
Siang ini Yoga pulang lebih awal, karena dia ingin menghadiri acara pernikahan Yandra dan Fatimah. Semenjak kehadiran Zahra perasaan pria itu sudah mulai bisa melepaskan Fatimah. Karena Yoga hanya fokus dengan cinta pertamanya.
Sesampainya di rumah Yoga segera menuju dapur menyerahkan beberapa kantong buah yang baru dia beli di mini market.
"Kok sepi Bik? Zahra dimana?" Tanya Yoga pada Bik Nur yang sedang menyajikan menu makan siang di atas meja.
"Non Zahra, ada di kamar neng Rara." Jelas Bik Nur.
Yoga segera menuju kamar putrinya tetapi,tidak langsung masuk, ia menilik dari celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Pria itu melihat apa saja yang di lakukan oleh istri kecilnya itu.
Yoga masih menyaksikan dengan seksama, perlahan bibirnya tertarik membentuk senyuman. Ia melihat Zahra sedang menyulang Rara makan dengan sabar, sementara tangan sebelahnya memangku Arfan yang sedang ASI.
Kreekk!
Bunyi pintu kamar itu terbuka, Zahra begitu terkesiap, ia meletakan sendok dan ingin segera melepaskan sumber kehidupan yang sedang di nikmati oleh putranya itu.
"Kenapa kamu gugup begitu? bukankah kita sudah suami istri, jadi kenapa kamu malu pada suamimu sendiri? Teruskan saja ASI nya. Arfan masih haus itu," ujarnya yang duduk di sisi Zahra sehingga membuat jantung wanita itu tak menentu.
"Bu-bukan begitu, Mas, tapi aku..." ujar Zahra menggantung, sembari menutup aset berharganya sehingga wajah bayi mungil itu ikut tertutup oleh bajunya.
"Iya, aku tahu kamu belum terbiasa 'kan? Kalau begitu buat jadi terbiasa dong!" ujar Yoga dengan senyum nakal
"Mas!" Zahra melotot
"Kenapa Dek? kita ini sudah pasangan halal, kapan kita bisa seperti pasangan suami istri yang lainnya, jika tidur saja kita masih terpisah. Apakah kamu tidak ingin tidur satu ranjang denganku?"
Zahra terdiam tidak berani menatap wajah tampan yang ada dihadapannya saat ini. Wanita itu masih berpikir bukankah Yoga sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menyentuhnya sebelum ada cinta diantara mereka?
"Zah, mulai nanti malam kamu tidur dikamar aku ya! Nanti malam kita cari boks bayi buat Arfan."
"Tidak perlu cari boks bayi,Mas. Arfan sudah terbiasa tidur bersamaku, jadi terkadang aku juga sudah terbiasa saat ASI sambil tiduran. Kalau Mas tidak keberatan biarkan Arfan tidur diranjang bersama kita!"
"Hmm, baiklah. Aku tidak akan keberatan, yang penting kamu mau tidur satu kamar denganku. Yasudah kalau begitu kamu sekarang siap-siap ya, kita akan menghadiri acara pernikahan pimpinan RS tempatku praktek," ujar Yoga yang mendadak.
"Aku harus ikut ya, Mas? Tapi kenapa Mas Yoga ngomongnya mendadak begini, kenapa tidak memberi tahuku sejak tadi pagi! Aku kan tidak punya persiapan apa-apa Mas!" Ujar wanita itu sedikit kesal karena suaminya itu suka sekali Serba terburu-buru.
__ADS_1
"Udah kamu tidak perlu pusing mikirin itu Dek, nih udah aku persiapkan pakaian buat kamu kepesata," Yoga menyerahkan sebuah paper bag kepada Zahra.
Zahra menerimanya, ingin segera beranjak namun ia masih cukup malu untuk menyudahi Arfan yang masih bergantung di aset berharganya itu.
"Udah sana Dek, biar Arfan aku yang pegang!" Titah Yoga
"Iya, tapi Mas menghadap kesana dulu!" Zahra menginterupsi sang suami agar tak melihat asetnya itu.
"Kenapa harus malu? Hei cantik, aku ini suamimu, mataku ini halal melihat semua yang ada pada dirimu!"
"Mas... Bukankah kamu sendiri yang meyakinkan aku? Aku tahu itu Mas, tapi tolong beri aku waktu! ini terlalu cepat karena kita belum saling cinta!" Ujar Zahra itu memberi alasan.
