
Jam 22.30 Fatimah masih ngobrol di ruang tengah bersama sanak famili. Maklum setiap ada hajatan semua keluarga besar pasti akan berkumpul baik dari luar kota pasti akan datang.
Sementara itu Yandra mohon undur diri dengan ayah mertuanya, juga Pakde dan keluarga yang lainnya untuk istirahat terlebih dahulu.
Pria itu cukup tersiksa menunggu sang istri di dalam kamar. Ingin rasanya ia menjemput Fatimah dan membopong wanita itu, namun tentu saja itu tidak akan pernah berani ia lakukan.
"Fa, kamu nggak istirahat? masuklah, itu suamimu sudah dikamar. Tidak baik membiarkannya sendiri," ujar Bu Ida sangat pengertian.
Fatimah mencari sosok suaminya yang tadi ikut gabung dengan para bapak-bapak yang sedang minum kopi, ternyata benar yang dikatakan Ibu, bahwa suaminya sudah tak terlihat lagi.
Seketika jantung wanita itu kembali berdebar dan darahnya berdesir saat mengingat kata-kata Yandra sore tadi.
Apakah malam ini aku akan menjadi milik suamiku seutuhnya? tapi kenapa aku masih merasa ketakutan begini!
"Udah sana Fatimah kamu masuk. Jangan biarkan sang pangeran menunggu begitu lama. Ingat jangan rusuh ya! Karena Mas, mu sedang diluar kota, jadi jangan sampai aku menyuruhnya untuk pulang cepat. Hahaha..." Ujar kakak sepupu Fatimah yang membuat wajahnya merah padam.
"Apa sih Mbak! Mesum banget!" gerutu gadis itu
"Eh, jangan salah Fa, itu karena kamu belum merasakan mesum itu gimana nikmatnya, kalau kamu udah cobain pasti besok-besok kamu yang minta di mesumi oleh suamimu. hahaha.." Kakak sepupunya yang lain menimpali sehingga ruangan itu terdengar riuh
Fatimah dibuat benar-benar malu ingin rasanya ia hilang saat itu juga dari hadapan mereka.
"Ihh, apaan sih ngomongnya pada kesitu semua, dasar mak-mak mesum. Lebih baik aku masuk kamar, daripada disini otakku semakin terkontaminasi oleh ucapan mbak-mbak ini!" Fatimah ngoyor dari hadapan mereka.
Perlahan ia membuka pintu kamar, berharap sang suami sudah tertidur agar malam ini bisa terlepas dari terkaman harimau buas itu.
"Dek, kok lama banget sih!" Ujar Pria itu sudah terlihat uring-uringan
"I-iya, tadi Adek keasyikan ngobrol sama Mbak Afni dan Mbak Yati," jawabnya jujur sedikit gugup
Yandra berusaha untuk sabar menunggu sang istri naik keatas, ia tahu ini adalah pengalaman pertama dalam hidup istrinya. Yandra tidak ingin jika nanti Fatimah merasa tidak nyaman dan takut.
__ADS_1
Fatimah segera naik keatas tempat tidur dengan perasaan yang tidak menentu. Perlahan berbaring disisi Yandra, sementara pria itu masih duduk bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponselnya.
"Dek, apakah kamu ingin tidur tanpa membuka hijab?" tanya Yandra meletakkan ponselnya dan ikut berbaring disampingnya istrinya
"Ah, iya. Maaf Adek lupa Bang, mungkin karena sudah terbiasa."
Fatimah Kembali duduk untuk membuka hijab namun sebelum tangannya menyentuh kain penutup auratnya itu, Yandra menahan tangan Fatimah. Sembari berbisik. "Biar Abang yang buka ya."
Yandra mulai membuka hijab Fatimah dengan perlahan. Setelah terbuka ia juga mengurai rambut panjang Fatimah, maka wajah cantik itu kembali membuat jantung Pria itu cenat cenut.
Yandra membelai rambut Fatimah dengan lembut dan menatap wajah cantik itu dengan dalam, bibir mungil itu sungguh sangat menggoda.
