
Yandra segera memunguti lingerie yang bertaburan dan memasukkan kembali kedalam kotak lalu menutupinya.
"Ada apa Kak Anggi?" tanya ibu yang juga masuk
Semua mata menatap mereka berdua, Fatimah dan Yandra saling pandang, Yandra yang merasa tersudutkan maka ia menatap Fatimah untuk minta bantuan.
Fatimah segera meraih kotak kado itu, dengan senyum sebahagia mungkin. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali membuang kotak itu tapi ia tidak tega bila calon suaminya menanggung malu dan disalahkan oleh yang lainnya.
"Aduh maaf. Tadi aku hanya terlalu senang mendapat kado dari Abang. ini benar-benar kado spesial yang pernah aku terima jadi aku terlalu bersemangat. Terimakasih ya Bang kadonya," ujar Fatimah yang membuat Pria itu tersenyum lega
"Ah, iya, iya. Semoga Adek suka ya," balas Yandra dengan senyum simpul
"Hah, syukurlah. Tadi kami kira terjadi sesuatu dengan kalian," ujar Mama Anggi
"Ya nggaklah,Ma. Aku dan Fatimah baik-baik saja, benar 'kan Dek?" tanya Yandra kembali
"Ah iya, tidak ada masalah apa-apa kok Ma," kembali gadis itu membela Yandra.
Akhirnya ibu dan Mama keluar setelah mendapati mereka berdua baik-baik saja. walaupun Mama Anggi sempat melihat isi kotak kado itu, tapi ia berpikir mungkin itu untuk persiapan malam pertama mereka.
Setelah Mama dan ibu keluar, tapi lain halnya dengan Arman, ia masih berdiri disana sembari menatap Yandra penuh selidik.
"Ngapain Abang masih disana? udah sana keluar!" usir Yandra sewot
"Beneran itu kado spesial? tapi jika Fatimah butuh penyidik, Abang siap untuk mengintrogasi tersangka disini!" tawar Arman yang membuat wajah Fatimah memerah.
"Ck... Apa sih Bang, nggak usah memprovokasi calon bini aku. Udah sana Abang keluar! masih banyak tersangka yang harus Abang selidiki nggak ada urusannya dengan kasus lingerie itu!" Sungut Yandra sembari mendorong Arman untuk keluar
"Benar 'kan aku bilang. Hahahaha... Woi Ucok jangan kau nodai pikiran wanita yang masih bersih begitu." ujar Arman dengan tawa terpingkal.
Yandra tak menghiraukan ucapan Abangnya ia segera menutup pintu kamar itu Sehingga mendapat tatapan tajam dari Fatimah.
"Iya, iya Abang buka kembali!" Yandra kembali membuka pintu kamar.
"Sekarang jelasin sama aku, apa maksud Abang kasih kado yang begituan? Atau jangan-jangan waktu itu Abang memang niat belinya untuk aku, dan Abang sudah bayangkan hal yang aneh-aneh. Iya?" tuding Fatimah beruntun
"Astaghfirullah Dek, kenapa kamu mikirnya begitu? ini tuh benar-benar diluar dugaanku. Kadonya ketukar dengan punya Nadia," jelas Yandra
"Masa sih? bukankah waktu itu Abang hanya beli satu kado?"
"Nggak. Abang beli dua, yang satu lagi buat Adek, besok Abang janji akan meminta kado itu kembali pada Nadia,"
"Mana boleh begitu Bang, mana ada kado yang udah di kasih bisa diminta kembali. Itu namanya nggak ikhlas Abang memberinya."
__ADS_1
"Pokoknya nanti Abang ganti dengan kado yang lain asalkan Abang bisa mendapatkan kado itu kembali buat kamu," jelasnya masih bersikukuh.
"Terserah Abang aja lah! Yaudah sana Abang keluar nanti nggak enak dilihat dengan keluarga kita ngobrol terlalu lama di kamar,"
"Tapi Abang masih kangen sama Adek, kamu tahu nggak? beberapa hari kita saling diam, itu membuat Abang tersiksa," ucapnya jujur
Fatimah menatap Pria itu. Ia baru menyadari bahwa apa yang ia rasakan dirasakan juga oleh Yandra.
"Siapa dulu yang masang mode dingin. Adek sebagai wanita ya ngikut aja mau Abang apa,"
"Gitu banget! Kenapa Adek tidak mau memperjuangkan Abang sedikitpun. Abang juga pengen di perjuangkan agar merasa di cintai dan disayang oleh dirimu,"
"Harus gitu?" tanya Fatimah
"Ya harus! agar diantara kita saling membutuhkan."
