
Lembayun senja bergelayut mesra di ufuk barat. Bersama mega-mega menembus bata waktu demi waktu. Menghantarkan hari berganti minggu menanti bulan baru.
Laela memasang senyum manis sambil menanti kekasih hati di balik pintu, tangannya di sembunyikan di belakang tubunya. Berjingkat-jingkat sendiri menepis rasa tak sabar.
Nizam masuk ke dalam kamar dengan tubuh yang lebih segar setelah mandi, mematung memandang Laela saat baru saja membuka pintu kamar.
Ia belum tahu alasan senyum manis yang dipersembahkan Laela padanya, "Kenapa?"
"Aku ada kejutan buat abang." Tangan masih bertahan di balik punggung.
"Apa?"
"Merem dulu!"
Nizam mengikuti perintah memejamkan mata. Keduanya masih berada di balik pintu.
"Buka!"
Perlahan Nizam mulai membuka mata, pandangan di depannya mampu membuat bibir tersenyum lebar.
Laela menengadahkan kedua tangan dengan tiga buah benda pipih di atasnya.
"Kamu hamil?"
Laela menganggukkan kepala keras masih dengan senyum sumringah di wajah. Bukan hanya bahagia, namun mampu memberikan sebuah rasa bangga pada diri sendiri karena bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk Nizam.
"Selamat!" Masih dengan senyuman di wajah Nizam mulai beranjak dari hadapan Laela, membuat gadis itu memberenggut kesal.
Reaksi Nizam hanya seperti itu? Padahal dalam bayangannya Nizam akan memeluknya, menganggkat tubuhnya sambil di putar-putar. Atau setidaknya kalimat pujian atau sayang-sayang, atau apa saja yang bisa membuatnya melayang sedikit saja. Bahkan bertanya tentang Berapa usia kandungan Laela pun, tidak.
"Gitu doang?" Protes juga akhirnya.
Nizam terkekeh, tetap melanjutkan langkah ke lemari demi menyiapkan baju kokonya sendiri.
" Abaaaang?"
"Eitsss, aku sudah wudhu." Menggeser ke samping dengan tangan yang terulur saat Laela mendatanginya. Nalurinya berkata Laela hendak melayangkan pukulan padanya.
"Isssh, gak romantis banget!"
Menghentak, tak bisa ia sembunyikan rasa kesalnya. Lebih memilih ke luar kamar meninggalkan Nizam yang masih tersenyum memandang punggungnya.
"Marah nih ye!"
Sejak tadi Laela telah mendiaminya meski tetap menjalankan kewajiban sebagai istri dengan baik.
Bahkan saat masuk kamar pun,Laela Tak sedikitpun meliriknya atau bahkan mengajaknya masuk.
Laela bahkan hendak tidur membelakanginya, namun kalah cepat karena Nizam lebih dulu menahan pundaknya.
__ADS_1
"Jangan suka ngambek, nanti bayinya juga ikutan ngambek." Nizam sambil mengusap perut Laela lembut penuh kasih sayang.
"Nggak ngambek, Aku ngantuk!"
Alasan yang mampu membuat Nizam kembali tersenyum. Lucu juga ya kalau istri ngambek.
Nizam menundukkan kepala tepat di perut sang istri, meninggalkan kecupan-kecupan sayang tepat di kulit sebelum kembali menurunkan piyama tidur Laela.
Nizam beranjak dari tempat tidur, mendekati meja demi mengambil mushafnya, kembali naik ke tempat tidur, lalu membuka lembaran-lembaran kitab yang baru saja ia letakkan di pangkuannya.
"Kamu tidur aja!" Padahal tangannya kembali menyibak piyama tidur Laela. Usapan-usapan pelembut dari tangan besarnya kembali dirasakan Laela di perut datarnya.
Ck Bagaimana bisa tidur kalau begini?
Nizam mulai membacakan ayat-ayat suci, spesial untuk jabang bayi mereka.
Laela tersenyum, mungkin begini cara Nizam menampakan kebahagiaannya. Padahal Ia masih punya kejutan untuk sang suami yang belum diperlihatkan.
Laela mencoba melawan rasa kantuk demi menikmati perlakuan lembut dari suaminya. Kembali mengerjapkan mata saat mata itu hendak tertutup rapat.
"Sudah?"
Ia masih sempat merasakan hembusan yang sengaja Nizam tiupkan tepat di perutnya sebelum pria itu kembali mendaratkan kecupan lalu menarik turun bajunya.
