Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Memaafkan


__ADS_3

Sudah dua hari ini Yoga dilanda kegelisahan, pasalnya sang istri irit bicara, kebetulan hari libur ia berencana untuk membawa istri dan anak-anaknya untuk piknik, agar ketegangan sedikit longgar.


"Kopinya Mas." Zahra menyuguhkan secangkir kopi


"Terimakasih ya," ujarnya namun, di balas sedikit senyum dan segera beranjak


"Zahra?" Panggil Yoga menghentikan langkah wanita itu


"Ya?"


"Kebetulan ini hari libur, kita bawa anak-anak jalan ya!"


"Maaf Mas, aku tidak bisa!"


"Kenapa Zah? Apakah kamu masih belum bisa memaafkan aku?"


"Aku sudah memaafkan!" Zahara segera berlalu namun, Yoga segera meraih tangan wanita itu


"Zah, tunggu!"


"Ada apa lagi Mas?" Ujarnya dingin


"Udah dong Dek, hanya karena aku salah bicara kamu sampai mendiamkan aku begitu lamanya!" serunya dengan wajah memelas


Zahra tak menanggapi ucapan Yoga, ia segera beranjak menuju kamar. Ya, semenjak kejadian malam itu Zahra kembali menepati kamarnya.


"Zah, Zah tunggu dulu aku belum selesai bicara!" Pria itu masih mengejar


Zahra hanya diam sembari menyibukkan diri untuk memandikan bayi mungilnya, tanpa menghiraukan kehadiran Yoga di kamar itu


"Zahra, please! Tolong akhiri semua ini. Pernikahan kita masih hitungan minggu, tapi kenapa hanya karena masalah sepele seperti itu kamu perpanjang!"


Pria itu mengeluarkan suara tinggi karena gemas dengan sikap sang istri yang dia anggap terlalu berlebihan.


"Benarkah masalah sepele? Perasaan wanita mana yang tidak sakit jika suaminya masih mencintai wanita lain! Bahkan dalam berhubungan kamu menyebut nama wanita itu! Kamu menghayalkan jika kamu sedang bercinta dengan wanita yang kamu cintai! Kenapa Mas? Apakah kamu kecewa karena dia sudah menikah dengan Pria lain! Atau jangan-jangan kamu menikahiku hanya untuk sebagai pelampiasan, iya?!" Tuding Zahra mengena dijantung Yoga


Flashback on


Zahara mengeluarkan segala uneg-uneg yang ia pendam beberapa hari ini. Setelah kejadian malam itu ia mencoba untuk mencari tahu, dan menanyakan kepada Bik Nur, Dari informasi yang ia dapat, tidak ada wanita manapun yang datang kerumah itu selain Fatimah.


Karena rasa sakit dihatinya maka ia beranikan diri untuk menghubungi Fatimah setelah berhasil mengambil kontaknya dari ponsel Yoga.


Zahra mencoba untuk menanyakan tentang hubungan Yoga dan Fatimah, awalnya Fatimah tidak ingin bercerita karena itu privasi namun, wanita itu juga tidak ingin Zahra berpikir yang bukan-bukan


Maka Fatimah dan Zahra sepakat untuk bertemu membahas tentang hubungan mereka. Fatimah mencurahkan segalanya bahwa Yoga memang pernah mengungkapkan perasaannya tetapi, ia tidak bisa menerima karena Fatimah hanya menganggap Yoga sebagai teman.

__ADS_1


"Zahra, aku minta maaf ya, jika kehadiran aku membuat kamu dan Dr Yoga jadi salah paham, tapi sekali lagi aku tegaskan kepadamu bahwa aku sedikitpun tidak mempunyai perasaan pada Dr Yoga. Aku hanya menganggapnya sebagai teman atau seorang Abang," jelas Fatimah tak enak hati.


"Tidak perlu meminta maaf Fatimah, sebenarnya aku yang tak enak hati karena sempat berpikir tidak baik padamu. Aku yang seharusnya meminta maaf karena telah mengganggu kenyamananmu."


"Tidak apa-apa Zahra, aku maklum itu, karena kita sama-sama wanita."


"Terimakasih ya Fa, kalau begitu aku pamit pulang dulu, semoga kamu dan dokter Yandra selalu bahagia, aku Do'akan semoga segera mendapatkan momongan," ujarnya dengan senyum tulus


"Terimakasih Zahra, Do'a yang sama buat kamu dan keluarga, semoga masalah kamu dan Dr Yoga cepat selesai," balas Fatimah


"Apakah kamu mau jadi teman aku Fa? Aku disini tidak mempunyai teman."


"MasyaAllah, tentu saja aku mau Zahra. Aku sangat senang bisa berteman denganmu," Fatimah memeluk teman barunya itu.


Zahra menatap Fatimah dengan dalam, dia begitu baik dan cantik, bagaimana mungkin suaminya tidak tergila-gila dengannya.


Flashback off


"Zahra, itu tidak benar apa yang kamu tuduhkan! Aku tidak pernah ada niat sedikitpun untuk menjadikan kamu sebagai pelampiasan. Sekali lagi aku minta maaf soal itu! Tolong maafkan aku!"


"Jika kamu belum bisa melupakannya kenapa kamu menikahiku Mas? Bahkan aku merasakan malam itu kamu menyentuhku dengan emosi. Bathin aku sakit Mas! Kenapa kamu tega sekali, mungkin kamu menganggap bahwa itu adalah hal yang sepele karena kamu tidak mencintai aku! Jika kamu belum bisa menata hati, tolong jangan korbankan diriku, biarkan aku pergi dari kehidupan kamu Mas, mungkin bukan aku wanita yang bisa mengobati luka hatimu karena kekecewaan!" Tangis wanita itu pecah sembari memeluk Arfan dengan erat.


