
Setelah Dr Evan pulang, Yandra segera menemui Fatimah dikamarnya, karena ada sesuatu yang ingin ia berikan. Namun, ternyata wanita itu sudah berada di alam mimpi.
Yandra hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sang istri tak bisa tahan mata jika sudah bertemu bantal. Pria itu memberi kecupan di kening Fatimah dan Yanju, dan segera beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu karena ia belum sholat isya.
Setelah sholat, Yandra duduk di ranjang sembari bersandar di headboard, dengan laptop di pangkuannya, ada pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan saat di RS.
Saat ia sedang fokus, Yanju bangun dan merengek, Yandra segera menghentikan pekerjaannya dan memeriksa sang putra, mungkin bayi itu haus atau Pampersnya sudah penuh,
Ya, ternyata Pampersnya penuh. Yandra segera menggantinya, setelah itu ia kembali menidurkan sang anak, tetapi bayi itu tidak mau tidur lagi, ia malah bermain dan mengoceh sendiri, karena sekarang Yanju sudah mulai bisa duduk dan merangkak, bayi itu sedang aktif sekali.
"Abang Anju, nggak mau bobok lagi? hmm? Eh, jangan di ganggu Ibu bobok,Nak." Yandra segera meraih bayi itu saat ingin menaiki tubuh sang ibu, sehingga yang punya badan terbangun.
"Eh, kok Yanju bangun, Sayang?" Fatimah segera merangkul bayi mungil itu dan memberi kecupan seluruh wajahnya.
"Udah jam berapa ini? Abang belum tidur?" Tanya Fatimah saat melihat suaminya masih duduk.
"Belum, ada pekerjaan yang belum selesai. Adek cepat sekali tidurnya. Padahal Abang mau kasih sesuatu!"
"Kasih sesuatu? Apa emangnya?" Tanya Fatimah penasaran.
Yandra segera mengambil sebuah kado yang ada di atas nakas. "Nih buat, Adek," ujarnya memberikan kado itu
"Apa ini isinya,Bang? Jangan bilang Abang kasih Adek pakaian kurang bahan itu lagi?" Tanya Fatimah curiga
"Kalau iya, emang kenapa? Adek nggak mau menggunakannya untuk Abang?"
"Abang serius kasih yang begituan lagi? Tapi yang kemarin udah ada, Bang! Nggak mau ah, kalau yang itu lagi!" Fatimah cemberut dan memalingkan wajahnya.
Yandra tersenyum melihat wajah gusar sang istri, ia duduk di samping Fatimah dan mengecup bibirnya sekilas.
"Buka dulu, Sayang, jangan suka menyimpulkan sendiri," ujarnya sembari kepala bersandar di bahu Fatimah.
Fatimah menatap Yandra sedikit ragu. Hatinya juga penasaran ingin tahu isi kado itu. Maka dengan perlahan ia membuka kotak kado itu, seketika matanya berbinar saat melihat isinya.
Kembali ingatannya pada gaun yang ada di butik saat itu. "I-ini? Abang kok tahu Adek suka busana ini?" Tanyanya dengan heran
"Adek suka?" Tanya Yandra memastikan
Fatimah segera mengambil busana muslim itu memeluk dan menciumnya. "Iya, Adek suka banget! Aaa... Manis banget sih Abang!" Ujarnya manja sembari memberi kecupan di pipi Yandra.
"Syukurlah, ada kebahagiaan tersendiri di hati Abang karena bisa memberikan sesuatu yang Adek suka," ujar Pria itu membalas kecupan sang istri.
__ADS_1
"Terimakasih ya, Bang, Adek suka banget, eh, tapi benaran adek nanya, kok Abang tahu Adek menyukai busana muslim ini? Padahal itu udah lama lho?"
"Sebenarnya Abang sudah tahu semenjak kita ada di butik itu, busana itu sudah Abang beli bersamaan dengan kado buat Nadia, tapi..."
"Tapi apa Bang?" Tanya Fatimah penasaran
"Karena Abang kesal lihat Adek dekat dengan Yoga, jadinya Abang salah kasih kado. Ya ketukar deh dengan kado Nadia!"
"Terus sekarang kok Abang bisa kasih Adek lagi, apakah Abang minta sama kak Nadia?"
"Iya, Nadia bilang juga belum pernah ia pakai, jadinya bersyukur banget."
"Kenapa kak Nadia nggak mau pakai apakah tidak sesuai seleranya ya, Bang?"
"Bukan karena itu!"
"Terus karena apa?"
"Si Evan nggak bolehin, dia kira Abang sengaja kasih istrinya kado spesial. Pikirnya Abang ada rasa dengan Nadia! Aneh banget tuh orang!"
"Ya Allah... Sampai segitunya gara-gara gaun ini! Hahaha... Jadi Dr Evan cemburu dengan Abang?"
