
"La, maaf!"
"Maaf aku nyakitin kamu La!"
Laela menggeleng, tersenyum meski air mata kembali turun membasahi pelipisnya untuk yang kesekian kalinya.
Nizam kembali menyapu jari pada tempat turunnya air mata, mengecup penuh perasaan, kembali membuat Laela meleleh dengan segala kelembutan yang ia terima.
Untaian kata maaf yang beberapa kali dihamburkan Nizam untuknya tak semestinya. Meski memang ia akui, perih di bagian bawah sana begitu terasa, bahkan ia yakin jika tubuhnya terluka dan robek di bagian itu. Namun rasa bahagianya mengalahkan segala sakit yang ia rasakan.
Mendapati Nizam menyentuhnya, membelai, mendapatkan dirinya menjadi istri yang sebenarnya bagi seorang Nizam.
Apalagi yang didamba Laela setelah ini? Semua telah terwujud malam ini.
"La, bersihin dulu yah!" Nizam kembali menghampiri, bahkan wajah kembali bertemu untuk ribuan kali.
Laela menggeleng lemah, terus saja mempersembahkan senyuman di wajah, menahan segala perih yang masih terasa apalagi saat ia harus bergerak bangkit dari pembaringan.
Rasa kantuk menyerang dengan begitu dasyat membuat ia malas untuk kembali bergerak, hanya ingin tidur saja.
"Bersihin dulu yah, aku bantuin!" Nizam telah berada di belakangnya siap memapah.
Dengan sangat terpaksa Laelapun bangkit.
"Bisa?" Nizam saat menatap Laela yang meringis. Wanita itu pasti menahan perihnya.
"Bisa, tapi bantuin!"
"Iya, ini juga bantuin. Gendong aja yah?!"
"Jangan! Malu sama ibu." Laela menahan tangan Nizam yang kini telah siap menggendongnya.
"Ibu mungkin udah tidur La."
Jam berapa sekarang? Semua orang kini telah tenggelam dalam alam mimpi kecuali mereka berdua yang baru saja mengeruk indahnya pernikahan melalui pertemuan tubuh.
"Tapi pelan-pelan, nanti ibu bangun!" Laela mulai berbisik, padahal mereka masih berada di dalam kamar. Nizam mengangguk, berdiri, membuka pintu terlebih dahulu agar lebih mudah keluar kamar saat Laela berada dalam gendongannya.
"Bisa?" Kembali bertanya pada istrinya saat mereka telah tiba di depan pintu kamar mandi. Laela mengangguk, kembali tersenyum saat bibir tak sengaja meringis.
"Gak usah dikunci! Meninggalkan Laela sendiri di dalam kamar mandi, ia hanya berdiri di luar menunggu istrinya menyelesaikan pribadinya.
Kembali membawa Laela masuk ke kamar dengan menggendongnya, tapi bukannya meletakkan di ranjang melainkan di kursi.
"Kamu tunggu di sini!"
Nizam mulai menarik kain seperai yang tadi mereka gunakan bergulat. Tangan terhenti saat mendapati noda merah di sana. Berbalik menatap Laela yang turut memperhatikan kegiatannya.
__ADS_1
"Aku nyakitin kamu yah?" Kembali bertanya untuk ribuan kali, ia telah berjongkok di hadapan wanitanya, memeluk pinggang dan mulai membenamkan wajah di pangkuan sang istri. Biar bagaimanapun rasa bersalahnya masih besar.
"Maaf, aku gak bisa menahan diri La." Ucapnya lirih.
"Aku udah nahan lama banget, takut kamu kesakitan. Tapi tetap aja, aku nyakitin kamu."
"Maaf juga udah nuduh kamu yang macam-macam!"
"Udah aaah. Cepetan! Ngantuk ini!" Tiap kali mendengar Nizam mengatakan Maaf entah mengapa hatinya tak terima. Tubuhnya adalah milik pria itu, dan mendapatkan Nizam yang menyentuhnya dengan sangat lembut justru menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Lalu kenapa pria itu justru terus minta maaf tanpa henti?
"Iya." Nizam mulai bangkit, kembali pada kegiatannya mengganti kain seprei dengan yang baru.
"Udah!" Kembali menggendong tubuh ringkih istrinya guna di baringkan ke tempat tidur. Nizam duduk di samping tubuh sang istri, kembali menghujani dengan kecupan di seluruh wajah setelah membantu menutup tubuh itu dengan selembar kain selimut.
