Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Ziarah ke makam Arif


__ADS_3

Sebulan setelah pulang dari mereka liburan. Hari ini Yoga ingin mendatangi rumah mantan suami Zahra untuk mengambil buku nikahnya dan mengambil surat kematian suami pertamanya.


"Mas, emang tidak ada cara lain ya untuk membuat kartu keluarga dan buku nikah tanpa menggunakan surat nikah dan surat kematian?" Tanya Zahra gelisah.


"Nggak, bisa Dek, karena di catatan kantor agama pusat, kita sama-sama sudah menikah. Jadi jika ingin mengurus buku nikah resmi kita harus memenuhi syarat yang berlaku," jelas Yoga sembari duduk di samping sang istri.


"Kenapa Sayang? Kamu takut untuk datang kerumah ibu mertua mu?" Tanya Yoga memastikan dari raut wajah sang istri.


"Aku takut mereka akan mengambil Arfan dariku, Mas."


"Dek, percaya sama aku. Tidak ada yang bisa mengambil Arfan dari kita, aku tidak akan membiarkan itu terjadi," ujar Yoga menenangkan Zahra yang tampak gelisah.


"Terimakasih ya, Mas." Zahra memeluk Yoga dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya.


"Iya, Sayang. Yasudah, ayo sekarang kita berangkat. Nanti keburu siang.


Dengan keyakinan penuh, Zahra melangkah untuk memperjuangkan hak anaknya agar mendapatkan identitas yang jelas dari catatan sipil.


Hanya memakan waktu 40 menit, mereka sudah sampai di kediaman orangtua almarhum suaminya.


"Ayo, Sayang," ajak Yoga sembari menggenggam tangan Zahra.


"Mas, temani aku ya?" Pinta Zahra cemas, walau bagaimanapun ia masih menyimpan rasa trauma atas perlakuan keluarga suaminya yang tidak pernah baik kepadanya.


"Tentu Dek, Mas akan selalu menemani kamu." Mereka segera turun dan menuju rumah mewah itu. Dengan ragu Zahra menekan bel pintu itu.


"Mau apa kamu datang kesini? Mana cucuku?" Tanya wanita paruh baya itu dengan nada tidak suka.


"Maaf, Ma. Aku datang kesini untuk mengambil semua barang-barangku yang ada di sini," jawab Zahra berusaha untuk tetap tenang.


"Tidak bisa! Kamu serahkan cucuku dulu, baru aku izinkan kamu mengambil barang-barangmu," tekan wanita baya itu dengan garang.


"Tidak, Ma. Aku tidak akan memberikan anakku pada siapapun! Jika Mama ingin bertemu dengan Arfan, aku tidak akan melarang, tapi jika Mama ingin mengambilnya, aku tidak akan pernah mengizinkan!" Zahra tak kalah tegas.


"Kalau begitu silahkan kalian pergi dari rumah ini! Aku tidak sudi melihat wajahmu!" Usir Mama Runi.


"Tidak, Tante! Kami tidak akan pergi sebelum kami mengambil hak istriku," potong Yoga.

__ADS_1


"Heh! Kamu laki-laki yang tidak tahu malu. Kamu jangan pernah ikut campur urusan aku dan dia! karena aku tidak ada urusan denganmu."


"Tentu saja aku ada urusan dengan Tante, karena Zahra sekarang sudah menjadi istriku, maka aku akan melindungi jika ada yang ingin menyakitinya, aku heran apa salah Zahra sehingga Tante begitu tidak menyukai Zahra?"


"Apakah karena dia seorang gadis yatim piatu, dan tinggal di panti asuhan tidak mempunyai keluarga? Jangan pernah menilai seseorang dari latar belakangnya Tante, belum tentu seseorang itu buruk seperti dalam pikiran Tante, Aku juga seorang anak terbuang yang di tinggalkan oleh ibuku, walaupun kami tidak mempunyai keluarga, tapi kami juga berhak untuk bahagia."


Ujar Yoga mencurahkan sedikit masa lalunya. Ya, dari cerita ibu panti asuhan, waktu bayi ia di titipkan oleh ibunya, wanita itu berjanji akan menjemputnya kembali setelah urusannya selesai.


Wanita yang bernama Runi itu tiba-tiba terdiam, seakan dia sedang menyimpan sesuatu yang tak bisa ia utarakan. Wanita itu menatap Yoga dengan dalam.


Runi menelisik mata hitam teduh itu dengan seksama. Seakan ia melihat sesuatu Dimata itu. Lidahnya terasa kelu.


"A-apakah kamu berasal dari panti asuhan juga?" Tanya Runi dengan bibir bergetar.


"Ya, aku berasal dari panti asuhan yang sama dengan Zahra. Tante, aku mohon! Tolong biarkan Zahra hidup bahagia bersamaku, aku berjanji menyayangi Arfan seperti anakku sendiri. Kami janji tidak akan pernah menghalangi jika Tante ingin menemui Arfan." Yoga memohon kepada mantan ibu mertua istrinya itu.


