
"Laela!"
" Abang rindu!"
Tak jauh dari belakang pintu kayu, Sandrina memasang Indra pendengarannya baik-baik. Ia dapat menangkap suara Nizam meski terdengar lirih dan pilu.
Ternyata bukan hanya dirinya saja yang berputus asa menghadapi ujian ini. Dia Pikir pria yang kini menjadi suaminya itu begitu sabar dan tabah meski yang mereka jalani sesulit ini.
Nyatanya pria itu sama rapuhnya dengan dirinya, meski hanya bisa menyembunyikan perasaan gundah dalam dalam diri masing-masing.
Gadis itu hanya terdiam di tempatnya, kini pendengarannya menangkap seseorang yang di luar sana beberapa kali menyusut ingus, pria itu sedang menangis.
Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya.setelah mendengar kata Rindu Nizam yang ternyata bukan untuknya.
Mungkinkah ia cemburu?
Bukankah dia juga memiliki pria idaman lagi di sana.
Ah di sana, jauh sekali.
Dan entah kapan mereka akan bisa memangkas jarak yang begitu jauh itu.
Kini kehidupannya adalah bersama Nizam.
Pria itu telah menjadi suaminya. Apakah masih pria yang berada jauh dari dirinya kini masih mau menerimanya saat tahu jika dirinya telah menikah?
Rasanya mustahil. Kalaupun ia diterima mungkin sulit.
Hingga beberapa waktu lamanya, mereka berpisah dengan dinding anyaman bambu, hanya menikmati sebuah keheningan masing-masing.
Nizam mulai bergerak beranjak dari balai-balai hingga menimbulkan suara gesekan kayu, dan itu terdengar jelas di telinga Sandrina.
Gadis itu sesegera mungkin melempar lamunan jauh dan segera beringsut agar bisa menjauh dari tempat itu Rasa takut menjalar tiba-tiba.
__ADS_1
Bagaimana jika Nizam menemukannya di sini? Pasti pria itu akan menyangka Dia sedang menguping, memang benar sih tapi kan jangan sampai kedapatan juga.
Ia Yang merasa telah bekerja keras dengan segala pergerakannya nyatanya tak benar-benar bisa menjauh sesegera mungkin. Nizam bahkan telah menemukannya setelah pria itu baru saja menutup pintu.
" Eh kenapa di sini?"
" Mau nyusulin kakak!" Ucapnya Mencari Alasan. Berharap dengan ini Nizam menganggapnya baru saja tiba di tempat itu.
" Kenapa? Gak bisa tidur?" Dan mungkin pria ini percaya.
Kini Sandrina hanya bisa menggelengkan kepala, dia tidak terlalu mahir dalam berbohong hingga ia harus memutar kepalanya hanya demi mencari sebuah alasan. Lebih baik diam dari pada harus berkata tapi bohong lagi, ditanya lagi menjawab dengan bohong lagi, hingga akhirnya ia yang tak bisa menyembunyikan kebohongan pasti akan ketahuan juga.
" Ya udah kita tidur aja!" Tanpa aba-aba Nizam telah mengangkatnya dalam dekapan.
Dengan posisi ini, Sandrina dapat melihat dengan jelas wajah pria tampan yang sudah terlihat sebab itu. Harusnya suaminya itu mencuci muka dulu agar wajah sedihnya tak terlalu terlihat.
Ah, melihat pria ini tersakiti karena mengingat wanita lain, justru semakin menggali lubang dalam hatinya.
Hingga Nizam meletakkan tubuhnya dengan perlahan ke atas kasur.
Baru beberapa waktu yang lalu Sandrina memanggil Nizam dengan sebutan kakak, namun kali ini Gadis itu telah menyebut Nizam dengan panggilan Abang.
Tadi ia mendengar Nizam menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Abang. Sudah jelas sebutan itu yang digunakan istri Nizam yang di sana. Tapi kenapa Nizam tak pernah meluruskan panggilannya sebagai kakak?
Gadis itu merasa Nizam memang menjaga jarak darinya. Ck, kenapa rasanya semakin sakit saja?
" Kenapa, butuh sesuatu?"
Pertanyaan seperti itu sebenarnya selalu saja membuat Sandrina kesal. Gadis ini memang tak berdaya, tapi bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa hingga semuanya harus dengan bantuan orang lain.
Sandrina selalu mencoba melakukan apa yang ia ingin lakukan sendiri. Dia ingin memperlihatkan pada orang lain, jika dirinya pun bisa.
Gadis itu menggelengkan kepala, tangan yang tangannya yang bekerja menahan pergerakan Nizam semakin menarik, hingga pria itu benar-benar dekat dengannya.
__ADS_1
"Sentuh aku bang!"
Hah?
Nizam terperanjat saat mendengar kata itu?
Sentuh yang bagaimana? Bukankah ini juga sudah menyentuh, tapi,...?
" Aku istrimu juga."
Bukan hanya wanita itu. Ia hanya bisa melanjutkan dalam hati, takut jika kecemburuannya terlihat dengan begitu jelas.
Wanita yang ia pun tak pernah melihat bagaimana wujudnya. Cantikkah?
Entah mengapa kini ia penasaran dengan sosok itu. Apakah mungkin wanita itu jauh lebih cantik darinya?
Tanpa ia sadari, alam bawah sadarnya ternyata menyimpan rasa cemburu kala mendengarkan Nizam mengutarakan segala rasa hatinya pada seorang wanita, dan itu bukan dirinya.
Terus saja hendak membandingkan diri dengan wanita itu.
Selanjutnya mungkin ia akan berpikir bagaimana caranya untuk mempertahankan Nizam agar tak kembali pada wanita itu.
"Sentuh aku kak!"
Ia tak bisa dengan mudahnya mengubah panggilan setelah sekian lamanya, mungkin butuh sedikit waktu saja Sandrina bisa ikut memanggil Nizam seperti wanita itu.
"AKu mengerti kamu adalah seorang pria dewasa." Setidaknya ia tahu kebutuhan Nizam saat ini, dan akan ia usahakan memberikannya pada Nizam.
"Lepaskan rindumu padaku!"
" Sandrina."
Hanya menyebut namanya saja, setelah itu Nizam kembali diam dan menunduk.
__ADS_1
"AKu tak ingin merusak masa depanmu!" Pria itu tahu apa yang diinginkan gadis ini.
Namun ia tak tega jika harus mengorbankan gadis polos yang tak berdosa ini demi egonya.