
Pagi ini Yoga dan Zahra sedang bersiap untuk melaksanakan ijab qobul di sebuah masjid yang berada di luar kompleks perumahannya.
Yoga meminta kepada pak penghulu untuk membuatkan dua lembar surat nikah sirinya sesuai tanggal dan bulan yang pernah ia terangkan kepada ketua RT setempat.
Zahra begitu gugup saat MUA merias wajahnya, padahal ia sudah meminta tidak perlu menggunakan jasa rias pengantin karena pernikahan ini tertutup hanya beberapa orang saja yang akan menghadiri pernikahan mereka.
Namun Yoga tetap memanggil jasa rias pengantin agar wanitanya itu terlihat cantik. Pria itu tahu bahwa Zahra adalah seorang wanita yang sangat sederhana, dia tidak suka gaya hidup mewah dan modis.
Yoga menunggu di depan kamar Zahra, wanita itu begitu gugup saat keluar kamar mendapati calon suaminya itu sudah berada disana ia menundukkan kepala tidak berani menatap mata teduh itu.
"Cantik," pujinya
Zahra hanya tersipu malu dan segera berlalu mencari Bik Nur, untuk menitipkan Arfan.
"Bik Nur, aku titip Arfan sebentar ya, stok ASI sudah kusimpan dalam kulkas,"
"Baik Non Zahra, Bibik Do'ain semoga semua lancar ya."
"Aamiin... terimakasih ya Bik, kalau begitu kami pergi dulu."
"Sudah siap Zah?" tanya Yoga menatap wanita itu begitu dalam
"Ah sudah, Mas."
"Ayo kita jalan sekarang, 15 menit lagi penghulunya sampai."
Zahra segera mendahului Yoga untuk keluar rumah namun, Yoga segera meraih tangan wanita itu
"Lewat dari pintu garasi Dek, nanti dilihat tetangga," ujarnya sembari menggandeng tangan Zahra.
Wanita itu menatap Yoga dengan ekspresi sedikit heran, kenapa tumben sekali Yoga memanggilnya "Adek" Ah mungkin saja itu hal yang wajar karena sebentar lagi dia akan menjadi istrinya.
Yoga membukakan pintu mobil untuk Zahra. Pria itu begitu manis dengan segala perlakuannya. Apakah begitu sikap seseorang yang tidak saling mencintai.
Hanya sepuluh menit mereka sudah sampai di masjid tempat Yoga akan mengucapkan kalimat sakral itu, segala harapan ia tanamkan, semoga Zahralah cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya.
"Sudah siap?" tanya penghulu
"Insyaallah siap Pak." jawab Yoga yakin
"Baik, jawab tangan saya," pak penghulu mengulurkan tangannya dan secepatnya Yoga menyambut.
"Yoga Aditia!"
"Saya Pak!"
"Aku nikah dan kawinkan engkau dengan Andini Azzahra binti Abdul Hadi yang diwalikan kepadaku dengan mas kawin sebuah cincin kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Andini Azzahra binti Abdul Hadi dengan mas kawin tersebut, tunai...."
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah..." Pak penghulu melanjutkan Do'a untuk kedua mempelai agar menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.
Yoga menyematkan cincin kawin ke jari manis Zahra, dan mengecup kening wanita itu sangat dalam dengan perasaan bahagia, akhirnya dia bisa memiliki wanita yang selama ini ia cari yaitu cinta pertamanya.
***
__ADS_1
Jika saat ini Dr Yoga sedang berbahagia. Lain halnya Yandra dan Fatimah sedang mempersiapkan hari bahagia mereka yang sebentar lagi akan tiba.
Siang ini Fatimah dan ibu baru saja selesai memasak makan siang untuk para tetangga dan sanak saudara yang sedang (Goro) gotong royong dalam memperbaiki rumah mereka karena sebentar lagi pihak pelaminan akan datang mendekor rumah sederhana itu.
Assalamualaikum... pesan masuk dari Yandra
"Wa'alaikumsalam... Abang sudah pulang?" tanya Fatimah
Sudah ini mau kerumah Adek, Yanju udah kangen nih.
"Oh yaudah bawa sekalian Bang, Adek juga udah kengen."
Kangen sama siapa 😘
"Ya sama yanjulah☺️"
Sama ayahnya nggak kangen?
"Nggak, kan udah sering ketemu," jawab gadis itu apa adanya
Sering ketemu apaan? ini sudah tiga hari nggak ketemu lho Dek, tega banget 😔
"Iya, iya. Adek juga kangen sama ayah dan anaknya 🤗"
Nah gitu dong, kalau kangen bilang Dek, nggak usah di pendam karena rindu itu berat 😘 ujarnya penuh percaya diri.
Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan calon suaminya itu.
Setelah berbalas pesan, Fatimah kembali membantu ibu untuk menghidangkan makanan yang sudah ia masak bersama ibu dan Bude nya tadi.
"Bu, Abang katanya sebentar lagi sampai," Fatimah memberitahu ibu
"Oh yaudah, tunggu sebentar lagi biar makan bareng," ujar ibu masih sibuk membawa semua makanan itu keruang tengah.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." Jawab mereka serentak.
"Silahkan masuk, Yan. Eh ada cucu ibu juga," ujar ibu segera mengambil Yanju dari gendongan Yandra.
"Ayo masuk Yan, duduklah, kita makan bersama," ujar Ayah.
"Waduh jadi nggak enak nih datang-datang udah makan aja," balas Yandra merasa sungkan.
