Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Kejadian tak terduga


__ADS_3

Kini mereka telah menempati kamar masing-masing. Tak tanggung-tanggung Mama Anggi memilihkan kabin kelas suite. untuk liburan anak-anaknya. Dikamar itu telah dilengkapi oleh kitchen, dining room hingga balkon yang menghadap kelaut lepas. Kabin mereka terletak di Dek 10.


Kamar mereka berdampingan. Karena masing-masing membawa babysitter maka mereka memesan satu kamar lagi untuk kedua suster itu.


Yandra membantu Fatimah memindahkan pakaiannya di dalam lemari. "Bang, kamarnya mewah banget ya," ujar Fatimah di sela kesibukannya.


"Iya, Adek nyaman 'kan?"


"Sangat nyaman, Mama baik banget kasih kita kamar sebagus ini."


"Iyalah, tapi kan ada syaratnya,Dek, dan Abang akan berusaha memenuhi syarat mereka itu," jawab Yandra ngarang


"Syarat? Syarat apa Bang? Perasaan Mama nggak bilang apa-apa tuh!"


"Syaratnya sepulang dari sini kita harus berhasil memberi mereka cucu."


"Ish... Abang ngarang, tadi Mama bilang nggak begitu tuh!"


"Mama sih nggak, tapi Papa ngarep banget Dek, apa salahnya kita mencoba lebih keras lagi usaha dari yang biasanya!"


Fatimah menghentikan aktivitasnya dan menghadap kepadanya Yandra. "Bagaimana jika kita tidak berhasil Bang?"


"Yang penting kita usaha dulu,Sayang, nggak boleh nyerah sebelum perang dimulai! Udah Adek tenang saja! biar Abang yang akan bekerja keras untuk membuahi rahim kamu," ujarnya dengan senyum mesum


"Ihh, itu sih maunya Abang pasti! Iya, 'kan? Ayo ngaku, hmm?" Fatimah memukuli bahu Yandra dengan gemas.


"Hahaha... Nggak Dek, Abang serius! Ish nggak percaya banget sama suami sendiri," kekeh Pria itu sembari menahan tangan sang istri yang membabi-buta memukulinya.


"Iyalah nggak percaya! Aku udah tahu gimana mesumnya suamiku ini," cebik Fatimah kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Saat Fatimah membuka koper Yandra, matanya terbuka sempurna melihat pakaian kurang bahan itu nangkring disana. Hah dasar Domes.


Yandra yang melihat Fatimah menemukan benda itu, maka dia pura-pura cuek, sembari fokus merapikan pakaian Yanju.


"Abang?"


"Ya? Ada apa Dek?"


"Ini? Ini Abang yang bawa?" Tanyanya menyorot tajam


"Iyalah, Abang yang bawa!" Jawab Yandra acuh


"Bukankah pakaian ini dirumah ibu? Sejak kapan Abang mengambilnya?" Tanya Fatimah heran


"Tadi, saat kita mampir pamitan!"


"Salut banget ya kalau soal yang begituan cerdas banget Abang!"


"Hehehe... Sayang dong, Dek, momen begini harus diabadikan dengan sebaik mungkin agar menjadi sejarah terindah disepanjang perjalanan cinta kita," jelasnya dengan senyum penuh arti mendekati sang istri mengikis jarak diantara mereka.

__ADS_1


"Abang paling bisa kalo ngomong, buat Adek kesem-sem! Mau Abang apa sekarang?" Tanya wanita itu mengalungkan tangannya dileher sang suami.


Yandra yang mendapatkan pertanyaan surgawi, membuat darahnya berdesir dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, takutnya jika nanti sang istri tiba-tiba moodnya berubah.


Yandra segera melu mat bibir Fatimah dengan dalam, dan bermain di setiap rongga mulutnya menyusuri dengan penuh hasrat.


Tak puas bermain diarea bibir maka tangannya sudah mulai tak tenang, menja mah tubuh sang istri. Yandra membopong Fatimah dan membaringkan di atas ranjang.


Akhirnya pergulatan sengit itu kembali terjadi untuk pertama kalinya di dalam kabin Cruise line itu.


Sementara itu di kamar sebelahnya, Yoga dan Zahra sedang menikmati keindahan alam laut lepas itu. Mereka duduk bersantai sembari menikmati hidangan yang mereka pesan di kafe yang ada di awak kapal itu.


"Habisin makannya, Dek, biar nggak lemes," ujar Yoga acuh sembari menikmati makanannya, walaupun mendapatkan tatapan heran dari Zahra.


"Lemes? Emang kita mau ngapain? Kerja keras apa! Kamu aneh deh, Mas!"


"Ya, olahraga ranjang itu kan termasuk kerja keras, Sayang!"


"Aiih... Nih bapak orang mesum banget deh! Jadi kamu kasih aku makanan yang bergizi begini biar aku punya tenaga buat ngeladeni kamu olahraga ranjang, gitu 'kan?" Tanya Zahra penuh penekanan.


