Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Perubahan sikap Fatimah


__ADS_3

"Dek, kamu jangan bercanda! Itu tidak mungkin. Mana mungkin aku mempunyai ibu sepertinya," ucap Yoga tak percaya


"Mas, awalnya aku juga berpikiran seperti itu. Tapi Mama Runi menceritakan semuanya."


"Udah, nggak usah bahas itu lagi. Aku sedang tidak ingin membahasnya!" Tegas Yoga, terlihat kekecewaan diwajah lelaki itu.


Zahra mengikuti keinginan Yoga tidak membahas hal itu, ia tahu suaminya itu butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan, semua memang tidak mudah.


"Maaf ya aku sudah bikin kamu cemas," ucap Zahra sendu sembari mengambil tangan Yoga lalu meletakkan di pipinya.


Pria itu masih tampak bengong, mungkin dia masih berusaha berdamai dengan hatinya, meskipun ia mengatakan tidak ingin membahasnya, tapi hati kecilnya telah terusik.


"Mas, kamu kenapa bengong?"


"Ah, ya. Kamu bicara apa tadi, Sayang?" Yoga kembali mendekap sang istri.


"Udah lupain aja. Mas mau balik lagi ke RS?"


"Nggak, jadwal praktek sudah di rolling jadi sore. Biarkan aku menemani kalian pagi ini," ujarnya Yoga sembari menguatkan dekapannya.


"Baiklah, Mas mau minum sesuatu?" Tanya Zahra


"Cokelat hangat ya Dek."


"Baiklah, tunggu sebentar ya." Zahra segera beranjak untuk membuatkan minum yang diminta oleh sang suami, ia tahu jika Yoga minta coklat hangat itu bertanda moodnya sedang bermasalah.


***


Di kediaman keluarga Malik, sedang bahagia setelah seminggu lamanya Lyra koma, akhirnya sadar kembali. Keluarga itu sedang mengadakan syukuran untuk kelahiran baby twins dan kesembuhan Bundanya.


Semua sanak famili dan para tetangga hadir di acara syukuran itu, tak lupa mereka memberikan santunan anak yatim.


Jam 23.30 semua tamu sudah pulang, Fatimah yang sedari tadi sibuk malam ini tampak begitu lelah, tetapi wanita itu tak mau menyerah dia masih cekatan membantu para ART.


"Dek, ayo istirahat sekarang. Kamu kenapa bandel sekali dibilangin! Abang sudah bilang biarkan ART yang mengerjakan semuanya."


Yandra menarik tangan Fatimah, entah kenapa wanita itu begitu kekuh untuk membantu para ART yang sedang membereskan peralatan dapur yang kotor.

__ADS_1


"Nggak mau, Bang. Adek pengen ngerjainnya. Apaan sih Abang? Adek belum mau istirahat!" Sanggah wanita itu sedikit kesal karena mendapat paksaan dari paksu untuk segera istirahat.


"Ya ampun kamu ini kok ngeyelan banget sih, Dek? Nanti kamu kelelahan!" Yandra tak kalah kesal.


"Ada apa ini kok ribut?" Tanya Mama Anggi yang baru keluar dari kamar, wanita baya itu baru saja ingin rebahan tetapi kenyamanannya terusik karena mendengar suara ribut-ribut di dapur.


"Nggak tahu nih, Ma. Abang maksa melulu suruh istirahat, orang belum capek juga." Rungut Fatimah mengadu pada sang Mama.


"Fatimah, apa yang dikatakan suami kamu itu benar. Lagian kamu kenapa harus repot-repot bantuin si embaknya? Mereka bisa menyelesaikan semuanya," jelas Mama membenarkan ucapan Yandra.


"Tapi aku yang pengen bantuin, Ma. Kita saja bisa capek dan lelah bagaimana mereka? Tentu mereka juga capek Ma, mereka juga sama seperti kita,"


Seketika Mama Anggi terdiam mendengar ucapan anak menantunya itu, Mama Anggi juga merasa aneh melihat sikap Fatimah beberapa hari ini.


Mama menatap Yandra, dengan penuh tanda tanya, kenapa sikap Fatimah sedikit berubah. Fatimah juga menatap Mamanya yang sedang saling pandang dengan sang anak.


"Ah, maaf Ma. Aku tidak bermaksud..."


