Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Kepergian Mama


__ADS_3

Jika keluarga kecil Yandra tengah bahagia, lain halnya dengan Yoga yang masih belum bisa berdamai dengan keadaan.


Sudah tiga bulan lamanya semenjak ia mengetahui kebenaran itu, dan selama itu pula Mama Runi berusaha untuk meluluhkan hati sang anak. Setiap hari ia datang menemui Pria itu, baik di RS maupun di kediamannya.


Yoga masih saja dingin, walau sebenarnya ia selalu berusaha untuk menghapus rasa sakit hati dan kecewa atas apa yang telah di perbuat oleh sang Mama.


Sore ini Yoga dan Zahra berada di RS, untuk jadwal rutin Rara kontrol. Setelah selesai periksa dan mendapatkan obat, Yoga dan Zahra segera menuju lobby, tetapi mereka melewati sebuah ruangan ICU.


Yoga melihat Tina sang adik, sedang menangis terisak di depan pintu ruangan itu. Seketika darah Pria itu berdesir, ia merasa telah terjadi sesuatu.


Ya, Tina adalah adik Yoga satu Mama tapi lain Papa. Tina juga sudah sering datang kerumahnya untuk menemani Mama Runi.


"Tina!" Ujar Yoga segera mendekati adiknya itu.


"Kak, Yoga! Kak, Mama..." Ucapan wanita itu menggantung dengan tangis belum berhenti.


"Mama? Ada apa dengan Mama?" Tanya Yoga ikut cemas.


"Mama, Mama kecelakaan, Kak. Hiks..." Ujar wanita itu sembari memeluk Yoga, tangis wanita itu pecah


"Apa! Jadi bagaimana keadaan Mama?"


"Mama kritis, Kak."


Seketika tubuh Pria itu bergetar dan seluruh persendiannya terasa lemah bagaikan tak bertulang. Rasa bersalah segera menyelimuti hatinya, ia begitu takut jika terjadi hal yang tak diinginkan. Yoga sudah berniat ingin menghapus segala benci dihatinya dan menerima kehadiran sang Mama.

__ADS_1


"Keluarga Ibu Runi..." Panggil Dokter yang baru keluar dari ruang ICU.


"Saya Dok, bagaimana keadaan Mama saya?" Tanya Yoga resah.


"Jadi, Bu Runi Mamanya dokter Yoga?" Tanya Dr itu baru tahu.


"Benar, Dok. Sekarang bagaimana keadaan Mama saya?"


"Masih kritis Dok, beliau ingin bertemu anaknya."


Tanpa bicara lagi Yoga segera masuk kedalam ruangan itu untuk menemui sang Mama. Saat Yoga masuk ia melihat tubuh wanita tua itu telah terbaring dengan dipenuhi alat medis.


Perlahan Yoga mendekat, ia menatap wajah pucat yang sudah banyak kerutan itu. Seketika netra mereka bertemu.


Wanita itu tersenyum melihat kehadiran sang anak. Ia berusaha menjangkau lelaki yang ada di hadapannya. "A-aditku..."


"Ja-jangan meminta maaf, Nak. K-kamu tidak s-salah. M-mama yang minta maaf."


"Tidak, Ma, aku salah karena telah membuat Mama bersedih dan menangis, aku salah karena selalu mengacuhkan Mama. Seharusnya aku tidak seperti ini. Mama, harus kuat dan sembuh, agar kita bisa berkumpul bersama."


Yoga tak kuasa menahan air matanya, ia mengecup tangan ringkih itu dan menggengam erat seakan ia tak ingin melepaskan walau sebentar saja.


"Adit, kamu sudah memaafkan Mama, 'kan?" Tanya wanita itu kembali terlihat dari wajahnya sangat berharap.


"Iya, Ma. Aku sudah memaafkan semua kesalahan Mama, aku ingin Mama cepat sembuh."

__ADS_1


"Te-terimakasih, Nak. Bisakah Mama bertemu dengan Za-zahra?"


"Baiklah, aku akan memanggil istri dan anakku." Yoga segera bergegas keluar untuk memangil Zahra. Ia melihat Zahra sedang memeluk Tina, memberi penghiburan pada sang adik.


"Zahra?" Panggil Yoga keluar dari ruangan itu.


"Ya, Mas. Bagaimana keadaan Mama?" Tanya Zahra dan Tina serentak.


"Mama, ingin bertemu kalian." Yoga bicara dengan bersusah payah menahan tangis.


Seketika Zahra dan Tina masuk kedalam, Yoga mendorong kursi roda Rara ikut masuk.


Zahra mendekati Mama mertuanya itu, dan menggenggam tangan lemah yang sudah tak berdaya.


"Zahra, Ma-maafkan Mama, Nak. Maaf jika selama ini te-telah banyak menyakitimu."


"Tidak, Ma. Aku sudah melupakan hal itu, aku sudah memaafkan Mama jauh sebelumnya." Balas Zahra dengan air mata jatuh.


"Te-terimakasih, Nak. Mama su-sudah tenang sekarang, Tina, Adit, kalian harus akur dan saling menyayangi, tolong jaga adikmu, Nak. Dia sudah tak punya siapa-siapa. Mama A-akan pe-pergi sekarang."


"Tidak, Ma. Jangan bicara seperti itu! Mama pasti sembuh." Ujar Yoga dan Tina


Semua telah senyap dan tak ada terdengar deru nafas lagi, yang menandakan nyawa telah terlepas dari raga.


"Innalilahi Wa innailaihi Raji'un, Mama sudah berpulang ke Rahmatullah, Mas. Hiks..." Zahra mencoba memberi kekuatan untuk suami dan adik iparnya itu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2