"Kapan kamu bisa mencintai aku Dek?" tanya Yoga meminta kepastian
Seketika jantung Zahra berdegup kencang saat mendengar pertanyaan Pria itu. Entahlah, wanita itu tak bisa dipahami perasaannya saat ini, malah sebaliknya dia yang berharap dicintai oleh Yoga.
"Kenapa Mas Yoga, bertanya seperti itu? Bukankah kamu juga belum bisa mencintai aku?" Jelasnya memalingkan muka
Yoga tersenyum mendengar dan melihat ekspresi wajah istrinya itu. "Yasudah sekarang kamu bersiap ya, sini Arfan Mas yang pegang."
Zahra segera memutar tubuhnya untuk melepaskan diri dari Arfan, lalu memberikan bayi mungil itu kepada Yoga.
"Aku siap-siap dulu ya Mas, jangan lupa lanjutkan suapin Kak Rara makan," pesan Zahra sebelum keluar
"Baiklah, Rara kecil atau Rara besar nih?" tanya Yoga yang membuat Zahra tertegun
"Hahaha... Okey, biar Daddy lanjutkan. Udah Mama ganti pakaian sana gih!" Titah Pria itu
Zahra segera beranjak untuk bersiap. Sementara itu Yoga kembali menyulang Rara makan. "Kakak harus makan yang banyak ya Nak. gimana kakak bahagia punya Mama baik? Sehat-sehat ya,Sayang. Biar besok bisa main dengan adik Arfan." Yoga mengecup pipi Rara dan bayi mungil itu secara bergantian.
***
--Resepsi pernikahan--
Acara demi acara mereka lalui, hingga resepsi pernikahan di langsungkan hari itu juga, Pernikahan itu cukup sederhana namun tamu yang datang sungguh diluar dugaan. Dari mulai staff di RS, relasi-relasi Papa Malik, hingga semua guru-guru di SD tempat Fatimah mengajar mereka datang memberikan Do'a Restu untuk kedua mempelai.
__ADS_1
Untung saja Mama Anggi tanpa sepengetahuan Bu Ida, ia memesan kateringan jadi tak ada menu hidangan yang kurang untuk menjamu semua tamu undangan.
Semua rekan-rekan dari RS hingga guru-guru sangat antusias berpose ria bersama pengantin, bagaimana tidak? ini adalah pesta pernikahan direktur utama RS Malik Saputra. Banyak dari mereka yang begitu kagum dengan pesta pernikahan mereka yang kesannya tidak terlalu mewah namun tamu undangannya dari orang penting semua.
Di atas pelaminan Yandra dan Fatimah duduk dengan berpegangan tangan Pria itu seakan tak ingin lepas dari sang istri.
"Dek, kita nyanyi yuk?" Ajak Yandra sembari mengecup tangan Fatimah
"Nyanyi? Nggak ah Bang, adek nggak bisa nyanyi!" Tolak Fatimah
"Udah Adek ikutin Abang aja, nanti kita lihat teks nya di ponsel. Mau ya Dek ya, ya!" ujarnya memohon
"Tapi suara Adek jelek, Bang, Adek malu!"
"Nggak kok, Abang pernah dengar Adek nyanyiin Yanju, suara Adek bagus. Ya Dek, kali ini aja, please!" Mohonnya kembali
Akhirnya Fatimah mengalah ia mengikuti permintaan suaminya untuk duet.
"Emang kita mau nyanyi apa Bang?"
"Dangdut."
"Hah?"
"Iya, kenapa? Adek nggak suka nyanyi dangdut?"
"Su-suka sih Bang," ucap gadis itu tersenyum heran, pikirnya seorang pria seperti Yandra tidak akan menyukai nyanyi dangdut. Memang Pria yang unik
"Baiklah sebuah tembang cinta akan dibawakan oleh pasangan pengantin kita yaitu Dr.Yandra dan cikgu Fatimah..."
Terdengar suara MC menggema mempersilahkan kedua mempelai untuk menyanyikannya. Ternyata sudah ada yang mendaftarkan mereka siapa lagi kalau bukan Dr Evan.
Yandra membuka telapak tangannya untuk meminta tangan Fatimah, lalu mereka berdiri sembari berjalan naik keatas panggung.
Bersambung....
__ADS_1
Nanti siang disambung lagi ya🥰🤗
Happy reading 🥰