
"Alhamdulillah...." mereka serentak mengucapkan rasa syukur kepada Allah, atas lahirnya malaikat kecil yang selama sembilan bulan ini berada di dalam kandungan.
Kini bayi mungil yang suci itu telah berada di dunia fana. Serangkaian Do'a dipanjatkan oleh kedua orangtuanya. Fatimah dan Yandra begitu bahagia atas kelahiran bayi mereka.
"Terimakasih, Sayang, kamu sudah menjadi seorang ibu, Terimakasih juga telah berjuang bertaruh nyawa demi menyelamatkan nyawa garis keturunanku. Semoga kelak anak kita menjadi anak yang Sholeha," ucap Yandra berterima kasih tak terhingga pada sang istri yang telah berjuang melahirkan buah hati mereka.
Yandra mengecup kening Fatimah begitu lama. Hatinya terasa lega, walaupun dia seorang Dr Obgyn, tapi saat istrinya sendiri yang melahirkan dihadapannya membuat hatinya cemas tak terkira.
Fatimah membalas pelukan sang suami. Setitik cairan bening menetes disudut matanya. Tangis bahagia yang ia keluarkan.
"Kenapa Abang mengatakan Sholeha? Apakah Abang sudah tahu jenis kelamin bayi kita?" Tanya Fatimah curiga. Karena mereka sudah berjanji tidak ingin mengetahuinya biarlah menjadi kejutan. Sementara sang bayi sedang dibersihkan oleh Bidan.
Yandra tersenyum gemas dengan istrinya itu. Bagaimana ia tidak akan melihat jenis kelamin anaknya, sedangkan setiap periksa dirinya sendiri yang menangani. Sudah jelas tanpa di inginkan, dia dapat melihatnya.
"Maaf ya, dari awal Abang sudah tahu, bukan maksud curang, tapi terlihat sendiri. Ya, habisnya kan aku sendiri Dokter kamu. Mana mungkin aku tidak mengetahuinya. Kecuali kamu sama dokter lain, baru bisa berkomitmen."
Yandra menjelaskan pada Fatimah akan hal itu. Tentu saja Fatimah ikut tersenyum lucu. Apa yang dikatakan oleh suaminya itu memang benar adanya.
"Kita ini lucu juga ya, Bang, seperti orang rada-rada miring dikit. Padahal kita menyadari hal itu. Hihi..." Fatimah tersenyum kecil.
"Ish, enak aja ngatain miring, Adek aja, Abang nggak tuh. Dari semula itu kan, ide Adek sendiri." Sanggah Yandra tak ingin disamakan oleh sang istri.
__ADS_1
"Tapi, Abang juga mengikuti Adek, 'kan?" Fatimah tak ingin mengalah.
"Silahkan Dok, ini baby girl, nya. Cantik seperti ibunya." Bidan menyerahkan bayi mungil yang sudah dibersihkan itu.
"MasyaAllah, cantik banget anak Ibu, sini sayang ibu dulu." Yandra mendekatkan bayi mungil itu pada ibunya, dan Fatimah segera memberi beberapa kecupan diwajah bayi merah itu.
Yandra segera mengkhamad kan bayinya. Setelah itu ia kembali membuai sang bayi dalam gendongannya dengan Sayang. "Sehat-sehat ya, Nak. Semoga kelak kamu jadi anak yang Sholeha. Sekarang Abang Anju sudah punya teman, cepat besar ya, biar bisa main sama Abang Anju." Celoteh ayah Tampan Itu pada bayi merahnya.
Kini Bidan Kembali meneruskan pekerjaannya, yaitu menjahit jalan lahir yang sempat robek sendiri saat Fatimah mengejan.
"Kak, biar saya yang menjahit. Tolong Kakak bawa bayi kami, berikan pada kedua neneknya yang ada diluar. Dan siapkan kamar rawat inap untuk istri saya." Perintah Yandra pada sang Bidan, dan mengambil alih pekerjaannya.
"Baik, Dok." Bidan itu segera keluar membawa sang bayi.
"Kenapa Abang yang menjahit?" Tanya wanita itu merasa sedikit malu.
"Ini urusan Abang, Dek, karena Abang harus menyesuaikan kembali, agar nanti saat digunakan rasanya tetap sama," ujar Pria itu sembari mengerlingkan mata dengan senyum nakal.
"Abang!" Pekik Fatimah, wanita itu benar-benar gemas melihat kelakuan suaminya, bisa-bisanya memikirkan hal itu, padahal rasa sakit melahirkan saja belum hilang."
"Apa sih! Udah Adek diam saja. Nih gigit, jika sakitnya terasa." Yandra menyerahkan sebuah baju bayi untuk di gigit bila sakit jarum jahit daging itu menembus kulit intinya.
__ADS_1
"Bang, benaran sakit ya?" Tanya Fatimah belum paham dan sangat cemas.
"Nggak, Dek, mungkin rasa digigit semut." Jawab Yandra agar istrinya tidak terlalu takut.
Pria itu segera melakukan pekerjaannya dengan rapi, agar kembali keset dan sempit. Karena miliknya sendiri tentu saja dia akan melakukan dengan sangat baik.
Beberapa kali Fatimah menjerit saat Yandra menjahit robekan kulit bagian luar. Tentu saja Fatimah merasakan sensasi nyeri tersendiri. Setelah selesai, Yandra segera memindahkan Fatimah ke ruangan rawat inap.
Didalam ruangan itu sudah terlihat kedua orangtuanya sedang menimang cucu dengan senyum dan tawa kebahagiaan.
Mama Anggi menghampiri Fatimah. "Selamat ya, Nak, kamu sudah menjadi ibu, terimakasih sudah memberikan cucu yang sangat cantik buat kami." Wanita baya itu memberi ciuman di kedua pipi anak menantunya.
Begitu juga dengan Bu Ida. Wanita itu mendekati putri sulungnya, dan memberikan ucapan selamat dan menghadiahi kecupan diwajah sang anak.
"Papa, dan Ayah mana?" Tanya Yandra tak melihat kedua lelaki baya itu
"Tadi mereka cari minum ke kantin. Katanya ngantuk, nungguin. Papa dan ayahmu belum tahu itu, jika cucunya sudah lahir. Biarkan aja, lagian minum kopi kok lama amad." Omel Mama Anggi.
"Hehe... Biarkan ajalah Mbak Anggi, namanya juga Bapak-bapak, pasti ngobrol Yo ngarul ngidul hingga lupa waktu dengan tujuan utama." Balas Bu Ida tertawa kecil.
Kini kedua keluarga itu sedang berbahagia menyambut kelahiran cucu mereka. Tentu saja serangakaian Do'a selalu mereka panjatkan agar anak-anak mereka selalu dilimpahkan kebahagiaan.
__ADS_1
Bersambung. ..
Happy reading 🥰