
"Dek, mau makan sesuatu, nggak?" Tanya Yandra di perjalanan pulang.
"Nggak pengen apa-apa, kita mampir ke rumah ibu dulu ya, Bang?"
"Oke. Ibu dan ayah pasti sangat senang mendengar kabar ini, secara cucu pertama buat mereka," ucap Yandra.
"Hmm, pastinya. Tapi bagaimanapun. Abang Anju tetap menjadi anak pertama kita, Jujur Adek sedih, takut kasih sayang kita berkurang kepadanya, Bang. Ditambah sekarang kak Lyra juga sedang mempunyai bayi."
"Dek, Abang janji tidak akan pernah mengabaikannya. Kita sangat menyayangi Abang Anju, kamu jangan pikirkan hal itu ya, sampai kapanpun dia tetap menjadi anak kesayangan kita."
"Ya, di akan tetap menjadi kesayangan kita, maaf jika ada saatnya Adek kurang perhatian, Abang jangan abaikan dia ya."
"Mana mungkin Abang mengabaikannya, Dek. Dia darah daging Abang. Yang akan selalu Abang kasihi."
Fatimah tersenyum hatinya merasa lega. Lebih baik mereka berkomitmen sebelum menjalani realita.
Tidak berapa lama mobil Yandra sudah menepi di halaman rumah sederhana mertuanya itu. Walaupun dia cukup mampu mengubah rumah itu menjadi rumah mewah, tapi sang mertua selalu menolak maka ia harus perlahan membenahi kediaman keluarga istrinya itu.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." Ibu membukakan pintu, dengan mukena masih menutupi tubuhnya.
"Tumben sore-sore kesini, dari mana,Nak?" Tanya ibu sembari mengulurkan tangannya
"Tadi kami dari RS, Bu. Sekalian mampir kesini. Aku kangen banget dengan ibu," Fatimah memeluk wanita itu dengan manja.
Ibu tertawa kecil melihat tingkah anak sulungnya itu yang tiba-tiba saja bertingkah manja. "Kamu kenapa, Nduk?" Tanya Ibu mengusap punggung Fatimah dengan lembut.
"Bu, aku dan Abang punya kabar gembira buat Ibu," ucap Fatimah tersenyum bahagia
"Kabar apa, Nak?"
"Aku hamil, Bu."
"Alhamdulillah ya Allah... Kamu serius, Nak?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Fatimah sedang hamil, baru jalan delapan minggu." Yandra menjawab pertanyaan ibu mertuanya itu.
"Alhamdulillah, Ibu senang sekali mendengarnya, kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik ya, jangan terlalu capek. Semoga lancar hingga persalinan nanti."
"Aamiin, insyaAllah aku akan menjaganya dengan baik, Bu."
"Ayo duduklah, Ibu akan membuatkan minum buat suamimu," ucap ibu dengan wajah bahagia dan senyum tak terlepas dari bibirnya.
"Tidak usah repot-repot Bu, aku sudah minum," sanggah Yandra merasa sungkan karena ibu mertuanya membuatkan minum untuknya, selama ini Fatimah lah yang akan melayaninya walaupun dirumah ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa, Yan. Istri kamu sedang hamil muda jadi biar Ibu yang menggantikan pekerjaannya untuk sementara waktu." Ibu segera melesat ke dapur.
Yandra dan Fatimah hanya melempar senyum melihat kebahagiaan sang ibu. "Satu calon cucu saja sudah membuat ibu bahagia, bagaimana jika kita beri mereka cucu yang banyak, Dek, pasti kebahagiaan mereka tak terkira," ucap Yandra menggoda Fatimah.
"Ck, apa sih Bang ngomongnya begitu? Yang satu aja belum kelar malah mikir untuk selanjutnya, Abang mah enak cuma deposit, yang merasakan susahnya itu Adek," rungut Fatimah merasa gemas mendengar lambe sang suami asal njeplak.
"Hehe... Ya, walaupun Abang hanya deposit, tapi bunganya untuk Adek, semakin banyak bunga makin sejahtera Keluarga Malik dan keluarga, Masuk Pak Eko..." Pria itu benar-benar buat Fatimah gemas ingin gigit tuh bibir yang tak berbandrol ngatain ayah mertuanya.
"Assalamualaikum..." Ucapan salam dari Yusuf membuyarkan perdebatan kecil tentang deposito berbunga sikecil.
"Iya Bang, Abang dan kakak kapan sampai?"
"Barusan. Sibungsu mana? Kok setiap kami datang tu bocah nggak pernah kelihatan," tanya Yandra
"Nggak tahu kemana dia Bang, palingan main diruamah Pakde."
"Kak, bagi dong, mau beli baju olahraga untuk turnamen minggu depan," ujar bocah berumur empat belas tahun itu.