"Sudah tidak apa-apa, Nak. Mama tidak marah, apa yang kamu katakan memang benar. Seharusnya kita juga memikirkan mereka. Ayo semuanya istirahat! Besok dilanjutkan kembali pekerjaannya. Ayo Bik, ajak yang lainnya istirahat!" Mama Anggi memerintah para ART untuk istirahat.


"Sudah, sekarang kamu istirahat ya. Jangan pikirkan mbaknya, mereka juga akan istirahat," ujar Mama Anggi sembari mengusap kepala menantunya itu dengan lembut.


Fatimah segera merebah di atas ranjang dengan pakaian yang belum diganti, Yandra hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.


"Dek, ayo bersih-bersih dulu, ganti pakaian kamu setelah itu baru tidur," titah Yandra.


"Capek, Bang. Gendong..." Rengek wanita itu sembari merentangkan kedua tangannya.


Yandra tersenyum gemas melihat tingkah istrinya itu, dengan senang hati Pria itu membopong tubuh sang istri dan mengecup seluruh wajahnya segera membawa ke kamar mandi.


Hari ini Yandra sengaja tidak ke RS, karena masih banyak hal penting yang harus ia selesaikan di kediaman keluarganya.


Siang harinya saat Fatimah ingin nggletak, Yandra merebah terlebih dahulu menempati bantal sang istri.


"Ish... Abang apaan sih. Awas ini bantal Adek. Orang duluan yang ambil, awas, geser menjarak dong Bang, jangan dekat-dekat! Gerah!" Ujar wanita itu sewot, kesal.


"Kamu kenapa sekarang jadi pemarah sih? Abang kangen sama Fatimah yang kemaren-kemaren," Ujar Yandra sembari memepet tubuh Fatimah makin intim.

__ADS_1


"Ya Allah, awas Bang, Adek risih..." Rengek wanita itu sembari mendorong tubuh Yandra untuk menjauh.


"Nggak mau, Abang juga pengen dimanja. Udah seminggu ini Adek menyiksa batin Abang." Yandra semakin memeluk wanita itu posesif.


Fatimah tak ingin ribut, ia hanya diam walaupun dihati pengen lepas dari dekapan sang suami, ia juga tidak tahu entah kenapa beberapa hari ini tak ingin disentuh oleh suaminya.


"Dek, nanti sore kita ke RS ya," ucap Yandra sembari menggusalkan hidungnya di tengkuk sang istri.


" Ngapain ke RS Bang? Bukankah hari ini tidak praktek?" Tanya Fatimah penasaran


"Mau periksa Adek."


Fatimah merubah posisi tidurnya menghadap pada Yandra. "Periksa apa?"


"Ya, periksa buah cinta kita yang sedang tumbuh disini," ucap Yandra sembari mengusap perut Fatimah dengan lembut.


Seketika wajah Fatimah tegang, dia juga baru sadar sampai saat ini belum mendapat tamu bulanan.


"Kenapa begitu wajah kamu, Sayang? Kamu tidak senang jika benar hamil?"


"Ha? Bukan, bukan begitu. Adek hanya lagi mikir emang benar ya, Bang? sekarang Adek hamil?" Tanya Fatimah ragu.


"Biar kamu tidak ragu, maka dari itu Abang ajak kamu ke RS sore ini. Kita buktikan sama-sama ya." Ajak Yandra meyakinkan sang istri.


"Kalau Adek benaran hamil gimana Bang?"


"Ya tentu saja Abang sangat senang dan bahagia. Udah sekarang ayo tidur siang dulu, nanti sore kita ke RS."


"Ayo baring, Dek," titah Yandra pada Fatimah. Dengan ragu Fatimah berbaring, jantung berdebar tak karuan. Ini kali pertama ia di periksa oleh dokter sekaligus suaminya.


Yandra tersenyum sembari mengecup bibir sang istri dengan gemas. Mau diperiksa sekarang atau di kerjain dulu?" Tanyanya yang membuat wajah wanita itu merah seketika.


"Ya Allah, kenapa masih mesum aja sih Bang?" Kesal wanita itu dan mendapat kekehan dari suaminya.


"Hahaha... Baiklah, baiklah. Ayo baring sekarang biar Abang periksa."


Yandra segera duduk di kursi khusus yang ada sisi bad pasien, Fatimah sudah berbaring, ia sengaja tidak melibatkan perawat karena Yandra ingin tangannya sendiri yang memeriksa istrinya.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2