
"Ya, silahkan. aku duduk di meja sebelah sana," ujar narwan menunjuk sisi meja yang dia tempati.
"Bawa saja baksonya kesini,Wan. jadi kita bisa ngobrol bareng," sambungku. sepertinya ini hal yang bagus untuk membuat dia lebih cemburu lagi. kan dia hanya suka cemburu tapi tidak cinta. biarin aku kerjain aja sekalian nih orang.
Hihi... jahat nggak sih akunya. habisnya kesel se enaknya saja memberi pengakuan palsu. emangnya dia siapa yang harus membatasi aku untuk bicara padahal narwan adalah teman kuliahku dulu. dia Pria baik dan sangat ramah. ya, walaupun dia dulu pernah mengungkapkan perasaannya padaku. tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman.
"Ah maaf bukan tidak boleh, tetapi ada teman aku yang mau datang jadi kayaknya kursinya kurang. bagaimana lain kali saja kita duduk bersama sambil ngobrol nanti kita buat janji dulu, benarkan,Sayang?" tanyanya padaku dengan senyum yang dibentuk begitu mesra
Ya ampun bang, untung kamu orang yang aku cinta. kalau bukan sudah ku sumpal tuh mulut Ama nih bakso. ngeselin banget deh.
Aku hanya tersenyum kaku. sembari mengangguk perlahan. "Maaf ya, Wan, tapi nanti kita atur waktu dulu ya. kalau boleh aku minta nomor kamu. sekalian kalo ada grup reuni masukin aku ya. soalnya udah kangen juga Ama teman-teman kuliah dulu."
Tiba-tiba otakku berjalan untuk kembali membuatnya panas dingin. biarin aku pengen tahu sampai kapan dia menggantungku.
"Boleh,Fa. nanti aku masukin kamu di grup chat ya. Oya, nomor kamu saja berikan nanti aku call." balas narwan dengan senyum simpul
Aku segera membuka aplikasi pesan di ponsel karena aku memang tak pernah ingat dengan nomorku sendiri.
"Udah di ponsel Abang saja lihatnya,Sayang. ah ini nomornya,Wan." dia segera menyebutkan digit nomor yang tertera di ponselnya. tetapi setahuku itu bukan nomor ponselku.
Narwan segera ngesave nomor yang dia berikan. aku tidak tahu nomor siapa itu. ternyata otaknya benar-benar pintar dari apa yang aku bayangkan. ikutin otak Papa Malik kali ya.
"Sayang, masukin ponsel Abang ke tas kamu ya. kantong Abang sempit,"
Apalagi nih yang sedang dia rencanakan? tumben sekali dia nitip ponsel di tas aku!
"Fa, aku miscall nomor kamu," ujar narwan sembari menekan nomor yang tadi. tidak lama ponsel yang ada di tas aku bergetar. ya Allah ternyata ini rencananya.
"Fa, itu nomor aku ya. nanti aku chat. kalau begitu silahkan dilanjut makannya. aku kesana dulu," narwan pamit untuk kembali ke mejanya.
Setelah narwan pergi. aku menyorotnya dengan tajam. namun tidak ngaruh dengannya, dia terlihat acuh sembari menikmati bakso yang ada di mangkoknya.
"Ayo dimakan baksonya,Fa. nanti keburu dingin nggak enak." ucapnya tanpa beban.
__ADS_1
"Bang, apa sih maksud Abang sebenarnya?" tanyaku sedikit kesal
"Iya, aku minta maaf," ucapnya acuh
Aku mencoba menghela nafas dalam. sepertinya aku sudah malas berdebat dengannya.
Tak ada suara. kami makan dalam keheningan terdengar suara getaran dalam tas selempang yang aku bawa. aku segera merogoh tas dan mengambil ponselku, ternyata asal suara itu bukan dari ponselku.
Aku mengambil ponselnya dan memberikan padanya namun terpampang jelas siapa penelpon itu. ya, siapa lagi kalau bukan kekasihnya, tetapi dia mengabaikan panggilan itu entah berapa kali ia lewatkan panggilan video call itu
"Angkat saja, mana tahu perlu," ujarku cuek sembari fokus dengan makananku.
"Nanti saja," balasnya santai.
Aku tak menanggapi lagi. segera kupercepat menghabiskan isi dalam mangkok. aku ingin segera pulang. sepertinya pergi berdua dengannya tidak menyenangkan seperti yang aku bayangkan. ya, mungkin statusku yang tak jelas, karena aku dan dia memang tak mempunyai hubungan apa-apa.
"Kamu marah?"
