Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Rencana Caesar Lyra


__ADS_3

Kini pasangan suami istri itu pulang dengan hati yang bahagia. Zahra selalu bergelayut manja di lengan sang suami.


"Kita makan siang dulu ya, Dek. Mas, udah lapar," ujar Yoga sembari mengecup kepala sang istri.


"Baiklah, kita makan dimana, Mas?"


"Adek mau makan apa?" Tanya Yoga serius.


"Makan kamu boleh nggak?" Jawab wanita itu yang membuat bibir Pria itu tersenyum lebar, dan menepikan mobilnya


"Boleh banget, Sayang. Gimana kita ngamar dulu. Mampir ke hotel sebentar?" Balas Yoga yang membuat Zahra menelan salivanya dengan kasar.


Niat hati hanya ingin menggombal malah di tanggapi dengan serius oleh suaminya. Hah, dasar Domes juga rupanya.


"Hehe... Aku bercanda Mas, ngapain harus ke hotel, kita bisa pulang ke rumah."


Yoga tersenyum gemas melihat tingkah sang istri. sok-sokan ingin gombal kiranya ditanggapi malah ngacir.


"Ngapain natap aku begitu, Mas? Senyum-senyum lagi. Stop pikiran mesum!" Ujar Zahra merangkum kedua pipi Yoga dengan gemas.


Yoga kembali terkekeh. "Kamu benar-benar bikin aku gemas, Dek." Yoga mengecup bibir Zahra dan bermain di rongga mulutnya sebentar, sembari berbisik. "Konek dia Dek," ucap Yoga mengambil tangan Zahra dan menyentuhkan kebagian tubuhnya yang sudah mengeras.


"Mas!" Pekik wanita itu dengan wajah merah merona.


"Hahaha... Kamu benar-benar lucu sekali. Ayo sekarang kita makan siang dulu setelah itu kita selesaikan permainan yang menggantung ini."


Zahra hanya bisa patuh menuruti keinginan Yoga. Karena hati wanita itu tengah bahagia maka apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang suami tercinta.


***


Pagi ini Fatimah dan Yandra sudah bersiap untuk berangkat kerja. Pagi ini Fatimah tidak bersemangat, wajahnya terlihat sangat lesu.


"Dek, kamu sudah siap? Oya, Sayang. Mana parfum yang Adek belikan buat Abang waktu di Singapore kemaren? Abang suka banget dengan wanginya," ujar Yandra meminta parfum itu.


Fatimah hanya diam saja, masalahnya parfum itu ia sembunyikan di kamar Yanju. Entah kenapa ia sangat tidak suka mencium aromanya, bahkan melihat botol parfum itu saja bola matanya bagaikan berbulu.


"Dek, kok bengong? Adek kenapa sih kok beberapa hari ini terlihat tidak semangat begitu? Adek demam?" Tanya Yandra sembari menempelkan punggung tangannya pada kening Fatimah.


"Nggak, Adek nggak demam kok Bang, yaudah ayo kita keluar, udah di tungguin ama yang lainnya," ajaknya segera beranjak keluar kamar.


Yandra sedikit heran melihat perubahan sikap sang istri. Bahkan istrinya tidak menjawab pertanyaannya tentang parfum itu.

__ADS_1


Sesampainya Fatimah di meja makan, semua keluarga suaminya sudah duduk bersiap untuk sarapan bersama.


"Eh, ada Bang Arman. Kapan datang Bang?" Tanya Fatimah yang melihat ada Abang iparnya ikut bergabung sarapan bersama.


"Iya, tadi malam Abang sampainya. Mana Yandra Dek?" Balas Arman.


"Tadi masih di kamar Bang. Oya, kapan HPL kak Lyra?" tanya Fatimah pada Lyra.


"Nggak nunggu HPL Fa, Kakak kan harus Caesar, jadi siang ini kakak dan Mas, Arman mau buat jadwal Caesar bersama Yandra.


"Oh, begitu ya, kak. Udah nggak sabar ya kita pengen ketemu sikembar."


"Iya, apalagi Mama, paling nggak sabar. Mau menimang sikembar." Mama Anggi ikut nimbrung.


"Pagi, semua..." Sapa Yandra segera duduk di sisi Fatimah.


"Udah, pulang Abang? Jam berapa sampai?" Tanyanya pada Arman.


"Tadi malam jam sebelas."


