Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Menuju Hari H


__ADS_3

Sehari setelah pernikahan, Yoga menghabiskan waktu liburnya di rumah bersama istri dan anak-anaknya. Tidak seperti biasanya, Pria itu terlihat bahagia dan sikapnya begitu hangat.


Setelah memandikan Arfan dan menindurkannya, Zahra beralih ke kamar Rara. Seperti biasanya semenjak Zahra di rumah itu tugas merawat Rara diambil olehnya jika tidak repot.


Saat melewati ruang tengah ia mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera, Zahra menoleh ke arah dapur namun pemandangan yang tak biasanya. Yoga begitu cekatan dengan peralatan masak.


"Mas, kamu masak?" tanyanya memperhatikan menu masakan yang sedang di eksekusi oleh sang suami


"Iya nih, Mas mau buat menu sesuatu, kamu mau kemana? Arfan udah tidur?"


"Sudah, aku mau mandiin Rara dulu. Apakah Mas Yoga, butuh bantuan aku?"


"Tidak perlu, nanti aku minta tolong Bik Nur saja. Terimakasih ya Zah, sudah mau mengurus Rara," ujar Yoga tulus


"Jangan berterima kasih,Mas. Sekarang aku sudah menjadi ibunya maka aku akan mengurus Rara seperti aku mengurus Arfan."


Yoga menatap wanita itu dengan dalam, rasa bahagia menyelimuti hatinya, ditambah Zahra begitu menyayangi Rara.


"Terimakasih Dek."


Zahara hanya mengangguk dan tersenyum malu, ia segera berlalu entah kenapa panggilan itu membuat hatinya selalu berdebar, seakan kenangan sepuluh tahun yang lalu kembali mencuat. Hanya pria dewasa itu yang memanggilnya dengan sebutan "Adek" walaupun dia sudah pernah menikah namun almarhum suaminya tidak pernah menggunakan panggilan itu.


Yoga tersenyum melihat tingkah istrinya yang selalu malu dengan panggilan Sayang darinya.


Lambat laun kamu akan menyadarinya, Sayang.


Setelah selesai memandikan Rara, Zahra keluar mengambil sarapan untuk gadis kecil itu, Rara harus minum obat rutin karena dia mengalami kejang tanpa demam yaitu (Epilepsi) mengharuskan minum obat tepat waktu.


"Bik, bubur buat Rara mana?" tanyanya


"Ini Non, sudah bibik sediakan," Bik Nur menyerah bubur itu.


Zahra masih memperhatikan sang suami yang masih sibuk dengan aktivitasnya. Rasa penasaran begitu besar maka dia mendekat untuk melihat menu apa yang sedang dimasak oleh suaminya itu.


"Eh, Dek! Udah siap? Bentar lagi masakannya selesai, kamu suka 'kan, menu ini?"


Zahra melihat menu yang sudah tertata rapi di dalam piring. Lagi-lagi ingatannya kembali ke masa lalu. Itu adalah menu terakhir bersama Kak Aditia saat di panti asuhan.


Zahra masih mengingat jelas saat itu dia tidak mau makan karena merajuk akan di tinggal pergi oleh kak Adit, namun Pria itu berusaha membujuk membuat makanan kesukaannya. Yaitu ayam goreng tepung sesuai permintaannya.

__ADS_1


Zahra hanya tertegun melihat pemandangan itu dia merasa sedang mengembalikan kenangan sepuluh tahun yang lalu, entah dimana Pria itu sekarang berada. Semenjak terjadi kebakaran itu dirinya di pindahkan keluar kota yaitu yayasan agak ke pelosok bisa terbilang jauh dari keramaian.


Di yayasan itu, juga menampung anak-anak ABK. Yayasan juga menyediakan ruang belajar untuk anak-anak yang berkelainan khusus.


Zahra termasuk murid berprestasi dia juga mendapatkan beasiswa, namun beasiswa yang dia dapat berada di luar daerah Sumatra Utara. Tiga tahun ia berhasil menyelesaikan strata satu jurusan (PLB) Pendidikan Luar Biasa. Setelah lulus Zahra segera mengajar di yayasan itu.


"Kok ngelamun,Zah?" Tanya Yoga


"Ah nggak, nggak ngelamun kok,Mas."


"Kenapa kamu menatap menu ini seperti aneh begitu? apakah kamu tidak suka dengan masakanku?"


"Bu-bukan begitu,Mas. Aku suka kok, ini makanan kesukaan aku sedari kecil hingga saat ini."


"Benarkah? Alhamdulillah berarti aku tidak sia-sia masakin ini buat kamu," ujar Yoga dengan senyum menawan


"Hah? Mas masak ini sengaja buat aku?" tanya Zahra tidak percaya


"Iya."


"Ralat, maksudnya buat aku dan kamu. Kebetulan aku juga menyukai menu ini."


"Okey, aku tunggu ya."


***


Malam ini adalah H-1...


Dikediaman keluarga Pak Eko yang kini sedang berbahagia. Semua ruangan sudah selesai di dekorasi, tenda dan pelaminan juga sudah terpasang. Diruang tengah sudah dijadikan Backdrop akad nikah, yang berkonsep minimalis dengan warna putih ditambah hiasan bunga-bunga.


