
Jam sembilan tiga puluh aku baru sampai dikediaman keluarga Malik. sedikit ragu dihatiku saat ingin turun, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. jika nanti Mama Anggi bertanya aku bisa katakan yang sebenarnya.
"Dok, Terimakasih sudah mengantarku pulang,"
"Ayo aku antar kamu sampai kedalam," ujarnya bersiap untuk turun
"Tidak usah,Dok,"
"Kenapa? ayolah, biar aku yang jelaskan dengan Tante Anggi. dia segera turun tanpa menunggu jawabanku
Sepertinya suasana rumah sudah sunyi. mungkin semua penghuninya sudah tidur karena lelah seharian menghadiri pesta pernikahan Dr Evan.
"Mama dan yang lainnya mana,Bik?" tanyaku pada bibik yang membukakan pintu untukku
"Semua sudah pada tidur,mbak Fa," jawab bibik
"Baiklah Dok, Terimakasih ya. sebaiknya dokter pulang saja," ujarku pada Dr Yoga
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. dokter pulang saja,"
"Baiklah kalau begitu aku pulang sekarang ya. selamat istirahat."
Aku mengangguk, menatap punggung tegap menjauh hingga hilang dalam kendaraan roda empat itu.
Setelah mengunci pintu utama. ku hela nafas dalam membalikkan tubuh untuk menuju lantai dua. namun langkahku terhenti saat sosok tampan yang sedari tadi mogok bicara denganku ia sudah berdiri tepat dihadapanku.
Dia menatap dingin ekspresi wajahnya datar. aku menjadi gugup sendiri. keinginan menegurnya aku urungkan, aku masih tidak mengerti apa penyebab dia seperti orang asing.
Aku mengalihkan perhatian menatap lurus kedepan dan mengacuhkannya. lebih baik aku hindari untuk bicara karena hari sudah cukup malam, lagipula yang mendiamkan aku adalah dia. jadi lebih baik abaikan saja.
"Hebat ya! sekarang sudah berani pulang malam. darimana? apakah pulang kencan? lain kali ingat waktu jangan lupa posisimu disini!"
Langkahku terhenti saat hendak menapaki anak tangga. entah kenapa dadaku terasa sesak saat mendengar kata-katanya. apa? apa yang dia pikirkan tentang diriku. apakah aku seburuk itu dalam penilaiannya. dan apa maksudnya mengingatkan agar tahu diri dengan posisiku dirumah ini.
Ya,aku tahu diri tanpa harus di ingatkan. tak pernah merasa besar kepala dan jadi nyonya atau berkuasa dirumah ini. tapi kenapa bicaranya menyakitkan sekali.
Aku membalikkan tubuh dan menatapnya dengan tajam rasa kesal membuncah. "Tenang saja Tuan, aku menyadari posisiku dirumah ini. tapi sebaiknya anda jangan mudah menyimpulkan apa yang tidak anda ketahui!"
Segera kupercepat langkahku menapaki anak tangga. aku tak ingin mendengarkan kata-katanya lagi.
Setelah masuk kamar aku segera menguncinya dan bersandar di daun pintu. tak terasa air mataku jatuh. kenapa rasanya sakit sekali. kenapa dia tega melukai perasaanku.
Andai saja bukan karena Yanju, aku tidak ingin lagi berada di rumah ini, aku sudah malas bertemu dengannya. tidak. aku tidak boleh lemah. semua kulakukan demi Yanju. semakin dia menyakitiku maka semakin mudah aku membuangnya dalam hati.
Kuhapus cairan asin yang masih tergenang di sudut mata, segera membersihkan diri dan kutunaikan sholat isya sebelum menuju alam mimpi.
***
Pagi ini aku bangun agak terlambat dari biasanya karena tadi malam aku sulit memejamkan mata. entah kenapa kata-kata Dr Kutub itu terasa begitu sakit di sudut qalbu.
Rencananya aku akan segera berangkat ke sekolah tanpa sarapan bersama. aku masih enggan bertemu dengannya. aku memilih sarapan di kantin sekolah saja.
"Fa, ayo sarapan dulu,Nak," ujar Mama Anggi menghadang langkahku.
__ADS_1
"Maaf,Ma. aku sarapan di sekolah saja. soalnya ada tugas yang harus ku fotocopy kan terlebih dahulu. jadi aku buru-buru. maaf ya, Ma, aku berangkat dulu,"
Segera ku Salami tangan Mama, dan Papa yang sudah duduk di kursi meja makan. ternyata dia juga sudah duduk disana. aku palingkan wajahku darinya. fokus dengan tujuanku menyalami Papa.
"Fa, sebentar,Nak. ini kamu bawa roti sandwich buatan Mama. nanti kamu sarapan di lokal Saja jika tidak sempat ke kantin."
"Terimakasih ya,Ma. seharusnya Mama tidak perlu repot-repot begini,"
"Mama tidak repot sama sekali,Nak. kamu pergi naik apa? ayahmu kan belum datang," ujar Mama
"Aku naik angkot saja,Ma."
"Tidak usah naik angkot,Fa. biar diantarkan oleh Yandra saja," potong Papa
"Ah, tidak perlu,Pa. aku pergi dulu. Assalamualaikum..."
