Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Demi Kebahagiaan Semua Orang


__ADS_3

" Bu guru, aku mau tinggal di rumah Bu guru saja. Di rumahku nggak enak, Ayah selalu marah-marah mungkin sudah tak sayang sama aku lagi."


Laela hanya diam membisu bahkan untuk mengangkat pandangan pun ia tak berani. Bu guru cantik itu sedang memeluk salah satu siswanya yang kini berada di atas ranjang rumah sakit. Dengan elusan lembut yang ia persembahkan pada kepala hingga punggung tangan Meidina, membiarkan sang gadis bercerita, mungkin bisa mengeluarkan uneg-uneg yang menjadi beban pikirannya.


Di hadapan mereka, seorang pria yang hanya menatap kedua Insan itu dengan rahang mengeras, nampak sekali Jika ada amarah pada pria itu. Laela hanya mampu menebak jika pria itu adalah orang yang Meidina ceritakan, ayahnya.


Laela bahkan tak mampu mencuri pandang meski hanya sebuah lirikan. Ia tak ingin masuk terlalu jauh antara urusan ayah dan anak itu.


" Boleh ya bu guru?" Tanyanya lagi penuh pengharapan berharap bu guru cantiknya itu mau menganggukkan kepala nya saja, artinya ia bisa bebas seketika.


"Meidina!"


Teguran dari sang ayah, menghentikan bujukan gadis kecil itu. dan kini hanya mampu menampilkan wajah cemberutnya.


Bebas bermain kapan saja tanpa harus mengikuti les-les yang menyita banyak waktu bermainnya.


Dan juga bisa menghindar dari amarah ayahnya. Anak kecil itu tak terlalu memikirkan tentang perpisahan dengan sang ayah. Toh selama ini mereka pun jarang bersama, sekalinya bersama ayahnya itu justru membentak-bentaknya.


"Meidina!"


Teguran dari sang ayah, menghentikan bujukan gadis kecil itu. dan kini hanya mampu menampilkan wajah cemberutnya.


Sore itu, demi menghormati tamu spesial sang cucu, Oma masih memilih tinggal meski setelah pergantian shift antara ia dengan Armand dalam menjaga Meidina. Berusaha menyibukkan diri dengan merapikan barang-barang buah tangan dari Laela.


Masih bisa menangkap dengan jelas semua permintaan sang cucu. Hanya bisa tersenyum menanggapi, lirikan matanya pada Laela seolah mengatakan, Maaf ya anaknya lagi ngambek harap maklum!

__ADS_1


" Kan bisa ketemu di sekolah, Meidina bisa main lagi sama teman-teman yang lainnya!" Laela hanya bisa merayu seperti itu tanpa bisa menjanjikan apa-apa lagi.


Satu tangan Laela terulur ke arah samping menarik Sofiah mendekat pada sang pasien. Mereka berdua adalah teman, siapa tahu bisa memberikan semangat lain pada sang pasien.


" Dina, kamu sakit apa?"  Tanya gadis polos itu. Melihat selang infus yang tergantung, dipikirannya kini temannya itu sedang sakit parah.


" Gak tahu, tapi rasanya badan kadang sakit semua." Jawaban polos pula.


" Kemarin kamu main sama siapa?" Tanyanya penasaran. Beberapa hari ini mereka memang nampak lebih akrab di sekolah.


" Cuma sama Disty."


"Oh iya yah." Meidina bahkan lupa jika mereka masih punya teman dekat satu lagi. Padahal teman sekelas lainnya juga masih ada. Mungkin ia takut jika temannya ini kesepian tanpanya.


hari telah berganti, membawa mereka kembali pada aktifitas masing-masing. Sementara Meidina masih berada di atas ranjang pasien meski jarvm infus tak lagi menempel di kulitnya.


Entah apa yang sekarang Oma pikirkan. Dari percakapan Medina bersama Laela kemarin, ia menangkap suatu Pengharapan yang lebih dari cucunya itu.


" Memang boleh Oma?"


Semalam memang ayahnya tak mengatakan apa-apa padanya saat mereka hanya tinggal berdua saja. Namun dari wajah sang ayah Ia bisa menebak jika pria itu masih melarangnya untuk terlalu dekat dengan Laela dan kedua anaknya.


" Boleh kok!" Semangat sekali meski masih sedikit ragu.


" Bu guru juga bisa jadi ibumu kalau kamu mau." Berbisik, Oma bahkan mendekatkan bibirnya pada telinga sang cucu. Padahal sudah tidak ada Arman lagi di antara mereka.

__ADS_1


" Beneran Oma?" Mendengar itu, Meidina terkejut bahkan sampai membulatkan mata dengan sempurna.


Memiliki bu guru Laela merupakan satu paket komplit baginya. Ada Ibu, ada Sofiah sebagai teman sepermainan, dan juga Kakak yang ia impikan bisa menyayanginya.


Sudah bukan rahasia lagi jika Laela adalah seorang janda beranak dua. Bahkan wanita itu tak segan mengakuinya, hanya demi menjaga kehormatan dirinya dan juga keluarganya. Terlebih anak sulungnya, seorang pemuda yang siap menjadi garda terdepan demi melindungi Laela dari segala godaan. Dan oma bisa melihat semua itu.


Menjadikan Laela salah satu anggota keluarganya sepertinya akan seru bagi oma dan Meidina.


Jujur, Oma merasa terpesona pada Laela. sosok wanita yang lembut ramah dan terlihat penyayang, ada pada wanita itu. Dan beliau sangat yakin, jika semua yang dia lihat dari Laela bukanlah sebuah sandiwara.


Terbukti saat baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga kecil yang memang tanpa perencanaan sebelumnya. Tak mungkin pula kan Laela segera mengatur skenario menyiapkan makan untuk sang cucu secara dadakan meski dengan seadanya.


Hanya seperti itu saja, namun mampu membuat wanita tua itu terpesona. Tak peduli jika sikap itu tercipta karena terbiasa menghadapi siswa-siswanya.


Lalu bagaimana dengan Meidina yang bisa dibilang setiap hari merasakan kasih sayang dan kelembutan wanita itu? Setelah sekian lama tak merasakan usapan lembut sang ibu, pasti gadis itu akan merasa sangat bahagia jika kini bisa memanggil seseorang dengan sebutan ibu.


Oma yang meyakini jika putranya juga tak memiliki seorang wanita yang spesial dalam hidupnya, berharap bisa menyatukan kedua orang ini.


Dan oma akan memanfaatkan kelemahan cucunya ini guna menarik perhatian dua orang dewasa itu.


Maafkan oma sayang, tapi pasti kamu akan senang juga nantinya.


Ini juga demi kebahagianmu, kebahagiaan ayahmu, dan kebahagiaan bu guru kesayanganmu.


Bisa jadi ini juga akan menjadi kebahagiaan kedua anak y@tim itu.

__ADS_1


Demi kebahagiaan semua orang.


__ADS_2