
Pagi ini di kediaman keluarga Malik Saputra.
Yandra sudah rapi dengan stelan busana akad berwarna putih keperakan yang di couple bersama pakaian Fatimah. Pria itu tampak begitu tampan dan rupawan. Gugup, itulah yang dirasakannya, akhirnya hari-hari yang dia nantikan selama ini tercapai juga, setelah pernah gagal menikah dengan pilihan sang Mama kini pernikahan itu akan menjadi nyata dengan orang yang berbeda namun sudah jelas wanita yang sangat dicintainya.
Masih belum percaya jika sebentar lagi dia akan melepaskan masa lajangnya, sungguh suasana yang menegangkan. Pria itu berdiri di depan jendela kamarnya sembari menatap lurus kedepan. Dengan mengucapkan bismillah dan meluruskan niat sembari berdo'a agar semua diberikan kelancaran.
Cklekk!
Pintu kamar terbuka ternyata Abang satu-satunya yang masuk untuk membawanya keluar, karena sebentar lagi mereka akan berangkat ke kediaman pengantin wanita untuk melaksanakan ijab qobul dan sekaligus resepsi pernikahannya.
"Eh, Bang. Kapan sampai?"
"Tadi malam jam sembilan. Kamu cepet banget tidurnya, pasti udah nggak sabar untuk menunggu pagi biar cepat-cepat bertemu dengan pengantin wanita iya 'kan?" Goda Arman
"Apa sih Bang, ngomong suka bener semua!" balas Yandra dengan senyum kikuk
"Kenapa wajah kamu tegang begitu? Ayolah brother happy smiling! Kan nggak asyik udah tampan dan keren begini tapi wajahnya di tekuk begitu, Rileks!" ujar Arman memberi semangat kepada adik satu-satunya itu.
"Iya, nervous aku Bang. Dulu waktu Abang menikah dengan kakak ipar mengalami yang sama nggak sih?" tanya Yandra penasaran
"Tentunya! semua orang akan merasakan hal yang sama. Tapi Abang berusaha untuk tetap tenang dan rileks, fokus dengan tujuan."
"Wah... Tampan sekali mahkluk tuhan yang satu ini. Udah siapkah untuk melepaskan masa lajang Anda tuan Dokter?" Goda Evan yang tiba-tiba nongol
"Ck, apa sih kamu! Bantuin aku biar sedikit Rileks!" ujarnya sewot
"Sini sini, peluk Abang dulu biar nggak nervous!" Evan merentangkan kedua tangannya
"Eh, eh.. Apaan kamu? Nggak usah peluk-peluk, aku udah rapi begini jangan kamu sentuh. Biarkan hanya Istriku nanti yang menyentuh!"
"Karena udah tampan dan rapi begini yang membuat aku semakin ingin memelukmu!" Evan segera merangkul dan bergelayut manja di lengan Yandra.
"Woi, woi... Van, nggak usah aneh-aneh deh kamu! risih aku. Lepasin nggak!" Yandra berusaha untuk melepaskan lilitan tangan sahabatnya itu
"Sayang!" Tiba-tiba Nadia sudah berada di depan pintu kamar Yandra, dan menyaksikan pemandangan yang menggelikan itu. Nadia menyorot kedua pria itu dengan tajam
"Ish.... Lepaskan aku!" Yandra segera menjauh dari Evan.
"Hehe... Sayang, ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan!" Evan mendekati sang istri.
__ADS_1
"Benaran? Jangan-jangan.._"
"Iiihh.... Amit-amit!" mereka serentak mengucapkannya
Arman hanya terkekeh melihat tingkah mereka. sembari berjalan keluar. "Udah nggak usah mikir yang aneh-aneh, Dek. Mereka masih normal!" ujar Arman kepada Nadia dan segera berlalu.
"Tuh kamu dengarin kata-kata pakpol. Aku masih normal tidak melenceng dari koridor sedikitpun, kalau aku nggak normal nggak mungkin kecambahku bisa tumbuh disini," ujarnya sembari mengusap perut Nadia dengan lembut
"Hah? jadi sekarang Nadia sudah hamil?" sahut Yandra yang penasaran
"Iyalah, namanya juga bibit unggul!" sombong Evan.
"Wah, selamat ya Nad, semoga nanti kami cepat nyusul kalian," ujar Yandra senang
"Eh, nikah aja belum udah mikirnya kesana. Persiapkan dirimu mulai sekarang, kalau udah SAH! Baru boleh nyusul, itupun kalau cas batray nya kuat!" potong Evan
"Amang tahe. Tuh mulut lama-lama ngeselin juga ya! pengen nabok aku. Sama temen sendiri nggak ada manis-manisnya. Kasih Do'a kek!" Ujar Yandra jengah
"Hahaha.... Oke, Oke. Aku Do'ain semoga diberi kelancaran, ayo semangat! Aku kemaren juga begitu. Tapi harus percaya diri dan tetap rileks."