"Dek, apakah malam ini Abang sudah boleh meminta hak Abang?" tanyanya dengan lembut
"Apakah Abang yakin kita akan melakukannya malam ini?" tanya Fatimah balik
"Ya, Abang sangat yakin Dek."
Yandra berpikir sejenak? "Hmm, kalau so'al itu gampang Dek, yang penting jalani dulu tergetnya."
Akhirnya Fatimah pasrah, ia juga tidak bisa menolak, meskipun sebenarnya ia masih cukup gamang dan sangat cemas namun itu adalah hak dan kewajiban. Maka wanita itu hanya bisa mengangguk memberi lampu hijau.
Yandra mulai mengecup bibir mungil itu, cukup sabar mengajari agar istri polosnya pandai membalas setiap sentuhan, luma tan, yang ia berikan.
Fatimah benar-benar dibuat melayang saat menerima segala sentuhan dari sang suami. Karena larut dalam gairah, entah bagaimana caranya sehingga kini mereka sudah sama-sama polos.
Fatimah cukup malu untuk melihat pemandangan itu. Yandra yang tahu jika istrinya itu malu, maka ia segera menarik selimut tebal itu sehingga mereka berada didalam selimut dengan tubuh sama-sama polos.
"Apakah kamu sudah siap Sayang? Hmm?" tanya Yandra mendekap tubuh Fatimah sembari memberi kecupan-kecupan di seluruh wajahnya dan kembali melu mat bibir Fatimah.
"Bang, Adek takut," bisik gadis itu bersembunyi didada bidangnya
__ADS_1
"Abang akan melakukannya dengan pelan ya!"
Fatimah mengangguk pasrah, Yandra mulai mengambil kendali. Meski sulit dan berkali mencoba pada akhirnya pertahanan itu jebol juga, dengan menutup mulut begitu kuat agar suaranya tak keluar air mata menetes di sudut pipi wanita itu.
Semua perasaan bercampur baur dalam hatinya. Ada rasa bahagia karena telah berhasil menjaga kehormatannya selama ini, dan menyerahkan seutuhnya pada suami yang sangat dia cintai.
Yandra mendekap tubuh Fatimah dengan erat. "Maaf ya, Sayang! Apakah masih terasa sakit?" tanya Yandra sembari menghapus air mata bahagia itu.
Fatimah menatap wajah tampan yang kini sudah menjadi miliknya seutuhnya, dengan perlahan dia tersenyum lalu menggelengkan kepala bertanda kembali memberi lampu hijau agar sang suami segera menuntaskan sesuatu agar mencapai puncak.
Perlahan gerakan itu mulai terasa dan yang tadinya terasa tidak nyaman kini berganti dengan sebuah kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata...
Akhirnya terasa sesuatu tumpah dibawah sana menandakan tuntas sudah hasrat yang tadi menggantung kini sudah tercapai.
Yandra ambruk disisi Fatimah, dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Terimakasih, Sayang." Yandra menghujani Fatimah dengan kecupan.
Fatimah hanya bisa mengangguk dan memeluk Yandra dengan erat dia masih malu untuk menatap wajah tampan suaminya itu.
***
Malam ini waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi Yoga masih belum bisa memejamkan matanya, ia melihat Zahra sudah tertidur pulas dengan memeluk Arfan.
Entah kenapa Yoga tiba-tiba saja otak dan hatinya tidak sinkron. Dia belum bisa melupakan Fatimah, seharusnya dia tidak perlu mengingat Fatimah lagi, karena sekarang dia sudah mempunyai Zahra yaitu gadis kecil yang selama ini ia cari kini sudah menjadi miliknya.
Yoga mengubah-ubah posisi tidurnya namun tak menemukan kenyamanan. Akhirnya Pria itu memutuskan untuk membuat minum, sepertinya menyeduh secangkir coklat hangat bisa mengembalikan moodnya yang rusak.
Setelah menghabiskan coklat hangatnya, Yoga kembali masuk kamar, tak sengaja ia melihat pemandangan yang membuat jakunnya naik turun.
Aset berharga Zahra terlihat begitu jelas mungkin wanita itu tidak sadar karena mengantuk hingga sumber kehidupan bayi mungil itu sudah terlepas dari mulutnya.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