Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Dirumah Ibu


__ADS_3

Jam 13.15 Fatimah baru saja menyelesaikan tugasnya, dan segera keluar dari gerbang sekolah, ia melihat Yandra sudah menunggu.


"Udah Dek?" tanya Yandra sembari membukakan pintu mobil untuk Fatimah, kini sikap Pria itu begitu manis, semenjak menikah. Tak ada lagi yandra yang dingin dan kaku seakan dunianya berubah seketika.


Fatimah tersenyum manis menerima perlakuan suaminya itu. Terkadang masih belum percaya dengan kenyataan. Pria yang kemaren-kemaren membuat emosi jiwa, selain sikapnya yang dingin, juga membuat kecewa terdalam saat Yandra pernah menolak dirinya dan bahkan menjalin hubungan dengan Widi.


Namun kembali lagi atas kuasa Allah yang maha membolak-balikkan hati seseorang. Kini Pria kaku dan dingin itu sudah menjadi miliknya.


"Dek, mau beli sesuatu buat Ibu?" tanyanya masih fokus dengan kemudinya.


"Iya, kita berhenti di toko kue ya bang. Adek mau beli brownis kesukaan ibu dan si bungsu."


Setelah mobil terparkir di depan toko bakery cake, Fatimah segera turun untuk membeli beberapa cake oleh-oleh untuk keluarganya.


Kini mereka sudah sampai di kediaman orangtuanya. Saat Fatimah ingin keluar, kembali hal serupa terjadi. Yandra mengunci pintu mobil.


Fatimah yang sudah tahu keinginan suaminya itu, ia segera merangkum kedua pipi Yandra dan memberi kecupan-kecupan hangat dan di balas luma tan oleh Yandra.


Setelah selesai pergumulan lidah itu maka mereka segera keluar. Sepertinya hal seperti itu akan menjadi rutinitas oleh kedua pasangan itu.


"Assalamualaikum..." Ucapan keduanya.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab Ibu ,


"Fatimah, Yan, apa kabar Nak? Ayo masuklah!"


"Alhamdulillah sehat Bu, aku kangen banget sama ibu," ujar Fatimah sembari menyalami tangan ibunya dan di ikuti oleh Yandra.


"Ayah mana Bu?" tanya Yandra


"Ayahmu belum pulang, karena hari ini lagi panen sayur di kebun," jelas Ibu.


Ya, semenjak berhenti bekerja di keluarga Malik, maka Pak Eko memutuskan untuk bertani dengan modal uang pesangon yang diberikan oleh keluarga Malik.


"Dengan siapa ayah panen, Bu?" tanya Yandra ingin tahu


"Dengan Pakde mu."


"Banyak penennya? Sayur apa yang dipanen Bu?"


"Sayur kol, wortel dan kentang. Alhamdulillah panen pertama lumayan hasilnya. Tadi ibu di kebun tapi Fatimah mengabari ingin pulang jadi ibu duluan, mungkin sebentar lagi ayah pulang," jelas ibu ingin beranjak.


"Ibu mau kemana? Biar aku saja yang membuatkan Abang minum," ujar Fatimah segera beranjak ke dapur.


Cukup lama mereka ngobrol namun, ayah belum juga pulang maka ibu meminta mereka untuk istirahat saja di kamar, Yandra menyetujui karena dia memang ada keperluan dengan ayah mertuanya.


Dikamar Fatimah menghubungi Lyra untuk menanyakan stok ASI Yanju apa masih ada? Dia memberitahukan masih dirumah orangtuanya.


Lyra membalas pesan Fatimah, masih ada stok ASI sedikit lagi, tapi Lyra mengatakan tidak perlu khawatir jika kurang akan di tambah dengan sufor.

__ADS_1


Fatimah merasa lega, karena mungkin dia akan pulang agak terlambat, karena menunggu ayah terlebih dahulu.


"Dek, lagi balas chat siapa sih kok serius banget," tanya Yandra baru saja masuk dan segera merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Fatimah.


"Balas chat kak Lyra, tanyain Yanju," jawab Fatimah masih fokus dengan ponselnya namun tangan sebelahnya refleks mengusap rambut Yandra dengan lembut.


"Dek, lingerie kemaren masih ada 'kan?" tanya Pria itu menengadahkan wajahnya menatap Fatimah.


Fatimah sedikit terkejut mengalihkan perhatiannya membalas tatapan sang suami dengan rona wajah bersemu.


"Masih, emang kenapa?" tanyanya curiga


"Hehe... Pengen lihat dong Adek menggunakan pakaian itu," ucapnya nyengir meresahkan


"Nggak usah aneh-aneh ya Bang!" Balas Fatimah memperingati


"Apa salahnya sih Dek? Kan kita sudah suami istri, Abang pengen lihat Adek menggunakan pakaian seksi seperti apa, menyenangkan hati suami adalah ibadah, Sayang," tutur pria itu seperti memberi wejangan untuk menguntungkan dirinya.


Fatimah mengerutkan keningnya seperti berpikir. Benar sih apa yang dikatakan Yandra, tapi dirinya masih cukup malu untuk menuruti keinginan suami omesnya itu.


"Kenapa diam saja Dek? Permintaan Abang terlalu berat ya?"


"Bu-bukan begitu Bang, tapi Adek malu, jangan disini dong! Kan malu dilihat Ibu harus mandi siang."


"Jadi nanti kalau dirumah Adek mau menggunakannya? Tanya pria itu penuh harap.


"Yess! Terimakasih istriku Sayang, muuach!" Yandra tersenyum girang menghadiahi Fatimah dengan kecupan hangat.