"Tidak usah sungkan Le, namanya udah jam makan siang, ya harus makan," pakde menimpali.
Yandra tersenyum simpul sembari duduk bersila di samping Yusuf, namun matanya masih mencari seseorang, siapa lagi kalau bukan calon istrinya.
"Makan Bang, nggak usah dicari. Kak Fatimah lagi sholat Zuhur," ujar Yusuf yang sudah tahu dari gelagat Abang iparnya itu.
Yandra tersenyum kaku sembari menggaruk tengkuknya. "Kamu jujur banget sih!" ucapnya kembali nyengir
"Iyalah, gitu amad orang dewasa jatuh cinta," cebik Yusuf
Lama-lama Yandra gemas juga mendengar ucapan adik iparnya itu, pengen nyuruh sekalian memanggil kakaknya kedalam.
Kini mereka makan bersama dengan kekeluargaan, Yandra merasa semua tetangga dan keluarga dari calon istrinya itu menerimanya dengan baik. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan dalam hidupnya.
Yandra dapat merasakan kekeluargaan yang begitu kental, walaupun hidup sederhana namun jiwa peduli sesama sangat terasa. Beda halnya di kediamannya yang notabene keluarga dan tetangganya dari kalangan orang berada semua, jadi walaupun ada acara kebersamaan tidak sehangat ini. Mereka akan membicarakan tentang jabatan dan koleksi harta dan barang-barang mewah. Tapi ia masih bersyukur karena kedua orangtuanya tidak pernah menjadi orang yang sombong mereka tetap menghargai dan peduli dengan sesama.
Setelah selesai memberi Yanju ASI, Fatimah segera keluar karena bayi mungil itu juga sudah terlelap setelah kenyang.
__ADS_1
Fatimah melihat Yandra ikut sibuk dengan kerja bakti di luar. Gadis itu duduk di teras sembari memperhatikan calon imamnya yang sedang serius membantu mendirikan tenda. Pria itu terlihat begitu tampan saat sedang fokus
"Bang, tuh yang dicari udah nongol," goda Yusuf
Yandra segera menoleh arah tunjuk gerak bibir sang adik ipar. "Kenapa baru nongol Dek, nggak tahu apa udah menggebu nih rindu!" ucapnya begitu jelas di telinga Yusuf, membuat Pria remaja itu tersenyum masam
"Eh, ngapain gitu ekspresi wajahnya? iri bilang boss. Makanya cari gebetan sana!" Goda Yandra balik
"Bang, apaan sih ngajarin begitu!" sergah Fatimah karena kebangetan sekali ajaran calon Abang ipar pada adiknya.
"Hehe... Cuma bercanda Dek," ujarnya sembari duduk disisi Fatimah.
"Bercanda, nanti kalau dia nanggapi benaran gimana? Abang tanggung jawab ya!" ancamnya
"Ya nggak apa-apa lah Dek, biar pengenalan dulu namanya juga anak remaja itu mah hal yang wajar,"
"Nggak boleh! Dia masih sekolah nggak boleh pacaran dulu," gadis itu masih kokoh dengan pendiriannya.
"Oke, Oke. Suf... nggak boleh pacaran dulu ya!" Yandra menginterupsi sang adik ipar.
"Apa sih? nggak usah bawa-bawa aku. Nggak ngaruh!" balas Yusuf sewot
"Tuh kan dia nggak nanggapi."
Fatimah hanya diam memperhatikan Yandra, ia melihat keringat bercucuran di dahinya. Ingin rasanya ia menyeka keringat itu namun tidak mungkin.
"Kenapa natap Abang begitu? terpesona ya?" ujarnya percaya diri.
"Keringat Abang di lap dong," ucapnya
Yandra mengeluarkan sapu tangan di kantong celananya, lalu menyerahkan pada Fatimah.
"Di lapin dong Dek," ujarnya sembari mendekatkan wajahnya pada Fatimah.
"Eh, Abang apaan sih! malu dilihatin orang Bang."
"Kenapa malu? Kan kita nggak ngapa-ngapain, ayolah Dek!" Yandra meraih tangan Fatimah yang sedang memegang sapu tangan dan mengarahkan kewajahnya.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat gadis itu mau tidak mau terpaksa melakukannya. Fatimah menyeka keringat di dahi Yandra dengan lembut pria itu menikmati sentuhan dari calon istrinya.
"Ehem..." Yusuf ngoyor di depan mereka dengan tatapan sinis sehingga membuat Fatimah menghentikan aktivitasnya dan sedikit menjarak dari Yandra
"Bikin kaget aja sih Dek!" omel Fatimah pada adiknya
"Gerah deh kak, mending kakak buat Teh es. Biar adem ," ujar Yusuf
"Oh gitu ya, bentar ya kakak buatin," Fatimah segera beranjak meninggalkan Yandra dan Yusuf
"Nggak ikut bantuin lagi Bang?" tanyanya dengan senyum senang karena berhasil mengerjai calon Abang iparnya itu
"Nggak capek!" balas Yandra dengan ketus
"Hahaha... langsung bad mood aja. Ayo bantuin aku ngangkat tungku besi bawa ke belakang."
"Benar-benar nggak ada akhlak nih adik ipar gangguin aja!"
"Ayo dong Abang ipar, janji deh nggak ganggu lagi!"
"Janji nih? kalau ganggu Abang bawa sekalian kakakmu!"
"Iya, iya... Pake ngancem segala, mau bawa kemana orang sebentar lagi juga udah jadi milik Abang, udah ah ayo bantuin Bang!"
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