Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Kenyang Oma


__ADS_3

Oma mempercepat langkahnya hingga masuk ke arah sekolah. Tadi pagi Ninis ijin untuk tak bisa menemani Meidina hingga selesai jam sekolah. Distypun mengikuti ibunya mendatangi rumah sakit, tempat neneknya di larikan.


Jam sekolah telah usai, bahkan kelas-kelas ataspun telah kosong, ia lupa jika Meidina sendirian.


Sampai di sekolah, hanya mendapati seorang pria paruh baya yang baru saja mengunci ruang kelas. Sesegera mungkin wanita itu melangkah.


"Pak, pak, cucu saya mana?" Tanyanya dengan napas yang tersengal-sengal.


BUkan hanya karena ia harus sedikit berlari, tapi perasaan yang kali ini jauh dari kata tenang.


Segala pemikiran buruk telah beterbangan di atas otaknya.


DI mana cucu berada saat ini?


Bagaimana keadaannya?


Merajukkah gadis kecilnya itu?


" Loh kok?" Sejenak pria itu terlihat bingung. Sekolah hanya tinggal dirinya sendiri, dan ia tak terlalu menghapal para penduduk sekolah ini.


" Namanya Meidina, kelas 1-B. Murid pindahan, baru satu minggu lebih sekolah di sini."


" Oooh iyaaa." Raut lega langsung terlihat di wajah keriput itu. " Ada bu, ada di rumah Bu Laela." Tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Tadi sempat titip pesan kalau ada yang cari atas nama itu, langsung ajak ke rumah saja. Begitu katanya bu."


" Di mana?" Oma.


" Di belakang bu, mari saya antar." Pria itu mengulurkan tangannya sambil memulai langkah.


" Pasti tadi nangis cariin saya yah pak!"


"Iya bu, memang tadi nangis, tapi aman waktu dibujuk sama bu Lela."

__ADS_1


Mereka mulai berbelok ke arah belakang gedung sekolah, hingga menemukan sebuah pintu kecil yang diyakininya sebagai sebuah rumah.


Dari dalam sudah terdengar suara-suara, sedikit gaduh namun ia masih bisa menangkap suara sang cucu.


Pintu diketuk oleh pria tadi hanya sebentar, kemudian terbuka sedikit menampakkan Laela yang mengintip lalu tersenyum saat melihat mereka.


"Oooh omanya Meidina yah bu. Silahkan masuk!" Laela telah mengenal sosok wanita yang sering menemani murid pindahan itu.


Saat Laela membuka pintu rumahnya lebar-lebar, telah nampak tiga orang yang yang duduk melantai sambil menghadap pada hidangan makan siang. Dan salah satunya adalah cucu yang ia cari keberadaannya. Dan,...


Anak lelaki itu.


Laela mampu menangkap arah pandangan oma Meidina itu, hingga iapun sedikit mengerti tentang kekhawatiran wanita itu. Tahu jika Meidina dekat dengan putranya.


" Dia anak sulung saya bu, namanya Izzar dan ini anak bungsu saya sekelas dengan Meidina."


Oooh tertanya mereka adalah anak guru!


Sedikit tenang kala mendengar pernyataan itu. Setidaknya ia tak perlu lagi takut dengan asal usul orang yang dekat dengan cucunya.


"Oma kemana sih? Aku udah pulang dari tadi tapi gak ada orang. Disty juga udah pulang duluan." Berucap dengan mulut yang terisi penuh. Lumeran kecap sudah terlihat di sudut bibir mungilnya.


Tadi ia memang sempat menangis, kala menyadari dirinya sendiri. Tak ada Disty, tak ada Bi Ninis dan tak ada oma.


Rasanya menyesal juga pernah menyuruh omanya menjauh darinya. Tapi ia juga tak ingin ditinggalkan seperti ini.


"Maaf bu, makanannya seadanya." Laela menyodorkan piring kosong ke arah oma.


Sungguh, Ia tak terlalu berharap oma menerima, mengingat saat ini memang hanya ada sayur dan lauk-pauk seadanya. Ikan goreng dengan beberapa telur mata sapi yang telah diberi kecap manis.


Jangan lupakan penampilan oma yang tak seperti orang-orang dari kalangannya.


" Ngak pa-pa saya menunggu di sini saja!" Tolak oma secara halus. Ia hanya tak ingin menjadi beban tambahan untuk bu guru ini, cukup sang cucu saja. " Cucu saya diberi makan saja, saya sudah merasa tak enak. Maaf jika cucu saya meropotkan bu guru!"

__ADS_1


"Emmm, boleh saya duduk di sini!"


Sedari tadi suasana sungkan itu membuat Laela lupa mempersilahkan tamunya untuk duduk.


" Oh, maaf bu, saya lupa, hehehe. Silahkan duduk dulu!"


Terpaksa wanita ini tak menyambung makan siangnya, lebih memilih duduk mendampingi tamunya yang sedang melihat-lihat keadaan rumah dinasnya yang begitu sederhana.


" Maaf rumahnya hanya seperti ini." Ucapnya sungkan. Ruang tamu yang sekaligus dijadikan ruang keluarga. Sekalian mereka makan sambil menikmati tayangan televisi.


"Kak, minta telornya lagi satu!"


Suara imut itu mengalihkan konsenterasi dua wanita dewasa itu.


" Dina makannya nanti dilanjut di rumah aja yah!" Semakin malu rasanya oma saat ini. Sudah dikasih makan, eh cucunya malah minta nambah.


" Gak pa-pa kok bu. Asalkan anak mau makan saja, kan gak pa-pa." Laela.


"Maaf jika cucu saya selalu merepotkan bu guru!"


Belum lagi sikap manja sang cucu yang ditujukan pada anak lelaki itu, semakin membuat oma merasa tak enak.


Rasanya ingin membalas kebaikan bu guru ini, tapi bagaimana?


Apakah jika ia menyodorkan amplop, buru ini tak kan tersinggung?


Ia masih memikirkan bagaimana cara membalas budi Laela saat cucunya sudah berdiri di sampingnya.


"Kenyang oma!"


Sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit berisi.


Haddeh, disuruh lanjut makan di rumah saja, nyatanya Meidina makan sampai perutnya benar-benar penuh.

__ADS_1


Seketika itu pula oma rasanya ingin menyembunyikan gadis kecilnya ini ke dalam ketiaknya.


__ADS_2