"Kenapa nggak tidur?" Nizam kembali beranjak demi meletakkan kitab sucinya kembali ke meja.
Tubuhnya di daratkan sempurna di dekat pembaringan sang istri.
" Padahal aku masih punya kejutan buat abang." Laela berkata dengan bibir maju lima centi. Kejutan yang ia anggap besar saja, reaksi Nizam hanya seperti tadi. Kini ia tak terlalu berharap akan reaksi Nizam nanti seperti apa.
"apa?" Nizam melepaskan rengkuhan demi menatap wajah sang istri. Penasaran pasti ada.
Laela bangkit demi mengambil ponsel yang telah disimpan di meja. Sebentar ia terlihat mengutak-atik ponselnya kemudian mengeluarkannya di hadapan Nizam
"Apa?" Nizam mengurutkan keningnya saat menatap layar ponsel itu.
"Ck, aku lulus!" Wajah Gadis itu masih saja memberengkut, Apakah Nizam tidak merasa bahagia dengan semua pencapaian yang ia dapatkan.
" Alhamdulillah!"
"Gitu doang?" Lagi Laela mengerti saat menatap Nizam yang tanpa ekspresi itu. Kesel juga lama-lama.
Padahal Ia bahkan melawan cita-citanya demi mengikuti keinginan Nizam.
"Ya memang harus gitu kan? Bilang Alhamdulillah?"
" Jurusan apa?" Bertanya meski wajah masih datar.
" Prodi Pendidikan Bahasa, Niatnya nanti mau ambil Sastra Indonesia."
__ADS_1
"Kalau lulus mau ke mana?" Jujur ia tak terlalu mengetahui tentang hal-hal seperti ini.
"Aku bisa jadi guru seperti yang kamu mau!" Laela masih berharap mendapatkan sebuah apresiasi dari Nizam.
" Kenapa harus memaksakan diri? Kamu kan punya cita-cita sendiri." Nizam mengeluarkan tangan, menyingkirkan anak rambut yang menghias wajah sang istri.
"Aku nggak mau, masa depanmu berantakan karena terlalu memaksakan diri dengan apa yang tidak kamu sukai." Berbicara selembut mungkin berharap kata-katanya mampu menyentuh relung hati sang istri.
"Tapi aku ingin melakukan semua yang kamu suka."
Pernyataan itu justru membuat Nizam mencibir, " Terus kenapa masih pakai baju ketat?"
" Ih itu kan belum terbiasa, kata Ibu pelan-pelan jangan terlalu memaksakan."
"Hahaha, Tadi katanya ingin melakukan semua yang aku suka. Ck, ternyata cuma gombal." Nizam.
"Isssh, apa sih!"
Plak.
Laela berhasil menepuk pundak sang suami, setidak rasa kesal sedikit tersalurkan.
Sejenak mereka terdiam sambil menikmati pemandangan yang menampilkan wajah pasangan.
Sesekali Nizam mengusap lembut pipi putih halus nan empuk milik sang istri.
"Abang sayang gak sih sama aku?"
Mengulur ingatan ke belakang, rasanya Laela belum pernah mendengar kata cinta atau sayang untuknya dari Nizam.
Meski jujur ia belum siap mendengar jawaban dari pria itu. Bagaimana jika pria itu hanya sekedar menjalankan kewajiban sebagai seorang suami saja? Bagaimana jika memang dirinya tak pernah mengisi hati suaminya.
Padahal yang ia lakukan untuk Nizam sudah sejauh ini. Ia bahkan hamil anak dari pria itu di usianya yang harusnya masih bersenang-senang dengan teman-temannya.
Jangan lupakan pengorbanannya yang mau tinggal di tempat jauh seperti ini! Semua itu jelas hanya karena cintanya pada Nizam. Mungkinkah semua itu terbalaskan? Ia masih ragu sebenarnya.
Pertanyaan Laela membuat pria itu mengerjapkan mata beberapa kali.
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Abang memang gak pernah ngomong cintakan sama aku?" Kini ia menuntut. "Suami harusnya sesekali ngomong kata-kata cinta buat istri biar bisa langgeng dunia akhirat."
"Ngawur! Ajaran dari mana itu?"
Dari pada menuruti kata-kata Laela lebih baik menarik gadis itu masuk ke pelukannya.
Bagaimana bisa kebahagian diukur dengan kata cinta.
Bagaimana pula Nizam bisa menyentuhnya sejauh ini hingga menghasilkan bibitnya yang berkembang dalam rahim istrinya jika tak ada Cinta?
__ADS_1
"Tidur!"