
"Motor cuma satu dek!" Nizam dengan lembut namun mampu meredupkan cahaya di mata sang gadis kecil itu.
"Kita juga gak bisa boncengan bertiga. Jauh!" Lanjutnya.
"Kalau tidak sama Abang, Aku harus pergi dengan siapa lagi?" Jwaban lesu sang adik membuat semua terdiam, pun dengan ibu.
Mau jawab apa? Dibesarkan di tengah keluarga yang sedikit paham tentang agama, membuat gadis kecil itu tumbuh dengan membatasi pergaulan dengan pria di luar keluarga.
Selama ini, hanya Nizam sebagai kakak laki-laki yang bisa ia minta bantuan ketika ingin diantar ke sana kemari. Namun sekarang, pria itu telah menikah, jelas takkan sama seperti dulu. Ada Laela yang menjadi prioritas lain Nizam.
Pasar malam, ya jelas diadakan pada malam hari. Lokasi jauh dari kampung mereka, membuat mereka butuh sosok pria yang harus mendampingi ke dua gadis ini.
" Kita bisa pergi bertiga." Ucapan Laela justru semakin mengheningkan suasana.
Seberapa lama mereka hanya tinggal duduk dengan pandangan fokus pada layar tv, namun pikiran yang bercabang. Ucapaan Laela tak tergubris.
"Emang kenapa kalau kita pergi bertiga? Gak boleh?" Laela kembali bertanya.
" Bagaimana caranya? Mau pakai apa juga?" Nizam.
Masa iya pakai motor bututnya? Siap-siap mogok di tengah jalan. Masih bagus kalau ada yang bantuin.
"Motorku, tapi ada di rumah, hehehe." Keki sendiri saat Nizam berbalik menatapnya.
"Atau pinjam motor suaminya Kak Nisa dulu!" Kali iniLaela berbalik ke arah Miyah yang duduk di sampingnya. Sekalian melarikan diri dari pandangan datar suaminya.
" Terus siapa yang pakai?" Nizam
"Akulah, gini-gini aku tahu naik motor."
"Aku yang boncengin Miyah aja. Abang ikut dari belakang!"
Ada nada sombong di dalamnya, perkataan Nizam tadi seolah menyepelekan kemampuan berkendara Laela.
Andaikan pria itu tahu jika dulu ia tahu sepak terjang Laela dalam berkendara seperti apa?
Pulang sekolah, berboncengan dengan dua bahkan tiga orang dengan satu motor hanya karena teman-temannya ingin di antar pulang.
"Masalahnya, ini malam La. Kita pulangnya pasti kemalaman. Jalanan sepi." Nizam.
"Kita nginap di rumahku aja!" Matanya memancarkan binar pengharapan.
__ADS_1
"Aku udah lama gak ketemu ayah sama ibu." Ucapnya kini lesu. "Kamu juga gak pernah nginap di rumahku kan?"
Setelah itu, semua kembali hening. Hanya terdengar suara tv mampu memecahkan keheningan malam itu.
"Ya udah, aku gak pa-pa deh kalau gak pergi juga." Nada rendah dengan wajah sendu itu mulai bangkit dari tempat duduknya. Hal sepele yang mampu membuatnya sedih. Ia tahu jika Nizam telah memiliki gadis lain selain dirinya.
Gadis kecil itu mengalah.
"Dek."
Nizam, tahu jelas kesedihan sang adik, Miyah berhenti melangkah, berbalik menatap sang kakak. "Iya kita pergi bertiga!"
"Caranya?" Miyah.
"Pinjam motor Kak Nisa, nanti biar Laela yang bawa ."
Laela mengangguk kepala keras, semangat sekali gadis ini. Aaaahh, kapan terakhir kali ia naik motor? Sebelum menikah dulu.
"Beneran boleh?" Miyah kembali ke tempat duduknya dengan wajah berbinar.
"Tapi ingat, Kamu jangan ngebut!" Nizam sambil mencolek hidung istrinya.
"Iya, tauuuuu."
Hingga akhirnya hari itu pun tiba. Hari mulai beranjak sore. Miyah telah menyiapkan pakaian yang akan ia gunakan sebentar, sambil menunggu kakaknya pulang.
Sepulang kerja, Nizam bergerak lebih cepat dari biasanya. Kedua gadis itu telah siap. motor kakak iparnya pun telah terparkir di depan rumah. Pasti kedua gadis itu yang menyiapkannya.
