
Salsabila Islamiyah, si adik bontot pun turut hadir, setelah meminta libur khusus kepada Ustadzah di pesantren.
Di sana Gadis itu duduk sambil mamangku satu kotak berisikan alat make up seserahan untuk calon kakak iparnya.
Mengenakan gamis longgar dengan hijab terulur hingga ke perut. Wajah hanya beralas bedak dengan merah muda di bibir hasil karya Kak Nisa.
Dan penampilan sederhana itu, justru mengingatkan Nizam pada sosok yang sempat merebut hatinya namun tak dapat dia miliki.
Ck, Nizam berdecak pelan. Harusnya dalam situasi seperti ini ia tak perlu lagi mengingat gadis itu.
Nur Laela binti H. Muhammad Annas, nama yang harus ia sebut sebentar pada saat ijab kabul.
Duduk di sebuah meja kecil di apik oleh Bapak dan Pak RT. Di depan telah ada Pak penghulu dengan berkas-berkas yang diletakkan di atas meja bertaplak putih.
Basmalah beberapa kali dikumandangkan meski dalam hati. Mencoba menata perasaan gugup yang sedari tadi menghinggapi.
Dengan satu tarikan nafas Iya telah berhasil menghalalkan Nur Laela sebagai pendamping hidup dunia akhirat.
Sedikit melirik ke arah pria yang telah menjadi Ayah mertuanya, tersenyum sambil mengucap Hamdalah. Mungkin merasa lega salah saat tanggung jawabnya berpindah pada pria yang ia anggap tepat.
"Sungkeman dulu!"
Sebuah uluran tangan dari seseorang yang mengenakan kebaya seragam keluarga pengantin wanita, mengarahkannya pada keluarga Laela.
Ayah, ibu, dan kakak-kakak Laela.
Hanya menebak saja, karena hanya ayah, ibu dan kakak laki-laki Laela yang ia tahu.
"Kamu udah menikah, udah dewasa. Jangan menyusahkan suamimu! Harus bangun cepat, buat masak!"
Kalimat dari kak Mansyur mampu mencairkan suasana yang tadinya haru.
Bahkan ibu mertua mengusap pipi yang basah sambil tersenyum.
Duduk di pelaminan setelah acara sungkeman yang dihiasi dengan tangis.
Ck, Mungkin memang begitu, saat satu kebahagiaan tercipta Tak jarang menimbulkan tangis Haru.
Sempat menatap keseliling ruangan sebelum benar-benar duduk. Memandangi ruangan yang hias dengan dekorasi-dekorasi yang sangat cantik. tenda yang terpasang di luar pun tak kalah cantiknya.
Dengan kain menjuntai yang disimpul sedemikian rupa menyerupai pita. Dan bunga-bunga yang tertata cantik di beberapa bagian hasil karya tangan-tangan profesional.
Jauh berbeda dengan tenda yang terpasang di depan rumahnya, hanya menggunakan bantuan para Tetangga.
__ADS_1
Bunga imitasi yang terpajang pun tak sebanyak dan tak seindah di ruangan ini.
Memandang ke samping, pria paruh baya yang ia ketahui sebagai ayah mertuanya mengenakan jas semakin menambah aura wibawa.
Di sampingnya, wanita paruh baya yang ia ketahui sebagai ibu mertuanya juga tampil dengan sangat memukau.
Mengenakan kebaya yang dipenuhi dengan manik-manik yang menyilaukan mata.
Di samping kirinya, Laela yang tak hentinya tersenyum pada para tamu yang datang menyelami.
dengan make up ala korea, sederhana namun sangat cantik.
Membuat hati semakin kecil saat menyadari ia berada dikelilingi keluarga berada.
Membandingkan diri dengan keluarga istrinya ini, bagai bumi dan langit.
Mertua yang bekerja di instansi pemerintahan, jelas jauh berbeda dengan ibu dan bapaknya yang hanya seorang petani biasa.
Dan di titik ini, Nizam merasa minder sendiri.
Bagaimana bisa gadis seperti Laela membuat drama memalukan hanya untuk menikahi seorang pria yang berasal dari keluarga biasa sepertinya. Rasanya tak sebanding.