Pertanyaannya membuat aku berhenti sejenak dan menatapnya dengan seksama. "untuk apa aku marah? santai saja Bang, kita tidak mempunyai hubungan apa-apa. aku tidak akan merecoki hal pribadi Abang,"
"Apakah Abang merasa? kalau Abang merasa baguslah. aku harap mulai sekarang Abang jangan pernah mencampuri kehidupan pribadiku. aku berhak menentukan diriku sendiri mau berteman dengan siapapun."
"Tapi aku tidak bisa melihat kamu dekat dengan Pria manapun," Kembali ucapannya memancing huru hara. aku segera mengabaikan ucapannya. karena aku sudah sangat tahu bagaimana wataknya yang keras kepala dan ingin menang sendiri. mau aku meladeninya berdebat sampai pagi pun tak akan menyelesaikan masalah sebelum aku mengikuti keinginannya. jadi lebih baik aku diamkan saja.
Sepertinya adu argumen dengannya akan menambah kadar gula darah atau kolesterol seseorang mendadak tinggi. lebih baik abaikan ucapannya teruskan perjuanganku.
Mulai sekarang aku tak ingin menjadi wanita bodoh yang mengikuti keinginannya sementara dia masih menjalin hubungan dengan Widi. jadi aku ini mau dia jadikan apa? heh! aku tidak akan sebodoh itu.
Setelah makananku habis. aku melihat narwan masih berada di mejanya. aku pamit pada bang Yandra untuk ke toilet.
"Hai, Wan. belum selesai makannya?" tanyaku berdiri disamping mejanya.
"Eh Fatimah. kok kamu kesini nanti tunangan kamu marah lagi," balasnya.
__ADS_1
"Enggak kok, santai aja. Oya,Wan. tadi nomor kamu kehapus nggak ke save sama aku dan yang tadi itu nomor grup sekolahku, kamu nggak usah hubunginya disana. kamu simpan lagi nomor pribadiku ya,"
"Oh gitu. yaudah mana nomornya,"
Aku segera memberi nomor ponselku. narwan segera menyimpannya. setelah selesai bertukar nomor, aku segera menuju toilet.
***
Diperjalanan pulang, aku dan dia terlibat saling diam. menurutku ini lebih baik. andaipun dia membahas persoalan tadi, maka aku sudah berniat untuk tidak meladeninya.
"Tadi kamu minta nomor dia lagi?"
Baru saja aku pikirkan ternyata pertanyaan itu muncul. tidak. aku lebih baik diam, aku tidak ingin ada perdebatan sengit lagi,
Aku mencoba pura-pura tidur untuk menghindari sikap overprotektifnya itu. namun kurasakan mobil menepi. aku tahu dia akan memulainya. aku mencoba untuk diam tak beraksi apapun.
"Fa, kamu dengar aku bicara 'kan?"
Aku masih diam tak ingin menanggapi.
"Fatimah... aku tahu kamu kesal padaku. apakah kamu tidak bisa memberiku waktu untuk menyelesaikan hubunganku dengan Widi. aku akan pastikan hanya kamu wanita satu-satunya dalam hidupku kelak."
Aku membuka mata dan menghadap kepadanya. kali ini aku akan bicara dari hati ke hati. aku tidak ingin ada yang merasa terbebani dan juga tersakiti.
"Bang, aku bukan tidak ingin memberikan Abang waktu. tapi aku tidak ingin menunggu hal yang tidak pasti. aku seorang wanita yang inginkan kepastian, dan kepastian itu tidak berupa kata-kata cinta saja, tapi juga sebuah pembuktian yang nyata. jangan datang padaku saat hati Abang sedang bimbang. aku juga tidak ingin merusak hubungan Abang dan Widi. lebih baik sekarang kita jalani saja hidup masing-masing tanpa ada perjanjian apapun. aku percaya,Bang, jodoh tidak akan pernah salah pada seseorang.aku percayakan semuanya kepada Allah. apapun rencana Allah aku siap dan ikhlas."
Semoga dia bisa menerima keputusanku ini. aku akan tetap istiqamah dalam perasaan. aku juga tidak ingin terlalu Memaksakan kehendak.mulai sekarang biarkan semua berjalan semestinya. jika aku dan dia berjodoh maka Allah akan mempersatukan kami kelak.
Aku mengira Dia akan marah atau tidak terima. namun aku salah ia menatap hangat, dengan senyum lembut.
"Baiklah, aku tidak akan memintamu untuk menungguku atau melarangmu untuk dekat dengan Pria manapun. tapi aku akan membuktikannya. terimakasih kamu sudah begitu tulus mencintaiku. percayalah aku tidak akan menyia-nyiakan cintamu itu,"
Bersambung....
__ADS_1
Fatimah POV end. akan lanjut POV author ya.
Happy reading 🥰