Ku masukkan bekal dari mama kedalam tas sekolahku dan segera keluar untuk mencari angkot. pagi jam segini ayah memang belum datang, karena aku pergi terlalu cepat
Aku berjalan keluar gerbang.namun terdengar suara deru mesin mobil berhenti disampingku aku tahu tapi enggan menolehnya. aku harus bisa menjaga jarak, tidak ingin dia merendahkan aku kembali.
"Fa... masuklah,"
Ku hela nafas berat. rasanya malas sekali berhadapan dengannya. "Tidak,Terimakasih." kuteruskan langkahku
"Fatimah... ayolah, nanti kamu terlambat,"
Kenapa dia ngeyel sekali sih! sabar Fatimah. ingat pesan ibu, kecewa boleh tapi jangan sampai membenci
Aku mengabaikan panggilannya. kuteguhkan pendirian tidak ingin diantarkan dia. percuma saja aku bela-belain pergi sepagi ini untuk menghindari dirinya.
Kupercepat langkah untuk sampai di pinggir jalan raya. tetapi mobil itu masih mengiringiku. kenapa sih nih orang bikin aku kesel. semakin cepat langkahku semakin laju pula mobil itu.
Mobilnya menghadang langkahku dan dia turun membuka pintu mobil untukku.
"Tidak perlu,Tuan. aku bisa pergi sendiri!" tolakku tegas
"Tidak. kamu tidak boleh pergi naik angkot,"
"Kenapa? apakah ada yang salah?"
"Ya, kamu itu tanggung jawabku!" ucapnya dengan nada memaksa
"Tanggung jawab? terimakasih,Tuan. Anda tidak perlu repot-repot bertanggung jawab apapun. karena aku masih bisa menjaga diriku sendiri."
Kembali ku ayun langkah kaki dan meninggalkan dia. tetapi tanganku diraih olehnya.
"Fatimah, ayo masuk!"
"Lepasin,Tuan. aku bisa pergi sendiri!" kuhempaskan pegangan tangannya tetapi tangan itu semakin kuat menggenggam tanganku.
Kembali jantungku berdegup kencang. aku benci sekali dengan perasaan ini. kenapa disaat kami skinsip jantungku berdegup dan darahku berdesir.
Aku mencoba mengatur nafas dan menetralkan perasaan bodoh ini. tapi tetap saja aku tak bisa. seakan tatapannya menghipnotis nalar sehatku.
Dia menarik tanganku dan agak mendorong tubuhku sedikit untuk masuk kedalam mobil yang sudah ia buka pintunya. entah kenapa aku menurut saja.
__ADS_1
Akhirnya kembali aku kalah dengan perasaan ini.ingin sekali merutuki kebodohanku. kenapa begitu lemah dihadapannya. kenapa dia begitu pengaruh dengan diriku. bagaimana jika nanti dia menyakiti perasaanku lagi.
***
Diperjalanan ke sekolah, aku diam menatap lurus kedepan. aku malas sekali menatapnya. dia juga terlihat acuh.
Saat suasana diam. suara ponselnya memecah keheningan. dia menerima panggilan telepon dari seseorang kulirik sesaat sepertinya panggilan video. dia meletakkan ponselnya di Odometer.
"Ya, Wi,"
Lagi dimana,Mas Yan?
"Ah, aku mau ke RS. kamu nggak tugas hari ini?"
Iya, nanti agak siangan,Mas.
"Yaudah bangun sana,mandi. kelihatan banget wajah bantalnya,"
Hehehe... siap deh pak dokter. yaudah aku mandi dulu ya,Mas. hati-hati mengemudinya.
"Oke, makasih ya. kamu juga hati-hati bertugasnya."
Oh jadi yang telpon gebetannya. tidak. kamu jangan merasakan apapun hati. dia bukan siapa-siapamu. terserah dia mau teleponan dengan siapa. teguhkan pendirianmu.
Saat aku masih larut dalam pikiran sendiri. tiba-tiba ponselku bergetar.segera merogoh kantong seragam guruku. ternyata Dr Yoga yang telpon. tumben sekali dia call pagi-pagi begini.
"Assalamualaikum..."
Wa'alaikumsalam... kamu lagi dimana, Fa?
"Aku lagi dijalan ke sekolah,Dok."
Kenapa pagi sekali kamu perginya?
"Iya Dok, pagi ini ada tugas yang harus aku selesaikan."
Baiklah, nanti siang aku jemput kamu pulang ya.
"Hamm, baiklah. kalau begitu aku tutup dulu telponnya ya,Dok. wassalamu'alaikum,"
Kututup panggilan telepon itu dan kembali memasukkan ponsel kedalam saku. tetapi aku merasakan mobil yang kutumpangi itu melaju dengan kencang.
Aku menoleh kesamping. kulihat air mukanya yang tak seperti biasa. rahang terkatup dan mengeras. matanya menatap lurus kedepan. tangannya meremat bola stir dengan kuat sehingga kulitnya yang putih memperlihatkan buku buku jemarinya memerah.
Kendaraan itu semakin melaju aku merasakan sangat gamang dan takut. mobil ini benar-benar sudah tak nyaman aku tumpangi.
"Tuan, kenapa kencang sekali? pelankan mobilnya,Tuan!"
Dia tak menghiraukan ucapanku. masih fokus dengan kemudinya tanpa menoleh sedikitpun
"Tuan, apakah anda tidak mendengarkan aku?!"
"Diam!" bentaknya membuat aku terperanjat
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya 🙏🥰
Happy reading 🥰