Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Demam Biasa


__ADS_3

"Eh panas, demam." Nizam baru saja tiba dari masjid, segera membangunkan sang istri untuk salat subuh. Merasakan suhu tubuh sang istri sedikit lebih panas dari dari biasanya.


"La, kamu sakit?"Kembali mengguncang bahu istrinya dengan pelan, "Bangun dulu ya! Salat dulu baru tidur lagi!"


Laela menggeliat mencoba mengobati penggal yang terasa di tubuh.


Sedikit kekuatan Nizam gunakan untuk membantu tubuh sang istri untuk duduk, padahal istrinya itu masih butuh waktu sedikit saja untuk mengembalikan kesadarannya.


Nizam turut duduk di belakang Laela menahan tubuh itu agar tak kembali terbaring merasakan nyaman dan empuknya ranjang mereka.


" Salat dulu ya!" Ajaknya lagi. " Kalau nggak bisa wudhu, tayamum juga nggak apa-apa."


Ucapnya lagi, tak tahu apakah Laela mendengarkan semua ucapannya atau tidak. pasalnya tubuh gadis itu masih terkulai lemas dengan mata yang tertutup rapat.


Heh, gini amat ya punya suami taat agama seperti Nizam, nggak ada toleransi sedikit saja. Andaikan Nizam tahu jika shalat istrinya itu masih sering bolong.


" Aku bantuin bangun ya!" Mungkin sudah tak sabar sebab Laela belum menunjukkan tanda-tanda untuk bangkit dari tidurnya.


Kini tubuh itu telah menjadi beban kedua tangan Nizam, berjalan sambil menggendong Laela yang masih menutup mata menuju ke kamar mandi belakang.


" Mau aku bantuin?" Nizam baru saja meletakkan tubuh itu dengan tegap tepat di depan pintu kamar mandi.


Laela menggelengkan kepala, " Aku mau pipis."


Mendengar gumaman itu Nizam menganggukkan kepala, mulai melepaskan tangan dari tubuh sang istri kemudian mundur beberapa langkah.


" Pintunya nggak usah dikunci!"


Nizam memandang sang istri yang berlalu di depannya dengan wajah yang masih basah, tangan gadis itu meraba-raba dinding yang ia lewati.


Nizam kembali ke kamar saat yakin Laela telah menyelesaikan salat subuhnya, mendapati sang istri yang masih terbungkus mukena terbaring di atas Sajadah Panjang.


Kembali Nizam membopong tubuh istrinya membawa ke ranjang. Ada rasa iba terselip di hatinya saat memandang wajah cantik itu kini terlihat pucat.


Laela demam, Pasti karena semalam gadis itu membiarkan bajunya kering di badan. Belum lagi udara dingin dan rintik hujan yang menemani mereka saat pulang menggunakan motor.


Kini ia memiliki waktu yang banyak untuk memperhatikan dengan dalam wajah wanita yang kini telah menjadi makmumnya. Wajah cantik itu terlihat sedikit pucat, terlelap nyenyak dengan tubuh yang sedikit hangat.


Hanya seperti itu, namun entah mengapa ada sakit yang terasa di sudut hatinya. Laela seperti ini karena dirinya.


Sadar atau tidak, wajahnya semakin mendekat bahkan bibir telah mendarat mulus di kening sang istri.


" Bu ada obat?" Nizam mendapati ibu yang berada di meja makan tentunya aku udah menyiapkan sarapan untuknya.


" Obat apa? Buat siapa?" Pergerakan Ibu terhenti.


"Laela demam."


Hah, belum apa-apa Ibu sudah terlihat panik. Segera melangkah masuk ke kamar Nizam demi melihat keadaan menantunya. Seandainya yang sakit ini anak kandungnya mungkin ibu tak terlalu panik seperti ini, cukup diberi obat dari warung, In sha Allah besok sudah bisa main lagi.

__ADS_1


Tapi ini Laela, gadis yang dititip oleh orang tuanya pada keluarganya, tanggung jawabnya mungkin akan berbeda.


" Ya ampun zam, panas ini. Tunggu!" Kembali berjalan keluar kamar dengan langkah cepat.


"Ada Paracetamol tapi tinggal satu." Menyodorkan bungkus obat yang hanya tinggal sebiji itu pada Nizam.


"Tapi Laelanya masih tidur Bu, belum makan juga."Nizam.


" Ya udah biarin aja Laela tidur, kita kompres saja dulu."


"Kamu sudah makan?"


Nizam menggeleng, mendapati istrinya sakit meski hanya demam biasa rasanya mampu menggoyangkan konsentrasinya.


" Makan dulu sana baru ke kandang ayam. Kalau mau pulang jangan lupa beli obat untuk Laela." Ibu mendorong punggung Nizam untuk keluar dari kamar itu, membiarkan Laela melanjutkan istirahatnya.


Hari masih subuh, jam 05.15 Nizam telah beranjak dari meja makan. Sepiring nasi hangat telah tandas berpindah ke dalam perutnya.


Kembali menengok keadaan sang istri yang masih terbaring di kamar. Tangan besarnya kembali diletakkan di kening sang istri sejenak mengganti handuk basah yang tadi ibu letakkan.


Suhu badan Laela belum terlalu berubah.