"Yaudah, yuk berangkat! Aku disuruh Tante Anggi kasih tahu kita berangkat sekarang!" Ujar Nadia segera berjalan dan di ikuti oleh kedua Pria matang itu.
Kini mobil rombongan pengantin Pria sudah tiba di kediaman keluarga Pak Eko. Yandra turun dengan perasaan nervous menghinggapinya, ia mencoba menghirup udara di sekitar. Dengan langkah pasti dia didampingi oleh Arman dan Evan.
Sementara itu Mama Anggi dan Papa Malik juga Lyra dan Nadia mengiringi dari belakang. Pihak keluarga Bu Ida dan Pak Eko sudah menunggu mereka di gerbang pelaminan.
Yandra berjalan masuk hingga sampai di kursi dan meja sakral yang sudah di persiapkan, ia duduk sembari menatap sekeliling ruangan yang sudah penuh dengan sanak keluarga. Semua mata menatap dirinya sehingga perasaan nervous nya kembali terasa.
Tidak berapa lama Fatimah digiring keluar dengan dua orang sepupunya. Wanita itu terlihat begitu cantik, gaun akad senada dengan stelan Yandra.
Yandra menatap Fatimah begitu terpesona, sedikit tenang saat melihat kehadiran sang pujaan hati yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya. Fatimah duduk disisi Yandra dengan wajah tetap tertunduk.
"Bagaimana, sudah siap??" Tanya pak penghulu yang menjadi pengesah sakralnya pernikahan mereka.
Yandra kembali merasa gugup namun, ia segera menghirup udara sepenuh dada. Dengan mantap ia mengangguk.
Sebuah mic sudah berada di atas meja. Seorang Pria paruh baya sudah duduk di hadapannya tatapan pria itu tak lepas dari Yandra.
"Apakah ada sedikit wejangan yang akan di sampaikan Pak Eko selaku ayah dari calon mempelai wanita, untuk calon mempelai Pria? Silahkan Pak!" ujar Pak penghulu mempersilahkan ayah memberi nasehat. Pak Eko segera mengambil mic
__ADS_1
"Yandra Saputra!" Suara ayah terdengar menggema di ruangan itu
"Akulah orang pertama yang memeluknya, akulah orang pertama yang menciumnya, akulah orang pertama yang merawatnya. Dia adalah putriku yang 24 tahun ini kujaga Agamanya, kujaga makanannya dari yang haram, kucurahkan segala kasih sayang sepenuhnya. Kini tanggung jawab itu ku serahkan kepadamu. Aku berharap kamulah orang yang akan menemaninya seumur hidup. Tolong jangan pernah sakiti dia dari lahir hingga bathin. Jika ada hari dimana kamu sudah tak mencintainya lagi, tolong katakan kepadaku jangan katakan kepadanya. Aku akan membawanya pulang!"
Seketika Kata-kata nasehat Ayah membuat semua yang ada diruangan itu tak kuasa menahan air mata.
Mama Anggi dan Bu Ida terisak saling berpelukan. Yandra juga tak kuasa menyembunyikan rasa harunya sungguh nasehat pernikahan yang begitu menyentuh di qalbu. Ia berjanji dalam hati tidak akan pernah menyakiti perasaan istrinya.
Kini kembali Ayah mengulurkan tangannya dan disambut oleh Yandra secepatnya.
"Yandra Saputra!"
"Saya, Yah!"
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Yandra Saputra bin Malik Saputra, dengan anak kandungku Fatimah Humaira dengan mas kawin sepuluh gram perhiasan dan seperangkat alat sholat tunai...!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Humaira binti Eko Suryanto dengan mas kawin tersebut Tunai..."
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah... Barakallahu laka wa baraka 'alaika wajama'a bainakuma fi khairin." Pak penghulu membacakan Do'a untuk kedua mempelai.
Kedua mempelai saling menyematkan cincin kawin, Fatimah mencium tangan Yandra dan di balas kecupan hangat di keningnya. Seketika itu jantungnya berdegup kencang, itu adalah kecupan pertama dari seorang pria selain sang Ayah.
Setelah selesai acara ijab kabul ayah kembali memberi nasehat kepada sang anak yang kini sudah resmi menyandang status sebagai seorang istri.
"Fatimah Humaira Putriku. Nak, kini syurga telah berpindah pada suamimu, maka berbaktilah kepadanya seperti kamu berbakti kepada Ayah dan Ibumu. Bersikaplah lemah lembut meskipun dia sekeras batu, karena sejatinya semua pria akan luluh pada satu wanita yang bersikap lemah lembut kepadanya!" Pesan ayah sembari memberikan tangannya dan memeluk putri sulungnya itu.
"Baik, Ayah. Insyaallah semua nasehat ayah dan ibu akan selalu aku tanamkan dalam hati."
Bersambung....
Nb: Akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Hah😌 capek author nikahain dua pasang pengantin ini🤠sepertinya tidak beberapa episode lagi ya🤔 Habisnya author nggak ingin ada masalah lagi di pernikahan mereka ingin mereka selalu bahagia 🤗
Happy reading 🥰
__ADS_1