Yoga duduk bersimpuh dihadapan Zahra yang sedang memeluk Arfan, "Dek, aku mohon maafkanlah kesalahanku, aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi!" Lirih Pria itu meletakkan kepalanya di antara lutut Zahra yang sedang duduk di pinggir ranjang.


Zahra merasa tidak tega melihat Yoga begitu menyesali kesalahannya, ia menghapus air mata, dengan lembut tangannya meraih tangan yoga.


Yoga menyembunyikan wajahnya di kedua lutut Zahra dadanya terasa sesak tanpa terasa air matanya jatuh, dia menyesali segala perbuatannya. Padahal zahralah gadis kecil yang selama ini dia cari, tapi kenapa sekarang disaat wanita itu sudah menjadi miliknya dia tega menyakiti.


"Dek, Mas benar-benar minta maaf, tolong maafkanlah! Aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku!" Dia kembali mengulang ucapan itu.


Zahra mengusap rambut hitam legam itu dengan lembut, air matanya kembali jatuh.


"Mas, aku tidak meminta apapun. Tolong jangan sakiti perasaanku," ucapnya sembari membantu Yoga segera duduk di sisinya.


"Dek, lihat aku! Aku janji tidak akan pernah menyakiti kamu lagi!" Yoga merangkum kedua pipi Zahra.


Zahra menatap wajah teduh itu menelisik bola matanya untuk mencari kejujuran disana. "Mas, jika kamu tidak bisa mencintai aku, jangan paksakan! Aku akan per..."


Yoga mengecup bibir Zahra dengan lembut dan melu matnya sedikit dalam, Pria itu tidak ingin mendengarkan ucapan perpisahan dari sang istri.


"Jangan pernah katakan itu lagi,Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu dan Arfan pergi meninggalkan aku dan Rara. Aku tidak akan pernah mengulangi kebodohanku."


Yoga memeluk Zahra dan Arfan, mengecup bayi mungil itu dengan sayang. "Arfan jangan pernah meninggalkan Daddy ya Nak, Daddy janji tidak akan pernah membuat kamu dan Mama bersedih lagi," ujarnya kepada bayi mungil itu.


"Sayang, kamu mau 'kan, memaafkan aku?" Tanyanya kembali memastikan

__ADS_1


Zahra tersenyum dan mengangguk, ia membalas pelukan Pria itu, perasaan nyaman sudah mulai tercipta. Dia berharap Yoga bisa mencintainya.


***


--Dikediaman Malik--


Siang ini Yandra masih betah di kamar dengan bermalas-malasan, Pria itu terlihat tidak begitu bersemangat Pasalnya sehari setelah ia menggempur sang istri, paginya Fatimah mendapatkan tamu bulanannya, maka buruklah mood Pria itu beberapa hari ini.


Fatimah masuk sembari membawa Yanju, ia melihat sang suami sedang tertidur entah pura-pura tidur.


"Bang?" Panggil Fatimah namun, tak ada sahutan.


"Hek... Hek..." Bayi mungil itu merengek-rengek


"Kenapa Nak? Abang Anju ngantuk yah? Uuu.. Sayang, yuk kita bobok sambil mimik ya,"


Fatimah membaringkan bayi itu dan menyu suinya sembari tidur membelakangi Yandra. Sepertinya Yanju memang sudah ngantuk tidak berapa lama ia sudah terlelap.


Karena nagntuk, Fatimah juga ikut terlelap. Maka Domes mulai beraksi. Pria itu mulai menjalankan aksinya, yaitu tangannya meraba tubuh sensitif sang istri.


"Abang!" Sentak Fatimah dengan mata melotot


"Hehehe... Jangan berisik kenapa sih Dek! Nanti Yanju bangun," tawanya meresahkan.


"Iya, tapi Abang mesum banget! Adek ngantuk Bang, lepasin!" Mohon wanita itu dengan suara berat.


"Tapi Abang nggak tahan Dek. Bantuin Abang dong, sakit nih kepala!" jelasnya minta perhatian


"Sakit kepala apaan? lah wong semalam juga di bantuin, mau minta bantuan mulu, sana ke kantor polisi!" Cebik wanita itu kesal


"Eh, kok Abang disuruh ke kantor polisi? Adek mau Abang dibantuin sama polwan-polwan cantik itu?"


"Polwan cantik siapa? Widi?" balas Fatimah sewot


"Ck, apaan sih sampai kesana? Yaudah kalau nggak mau nggak perlu bawa-bawa orang juga kali..." Pria itu ikutan sewot dan segera membalikkan tubuhnya memunggungi sang istri.


"Ciee... yang ngambekan saat nama mantan di sebut," ledek Fatimah sembari memeluk Yandra dari belakang.


"Awas Dek, nggak usah mancing. Abang ngantuk pengen tidur!" Ujar Pria itu pura-pura ngambek padahal dalam hati kesenangan.


"Yakin ingin tidur? Yaudah aku juga ingin tidur." Fatimah segera membalikkan tubuhnya namun, secepatnya Yandra menahan tubuh wanita itu.


"Nanti tidurnya Sayang, bantuin Abang dulu ya," ujarnya memelas. Akhirnya disiang hari Fatimah harus memainkan microphone bersolo ria.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2