"Yaudah Abang geser dulu Adek mau tidur bentar, Adek ngantuk banget Bang," Fatimah membaringkan tubuhnya untuk mencari kenyamanan, tapi sepertinya dia lupa dengan tingkat kemesuman suaminya itu yang tak akan mungkin membuatnya tidur dengan tenang.


Yandra mendekap tubuh Fatimah dari belakang sembari mengecup tengkuk istrinya itu. "Kenapa dikamar ini tidak di buat kamar mandi saja sih Dek?"


"Iya sih Bang, tapi kan nggak enak dengan ibu dan ayah. Masa kamar kita ada kamar mandinya padahal sebenarnya mereka lebih membutuhkan agar lebih mudah beribadah," jelas Fatimah.


"Dek, Abang 'kan sudah memberikan kartu kredit pada Adek, untuk dipergunakan segala kebutuhan kita. Ya termasuk merenovasi rumah, yaitu membuat kamar mandi kita dan orangtua Adek, tapi Adek masih enggan menggunakan uang itu. Abang heran sebenarnya Adek menganggap Abang ini apa sih?"


"Kenapa Abang bicara begitu? Tentu saja Abang suami Adek."


"Tapi kenapa Adek masih enggan menggunakan uang pemberian Abang?"


"Bukan enggan Bang, tidak enak karena kita baru saja menikah, Adek menyadari perbedaan kita, Adek hanya tidak ingin dikatakan memanfaatkan segala pemberian Abang dengan keuntungan merubah kehidupan keluargaku yang sederhana ini,"


Yandra meraih tubuh Fatimah untuk menghadap kepadanya. "Dek, kenapa mikir begitu? Jangan pikirkan kata-kata orang, karena apa yang Abang berikan kepada Adek semuanya ikhlas dari hati Abang, kebahagiaan Adek adalah yang utama, dan tentunya kebahagiaan Adek terletak kepada kedua orangtuamu, Abang tahu Adek tidak akan bahagia jika ayah dan ibu tidak bahagia. Maka bahagiakan mereka dengan apa yang kita punya."


Fatimah begitu terharu mendengar ucapan suaminya, ternyata pria itu begitu baik dan penyayang.


"Terimakasih ya Bang, Terimakasih atas segala pemberian Abang untuk Adek dan keluarga. Semoga rezeki Abang semakin berkah."


"Aamiin ya rabbal Alamin, terimakasih Do'a yang selalu kamu berikan Sayang, sejak kita menikah dalam rezeki Abang ada rezeki Adek juga, jadi nggak boleh nolak apapun yang Abang berikan."

__ADS_1


Fatimah tersenyum bahagia memeluk suaminya itu penuh haru dan kasih sayang. Akhirnya mereka tertidur dalam dekapan kenyamanan.


***


Siang ini Yoga pulang agak terlambat, karena dihari Senin pasiennya memang membludak. Wajah lelah tercetak disana, dengan langkah gontai ia memasuki kediamannya.


"Assalamualaikum...."


"Wa'alaikumsalam... Baru pulang Mas?" Zahra menyongsong sang suami yang terlihat guratan lelah di wajahnya.


"Iya, biasalah hari ini pasien rawat jalan jadwalnya penuh," jawabnya sembari memberikan tangan dan disambut secepatnya oleh Zahra dengan kecupan hangat.


"Anak-anak dimana Dek?" tanyanya mengikuti langkah sang istri


"Ada di kamar Mas, aku baru selesai kasih kak Rara makan siang, jadi Arfan ketiduran di kamar kakaknya," jelas Zahra


"Hehe... Bayi itu memang anteng banget ya," ujar Yoga gemas memikirkan tingkah bayi mungil itu.


"Iya, dia akan tertidur dimana saja jika sudah ngantuk."


"Mas, mau makan sekarang? Atau istirahat dulu?" tanya Zahra kembali.


"Mau istirahat sebentar,Sayang. Dek, sini deh ada yang mau Mas bicarakan!" Yoga menepuk ranjang meminta Zahra duduk di sisinya.


"Apa Mas?" tanyanya segera duduk di sisi sang suami.


"Tadi di RS, Dr Yandra memberikan kita tiket liburan Cruise liner, Bagaimana? Apakah kamu mau kita pergi liburan bersama mereka?"


"Apakah Dokter Yandra dan Fatimah ikut juga?" tanya Zahra memastikan.


"Ya, kita pergi berempat. Tiket itu dari Tante Anggi dan Prof Malik bentuk apresiasi mereka," jelas Yoga.


Zahra seperti berpikir, apakah Yoga bisa mengendalikan perasaannya karena ia tahu suaminya itu pernah menaruh perasaan besar terhadap Fatimah.


"Kenapa Dek? kamu tidak nyaman pergi dengan mereka? Apakah kamu berpikir aku tidak bisa melihat kebahagiaan mereka, dan aku akan menderita, begitu 'kan?" ternyata pria itu sudah tahu apa yang di pikirkan oleh sang istri


"Apakah Mas Yoga yakin?"


"Zahara, aku akan buktikan padamu bahwa aku tidak akan mengecewakan dirimu. Sejak perjanjian kita malam itu, aku sudah membuang perasaanku terhadap Fatimah, percayalah hanya kamulah wanita satu-satunya penghuni hatiku selamanya." Pria itu meyakinkan Zahra.


"Mas yakin?" ujarnya kembali


"Insyaallah sangat yakin istiku, muuach!" Yoga mengecup bibir Zahra dengan lembut sehingga membuat wanita itu tersenyum malu.


Yoga merangkum kedua pipi Zahra, menatap wajah cantik itu. Dengan lembut ia melu mat bibir Zahra begitu dalam, kali ini sentuhan Yoga begitu lembut dan mesra sehingga membuat tubuh wanita itu melayang.


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2