
Kini sudah dua hari pak Eko dirawat, hari ini sudah diperbolehkan pulang. Fatimah setelah pulang sekolah ia segera ke RS untuk membantu membawa ayah pulang.
Kembali Yandra mengantarkan pak Eko pulang. sebenarnya Fatimah sudah menolak karena dia tidak ingin selalu merepotkan keluarga Malik. dengan ayahnya dirawat tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun itu sudah sangat membuat dirinya dan keluarga sungkan.
Setelah mengantarkan ayah pulang, Fatimah berpamitan pada ibu dan ayahnya untuk balik ke kediaman keluarga Malik bersama Yandra. namun saat mereka keluar rumah sebuah mobil berhenti. ya, tentu saja mereka sudah tahu siapa yang datang.
Dokter yoga keluar dari mobil dengan parsel ditangannya, duo dokter itu saling bertatapan dengan ekspresi wajah dingin.
"Mau balik,Fa?" tanya yoga pada Fatimah.
"Ah iya,Dok. mari silahkan masuk dulu," balas Fatimah dengan sopan.
"Fa, aku pulang dulu ya. nanti kalau kamu ingin aku jemput telpon saja. tapi jika ingin diantar Yoga, juga tidak apa-apa," ucap Yandra yang segera berlalu dari hadapan Fatimah tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
Fatimah hanya termangu menatap kepergian Pria itu. ada sedikit gelisah dihatinya melihat perubahan sikap Yandra. tapi ia segera istighfar. Ampuni aku ya Rabb. tetapkan aku dalam ke Istiqomahan.
"Mari, Dok," Fatimah membawa Dr Yoga untuk masuk menemui sang ayah.
Dokter Yoga menemui Pak Eko sembari menyerahkan parsel yang dia bawa.
"Bagaimana kondisi, Bapak?" tanya Yoga duduk disisi pak Eko
"Alhamdulillah sudah baik,nak Yoga. terimakasih sudah jenguk bapak dan repot-repot membawakan buah-buahan,"
"Ah tidak repot sama sekali,Pak. semoga segera cepat pulih ya, Pak."
"Aamiin Terimakasih do'anya,"
Setelah cukup lama yoga bercengkrama bersama keluarga wanita yang masih memenuhi hatinya itu. ia segera pamit pulang. yoga juga menawarkan untuk mengantarkan Fatimah pulang ke kediaman keluarga Malik. tetapi gadis itu menolak dengan alasan dia masih ingin membantu sang ibu untuk beres-beres rumah.
***
Sore hari Fatimah sudah sampai di kediaman keluarga Malik dengan menggunakan jasa Ojol. saat ingin masuk ia melihat Yandra sedang menggendong Yanju. ayah dan anak itu kelihatan sudah rapi.
Fatimah sedikit gugup karena sang Dokter menatapnya dengan intens. tetapi Kembali ia berusaha untuk tetap tenang melangkah mendekati kedua Pria beda generasi itu.
"Kenapa naik ojek,Fa. kenapa tidak telpon aku? apakah Yoga tidak mengantarkanmu?" tanya Yandra
__ADS_1
"Tidak apa-apa,Bang. tadi aku bantu ibu untuk beres-beres rumah. jadi aku pulang naik ojol saja," jelas Fatimah.
"Ayo Sayang, sama ibu. uuu.. tampan sekali anak ibu," Fatimah mengambil Yanju dari gendongan Yandra.
"Fa, temani aku ke mini market ya, beli kebutuhan Yanju," ajak Yandra
"Baiklah, sebentar ya,Bang. aku pamit sama Mama." Fatimah segera menemui Mama Anggi untuk pamit, ia takut jika Mama mengira dirinya belum pulang.
***
Diperjalanan. hanya terdengar ocehan bayi mungil itu. kini kekakuan diantara mereka semakin terasa. Yandra tak banyak bicara sikap posesif yang mendominan sudah tak terlihat lagi. begitu juga dengan Fatimah hanya diam sesekali ia menyahuti ocehan putranya itu. ia berusaha untuk menanamkan komitmen agar tak goyah.
Setelah sampai. Yandra meminta Yanju dari gendongan Fatimah. mereka berjalan beriringan. orang akan mengira mereka adalah pasangan suami istri.
Fatimah mengambil semua barang kebutuhan Yanju. dan tak lupa titipan Mama Anggi yaitu beberapa macam buah-buahan dan sayuran.