"Jadi buat jadwal hari ini 'kan?" tanya Yandra kembali meyakinkan.


"Yaudah, nanti Abang dan kakak ipar datang ke RS, setelah itu segera kita lakukan serangkaian pemeriksaan terhadap kakak ipar sebelum operasi dilangsungkan."


"Jadi, dalam minggu ini kak Lyra Caesar ya Bang?" tanya Fatimah pada suaminya.


"Iya, karena kehamilannya sudah di pertengahan bulan ke sembilan. Jadi, sudah bisa dikeluarkan bayinya."


"Jangan lupa kasih kabar Adek, ya Bang, kapan jadwal kak Lyra Caesar. Soalnya Adek nggak pengen melewatkan momen bahagia menyambut baby twins."


"Ngapain Adek yang antusias sekali? Tenanglah nanti sebentar lagi kita juga akan memiliki baby twins," seloroh Yandra yang di tanggapi serius oleh semua orang yang ada di meja makan itu.


"Kamu serius, Yan?" Tanya Mama


"Benar Yan?" tanya Papa Malik.


"Iya, benar. Kamu serius 'kan Yan?" tanya Lyra penasaran.


"Hehehe... Canda. Kenapa semua pada serius."


"Yah, kamu ini! Mama kira benaran Fatimah sudah ngisi," ujar Mama.

__ADS_1


"Do'akan saja ya, semoga benaran itu terjadi."


Mereka bersamaan mengaminkan ucapan Yandra. Sementara Fatimah hanya tersenyum malu menanggapi ucapan mereka.


Setelah Yandra dan Fatimah berangkat, Arman dan Lyra sudah mulai bersiap untuk ke RS.


"Mas, kita pagi ini juga ke RS?" tanya Lyra pada Arman yang sedang bermain dengan Yanju.


"Kenapa, Sayang? Kamu ada keperluan yang lain?" Tanya Arman.


"Rencananya pengen beli perlengkapan bayi ada beberapa yang belum kami beli sama Mama kemarin, kelupaan. Mas, mau 'kan temani aku?" Tanya Lyra memelas.


Arman tersenyum sembari mendekap tubuh sang istri. "Kenapa wajahnya melas begitu? Kemanapun kamu pergi Mas pasti menemani kamu. Kenapa Sayang? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Arman, karena ia tahu dari raut wajah sang istri sedang menyimpan sesuatu yang sulit untuk ia bicarakan.


"Mas, aku, aku cemas untuk menghadapi operasi ini. Apakah semua akan baik-baik saja?" Tanya Lyra gelisah.


"Insyaallah, semua akan baik-baik saja, Sayang. Kamu tidak boleh cemas berlebihan, nanti ngaruh dengan tekanan darah kamu, jangan stress, itu bisa membuat tensi kamu tinggi."


"Kamu temani aku hingga bayi kita lahir ya Mas, jangan pernah tinggalkan aku."


"Aku akan selalu menemani kamu Sayang, Lagipula Yandra bilang, kamu hanya di bius separuh jadi kita masih bisa ngobrol agar kamu tidak terlalu takut. Pokoknya mas, akan selalu menemani kamu dan berada disamping kamu."


"Udah, nggak usah dipikirkan. Semua akan baik-baik saja. Senyum dong!"


Lyra tersenyum kembali masuk kedalam dekapan sang suami. "Mas, kita bawa Abang Yanju ya, sekalian kita bawa jalan-jalan ke mall," pinta Lyra.


"Oke, tidak masalah. Lagian Papa udah kangen banget sama Abang Anju. Benar 'kan, Nak? Abang ikut periksa Bunda ke RS, iya?"


"Udah, kamu sekarang siap-siap. Sini Yanju biar Mas yang urus." Arman mengambil Yanju dari gendongan sang istri, sementara itu Lyra segera masuk ke kamarnya untuk bersiap.


Arman membuka lemari pakaian Yanju untuk mencari baju ganti bayi yang berumur sebelas bulan itu.


Tak sengaja netranya melihat sebuah botol berwarna gold muda, yang ber- merek Parfum made in Singapore itu.


"Parfum siapa ini?" Tanya Arman penasaran. Pria itu menyemprotkan cairan wangi itu ketubuhnya.


"Enak banget wanginya. Kayaknya asli dari Singapore. Ah, masa bodo aja, abisnya wanginya seger banget." Pria itu semakin menjadi menggunakannya.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2