"Baiklah, ambilah semua barang-barangmu. Tolong jaga cucuku dengan baik. Aku akan mengunjunginya jika aku merindukan cucuku," ujar wanita baya itu yang tiba-tiba melunak.


Zahra bernafas lega sembari tersenyum kepada sang suami. "Terimakasih, Ma. Aku berjanji segenap jiwa akan menjaga putraku. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya." Janji Zahra sembari mengambil tangan wanita baya itu dan menciumnya.


Zahra segera masuk dan menuju ke kamarnya, ia mengambil semua barang-barangnya yang tertinggal dan tak lupa surat-surat berharga yang menjadi misi utamanya.


Setelah selesai mengemas semua barang-barangnya, Zahra kembali turun, bersiap untuk pergi kembali bersama Yoga.


"Ma, Terimakasih. Kalau begitu kami pamit dulu. Jika Mama ingin bertemu Arfan datanglah, Arfan pasti sangat senang bisa bertemu dengan neneknya," ujar Zahra tersenyum lembut.


"Ya, pergilah. Ah, maaf. Kalau Tante boleh tahu, siapa namamu?" Tanya Mama Runi pada Yoga sebelum mereka beranjak.


"Ah, maaf Tante, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Prayoga Aditia."


"Adit?"


"Iya, Aditia itu bawaan nama dari ibuku, saat dia menitipkan kepada ibu asuh dia sudah memberiku nama, tapi Tante bisa panggil aku Yoga saja."


Seketika tubuh wanita itu bergetar. Dengan sekuat tenaga wanita baya itu menahan diri agar tetap tenang, ia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya dihadapan sang Putra yang selama ini ia cari.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, Tante. sekali lagi terimakasih banyak atas kebaikan Tante."

__ADS_1


Mama Runi hanya membalas dengan anggukan ucapan Yoga dan Zahra. Wanita itu masih menatap punggung tegap itu menjauh darinya, ingin rasanya ia berlari dan memeluk Pria itu penuh rasa rindu, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk itu.


Dimobil, Zahra yang sedari tadi tak lepas dari senyum bahagia, tiba-tiba senyum itu menghilang, saat mereka melewati simpang jalan ke pemakaman almarhum suaminya.


"Mas?" Panggilnya menatap Yoga yang sedang fokus mengemudi.


"Iya, Sayang?"


"Aku ingin mampir ke makam Mas Arif, sebentar boleh nggak?" tanya Zahra sedikit ragu, tak bisa di pungkiri bahwa ia sangat merindukan Pria yang pernah membersamainya selama beberapa bulan, Pria yang sangat menyayanginya, sikapnya yang lembut tak berapa jauh dengan Yoga, dari pernikahan itu pula mereka telah mempunyai seorang putra dari buah cinta mereka.


Yoga menepikan mobilnya, ia menatap sang istri dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Tentu saja boleh, Dek. Aku juga ingin minta izin kepadanya, karena selama menikah kita belum pernah berziarah ke makamnya."


"Terimakasih ya, Mas." Zahra mengukir senyum kebahagiaan.


Dengan petunjuk sang istri Yoga kembali memutar mobilnya balik ke belakang, dan menuju TPU setempat.


Kini mereka sudah berada di sebuah makam yang tertulis di batu nisan itu atas nama, Arif Rahmadhan.


"Assalamualaikum..." Zahra dan Yoga mengucapkan salam secara bersamaan.


Zahra duduk bersimpuh di samping makam sembari mengusap batu nisan itu. Dengan bibir bergetar ia mengecup batu nisan sang suami dengan penuh kerinduan, air mata tak mampu ia tahan.


"Semoga Allah memberikan tempat terindah disisi-Nya. Mas Arif, maafkan aku Mas, aku sudah mendapatkan pengganti dirimu. Tapi sampai kapanpun namamu selalu tersimpan di sanubari. Kamu tetap ada dalam hatiku dan Arfan.


"Tenanglah dialam sana Mas, Do'aku selalu tercurah padamu. Aku sangat merindukan kamu, aku akan menjaga buah cinta kita dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir Mas." Zahra kembali mengecup batu nisan itu dan mengusapnya dengan lembut.


Yoga ikut duduk disisi Zahra. Pria itu ikut mengusap batu nisan Arif.


"Hai, Perkenalkan namaku Yoga. Maaf ya, aku mengambil posisimu menjadi suami Zahra, tugasmu sudah selesai menjaga wanita yang sama-sama kita cintai, maka izinkan aku mengambil alih tugasmu untuk menjaganya.


"Aku tidak tahu dengan siapakah kelak ia di satukan, dengan dirimu atau dengan aku, itu semua ketentuan dari Allah, yang jelas kita sangat menyayangi wanita yang sama. Tapi aku berjanji padamu akan melindungi Zahra dan putramu dengan segenap jiwaku. Tenanglah dialam sana. Aku selalu mendo'akanmu disetiap sujudku."


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2