Tak Seindah Mimpi Nur Laela

Tak Seindah Mimpi Nur Laela
Belajar


__ADS_3

"Kan cuma main omaaa." Gadis kecil itu kembali memberonggut, wajahnya bahkan ditekuk.


Hari ini Omanya kembali dibuat ke lingkungan mencarinya sepulang sekolah. Padahal tadi ia mengatakan pada Ninis telah ijin terlebih dahulu pada omanya. Nyatanya tiba di rumah majikan Ninis langsung diberondong pertanyaan.


" Iya kan tapi Malu makan siang melulu di rumahnya orang!" Melihat kesederhanaan keluarga kecil itu, Oma tak ingin menjadikan cucunya Sebagai tambahan beban kepada mereka.


" Kan tadi belum sempat makan siang juga Oma. Bu guru juga belum pulang kan?" Tadi ia hanya bermain sebentar berdua dengan Sophiah, keburu oma datang menjemputnya setelah mendengar penjelsan dari NInis.


Tanpa Laela di rumah sederhana itu. Setelah mengantarkan kedua bocah itu ke rumah, Laela kembali ke sekolah. Jam pelajaran kelas satu mungkin memang Telah Usai, namun belum bukan berarti jam kerjanya juga turut Usai.


" Besok aku mau bawa bekal yang banyak, jadi gak usah makan nasinya bu guru." Sesimpel itu pemikiran Meidina.


" Emang kenapa harus makan di rumahnya bu guru sih? Kan bisa di rumah, ada Disty juga yang bisa diajak main. Kasihan loh Disty sudah berapa hari cuma main sendiri?" Oma masih melayangkan bujuk rayu pada cucunya ini.


" Tapi nggak seramai di rumah bu guru." Di rumahnya memang ada Disty yang kerap menemaninya bermain, tapi tak ada kakak seperti Izzar yang tak segan memangku, menyuapinya makan dan menggendongnya saat ia telah lelah. Tak ada Bu guru yang memberikan senyum manis sambil membelai rambutnya.


Apa yang sebenarnya gadis kecil ini cari?


Jika hanya segala macam mainan, telah tersedia banyak di rumahnya yang jelas lebih megah.


...****************...


"Sofiah, aku bawa mainan." Bisiknya lagi pada Sofiah. Tapi kini bukan di dalam tasnya, melainkan sebuah goodie bag yang Ia tenteng dan telah terisi penuh dengan mainan.

__ADS_1


" Kita bawa ke rumahmu ya? Aku takut nanti diambil sama teman-teman lain." Pintanya lagi.


Setelah perdebatan alot dengan Omanya, ia telah diperbolehkan main di rumah bu gurunya, tapi tidak boleh makan makanan di sana lagi.


Bahkan bekal untuk makan siangnya pun telah tersedia di dalam sana.


Sofiah hanya berdiri memandangi tangan Meidina yang terulur. Nggak bosan apa tiap hari ke rumahku? Sofiah hanya mampu bertanya dalam hati. Namun mainan yang temannya itu sodorkan jelas saja membuat wajah Gadis itu berbinar.


" Tapi Ibu sudah kunci rumah." Bahkan mungkin sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.


" Makanya cepet bawa ke rumahmu!" Dan ini satu hal yang Sofiah benci pada Meidina.


Temannya itu memiliki sifat sedikit pemaksa. Dan salah satu korban dari gadis kecil ini adalah Izzar, abangnya. Yang sering salah tak berdaya menolak setiap keinginan Meidina, meski ia tahu pria itu telah lelah sekalipun. Gadis ini hanya takut jika di tegur oleh ibunya.


...****************...


" Aku juga mau bantu!" Meidina turut menyodorkan diri. Apalagi saat melihat Sofiah yang kini telah menggunakan pisav mengiris tempe meski sedikit pelan.


Mainan yang tadi ia bawa telah berhamburang di karpet depan tv, bergabung dengan mainan milik Sofiah


Laela memang sudah terbiasa meminta tolong kepada putra-putrinya untuk membantunya di dapur. Sekedar mengiris-iris bawang atau mencuci piring. Semuanya demi kehidupan yang berjalan dengan kondusif Di antara mereka. Makan dan istirahat tepat waktu, hingga ia tak bisa melakukannya seorang diri.


" Nggak usah sayang!" Tolak Laela dengan segera. Ia tak terlalu berani mengambil resiko pada anak orang. "Nanti oma Meidina marah sama bu guru kalau putri cantiknya disuruh iris tempe.

__ADS_1


" Tapi kan aku cuma mau bantu bu guru. Oma gak akan mungkin marahi bu guru."


Tuh kan Lihat, betapa keras kepalanya gadis kecil ini. Apakah karena gadis kecil ini adalah ratu di rumahnya jadi akan berbuat sesukanya seeprti ini?


"Gak usah Meidina, nanti omamu tiba-tiba datang gimana?"


" Ngak akan bu, tadi Dina udah minta ijin kok. Katanya boleh, tapi harus bobo siang di rumah."


Laela hanya mendelik menatapnya. Jawaban itu persis seperti jawaban bocah itu hari kemarin. Dan ujung-ujungnya oma gadis kecil ini kembali muncul dengan wajah panik sekaligus lega kala menemukan cucunya di sini.


"Ya udah sini!" Tak ingin berdebat terlalu lama.


Kini Meidina telah duduk membelakangi Laela. Tangannya telah dibimbing oleh bu gurunya itu untuk memegang pisau.


" Tajam ya bu guru?"


" Iya makanya Meidina nggak usah ya!" Laela kembali membujuk.


" Tapi kan cuma mau belajar bu guru. Ayah bilang, aku boleh belajar semuanya, karena nggak akan ada pengalaman sebelum ada kata pertama. Gitu kata ayah." Dengan wajah manisnya, ia berbalik sambil memandangi Laela.


Laela hanya tersenyum menanggapi. Alamat pekerjaan akan lama jika seperti ini.


Cerewet! Mau kerja aja ngomongnya sampai satu bab. Batin Sofiah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2