
Kini Fatimah dan rekannya yang lain sudah berada di ruang Pameran. untuk mengikuti seminar. acara demi acara dimulai di pimpin oleh beberapa moderator. membahas dan mendiskusikan pekerjaan di bidang mereka masing-masing.
Jam 17.30 akhirnya mereka selesai mengikuti acara demi acara dan ujian untuk hari ini. Fatimah dan rekan-rekannya kembali menuju Hotel yang tidak berapa jauh dari tempat mereka melakukan latihan.
Setelah sampai di kamar hotel, ia melihat ponselnya yang ada di dalam tas. begitu banyak panggilan tak terjawab dari Yandra. entah berapa banyak pula pesan yang masuk. Fatimah sengaja membuat mode silent karena dia sedang fokus dengan ujiannya.
Fatimah segera menghubungi calon suaminya itu. ia harus siap dengan pertanyaan beruntun dari sang Dokter.
Assalamualaikum... Dek, kemana aja sih? kenapa telpon Abang nggak dijawab? kenapa pesan juga tak dibalas?" tanya Yandra sedikit kesal
"Wa'alaikumsalam... udah Abang nanyanya? masih ada lagi nggak?" jawab Fatimah dengan tenang
Eh, kok gitu jawabnya dengan calon suami? nggak sopan itu namanya! ketusnya ingin memulai genderang.
"Abangku... dengerin Adek ya. tadi adek sudah kirim pesan tapi belum Abang balas. terus adek masih tungguin hingga ketiduran. setelah Adek bangun tidur, pesan pun masih belum dibalas. karena Adek menghadiri acara seminarnya jam dua. jadi ponsel sengaja Adek buat mode silent. karena sedang fokus dengan ujian, Alhamdulillah ini baru sampai di kamar hotel, adek langsung hubungi Abang. terus salahnya Adek dimana? Abang bisa kan memahami posisi Adek!"
Fatimah menjelaskannya dengan nada lembut dan tenang. ia berusaha mengalah. karena Fatimah sudah memahami sikap Yandra. ia tidak ingin membiasakan perdebatan, takutnya nanti terbawa setelah menikah maka akan menimbulkan pertengkaran jika diantara mereka tidak ada yang mau mengalah.
Sayang, Abang minta maaf! Adek jangan marah ya. sesal beruang kutub meleleh mendengar suara lembut calon istrinya.
"Iya, Adek sudah maafkan. apakah Abang sudah pulang dari RS?" tanya Fatimah mengalihkan pembicaraan
Sudah Dek, lima belas menit lagi Abang sampai. habis magrib adek siap-siap kita makan diluar, ya.
"Maksud Abang?" tanya Fatimah tidak mengerti
Abang lagi dijalan mau ketemu, Adek.
"Subhanallah, Bang. kenapa Abang harus kesini? ih Abang ngeselin banget deh!"
Ya habisnya Abang mengkhawatirkan Adek. karena nggak ada kabar dari tadi. udah nanti kita ngobrol lagi ya. Adek kirim alamat hotelnya. Abang lagi fokus nyetir nih.
Fatimah menghela nafas dalam. gini Amad dapat calon suami. tapi ia tidak boleh mengeluh karena Allah sudah mengabulkan Do'anya untuk meminta hati Pria itu. bagaimanapun sikap dan perilakunya maka Fatimah harus menerima bukankah Pria itu pilihan hatinya sendiri.
Setelah selesai sholat magrib, ponselnya berdering. Fatimah segera menerima telepon. ternyata Yandra sudah berada di lobby hotel.
__ADS_1
Dek cepat turun Abang sudah di lobby.
"Ya, sebentar,Bang." Fatimah terburu-buru untuk turun sehingga ia tidak mematikan sambungan ponselnya.
Saat Fatimah baru saja keluar dari kamar hotel, tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundaknya, sehingga membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Astaghfirullah! jangan kurang ajar anda ya!" ujarnya dengan nada garang.
Tiba-tiba Pria yang menghuni kamar sebelahnya itu mendorong Fatimah masuk kedalam kamarnya kembali.
"Apa yang anda lakukan?! jangan macam-macam... toloonggg!" Fatimah menjerit
"Silahkan saja kamu menjerit tidak ada yang mendengar karena kamar ini pakai peredam. hahaha... palingan jika terdengar jeritanmu orang akan mengira itu adalah jeritan kenikmatan!" ujar Pria mesum itu
Fatimah mundur kebelakang. setelah mengunci pintu lelaki itu mendekati Fatimah dengan senyum penuh hasrat.
"Tolong..... tolong!" kembali Fatimah minta tolong karena sambungan ponselnya belum terputus maka yandra dapat mendengarkan jeritan Fatimah.