"Kamu kenapa pakaian seperti ini?"
Entah apa yang akan terjadi malam ini, karena Nizam memulainya dengan sedikit marah saat melihat penampilan istrinya.
"Kenapa?" Turut memperhatikan penampilannya yang menurutnya biasa saja. Menatap kaki, celana jeans dan kaos oblong, jaket berbahan jeans. Dan ini yang paling pentin, ia telah menggunakan jilbab seperti yang diinginkan suaminya. Tapi pria itu masih saja protes, kenapa?
"Pakaianmu ketat, La. Ini nempel banget." Mencubit pelan paha Laela, "Terlalu keliatan lekuknya, ganti!"
"Lekuk apaan sih?" Protesnya, dia sudah menggunakan pakaian tertutup.
"Pakai rok Laelaaa!" Nizam.
"Tapi aku gak biasa pakai rok. Gak punya juga!"
__ADS_1
"Kamu bisa pinjam punya Miyah, dia punya banyak." Nizam membalikkan tubuh memandang ke arah pintu kamar sang adik, bersamaa dengan keluarnya pemilik kamar.
Gadis itu jelas bingung saat namanya disebut. Menggunakan kemeja lengan panjang dan kebesaran, dengan rok panjang yang seperti kata Nizam. Lengkap dengan jilbab dan sweater demi menghalau dinginnya malam.
"Aku gak suka kamu keluar dengan pakaian seperti ini. Kamu itu perempuan harus bisa jaga diri, ya itu dimulai dari penampilan. Kamu harusnya bisa menutup diri dari pandangan pria di luar sana. Contohi Miyah! Nizam.
"Ga muat. Tubuh kita beda." Laela sudah berkaca-kaca. Padahal tadi dia sangat semangat dan antusias menunggu Nizam pulang kerja.
Entah mengapa rasanya ada yang tercubit dalam dada. Nizam seolah membandingkan dirinya dengan Miyah.
"Sssstttt."
Ibu menengahi. Ruang makan itu tiba-tiba memanas oleh kedua orang suami istri. "Pakai yang ada dulu!"
"Eh, jangan nangis, nanti cantiknya hilang!" Ibu mulai menyentuh pundak menantunya. "Minum dulu, biar enakan jangan lupa cuci muka!"
Laela berlalu, mungkin memang dia butuh air dingin demi menyejukkan hatinya.
Selepas kepergian Laela ibu kembali mendekati Nizam, menepuk pundak putranya.
"Istri adalah tulang rusukmu yang bengkok. Butuh diluruskan tapi pelan-pelan."
"Mungkin kamu tidak suka dengan cara berpakaian Laela, tapi tidak bisa jika langsung mengubahnya seperti yang kamu mau. Laela juga punya kebiasaan dan kesukaan yang mungkin tidak kamu terima, tapi masih bisa dirubah kok."
"Merombak Laela, selain membutuhkan kesabaran ekstra, juga butuh dana karena harus mengganti pakaiannya. Sementara kamu juga masih harus mengeluarkan uang banyak demi kuliahnya kan?"
"Jangan terlalu dipaksanakan, pelan-pelan saja!"
"Ingat juga perasaan Laela, dia bisa saja beralih membencimu kalau kamu terlalu keras mendidiknya."
" sudah sana, bujuk istrimu!" Ibu mulai mendorong pundak Nizam.
Mendapati Laela di dapur Tengah mengusap pipinya,Nizam merasa sedikit bersalah. Mungkin memang benar kata ibu, dia terlalu keras dalam mendidik Laela yang memang baru saja masuk dalam kehidupannya.
"Kamu nangis?" Tanya dengan kedua tangan telah berada di pundak Laela, gadis itu masih menunduk, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Maaf yah!" Nizam menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, berikut usapan lembut menenagkan di kepala sang istri.
"Udah, jangan nangis lagi! Benar kata ibu, kamu jelek kalau nangis!" Kini kedua tangannya kini telah mencakup kedua pipi sang istri, mendongakkan demi menatap wajah sendu itu.
Kecupan mendarat ke mata, pipi lalu bibir ,"Ayo ah, nanti kemalaman."
__ADS_1
Mau tidak mau Laela menurut, menyimpan sedihnya. Toh Nizam juga sudah minta maaf padanya.