"Iya deh, besok Adek coba," ujar gadis itu polos
"Ya ampun, Sayang. Ini bukan untuk bahan percobaan Abang maunya dari hati dan perasaan Adek sendiri!" geram Yandra dengan calon istrinya itu.
"Hehe... Maaf deh Bang. Yaudah Abang keluar dulu ya, besok kita ngobrol lagi, besok jemput Adek jam berapa?"
"Jam sembilan Abang jemput Adek sudah siap ya, yaudah Abang keluar dulu. Adek istirahat saja nggak usah banyak gerak. Nanti kalo pulang Abang telpon Adek, ayo Abang bantu," ujarnya ingin membantu Fatimah untuk berdiri
"Eh, nggak usah. Adek bisa sendiri," tolak Fatimah
"Eh, Bang!" panggil Fatimah
"Ada apa,Dek?"
"Ini bawa kembali kadonya," Fatimah menyodorkan kotak itu
"Simpan saja. Buat persiapan malam pertama kita." Ujar Yandra dengan senyum menggoda sehingga membuat wajah gadis itu bersemu.
Fatimah hanya menggelengkan kepalanya. Setelah Yandra keluar ia kembali membuka kotak dan menatap pakaian minim bahan itu.
"Aku nggak akan mau menggunakan pakaian seperti ini." Fatimah segera mengambil kotak itu dan menyimpannya kedalam lemari bajunya yang paling dalam, ia malu jika dilihat oleh ibu.
***
Pagi ini dikediaman Dr Yoga. Zahra sedang sibuk di dapur membantu Bibik Nur untuk membuat sarapan.
"Mbak, biar Bibik saja. Mbak Zahra dikamar saja urusin bayi Arfan," ujar Bik Nur.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bik. mumpung Arfan lagi tidur. Lagian aku tidak enak selalu berdiam di kamar,"
"Kalau begitu Mbak Zahra bantuin Bibik buat minum untuk den Yoga saja,"
"Baiklah," Zahra segera membuatkan Yoga secangkir kopi hitam dengan sebungkus gula jagung.
"Sudah Bik."
"Tolong anterin sekalian ya, den Yoga ada di taman belakang sedang bawa Rara berjemur,"
"Baiklah," Zahra segera membawa nampan yang berisi secangkir kopi itu.
Zahra menatap Pria itu sedang membawa Rara bicara, dan selalu memberi kecupan pada sang anak. Pria itu benar-benar sangat penyayang. beruntung sekali Rara mempunyai ayah sepertinya. tanpa sadar Zahra ikut tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kopinya, Mas Yoga,"
"Eh, Zahra! Kok kamu yang nganterin, Bibik mana?"
"Bik Nur lagi sibuk di dapur," ucap Zahra jujur, sembari menaruh nampan itu di meja.
"Terimakasih ya," ucapnya datar
"Ya, sama-sama,"
Tak ada pembicaraan lagi. Yoga kembali sibuk dengan Rara sementara Zahra hanya diam berdiri. Sebenarnya ia ingin bicara dan minta tolong kepada Yoga untuk mencarikan tempat tinggal dengan bermodalkan cincin kawinnya untuk biaya hidup sementara.
Tapi niatnya urung karena melihat sikap Yoga yang dingin, lebih baik dia berusaha sendiri saja. Lagipula rasanya sudah cukup ia merepotkan dokter itu.
Zahra segera masuk dan menuju kamar. Sepertinya ia harus segera beranjak. Entah kenapa wanita itu merasa sedih melihat sikap Yoga yang begitu acuh, ia hanya butuh teman bicara.
Zahra segera mengemasi barang-barangnya. ia hanya membawa beberapa helai pakaian yang juga diberikan oleh Yoga. Zahra memang tidak membawa apapun saat ia melarikan diri dari kediaman orangtua suaminya.
"Sayang, kita harus pergi sekarang ya,Nak. Kita harus bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung dengan orang lain." Zahra membangunkan Arfan saat masih tertidur pulas.
Setelah membereskan semua barang-barangnya. Zahra menggendong Arfan dan menjinjing sebuah tas kecil, ia keluar dari kamar.
"Zahra! kamu mau kemana?"
Suara itu membuatnya sedikit terlonjak dan segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suara itu. ternyata Yoga baru saja masuk sembari mendorong kursi roda Rara.
"Ah, mas Yoga. Aku mohon pamit, terimakasih sudah memberiku dan Arfan tumpangan selama ini. Maaf aku sudah banyak merepotkan mas Yoga dan bik Nur. Semoga Allah membalas segala kebaikan Mas Yoga, Permisi Mas!" Zahra segera beranjak
Lelaki itu masih diam terpaku menatap kepergian Zahra. namun sesaat dia baru menyadari maka Yoga segera mengejar.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