"Bu-bukan begitu maksud aku, sayang. Ya, untuk jaga-jaga aja. Mana tahu kamu kasih izin disiang hari begini, sayang banget nggak di manfaatkan momen indah ini untuk bercinta, mumpung Adek Arfan lagi tidur, kak Rara kan lagi sama suster," ujar Yoga tersenyum nakal.


Zahra yang tahu keinginan sang suami, dia juga tidak ingin munafik bahwa dia juga tidak ingin menyia-nyiakan momen indah itu.


"Yasudah, tapi istirahat bentar ya, Mas! kenyang banget nih. Ntar muntah lho kena guncangan gempa seribu," sindirnya dengan senyum malu.


Yoga yang mendengar Jawaban sang istri tersenyum sumringah. ia pindah posisi duduk lebih merapat pada tubuh Zahra yang sedang bersandar di Sofa yang ada di balkon kamar hotelnya itu.


"Iya, Mas tahu, Dek, tapi cuma mau kasih DP doang," ujarnya sembari mengecup pipi Zahra, tangannya merangkul pundak, tangan sebelahnya sudah tak bisa diam.


"Ya, ampun Mas, tenang dulu! Ini bukan kasih DP, tapi COD namanya!" cebik wanita itu sedikit kesal melihat tingkah sang suami.


"Ya, habisnya nggak tahan, Dek. Sekarang ya? Janji deh, guncangannya di pelankan dari yang biasanya," Mohon Pria itu penuh harap.


Akhirnya Zahra tak bisa menjeda barang sebentar saja jika benda pusaka itu sudah berdiri.


Terjadilah apa yang terjadi di kamar hotel itu. dua pasang kekasih halal sedang berbagi peluh diatas guncangan ombak, menambah syahdunya percintaan di siang hari.


Setelah selesai ritual mandi wajib, Fatimah duduk santai di balkon kamarnya, menatap hamparan laut lepas sembari menunggu sang suami mandi.


Subhanallah indahnya ciptaanMu ya Allah. Puji syukur milikMu ya Rabb. Terimakasih telah memberi kebahagiaan yang begitu luas kepadaku.


Saat ia sedang menikmati indahnya pemandangan alam laut itu, terdengar suara bel kamar berbunyi. Fatimah segera membukakan pintu.


"Ada apa Sus?" Tanya Fatimah Kepada suster anaknya itu.


"Bu, kami minta izin untuk jalan-jalan kebawah sebentar sekalian mau beli sesuatu di mini market," jelas suster itu.


"Oh, yaudah. Sini Yanju biar sama saya."

__ADS_1


"Tidak usah, Bu, biar Yanju saya bawa saja, sekalian jalan-jalan."


"Oh, yaudah, tapi jangan kemana-mana ya!"


"Baik, Bu, setelah selesai kami langsung balik ke kamar."


Setelah beberapa menit suster itu pergi, perasaan Fatimah tidak tenang karena mengizinkan mereka membawa Yanju.


Tok! Tok!


"Bang?" Panggil Fatimah mengetuk pintu kamar mandi


"Ya, Dek?" Jawab Yandra dari dalam.


"Adek, keluar sebentar mau nyusulin Yanju ya! Soalnya tadi Yanju dibawa suster ke mini market!"


"Tunggu Abang dulu, Dek. bentar lagi Abang selesai mandinya," ujar Yandra yang masih sabunan.


"Nggak papa pergi sendiri aja Bang, keburu lama nungguin Abang!"


"Yaudah, Adek jangan kemana-mana ya, nanti Adek nyasar!" Seru Yandra kembali.


"Ya, Bang!"


Fatimah segera bergegas turun ke Dek 7, karena disana tempat resepsionis dan mini market jugu ATM.


Saat Fatimah Keluar dari lift Tiba-tiba segerombolan turis datang untuk masuk kedalam lift, Namum, salah satu dari mereka menarik tangan Fatimah untuk masuk kembali kedalam lift.


Fatimah kaget dan memberontak. "Jangan kurang ajar Anda! Lepaskan saya,!" Bentak Fatimah dengan lantang.


"Come on dear! Hahaha..." Mereka tertawa bersama.


"Stop! What you guys are doing?!" Terdengar suara seseorang. Fatimah segera menoleh karena merasa suara itu tidak asing lagi.


"Dokter Yoga! Dokter tolong aku!" Pekik Fatimah merasa ada dewa penolong, ia segera menghempaskan tangan Pria asing itu.


"Who are you?"


Yoga menatap Fatimah, dia tidak ingin ribut di awak kapal ini, ia juga tidak ingin meladeni WNA itu. "Fatimah sebelumnya aku minta maaf!" Ujarnya sembari meraih tangan Fatimah dan marangkul bahunya.


I'm her husband so please watch your attitude!" ujarnya membawa Fatimah menjauh dari segerombolan turis itu, namun setelah beberapa meter mereka melangkah.


"Apa yang kalian lakukan?!"


Terdengar suara seseorang yang telah berdiri dihadapan mereka dengan wajah memerah rahang mengeras.


Fatimah yang masih dalam keadaan syok mendengar suara itu segera melepaskan diri saat kesadarannya telah kembali.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2