
Pukul 9.35 pagi.
Suara tangis Bayi melengking di dalam sebuah ruang persalinan. Suara bayi mungil itu bahkan mampu terdengar oleh mereka yang berada di luar ruangan.
Bara bapak kini telah saling berpelukan sambil menepuk pundak sebagai ucapan selamat pada keduanya.
Rasa haru bahagia dan sedih kini bercampur menjadi satu.
Rasa haru dan bahagia yang datang karena anggota keluarga mereka bertambah dengan hadirnya seorang bayi mungil. Dan rasa sedih yang masih saja terus menyambar ketika ingatan mereka pada seorang pria yang hingga kini mereka tak tahu kabarnya.
Anak dan menantu laki-laki mereka yang selalu menjadi kebanggaan keluarga, adalah Ayah dari sang bayi yang sedang menangis di dalam.
Rasa lelah Kini Telah berganti dengan lega.
Ibunya masih setia berada di sisinya sambil mengusap pelan peluh di keningnya. Keringat Laela bercucuran, Ia baru saja melahirkan seorang bayi mungil dan cantik.
" Namanya siapa?"
Sang ibu mertua kembali muncul menyodorkan bayi mungil yang telah dibersihkan kepadanya.
Ah ia lupa mencarikan nama untuk sang bayi. Ia terlalu sibuk menata hati dan menguatkan diri saat tatapan iba sering ia dapatkan dari rekan kerjanya.
Mereka tahu jika Laela tinggal oleh sang suami dalam keadaan hamil muda. Dan untuk sebagian wanita yang pernah merasakan hamil, pasti tahu beratnya itu.
__ADS_1
" Nggak tahu Bu, tanyakan pada bapak saja!"
Selama ini Ia memang selalu suka dengan nama-nama pemberian bapak mertuanya. Terbukti dengan nama sang suami beserta ipar-iparnya selalu saja menjadi kekaguman tersendiri baginya.
Dia pun ingin memberikan penghargaan pada mertuanya sebagai Bapak dari pria yang sangat dia cintai.
Kedua Ibu itu hanya mengangguk saja.
⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️⚘️
Hampir di waktu yang sama meski di tempat yang berbeda. Waktu menunjukkan pukul 10, lebih sedikit.
"Saya terima Nikahnya Sandrina Aprilia Yusuf dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
" Sah!" Suara lantang menyerukan, menandakan sebuah ikatan suci pada sebuah hubungan antara anak manusia perempuan dan lelaki.
Untuk kedua kalinya seorang pria bernama lengkap Fahrezi Nizam duduk sambil menjabat tangan seorang penghulu di depannya.
Pria ini tidaklah kehilangan ingatannya.
Ia masih ingat betul siapa dirinya, apa statusnya dan segala tentangnya.
Namun tetap saja ia tak bisa mengalahkan takdir yang tertera dalam lauhul Mahfudz.
__ADS_1
Sama seperti pernikahan pertamanya, rasanya hambar dan sedikit terpaksa.
Pun dengan kini.
Ia terpaksa harus menikahi gadis yang pernah ia selamatkan dulu, sebab keadaan gadis itu sekarang tak baik-baik saja meski peritiwa itu sudah sedikit lama.
Delapan bulan yang lalu, mereka ditemukan di pesisir pantai oleh penduduk dengan keadaan saling berpeluk@n.
Meski warga setempat telah bersedia merawat gadis itu, namun tuntutan ekonomi yang dialami pada warga membuat mereka berdua malu untuk terus menumpang di rumah warga.
Sandrina menderita kelumpuhan akibat musibah yang mereka alami waktu itu. Hingga kini gadis itu hanya mampu menyeret diri kala hendak berpindah tempat.
Dan kini, Gadis kota yang pernah magang di kampungnya telah sah menjadi istrinya.
Dan Nizam memiliki tanggung jawab pada gadis itu.
Mahar sebuah rumah yang telah di hadiahkan oleh para warga telah Nizam persembahkan untuk Sandrina. Biarlah mereka hidup sesuai dengan kesanggupan keduanya.
Jangan bayangkan tentang rumah bertembok kokoh dengan pilar-pilarnya.
Yang ada hanyalah balok sebagai pengokohnya, anyaman bambu sebagai dindinya dan atap dari rumbia.
Semuanya adalah hasil kerja warga, sebagai ucapan selamat pada pernikahan keduanya.
__ADS_1
Sebegitu hebatnya Tuhan membolakkan kehidupan mereka. Dari yang pernah berkecukupan dan bahagia menjadi kekurangan dibalut dengan kesederhanaan.