Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Kecurigaan Yoga


__ADS_3

Hari ini Yoga dan Zahra ingin menjenguk Fatimah di RS, kebetulan hari libur, rencananya sepulang menjenguk, mereka sekalian ingin belanja bulanan.


"Dek, udah siap, belum?" Panggi Yoga dari luar.


Lama tak mendapat jawaban, Yoga segera masuk kedalam kamarnya. Dia melihat Zahra tertidur lelap.


"Ya ampun, nih kenapa jadi tidur sih? Padahal tadi katanya mau bersiap." Pria itu terheran sendiri melihat tingkah sang istri yang beberapa hari ini berubah tak seperti biasanya. Sering marah tak jelas, manjanya nggak ketulungan.


"Dek, jadi pergi, nggak?" Yoga mencoba membangunkan.


"Aku ngantuk banget, Mas," gumam wanita itu, masih menutup mata.


Yoga hanya menggelengkan kepala. Pria itu ikut merebah di samping sang istri. Tangannya mulai merusuh pada tubuh sensitif Zahra.


"Mas..." Desis Zahra karena merasakan tangan Yoga menjamah tubuh sensitifnya.


Yoga tak menghiraukan ucapan istrinya, Pria itu sudah terpancing hasratnya, sehingga sesuatu telah mengeras dibawah sana.


"Dek, boleh ya?" Ujarnya sembari menggusal wajahnya di tengkuk Zahra, sehingga membuat wanita itu geli.


"Aku ngantuk, Mas. Kamu kenapa sih rusuh banget!" Kesal Zahra, sembari mengubah posisinya menghadap Yoga.


"Ya habisnya kamu yang mancing duluan," ujar Yoga mencari alasan.


"Kok aku? Emang apa yang aku lakukan hingga kamu terpancing? Nggak usah ngarang deh, Mas. Serius ngantuk banget, nggak pengen diganggu." Intrupsi Zahra yang membuat wajah suaminya bermuram durja.


"Eh, kenapa wajahnya begitu? Bapak orang dilarang ngambek!" Ujar Zahra menggoda sang suami.


"Apaan sih, Dek? Yaudah sana tidur. Aku mau berendam dulu. Sakit kepala." Yoga segera bangkit dari tempat tidur tetapi Zahra meraih tangannya.

__ADS_1


"Eh, tunggu dulu. Kepala mana yang sakit? Sini duduk biar aku ambilkan obat sakit kepala," ujar Zahra masih ingin menggoda suaminya. Niatnya memang ingin tidur, tapi karena melihat mood Yoga sedang tidak baik, maka, ia memutuskan untuk melakukan kewajibannya. Untuk menyenangkan hati bapak orang yang sedang gundah.


"Awas, Dek, aku mau mandi. Pake nanya kepala mana yang sakit. Ya, tentu saja kepala bawah lah!" Ujarnya masih mode ngambek.


"Hehe... Tumben banget Bapak orang sensi begitu. Yaudah ayo sini aku obati." Zahra menarik tangan Yoga hingga mendekat.


Pria itu tersenyum sumringah. "Kamu serius, Sayang?" Tanyanya memastikan.


"Ya seriuslah. Kapan aku tidak serius sama kamu, Mas?"


"Tapi tadi kamu bilang ingin tidur. Terus gimana dong?"


"Udah kita olahraga siang dulu, habis itu baru bobok siang. Mumpung Arfan dan kak Rara masih tidur," jelas Zahra sedikit meyakinkan pada suaminya yang pura-pura berbasa basi itu.


Yoga segera membuka pakaiannya. Pria itu benar-benar sudah kebelet kawin. Sehingga tak ingin menawar lagi. Disiang hari itu kembali pertempuran sengit terjadi. Pasangan itu sama-sama menikmati puncak surgawi, dan berakhir tertidur dengan nyaman.


Di perjalanan ke RS, Zahra melihat ada pedagang rujak Jambu kristal, mangkal di pinggir jalan. Wanita itu sangat menginginkan.


"Mas, stop!" Perintahnya.


Yoga segera menginjak pedal rem, sehingga mobil itu berhenti secara mendadak dan segera ia bawa turun aspal. "Kenapa, Sayang? Kamu ngagetin aku aja!" Ujar Yoga heran.


"Mas, aku pengen rujak Jambu kristal itu!" Tunjuk Zahra dari kaca spion mobil


Yoga ikut menilik dari spion nya. Sedikit heran dengan keinginan sang istri. "Kamu serius pengen rujak itu?" Tanyanya memastikan.


"Iya, Mas, kayaknya enak, pedas manis dan asem. Ditaburi bubuk cabe dan cuka yang banyak, uh pasti seger banget." Zahra sudah membayangkan bagaimana nikmatnya rujak itu.


"Oke, kita beli sekarang." Yoga segera memasang gigi atrek, hingga berhenti di depan gerobak rujak itu.

__ADS_1


"Bang, rujaknya satu porsi ya. Cuka sama bubuk cabenya dibanyakin." Wanita itu request sesuai dengan seleranya.


"Baik, Kak." Abang tukang rujak itu segera meracik bahan-bahan rujak itu.


Setelah menerima pesanannya. Yoga kembali menjalankan mobilnya. Di tengah perjalanan Zahra menikmati rujak itu. Sesekali dia menyuapi sang suami yang sedang fokus mengemudi.


"Pedes banget, Dek. Nanti kamu sakit perut," ujar Yoga mengunyah jambu itu sembari mewanti-wanti sang istri.


"Enak kok, Mas. Rasa pengen nambah lagi." Zahra masih fokus dengan beberapa lagi tersisa potongan jambu itu.


"Dek?"


"Ya?"


"Kamu nggak lagi ngidam 'kan?" Tanya Yoga sedikit curiga.


Seketika Zahra terdiam mengunyah. "Sekarang tanggal berapa sih, Mas?" Tanya Zahra juga was-was.


"Udah tanggal sepuluh, Sayang."


"Apa!" Zahra tersentak kaget.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Yoga heran melihat ekspresi wajah sang istri.


"Seharusnya aku haid tanggal enam bulan kemaren, Mas. Tapi sekarang sudah bulan baru dan sudah tanggal sepuluh lagi. Ya ampun, aku sudah telat, Mas!"


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2