" Bu aku titip istriku dulu ya!"


"Iya, kayak apa aja titip istri?" ibu, dilengkapi dengan cibiran.


Pukul 07.00 Nizam kembali pulang dengan beberapa rak telur, berlari kecil langsung ke kamar mandi. Tak sampai sepuluh  menit, Ia kembali keluar dengan tubuh yang lebih segar dan basah.


Sat set sat set, masih dengan pergerakan cepatnya Nizam menggunakan baju seragam orange nya, siap untuk pergi bekerja.


Nizam mendekati tubuh sang istri yang terlihat masih nyaman dalam buayan mimpi, menempatkan tubuhnya duduk di sisi tempat tidur. Tangan besarnya mencakup seluruh kening Laela, suhu masih sama, hangat.


"La, bangun dulu! Sarapan dulu baru minum obat." Ucapnya sambil mengguncang tubuh itu dengan pelan.


Gadis itu mengeluh, menggeliat-geliat mencari posisi nyaman, mata masih terpejam, kesadaran pun belumlah datang. Meraba-raba sisi samping mencari sesuatu yang empuk yang bisa dipeluk.


Ada, bukan hanya empuk tapi juga hangat.


Laela menyusupkan tangan diantara lengan dan tubuh Nizam.


Pria itu Hanya berdiam diri menerima semua perlakuan istrinya. Meski saat kedua tangan yang berhasil melingkar di tubuhnya menariknya hingga ikut berbaring.


Laela semakin menyusupkan tubuhnya ke dalam dekapan sang suami, menghirup wangi tubuh Sang suami yang justru semakin membuatnya terlena dalam lelap.


Mengidahkan suara jantung yang bertalu-talu tak menentu akibat perlakuannya itu.


Nizam masih saja berdiam diri, kaku.


Emmm, begini rasanya dipeluk oleh wanita?

__ADS_1


Semalam, Ia hanya menempatkan tangannya di atas pinggang sang istri. Namun pagi ini, istrinya justru membalasnya lebih dari itu. Tubuh menempel dengan sangat erat. Seluruh sisi dan lekuk tubuh bahkan terasa jelas.


"La, bangun dulu!" Nizam masih berusaha untuk tetap mengendalikan diri meski pertahanan semakin lemah saja.


Tangannya terangkat ke atas dan mendarat di kepala sang istri, mengelus lembut dengan lebaran jantung yang semakin tak karuan. Hingga beberapa kali menjatuhkan sayang di pucat kepala Laela yang berada tepat di bawah dagunya.


"Laela, eh,…?"


Ibu yang baru saja masuk, terlihat keki sendiri saat mendapati posisi anaknya dalam keadaan seperti itu.


Merasa dirinya tidak sopan karena masuk ke kamar anaknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Kedua tangan memegang baki berisi sarapan untuk Laela.


"Eh, Laela ngigau Bu." Nizam sama kekinya dengan ibu, mencoba beranjak setelah melepaskan diri dari pelukan Laela. "Dikiranya aku ibunya!"


"Itu biasa kalau lagi panas. Bangunin dulu sarapan baru minum obat, sudah belikan?"


"Ada."


"Laela," Nizam mulai kembali duduk di belakang Laela setelah membangunkan tubuh itu secara terpaksa," Bangun dulu sarapan!"


Laela mengerjapkan mata beberapa kali saat rasa nyaman berganti dengan guncangan di tubuh dan pipinya.


Sedikit rasa malu menyelinap saat memandang dua orang dalam kamarnya yang kini telah memperhatikan aktivitas bangun tidurnya.


Nizam justru tersenyum, membantu duduk dengan meletakkan bantal di belakang punggungLaela.


"Perasaannya gimana? Pusing?"


Laela hanya mengangguk sambil mengucek mata, bahkan nyawanya belum terkumpul dengan sempurna. Terkesiap saat Nizam meletakkan tangan lebarnya memenuhi pada keningnya.


" Sarapan dulu ya baru minum obat!" Nizam.


"Udaaah, kamu berangkat kerja aja, nanti telat lagi. Laela biar ibu yang urus." Ibu sambil menarik Nizam yang justru duduk di dekat Laela, padahal hari semakin beranjak.


Sebentar Nizam memandang Laela yang kini tersenyum menunduk.


" Ya udah aku pamit dulu Bu, titip Laela." Mendekati ibu dengan mengulurkan tangan untuk takzim.


Kembali mendekati Laela dengan membukukan badan dan mencium kening sang istri selalu berpindah ke bibir.


Nizam segera berlari keluar saat menyadari tingkahnya pada Laela di depan ibu.


Dengan langkah cepat, menyembunyikan detak jantung yang kini berantakan saat mengingat hal barusan. Ia telah mencium bibir dan parahnya itu di depan mata sang ibu.


Oooh ya ampunnn, apa yang ia katakan nanti pada Laela sepulang kerja.


Segera memakai sepatu boot-nya, lalu berlari menuju motornya seolah ia ingin menghindari tatapan orang. Sepertinya saat ini ia merasa diperhatikan oleh seluruh penduduk bumi.

__ADS_1


Bahkan bekal yang telah disiapkan oleh ibunya pun, Nizam lupa membawanya.


__ADS_2