istri.
Pria yang biasa membatu Nizam menjaga dan memberi makan pakan untuk ayam-ayam Nizam ketika sedang berhalangan. Yang paling lama adalah, ketika Nizam menikah dengan Laela. Pria itu beberapa hari menggantikan Nizam mengurus ayam-ayamnya.
"Sabar, itu semua ujian. Jadi maunya gimana!"
" Aku mau gadaikan kandangku Bang." Berkata dengan sangat pelan, bahkan sedikit terbata-bata.
Mungkin bagi orang lain itu hanya sebuah kandang ayam biasa. Kandang ayam yang terletak di sebelah kandang ayam milik Nizam.
Namun baginya itu adalah tempat di mana ia mengais rezeki demi menyambung hidup seluruh keluarganya.
Lalu apa setelah ini, tanpa kandang ayam.
Ia akan hidup dari mana? Memberikan makan pada keluarga mereka dari mana?
Pria itu tak seperti Nizam yang memiliki pekerjaan tetap selain memiliki kandang ayam.
Di matanya,Nizam adalah seorang yang sangat beruntung dan sedikit berduit. Bapak yang memiliki kebun sayur, dan kandang ayam yang dikelola Nizam. Belum lagi pekerjaan Nizam sebagai pasukan orange yang jelas mendapatkan gaji disetiap bulannya.
Terlebih lagi, mengenal Nizam dengan seluruh kebaikan hati yang dimiliki pria itu, membuat langkahnya menuju ke rumah ini demi mendapatkan pertolongan dari pria baik hati ini, meskipun sangat berat.
Beberapa hari datang, mengutarakan maksudnya, namun tak menemukan Nizam di rumah itu. Ibu pun tak bisa membantu banyak, sebelum meminta keputusan dari Sang putra.
Ibu hanya berusaha mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan kedua pria ini.
"Berapa?"Nizam.
" Dua puluh lima juta Bang!"
" Itupun dokter mintanya tiga puluh limajuta, untuk persiapan. tapi untuk abang Dua puluh lima juta juta saja bang."
__ADS_1
Uang yang sangat banyak untuk mereka, pun dengan Nizam.
" Memangnya istrinya Sakit apa Kak?" Laela Baru saja datang dengan membawa dua gelas teh hangat dan sepiring sukun goreng.
"Stttt."Nizam memandang istrinya yang langsung ikut nimbrung saja.
"Hehehehe," Laela nyengir, rasa penasaran membuatnya mendudukkan diri di sisi sang suami.
" Istriku? Ada benjolan di perut Kak, katanya masih tumor tapi jika terlalu lama tidak mendapatkan penanganan mungkin bisa berubah jadi kanker. bisa semakin sulit diobati."
"Sekarang istriku sedang berada di kota, sambil nunggu duit dari aku."
Kini bicaranya sedikit lebih lancar, mengharapkan Iba dari istri Nizam.
Laela meringis sambil mengusap pelan perutnya. Ia masih Harus banyak bersyukur, dipertemukan dengan seorang pria mapan, dan kini diberi Anugerah oleh Tuhan dengan mengandung benih dari pria itu.
Budi telah menikah lebih dari 3 tahun, namun belum dikaruniai seorang anak penghias rumah tangga mereka.
" Tiga tahun menikah, kami belum di beri keturunan kak. Ternyata kandungan istriku sedang bermasalah." Kembali melanjutkan kata, saat melihat wanita itu mengusap perutmya. Semoga dengan begini, wanita itu semakin iba padanya dan mau membujuk suaminya.
"Aku belum bisa ngasih sekarang, mau ngomong dulu sama orang rumah."Nizam.
" Tapi Bang …?" Belum apa-apa pria itu kembali memohon. " Dokter minta secepatnya."
"Kalau bisa, Aku mau kerja sama Abang. Anggap saja karyawan Bang. Untuk masalah gaji, terserah Abang mau gaji berapa. Tapi aku butuh kerja Bang!"
Pria itu kembali menunduk, bukan perkara mudah memberikan sumber keuangannya pada orang lain.
Di dalam sana, hati pun semakin terasa terkoyak. Memohon belas kasih dengan sedikit menebalkan muka.
Berharap mendapatkan bantuan dari pria baik hati ini.
"Bang!" Laela mengusap pelan lengan Nizam, wajahnya juga terlihat sedih bahkan ingin menangis hanya karena mendengar cerita dari pria di depannya.
"Stttt!" Nizam
"Kalau kamu kerja sama saya, terus istrimu yang di kota, Siapa yang jagain?"
"Sama ibunya Bang,"
Ia kembali mengusap kedua matanya dengan kasar. Sebisa mungkin menahan air mata untuk tak keluar, tapi tak bisa, air dari matanya itu sedikit bandel.
...****************...
"Dia minta dua puluh lima juta."
__ADS_1
Kini mereka berempat tengah berkumpul di ruang tamu demi membahas masalah Budi. Pun dengan bapak yang tak terbiasa berkumpul dengan keluarganya.
"Bantuin aja ya bang, aku takut!" Laela.
"Takut kenapa?" Nizam menoleh menatap wajah istrinya yang memang sedikit meringis.
Wanita itu tengah membayangkan ada benjolan dalam perutnya seperti yang diceritakan pria tadi.
Aduuuh, amit-amit.
"Aku sedang hamil bang."
"Terus?" Nizam mengerutkan keningnya.
Di sana yang sakit kenapa justru Laela yang takut. Wanita itu bahkan tak pernah bertemu dengan istri Budi sekalipun.
"Harusnya kan kita memang banyak bersedekah, membantu yang membutuhkan. Mereka butuh kita, ya sebisanya kita bantu." Laela.
"Tapi ini bukan duit yang sedikit La. Dua puluh lima juta!" Tangan merentangkan jari-jarinya, meski bilangan itu tak cukup dengan yang disebutkan oleh mulutnya.
"Kamu juga sedang hamil, kita juga butuh dana persiapan kamu melahirkan nanti."
"Tapi melahirkan gak akan sampai sebesar itu bang." Laela. Setahunya hanya sekitar satu hingga dua juta untuk dana melahirkan di bidang-bidang, mungkin lebih sedikit jika mereka menggunakan jasa di Rumah sakit dan ditangani oleh dokter.
Tapi ia akan berkorban demi keluarga itu. Tak mengapa untuknya jika harus melahirkan di klinik dan di tangani oleh bidan. Dan untuk masalah kuliahnya, ia tak terlalu pusing. Toh masih ada ayah yang akan membantunya nanti. Ia hanya perlu menyembunyikannya dari Nizam perihal bantuan ayah nantinya.
"Buat jaga-jaga La, kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Kuliah kamu juga."
"Kok abang ngomongnya kayak gitu. Ya doain dong, semoga lahirannya bisa normal dan lancar!" Tangannya melayang menepuk bahu Nizam.
"Bukan doain La, kan tadi abang bilang cuma jaga-jaga."
"Uang yang memang harus keluar, akan tetap keluar. Bagaimanapun caranya, kita tak akan bisa mencegah atau menahannya. Karena itu cara Tuhan membersihkan harta kita."
Ibu kembali mengulang kalimat yang sering Nizam katakan jika mereka kehilangan uang.
Saat dompet ibu dicopet di pasar.
Saat kembalian ibu terjatuh di jalan selepas belanja di warung.
Saat ingatan ibu menyimpan uang sejuta di dalam lemari, tapi saat dihitung hanya ada delapan ratus ribu.
Kalimat itu akan Nizam keluarkan, ditambah, ...
"Sabar bu, nanti akan digantikan dengan yang lebih baik lagi!"
__ADS_1