Yang pasti rasa bahagia bercampu rasa bersalah tengah bertarung dalam dadanya.
"Kamu tidur yah! Katanya ngantuk?" Dengan belaian lembut di kepala sebagai penghantar tidur.
"Memangnya kakak mau kemana?"
Bayangan Nizam turut naik ke peraduan mereka lalu membawa tubuhnya masuk dalam pelukan pria tersebut telah sedari tadi menari di kepalanya. Tapi kalimat tadi seolah kata pamit dari Nizam untuknya.
"Mau cuci seprei dulu. Takut ibu liat masih ada darahnya."
Dalam hati Nizam kembali meringis, saat membayangkan perih yang Laela rasakan karena ia yang mungkin terlalu memaksakan diri.
Apa suaminya itu tak lelah setelah seharian bekerja, disambung dengan kegiatan panas mereka barusan?
Lalu jika tidak, apa yang dikatakan besok pada ibu tentang noda merah itu?
Dengan terpaksa Laela mengangguk, melepaskan suaminya membersihkan seprei itu terlebih dahulu. Badannya terasa remuk redam setelah memberikan sebuah keindahan tak terhingga pada Nizam.
Menahanpun tak kan terlalu berpengaruh.
Lagi-lagi Nizam menghujaninya dengan beribu kecupan sebelum keluar dari kamar.
Nizam berjalan ke belakang dengan perlahan. Menampung airpun dalam keadaan setenang mungkin. Mengucekpun dalam dilakukannya dengan pelan.
Semua dilakukan dengan tenang, demi meminimalisir bunyi yang mungkin tercipta dan bisa mengganggu orang rumah yang telah terlelap.
Mau bilang apa pada ibu jika mendapatinya semalam ini belum tidur.
Nyatanya dilema belumlah usai setelah ia memcuci kain bersejarah itu.
Masih memikirkan alasan yang tepat untuk besok, saat ibu menanyakan perihal kain itu.
Pasti akan ada pertanyaan-pertanyaan tentang, mengapa mencuci seprei malam-malam?
__ADS_1
Kenapa tidak minta bantuan ibu, mencucinya?
Ah, malam pertama mereka gini amat yah!
Sudahlah!
Itu urusan nanti. Tubuhnya kini sudah sangat lelah. Lelah yang ter-amat-amat sangat.
Berjalan lunglai kembali ke kamar, mendapati Laela yang menjemput mimpi. Menjatuhkan badan tepat di samping Laela.
Ia masih sempat mengamati wajah polos sang istri yang tertidur miring menghadapnya.
Wanita yang ia tolak berkali-kali hanya dengan alasan bukan tipenya.
Wanita yang katanya mencintainya sejak pertemuan pertama.
Wanita yang kini menjadi tanggungannya dunia dan akhirat. Mampukah ia?
Seberapa berat Pe-Er yang harus ia lakukan demi memabawa Laela turut ikut pada langkahnya demi menggapai Ridho-Nya bersama.
Nizam mulai mengulurkan tangan, menyentuh wajah cantik itu dengan jari-jemarinya.
Malam ini, ia telah meraih Laela. Mendapati kegadisan sang istri secara penuh dan utuh.
Ah rasa bersalah kembali menyelimuti.
Saat mengingat kata-kata kasar yang pernah ia lontarkan untuk sang istri.
Ck, ia bahkan tak menyangka tuduhan itu keluar dari mulutnya sendiri dan itu pada istrinya. Secara tidak langsung ia telah menuduh perempuan yang terpelihara kehormatannya telah berz1na.
Maka jatuhlah fitnah darinya pada Laela yang nyatanya sesuci embun pagi ini..
Beribu kata maafpun tak mampu menghapus kesalahannya beberapa waktu yang lalu.
Lalu apa hukuman yang tepat untuk dirinya?
Jika mengikuti hukum islam, harusnya ia dihukum cambuk delapan puluh kali.
Nizam mulai membawa tubuh itu ke dalam dekapannya. Kembali mengecup beberapa kali pada wajah, dan lagi-lagi menghujan di pucuk kepala Laela.
Cinta datang begitu saja.
Selamat malam istriku!
Selamat malam kehormatanku!
Selamat malam wanita tercintaku!
__ADS_1
Selamat malam bidadari surgaku!