"Ah iya, nanti ya, kakak nggak pegang uang cash," balas Fatimah yang memang tak memgang uang tunai.
"Ciee, kakak berlagak nggak pegang uang cash segala, dulu aja duit ribuan aja tersusun rapi dalam lipatan baju," ujar Yusuf membuat wajah sang kakak menjadi merah merona.
"Apaan sih kamu. Walaupun uang ribuan tapi kamu kan paling suka malakin aku." Rutu Fatimah.
"Hahaha... Udah, udah. Emang kamu butuh berapa?" Tanya Yandra pada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Nggak banyak kok, Bang. Cuma dua ratus ribu." Jawab Yusuf jujur, Dan Yandra segera mengeluarkan dompetnya.
"Ini buat kamu dan sekalian untuk jajan berdua dengan Adek Najuwa." Yandra mengeluarkan beberapa uang kertas berwarna merah melebihkan dari yang dibutuhkan oleh Yusuf.
"Eh, apa-apaan ini, Suf?" Tanya Ibu yang baru datang membawa minum dan beberapa cemilan, wanita baya itu menatap tajam pada sang anak.
"Nggak, Bu, tadi aku minta sama kakak, tapi Abang sendiri yang kasih," elak Yusuf membela diri.
"Berapa kali ibu katakan padamu. Jika kamu butuh sesuatu bilang sama ibu dan ayah, jangan merepotkan kakak dan Abang iparmu." Ucap ibu tegas pada anak lelakinya itu.
"MasyaAllah, Bu. Kenapa ibu bicara begitu? Aku tidak pernah merasa direpotkan pada ibu dan adik-adik, aku masih mampu memberikan apa yang mereka minta," potong Fatimah sedih mendengar ucapan sang Ibu.
Mungkin karena hormon wanita itu memang sedang bermasalah jadi mudah sekali tersinggung.
"Kenapa ibu selalu saja menolak bantuan yang aku berikan? Padahal sekarang aku sudah mempunyai penghasilan sendiri, aku sudah menjadi ASN, aku sudah bergaji. Aku ingin membantu ekonomi ibu dan ayah, tapi ibu selalu menolak, apakah ibu menganggapku orang lain?" Tanya wanita itu dengan air mata sudah luruh begitu saja.
"Astaghfirullah, kenapa kamu bicara begitu, Nak?" Ibu segera duduk disamping Fatimah dan memeluk Putri sulungnya itu. "Demi Allah ibu tak bermaksud menyakiti perasaan kamu, ibu dan ayah hanya tidak ingin merepotkan kamu, karena kami masih mempunyai penghasilan, dan masih cukup memenuhi kebutuhan ekonomi dan adik-adikmu."
Ibu memeluk Fatimah dan mencium kedua pipi anaknya itu. "Udah, jangan sedih ya, ibu sangat bersyukur karena kamu dan Yandra sangat perhatian pada ibu dan adik-adikmu. Ibu janji jika ibu butuh bantuan ibu akan memberitahu kalian."
"Janji ya, Bu. Apapun kesulitan Ibu dan Ayah, jangan pernah diam saja. Segera beri tahu aku dan Abang. Apakah ibu tahu? Aku sedih Bu, aku tinggal di rumah mewah dan serba kecukupan sementara ibu dan ayah dalam usia yang sudah tak muda lagi masih saja berjuang. Padahal aku mampu untuk membiayai adik-adik dari uang gajiku jika ibu sungkan dengan uang Abang."Tutur Fatimah yang membuat mata ibu berkaca-kaca.
Yandra juga menghela nafas berat, ada rasa himpitan di dadanya mendengar ungkapan perasaan istrinya yang tak pernah ia dengar, ternyata selama ini Fatimah selalu memikirkan keluarganya.
"Tidak, Nak. Kamu jangan bicara seperti itu. Ibu dan adik-adikmu tidak kurang apapun. Kami cukup bahagia dengan kesederhanaan ini. Jangan menghalangi kebahagiaanmu hanya karena memikirkan kami. Percayalah, Nak. Kami tidak merasa kekurangan." Ibu dan Fatimah saling berpelukan, dan menangis haru.
Yusuf dan Yandra juga tak kuasa menahan haru dengan mata ikut berkaca-kaca.
"Mulai sekarang ibu dan ayah tidak boleh menolak jika kami ingin memberi sesuatu, anggap saja itu bentuk hadiah dari kami. Percayalah, Bu. Apapun yang Kami berikan semua ikhlas tanpa terbebani." Kini giliran Yandra membuka suara agar sang ibu mengerti dan tak selalu merasa sungkan.
"Baiklah, Terimakasih ibu ucapkan."
Akhirnya kembali suasana itu ceria karena lelucon yang dibuat oleh Yusuf ditambah lagi kehadiran sibungsu, kedua adik-adik Fatimah sangat bahagia mendengar kabar kakaknya sedang mengandung keponakan mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