Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Hamil


__ADS_3

" Ibu mana Zar?"


bocah yang baru usia 7 tahun itu kini tengah duduk di depan TV, menonton film kartun kesayangannya sambil menyiangi kangkung untuk sebentar dimasak oleh sang Bunda sebagai santapan makan siang mereka.


di dekatnya juga tergeletak wadah yang berisikan bawang merah dan bawang putih untuk Iya bersihkan setelah ini.


bocah pria ini Benar menjadi sandaran sang Ibu ketika mereka hanya hidup berdua di sini. membantu segala jenis pekerjaan yang mampu ia kerjakan.


Izzar berdiri demi mendengar suara berat itu. segera beranjak dan berlari mendekati sang paman yang telah berdiri di ambang pintu.


" ada di kamar Om." ucapnya sambil memeluk pria yang berstatus sebagai kakak dari ibunya.


" ngapain?"


tanpa dipersilahkan terlebih dahulu itu kini Mansyur telah masuk ke dalam rumah kecil itu.


" masuk Budi!" yang justru mempersilahkan pria lain turut masuk.


Budi ikut Duduk di samping Mansyur setelah meletakkan 5 rak telur yang telah tersusun di sisi tembok.


" Ibu ngapain di kamar?" Mansyur kembali bertanya.


" tadi nelpon sama ibunya Ridwan. Terus Ibu lanjut nelpon ke kamar."Izzar kembali duduk meraih pisau kecil menyelesaikan tugasnya.


Mansyur berdiri lalu mulai melangkahkan kaki mendekati satu-satunya kamar yang ada di rumah ini. mengetuk perlahan demi memberitahukan sang pemilik kamar tentang keberadaannya.


"La, Kakak datang La!" ucapnya di balik pintu. sejenak dia terdiam dengan pikiran yang menerka-nerka.


beberapa saat ia tak mendengarkan jawaban, membuat perasaan ya kini diliputi dengan rasa cemas.

__ADS_1


memasang Indra pendengarannya, melekat pada pintu kamar. Samar ia menangkap suara Isak terdengar dari dalam.


ia tertunduk lemas.


adiknya kembali menangis, dan jelas saja itu pasti karena mengingat suaminya yang tak tahu kabarnya hingga sekarang.


Mansyur bergerak pelan, buka handle pintu lalu kembali menutupnya.


Sebenarnya masih ingin mengetuk pintu, namun keberadaan Budi di antara mereka membuatnya segan untuk musik adiknya secara terang-terangan.


di sana telah nampakLaela yang duduk bersimpuh di lantai sementara tubuhnya bersandar di sisi ranjang.


tangan bertugas membekap mulut demi meminimalisir suara tangisnya agar tak terdengar oleh sang Putra.


Mansyur yang kini tengah duduk di atas ranjang pun tak ia sadari kedatangannya. terlalu jauh tenggelam dalam -kubangan kesedihan.


Meskipun begitu, Iya tak ingin air matanya ditampilkan di depan sang anak lagi.


" hamil!"


Ucap Laela dengan sangat Lirih. bahkan Mansyur harus memaksakan Indra pendengarannya hanya untuk mendengar satu kata itu.


di sini Mansyur baru menangkap posisi adiknya itu yang memegang ponsel di telinganya. sementara satu tangan terulur di atas ranjang Tengah memegang sebuah benda pipih panjang yang ia ketahui sebagai alat tes kehamilan.


"Laela." dengan suara yang sedikit tegas membangkitkan kepalaLaela.


" Nelpon siapa lah? Siapa yang hamil?"


" Kak," selanjutnya hanya suara tangis yang kini tengah mati-matian Laela redam namun percuma.

__ADS_1


Saat mendapatkan sandaran yang begitu kokoh,Laela justru kembali tenggelam di dalam tangis dan sesaknya dada.


"La, Siapa yang hamil La?" tanyanya kembali. Meskipun jawabannya sebenarnya telah ada namun sebisa mungkin iya justru munafik kata hatinya ini.


Bagaimana jika benar adiknya ini sedang hamil? Tanpa Suami? dan lagi harus berada jauh dari keluarga.


Laela memilih menenggelamkan wajah dalam pangkuan sang kakak. tak usah menjawab, rasa semuanya telah jelas.


kabar bahagia ini justru bersanding dengan kepedihan yang teramat dalam.


pria itu pun bingung harus merasa bahagia atau justru sebaliknya.


meraih telepon genggam yang baru saja diletakkan sembarang oleh sang adik. masih tersambung, dengan suara yang tak henti memanggil dari ujung sana, karena Laela kini sudah tak bersuara lagi.


"Laela, kamu nggak papa kan?" suara wanita yang berada di sana.


"Nisa?" tebaknya pasti. Laela telah mereka bercerita ini pada kakak iparnya melalui telepon.


"Mansyur? Ya ampun syukurlah!" hanya dengan mendengar suara itu,Mansyur yakin di sana pun sama terpukulnya.


suara yang terdengar kelegaan, namun kembali tenggelam dengan isak tangis.


Membiarkan Laela menangis dalam pangkuannya, berharap setelah ini adiknya bisa menjadi lega setelah menumpahkan segala kesedihannya.


niat hati membawakan motor milik Laela, Mansyur justru membawa kedua ibu dan anak itu pulang ke kampung halamannya.


membiarkan Laela duduk di sampingnya yang kini tengah berada di balik kemudi. kali ini Mansyur seolah memberikan waktu yang lebih banyak pada Laela sendirian.


Menikmati pemandangan dari jendela kaca pintu mobil.

__ADS_1


sementara Izzar diarahkan untuk duduk di di kursi penumpang Tengah bersama Budi yang tadi bersedia membawa motor milik Laela dari kampung.


pria itu tak bersuara, ternyata telah tertidur di bangku belakang. pasti lelah setelah perjalanan jauh.


__ADS_2