
" La, kamu makan yah!" Annisa kembali muncul dengan sepiring nasi di tangannya.
Laela menoleh sebentar, tersenyum meski terpaksa hanya demi memberitahukan pada kakak iparnya ini bahwa ia baik-baik saja.
Tubuhnya masih tergeletak terbaring di atas sajadah, rasa nyaman saat berada di sini. Badannya di paksa untuk duduk demi menghormati sang kakak ipar. "Aku belum lapar kak!" Ucapnya.
"Trus laparnya kapan?"
Wanita itu ikut duduk di tepian Sajadah milik Laela.
Tangan mulai mengaduk mencampur sesendok nasi dengan sayur dan lauk pauk, kemudian mengulurkannya di hadapan sang adik ipar.
"Makan, nangis juga butuh tenaga." Ucapnya sedikit Ketus, harap dengan ini Laela mau mengikuti perintahnya.
Laela justru tersenyum, dengan tangannya menepis halus sesendok nasi yang telah berada di hadapannya.
" Bentaran Kak, kalau lapar juga ambil sendiri kok."
" Kamu harusnya mengucapkan terima kasih sama kakak. Aku udah rela masak buat kamu tapi nggak dimakan juga!" Anisa terus mengoceh, matanya beberapa kali berkedip-kedip menahan agar air tak tumpah dari sana.
" Iya Kak, Makasih ya udah mau masak buat keluarga aku." Senyum dengan hati yang pilu.
" Mereka juga keluargaku dodol, ibu bapak kamu juga adik iparku. Jadi wajar aku perhatikan kalian!"
" Iya, terima kasih,"
" Ya udah ini makan, anggap saja sebagai ucapan terima kasih ibu kepadaku!" Anisa kembali menyodorkan sesendok nasi ke hadapan Laela.
Dengan sedikit terpaksa, wanita itu membuka mulut mengunyah dengan perasaan hampa.
" Kamu nggak usah kayak gini terus, masih ada Izzar yang harus kamu perhatikan." Kakak iparnya itu kembali mengoceh.
" Aku nggak bisa hadapi dua anak cowok sekaligus," Air mata itu nyata-nyata bisa ia tahan lagi, meluncur dengan bebas membasahi pipi.
" Apalagi, mereka hampir seumuran."
" Bandel!" Hingga kata terakhir harus ia ucapkan dengan sedikit memaksakan diri, sebab terasa tercekat di tenggorokan.
Tangan tetap terulur dengan sendok nasi kehadapan Laela.
Laela tersenyum, air matanya ikut membandel keluar begitu saja. Mulutnya terbuka menyambut sesuap nasi.
__ADS_1
Suara langkah-langkah kecil namun cepat dengan riuhnya menghampiri mereka. Keduanya dengan cepat mengusap pipi masing-masing. Kembali melebarkan bibir menampilkan senyum manis.
Izzar dan Ridwan hampir masuk bersamaan di dalam kamar. Hanya itu pekerjaan mereka bermain, berlari dan melompat ke sana kemari.
" Kamu sudah makan?" Laela pada Sang putra, buah hatinya bersama Nizam, pria yang belum diketahui di mana keberadaannya saat ini.
" Sudah tadi sama Ridwan, aku nambah loh bu!" Ucapnya bangga pada dua porsi yang ia habiskan. Sengaja memamerkannya pada sang Bunda, agar wanita itu tersenyum. Benar saja Laela tersenyum sambil mengusap pelan kepalanya, membuat anak itu semakin bangga rasanya.
Anak kecil yang belum tahu tentang kondisi yang menimpa keluarga mereka. Tentang ayahnya yang saat ini ia ketahui tengah bekerja dan belum pulang sebab membantu kondisi suatu daerah.
Yang ia tahu hanyalah kondisi ibu dan neneknya yang kini tengah sakit di saat yang bersamaan.
Merasa senang, saat tiap malam-malamnya ditemani dengan Ridwan, keluarga terdekat sekaligus menjadi teman dan sahabatnya.
" Bu aku mau nginap di sini lagi ya?" Itu suara Ridwan yang tengah meminta izin pada ibunya.
" Iya boleh, tapi tanya ayah dulu!" Annisa.
" Kata ayah juga iya boleh, tanya ibu dulu! Jadi boleh kan Bu?" Memastikan diri agar tengah malam ia tak dicari untuk pulang.
" Iya boleh tapi jangan bandel, tante lagi sakit!"
" Ibu beneran sakit?"Izzar.
Pertanyaan yang hampir dilontarkan saat bersamaan.
" Iya makanya jangan rusuh, kalian Keluar sana main!"