"Fa, kamu tidak ingin beli sesuatu?" tanya Yandra yang masih setia mengekor dibelakang wanita itu
"Nggak, Bang," jawab Fatimah singkat
Setelah selesai Fatimah segera mendorong troli yang sudah membubung menuju kasir. namun ia melihat Yandra sedang fokus memilih beberapa parfum ia kesulitan dengan memegang Yanju.
Fatimah segera menghampirinya dan mengambil alih bayi mungil itu dari gendongan sang Ayah. "Sini Yanju biar aku pegang, Bang," ujar Fatimah
"Ah ya. apakah kamu sudah selesai belanjanya?" tanya Yandra sembari menyerahkan Yanju pada Fatimah.
"Sudah, masih ngantri di kasir,"
"Fa, menurut kamu mana yang lebih lembut wangi parfum ini?" Yandra meminta pendapat gadis itu sembari mengarahkan dua botol parfum itu pada hidung mancung Fatimah.
Gadis itu mencoba menghirup aroma parfum wanita yang ada ditangan Yandra. ia memberi penilaian. "Kalau aku lebih suka yang ini,Bang," ujarnya menunjuk salah satu parfum yang ada di tangan kanan pria itu.
"Yakin yang ini?" tanya yandra minta kepastian
"Iya ini menurut aku,Bang. kalau selera Abang sih aku nggak tahu,"
"Oke, aku ambil pilihan kamu saja." ujar Yandra mengambil parfum bermerek itu.
__ADS_1
Fatimah tersenyum kaku menanggapi ucapan Pria itu. dalam hatinya bertanya, untuk siapakah Yandra membeli parfum itu? apakah untuk Widi? ya mungkin saja. ia segera menuju antrian kasir karena tinggal dua orang lagi dihadapannya
***
Saat perjalanan pulang, Yandra berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari balai kota. ia ingin melatih Yanju untuk bersosialisasi dini, karena ditaman banyak anak-anak yang sedang bermain. itu juga dapat meningkatkan kesehatan fisik sang anak.
"Fa, kita disini sebentar ya. biar Yanju bisa bersosialisasi dini. biar dia nggak bosan juga selalu di rumah,"
"Hmm, baiklah," Fatimah mengikuti kemauan yang mulia dingin itu. eh tapi rasanya sekarang dia udah nggak terlalu dingin kok. semoga saja segera menghangat seperti pemandian air panas si debuk-debuk yang ada di daerah Karo.
Kini mereka duduk di sebuah bangku panjang yang ada di tengah Taman itu. Fatimah memeluk Yanju menghadap ke arah kerumunan para bocah yang sedang bermain. sepertinya bayi mungil itu mengamati pemandangan itu terkadang dia terlonjak kegirangan saat mendengar suara riuh para anak-anak pengunjung taman itu.
"Kenapa,Sayang. kamu ingin ikut main bersama kakak-kakak itu, 'iya?" Yandra menyahuti tawa bayi itu.
"Mau foto keluarga,Mas? langsung jadi."
tiba-tiba seorang tukang foto keliling menawarkan jasanya untuk membuat foto keluarga. mungkin dia mengira bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang baru mempunyai seorang anak.
Fatimah sedikit terkejut dengan ucapan tukang foto keliling itu. namun Yandra hanya tersenyum menanggapi ucapan tukang foto.
"Baiklah. bisa langsung jadi hasilnya 'kan?" Yandra menerima
"Bisa,Mas. hanya lima menit langsung jadi," ujar pria itu meyakinkan
Fatimah menatap Pria itu dengan tidak mengerti. tetapi Yandra tersenyum sembari mengangguk agar Fatimah mengikuti.
"Baik, mbaknya lebih merapat lagi pada suaminya, kalau bisa peluk lebih mesra, tetapi tatapan mbak pada adek bayi," titah sang fotografer memberikan arahan agar hasilnya maksimal.
"Ayo,Fa. biar hasilnya akan lebih bagus," Yandra tersenyum senang. kembali jiwa Domesnya keluar
"Nggak usah ngarang ya, Bang. masa kita harus dempet. nggak, aku nggak mau!" tolak Fatimah dengan pelan.
Setelah cukup lama bernegosiasi akhirnya Yandra mengambil jalan tengah. dia memberikan Yanju pada Fatimah dan tangan kiri melingkar dipundak ibu susu anaknya itu. jadi kesannya sebuah keluarga kecil yang utuh.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1