Fatimah! Dek,kamu kenapa?" tanya Yandra tetapi tak ada jawaban hanya racauan gadis itu dengan suara pecahan barang yang terdengar.
Yandra segera naik kelantai dua. dia mencari nomor kamar yang tadi dikirimkan oleh Fatimah. dengan langkah tergesa dan rasa cemas membuncah Yandra menuju kamar itu.
Pria itu segera mendekap tubuh Fatimah dari belakang. dan membuka hijab wanita itu. "Lepaskan!" Fatimah segera menyikutnya. tetapi Pria itu terlalu kuat, tubuhnya yang tegap ditambah lagi aroma alkohol yang menguar bisa dipastikan Pria itu sedang mabuk.
"Hahaha... kamu tidak akan bisa lepas dariku, Cantik. ayolah kita bersenang-senang!" Pria itu mendorong tubuh Fatimah diatas ranjang dan menindihnya.
"Tolong lepaskan aku... hiks..." Fatimah berusaha memberontak dengan tangis pilu. namun Pria itu semakin gencar untuk merobek busana gamis wanita itu sehingga bagian tubuhnya yang sensitif hampir terbuka.
Braaaakkkk!
Tiba-tiba pintu kamar hotel itu terbuka karena dobrakan sangat keras. Yandra menatap Pria mabuk itu dengan sorot menyala.
"Brngs*k beraninya kau ingin menodai calon istriku!"
Bugh! Bugh! Buggh!
__ADS_1
Yandra memberi pukulan diwajah Pria itu entah berapa kali. bahkan Pria mabuk itu tak ia berikan untuk membalas. sehingga Pria itu terkapar.
Sementara Fatimah sudah meringkuk di sudut ranjang dengan membalut tubuhnya yang hampir polos dengan selimut tebal. ia begitu syok. air matanya mengalir begitu deras.
"Sayang..." yandra segera menghampiri gadis itu. dan mendekapnya dengan erat. "Kenapa kamu tidak menekan tombol darurat,Dek?" ujarnya sembari mengusap punggung wanita itu untuk menenangkannya.
"Huuu..... hiks... Adek su-sudah tekan Bang. tapi tidak berpungsi. hiks..." ujarnya dengan terisak
"Kenapa kamar kamu terpisah dari yang lainnya?" tanya Yandra kembali
"Ka-karena semua kamar di bawah penuh. ja-jadinya adek dapat kamar ini.... hiks" Kembali gadis itu menjelaskan dengan tergugu
"Ssshh... tenanglah. ada Abang disini." yandra masih berusaha menenangkan gadis itu yang terlihat sangat syok. sembari menangkan Fatimah, Yandra menelpon nomor hotel yang tertera di samping tombol darurat itu.
"Datang ke kamar no xx sekarang!" perintah Yandra dengan nada kesal
Tidak berapa lama petugas hotel datang dengan tergesa-gesa. mereka melihat pemandangan kacau dikamar itu
"Maaf, apa yang terjadi, Pak?" tanya petugas itu
Yandra segera melerai pelukannya, dan membalut tubuh Fatimah dengan baik, memasangkan Kembali hijab instannya yang berada di samping tempat tidur itu.
Yandra menatap dua orang petugas hotel itu dengan raut kesal. "Kenapa tombol darurat kamar ini tidak berfungsi? sungguh sangat buruk pelayanan hotel ini! panggil manajer hotel saya ingin bertemu dengannya! dan seret bereng**k ini keluar!" perintahnya
"Kami minta maaf,Pak. tapi tolong jangan temui manejer kami." mohon petugas itu dengan wajah memelas.
"Saya harus bertemu dengannya sekarang juga!enak sekali kalian minta maaf! jika saya tidak datang, apakah kalian tahu apa yang akan terjadi dengan calon istri saya?!"
Petugas itu segera membawa Pria mabuk itu. keluar. yandra kembali menghampiri Fatimah yang masih saja menangis.
"Sudah, Sayang. sekarang ganti pakaian kamu ya."
"Hiks... aku jijik Bang, dengan sentuhan Pria itu! haaaa!" Raung Fatimah sembari menggusal selimut itu pada tubuhnya yang sempat tersentuh oleh Pria itu.
"Ssshh... Dek, dengarkan Abang! kamu jangan bayangkan itu. tenanglah! yang penting kamu sudah aman, kamu selamat dari bencana itu!" yandra kembali menenangkan gadis itu. Fatimah benar-benar merasa harga dirinya tercemar. karena selama ini tak ada satupun Pria yang pernah menyentuhnya apalagi bagian tubuh sensitifnya, dia menjaganya dengan sangat baik. dengan kejadian ini bagaimana tidak membuat dirinya merasa ternoda.
__ADS_1
Bersambung....
NB: Kalo sempat nanti author sambung lagi ya😌