"Awalnya sih begitu. Tapi setelah tahu yang sebenarnya baru deh, tuh orang paham. Untung saja Abang cepat kasih tahu kalo nggak pasti selamanya dia akan mikirnya Abang menyukai istrinya."
Pria itu tersenyum puas, ternyata sesederhana ini membuat sang istri bahagia. Ia memeluk Fatimah dan putranya, lalu menghadiahi keduanya kecupan secara bergantian.
***
Pagi ini Yandra dan Fatimah sudah bersiap untuk berangkat ke pelabuhan Belawan, karena kapal pesiar yang akan mereka tumpangi diperkirakan berangkat jam 10 pagi.
"Dek, sudah siap belum?" Tanya Yandra nyamperin Fatimah yang sedang menyiapkan Yanju, ya, bayi mungil itu akan ikut bersama mereka, tetapi mereka juga membawa seorang suster untuk membantu menjaga Yanju saat di kapal.
"Sebentar,Bang! Nah udah tampan anak ibu. Sama ayah dulu ya,Nak. Ibu rapiin jilbab sebentar."
"Ayo sini, Abang sama Ayah!" Yandra segera membawa Yanju keluar.
Setelah selesai mereka berpamitan pada Mama dan Papa, setelah itu mereka juga akan mampir sebentar kerumah orangtua Fatimah untuk berpamitan. Dan tak lupa menjemput Yoga dan keluarganya, jadi mereka perginya bersama.
"Kalian hati-hati ya, Nak! Jaga Yanju dengan baik," pesan Mama Anggi.
"insyaAllah Ma, kalau begitu kami pamit ya Ma, Pa." Mereka menyalami kedua orangtua itu dengan takzim
__ADS_1
"Ya, semoga selamat pulang pergi, jangan lupa Yan, Papa dan Mama menunggu kabar bahagia itu. Biarpun kami punya anak dua, tapi kami berharap kamu dan Abangmu bisa memberikan kami cucu yang banyak agar rumah ini tidak sepi lagi, terasa ramai," Ujar Papa Malik yang akan menagih janjinya pada sang putra saat pulang dari liburan.
"Aku usahakan ya,Pa, agar Papa dan Mama tidak kecewa dengan hasilnya," jawab Yandra tersenyum sembari menatap Fatimah yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Udah, nggak usah terlalu didengerin ucapan Papa kamu Fatimah. Emang dia pikir semudah itu? Lah wong anak pergi liburan malah minta yang aneh-aneh! Minta itu mbok ya oleh-oleh gitu! Kalau soal cucu itu urusan Allah, bonus namanya!"
Akhirnya Mama Anggi membuka suara, ia tahu menantunya itu sedang menahan malu, mendengar obrolan suami dan anaknya.
"Ya, nggak apa-apa dong Ma! Kan namanya juga usaha, iya 'kan, Pa?" Potong Yandra membela sang Papa.
"Eleh, itu maunya kamu saja. Udah sana berangkat! Keburu ditungguin Yoga," usir Mama.
"Hehehe... Yaudah kami pamit."
Setelah berpamitan dengan Ayah dan Ibu, kini mobil yang dikendarai supir itu menuju kediaman Yoga.
Setelah sampai dikediaman Yoga, Yandra segera turun menghampiri mantan rivalnya itu, sekarang mereka sudah terlihat akrab dan terjalin persahabatan yang hangat.
"Udah siap Ga?" Tanya Yandra.
"Eh, udah datang aja. Bentar ya,Yan. Aku lihat Zahra dulu, tadi lagi siap-siap." Yoga segera menemui istrinya dan membantu menyiapkan segalanya agar tak ada yang ketinggalan.
Tidak berselang lama Zahra dan Yoga sudah keluar dari kamar dan dibantu oleh Bibi Nur, juga seorang suster yang akan ikut bersama mereka.
"Muat nggak nih?" Tanya Yoga karena melihat lumayan banyak penumpang.
"Muatlah, suster duduk di kabin belakang. aku Fatimah dan Zahra ditengah, kamu peluk sicantik Rara di depan," jelas Yandra mengatur duduk penumpang.
40 Menit kini mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki pelabuhan Belawan Medan. Fatimah dan Zahra yang asyik ngobrol tidak menyadari mobil telah sampai.
"Ya ampun, udah sampai aja? Haha... Nggak terasa kalo lagi asyik ngobrol," ujar Fatimah.
"Maklum sesekali bertemu Fa, kamu sibuk banget nggak pernah main kerumah aku," balas Zahra.
"Maaf ya, tapi benaran besok kalo ada waktu senggang aku pasti main kerumah kamu. Yaudah yuk turun!"
Mereka segera memasuki awak kapal, dan Beberapa pelayan mengantarkan mereka ke hotel yang telah di tentukan.
Fatimah dan Zahra Sangat tercengang melihat pemandangan di dalam kapal raksasa itu. Semua fasilitas lengkap. Mungkin ini adalah pengalaman pertama mereka menaiki kapal pesiar.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