Kedua tangannya mendorong kedua anak pria itu agar segera keluar dari kamar ini.
Mereka mulai beranjak, saling sikut-mengikut, saling memanggil saat salah satu dari mereka berhenti dan berbalik memandang dua orang wanita dewasa itu.
" Tapi ingat jangan ribut ya!" Lagi Nisa kembali teriak saat suara mulai gaduh dengan langkah kaki-kaki kecil.
" Kamu lihat kan, Izzar saja masih semangat habisin dua piring, hihihihi." Masih sempat terkekeh saat kembali mengulurkan sesuap nasi pada Laela.
"Izzar tanggung jawabmu, bukan tanggung jawabku! Kalau kamu masih seperti ini, justru aku yang bisa stress hadapi mereka."
" Terus gimana Kalau aku stress? Kamu mau anak kamu aku marah-marahin? Nggak mau kan Izzar Aku cubit kalau bandel. Biar nanti aku pukul p@nt@tnya kalau magrib belum mau pulang juga!" Wanita itu marah-marah dengan tetesan air mata yang kembali membasahi pipinya.
Memberikan ancaman-ancaman pada Laela yang ia sendiri tak berani melakukannya.
__ADS_1
Laela tersenyum saat mendengarkan ocehan kakak iparnya. Dia berani bertaruh wanita itu takkan pernah melakukan hal-hal yang baru saja ia utarakan.
Emosi wanita itu mungkin hanya sampai batas marah-marah saja. Tak akan berani melakukan kontak fisik yang bisa menyakiti anak kecil.
Namun mungkin beda ceritanya, jika benar stress menghinggapi.
Laela mulai berpikir, Kapan Anisa akan bosan menghadapi keluarganya ini. Bukankah setiap manusia punya batas kesabaran dan kewajaran. Ia terlalu lama berkubang dalam rasa sedih dan luka yang teramat dalam.
Rasanya ia terlalu banyak menaruh beban pada wanita ini. Melepaskan tangan pada tanggung jawab yang harusnya ia pikul. Ia terlalu banyak membuang waktu bersama sepi, mengorbankan diri larut bersama khayalan.
Tanpa menyadari jika wanita yang berada di hadapannya ini juga turut terluka karena Nizam adalah Adiknya juga.
" Maaf Kak! maafin Laela!" Ucapnya dengan kepala menunduk, rasa bersalah kini muncul dalam hatinya.
Sementara Annisa hanya mengangguk, berharap semangat Laela kembali timbul dengan ini.
" Bu Tante Miyah datang!" Suara teriakan melengking bersama dengan kaki-kaki riuh yang berlari kembali memasuki kamar itu.
Dua bocah itu kembali menampakkan diri dengan hebohnya. Hampir bersamaan dengan munculnya sosok perempuan yang menggunakan kain panjang terusan menutup seluruh tubuh.
"Kak,-" Sapa wanita itu di ambang pintu, segera menghambur pada kedua wanita yang masih terduduk di Atas. Bersimpuh sambil merentangkan kedua tangan, memeluk kedua wanita itu.
" Kak Nizam, hiks... hiks...hiks..."
Semua kata-katanya tertahan begitu saja berganti dengan isak tangis yang terdengar sangat memilukan.
Berniat datang dengan maksud memcari tahu kebenaran tentang kabar yang ia dengar tentang kakaknya sekaligus memberikan semangat dan kekuatan pada kakak iparnya, nyatanya ia justru tak sekuat itu.
Kedatangan adik bontot mereka ini justru kembali menggiring tangis mereka pecah secara bersama-sama.
Sementara di luar, sang suami yang yang memilih bergabung dengan kedua pria lainnya, duduk di ruang tamu. Ketiganya hanya mampu terdiam sambil menikmati isak tangis para wanita yang berasal dari dalam kamar. Sesekali tangan bergerak menghapus lelehan air mata yang keluar tanpa bisa dicegah.
"Kayaknya kita gak bisa tidur di sini Zar?" Ridwan berbisik pada sepupunya, dibalas dengan anggukan kepala oleh Izzar.
Kedua bocah pria itu terdiam berdiri di tempat kala menyaksikan para wanita yang memeluk sambil menangis itu.
Wanita yang mereka yakini sang pemilik kamar yang Izzar tempati.
Setelahnya sepasang tangan menempel di bahu masing-masing. Dan saat meneloh, mereka mendapati ayah RIdwan yang menganggukkan kepala pelan menatap mereka secara bergantian.
"Kita keluar yuk!"
__ADS_1
Memberikan waktu pada para wanita pelampiaskan rasa sedih mereka.