Baginya, Laela memiliki sebuah modal cukup untuk memiliki seorang pendamping hidup yang jauh lebih baik daripada dirinya.
Lalu apa nanti yang bisa ia banggakan di depan keluarga istrinya ini?
Nizam terperanjat kaget saat menyadari tangan Laela menyusup masuk ke lengannya, memeluk dengan begitu erat sementara tangan sebelah wanita itu melambai ke atas.
Menatap Laela dengan pertanyaan yang ia pendam, namun wanita itu sepertinya terlihat sangat bahagia.
Mengikuti arah pandang Laela, rombongan anak ABG baru saja memasuki area pesta, pasti teman-teman Laela.
Dan benar saja, beberapa dari rombongan itu turut melambaikan tangan dengan senyum sumringah sambil berteriak histeris.
"LAELAAAAAAA,...."
Teriakan itu memecahkan keramaian pesta.
"Ya ampunnnnn, gak yangka banget! AAAAAAA."
Sepertinya mereka lupa atau tak mau tahu dengan tatapan tamu-tamu yang lain.
Berjalan dengan sedikit lebih cepat, beberapa dari mereka bahkan saling dorong saat hendak naik ke pelaminan. Laela semakin mengeratkan dekapan tangan Nizam, tangan satu terulur dengan jari-jari membuka dan menutup.
__ADS_1
"Cantik banget Bestiiiieeeee! AAAAAA."
Pelukan satu persatu dengan teriakan yang masih terdengar histeris.
"Suamimu ganteng banget!"
Kalimat lirih yang masih dapat Nizam tangkap. Pria itu hanya meringis setengah tersenyum. Berada ditengah-tengah anak ABG yang alay bin lebay membuatnya serasa ingin menenggelamkan diri saja.
Musik dangdut yang turut dihadirkan untuk memeriahkan pesta ini terhenti saat suara Murottal dari masjid kampung telah diperdengarkan.
Nizam berjalan mendekati ayah mertua yang masih berdiri di samping kursi pelaminan.
" Shalat dulu!" Bisiknya di telinga ayah.
Sedikit tercengang, Ayah melirik pada deretan kursi yang telah dipenuhi para tamu undangan. Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, jam Shalat hampir bertepatan dengan waktu makan siang.
Para tamu sedang banyak-banyaknya, sebab memang menunggu waktu makan siang dan menantunya ini justru ingin pergi meninggalkan lokasi pesta.
"Bentaran lagi, banyak tamu." Ayah juga sama membisik.
"Sebentar lagi adzan yah, belum juga ganti bajunya." Nizam masih membisik.
Ibu dan Laila melirik ke arah 2 pria yang sedang bernegosiasi itu.
"Shalatnya di rumah aja ya, nggak enak sama tamu." Ayah.
"Kan nggak ada uzur yah? Tamunya pasti ngerti kok, Kalau pria harus salat di masjid."
Ayah menghembuskan nafas panjang, tersinggung juga sih sebenarnya. Dirinya bukan orang yang on time untuk melakukan kewajiban itu.
Dengan berat menganggukkan kepala.
Heh, gini amat yah punya menantu imam? Gak ada toleransi sama sekali.
"Ya udah, sekalian kalian istirahat, sekalian makan siang."
Menunjukkan Laela pada Nizam agar menuntunnya turun dari pelaminan. Tak mungkin rasanya membiarkan putri kesayangannya itu sendirian di sana.
Melepaskan baju pengantin, mulai melangkahkan kaki mengikuti ayah mertuanya yang memilih keluar melalui arena pesta. Sesekali pria itu berhenti pada tamu undangan demi menyapa.
"Saya tinggal dulu, mau antar menantu ke masjid, shalat dhuhur dulu! Sebentar kok!" Ucapnya dengan tersenyum setiap kali singgah di kerumunan tamu.
Dan tanpa disangka, beberapa pria yang belum menjemput santapan ternyata memilih mengikuti mereka menuju ke arah masjid.
__ADS_1
Entah mengapa, ada rasa bangga tersendiri yang terasa saat rombongan mereka bertambah.
Kembali dengan bangga dan kepala tegaknya, ayah mempersilahkan menantu barunya itu memimpin jamaah. Dalam hati terus berkata, " Itu menantu saya."