Seperti lumrahnya yang dilakukan oleh setiap calon pengantin wanita yaitu pemasangan henna oleh jasa ukir. Setelah selesai Fatimah segera masuk kamar pengantin yang sudah di dekorasi dengan begitu indah, ia ingin segera mengistirahatkan tubuh agar besok pagi bangun dengan segar.


Jam 23.30 Fatimah masih belum bisa memejamkan mata, semua rasa bercampur baur dalam hatinya. Ada rasa bahagia dan sedih.


Bahagianya bisa menikah dengan Pria yang dia cintai, Sedihnya karena sebentar lagi dia akan membina rumah tangga dan mempunyai kehidupan sendiri bersama keluarga barunya, ia akan meninggalkan rumah ini, rumah yang begitu banyak kenangan bersama kedua orangtuanya yang begitu menyayanginya dengan sepenuh hati.


Fatimah merasa belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya, ada rasa bersalah karena terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah sebelum mampu membahagiakan keluarga, dia adalah anak pertama seharusnya dia yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi dia juga tidak bisa menunda apa yang sudah di tentukan oleh Allah, karena jodoh itu salah satu rahasia-Nya.


Fatimah keluar dari kamar dan menuju kamar orangtuanya. Entah kenapa malam ini ia ingin tidur bersama ibu dan ayahnya.

__ADS_1


Tok! tok! tok!


"Assalamualaikum... Bu, ini aku," ujarnya memberitahu.


"Wa'alaikumsalam... ya, Nak. sebentar." dengan mata berat sang ibu membukakan pintu dia mengira jika putrinya itu butuh sesuatu.


"Ada apa Fa? Kamu butuh sesuatu, kenapa jam segini kamu belum tidur, Nak? Besok pagi setelah subuh kamu nggak bisa tidur lagi karena MUA sudah datang." Jelas ibu merasa sedikit heran


"Bu, aku boleh nggak tidur bersama Ibu dan Ayah?" Tanyanya dengan wajah sendu


Ibu Ida yang tahu kegalauan hati putri sulungnya. "Ya, boleh. Ayo masuklah."


"Loh Nak, kamu belum tidur?" tanya ayah yang baru saja selesai sholat witir sebelum tidur.


"Yah, aku boleh nggak tidur bersama ayah dan ibu untuk malam ini? Aku ingin merasakan dekapan Ayah dan Ibu kembali," ujar gadis itu matanya yang sudah mulai berembun.


"Ayo, naiklah." Ayah dan ibu menggiring putrinya untuk naik keatas tempat tidur. Fatimah tidur di tengah-tengah mereka.


Fatimah berbaring dengan tubuh terlentang sembari tangan memegang kedua tangan orangtuanya.


"Ayah, Ibu. Maafkan aku anakmu jika selama dalam penjagaanmu aku banyak berbuat salah dan menyusahkan Ayah dan ibu. Maaf juga aku belum bisa membahagiakan Ayah dan Ibu, maafkan aku ini yang banyak sekali kekurangan sebagai seorang anak! Hiks..."


Ibu segera meraih tubuh anaknya dan memeluk erat dengan tumpahan air mata. "Jangan berkata seperti itu,Nak. Kamu itu anak ibu yang sangat baik dan sangat penurut, kamu sudah cukup sempurna bagi kami. Kamu adalah belahan jiwa kami, ibu dan ayah sangat bangga mempunyai putri cantik sepertimu. Kamu tidak pernah menyusahkan kami, Nak."


Anak dan ibu itu saling melepaskan segala sesak di dadanya. Tak bisa dipungkiri Bu Ida juga merasa sedih melepaskan putri sulungnya, karena baginya ini adalah pengalaman pertama.


"Nak, kamu jangan pernah merasa kami berharap balasan atas apa yang telah kami berikan kepadamu, Kami sangat ridho. Karena kami sebagai orangtua hanya ingin melihat kamu bahagia. Sampai kapanpun kamu tetap anak kami, Karena bagi ayah kamu tetaplah putri kecilku. Jangan bersedih Nak, tersenyumlah menyambut kebahagiaanmu!" Ayah mengusap kepala Fatimah dengan lembut.


Fatimah mengubah posisi tubuhnya miring menghadap sang ayah, dan menggenggam tangan ayah dengan erat lalu menciumnya.


"Terimakasih Yah, Ayah adalah cinta pertamaku terimakasih sudah menjagaku dengan baik, ayah adalah ayah terhebat dalam hidupku. Aku akan selalu berdo'a kepada Allah SWT, semoga Ayah dan Ibu selalu dalam lindungan-Nya. Tetaplah temani kami anak-anakmu hingga suatu saat nanti kami bisa memberikan walau sedikit kebahagiaan."


Ayah dan ibu memeluk putri sulungnya dengan penuh haru. Sehingga Fatimah tertidur dalam dekapan kedua orangtuanya dengan nyaman.


Bersambung....


Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2