Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Mengetahui tentang Yoga


__ADS_3

Pagi ini Yoga sudah bersiap berangkat ke RS, sebelum berangkat Pria itu selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama bersama kedua buah hatinya.


"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya. Kak Rara dan Adek Arfan jangan nakal ya, jangan bikin Mama capek. Nanti siang Daddy usahakan pulang cepat, biar kita bisa main bareng lagi ya."


Yoga mengecup wajah kedua buah hatinya. Dan perhatian itu beralih pada sang istri yang sedari tadi berdiri di sampingnya sudah seperti ajudan.


Yoga menyerahkan Snelli dokternya pada Zahra, ternyata Pria dewasa itu masih saja manja. Dengan senyum Zahra menerimanya.


"Ish... Bapak orang yang satu ini masih aja manja," cebik Zahra sembari membantu sang suami mengenakan jas dokternya.


"Muuach... Biarin, Manja sama istri sendiri kan nggak papa, yang bahaya itu dimanja bini orang baru khawatir," balas Yoga memberi sebuah kecupan pada istrinya.


"Hmm, awas aja kalau berani manja-manja ama bini orang!" Ancam Zahra sembari membesarkan matanya dengan gemas.


Yoga terkekeh melihat ekspresi wajah Zahra. "Galak banget nih Mamak orang. Gemes dan gregetan pengen gigit bibir kamu," goda Yoga mendaratkan beberapa kecupan di wajah dan bibir Zahra.


Wanita itu terkekeh mendapat perlakuan sang suami. Zahra menyalami tangan Yoga dan mengantarkannya hingga pintu mobil.


Sekali lagi Yoga mendaratkan kecupan di kening Zahra dan segera masuk kedalam mobil meninggalkan sang istri.


Setelah mobil Yoga meninggalkan perkarangan rumah, Zahra segera masuk untuk menemui kedua buah hatinya.


Zahra memulai kegiatannya yaitu memberi terapi manual kepada Rara. Dengan telaten dan sabar wanita itu mengurus dan merawat putrinya itu.


Cukup selama lima belas menit saja terapi selesai, Zahra bermain sebentar dengan kedua anaknya sembari mengajari kak Rara bicara dan mengenalkan huruf dan angka kepada gadis kecil itu.


Zahra yang pernah menjadi guru SLB, maka ia sudah tahu cara mengajari anak yang berkelainan khusus seperti Rara.


Saat mereka sedang asyik belajar, terdengar suara pintu kamar di ketuk oleh Bibi Nur.


"Ada apa Bi?" Tanya Zahra membukakan pintu.


"Diluar ada tamu, Non."


"Tamu? Siapa Bi?"


"Bibi tidak tahu, Non. Tapi seorang wanita," jelas Bibi Nur.

__ADS_1


"Baiklah, tolong jagain Arfan sebentar ya,Bi."


Zahra segera keluar untuk menemui tamu itu, rasa penasaran membuat langkahnya lebih cepat ingin melihat wanita itu.


"Mama..." Zahra sedikit cemas saat mengetahui siapa tamunya yaitu mantan Mama mertuanya. Zahra takut bagaimana jika wanita itu mengambil Arfan darinya, tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.


"Zahra, Mama ingin bertemu cucu dan anak Mama," ucap wanita itu Seketika membuat Zahra terperanjat.


Zahra masih bengong setelah mendengar ucapan wanita baya itu, anak siapa yang dia maksud? Bukankah putranya sudah meninggal, apakah Mama mertuanya itu sedang berhalusinasi?


"Maaf, mungkin maksud Mama Arfan cucu Mama," ujar Zahra meluruskan maksud Mama mertuanya itu.


"Ah, iya. Maksud Mama Arfan. Mama ingin bertemu dengannya, bolehkah Mama masuk?"


"Tentu saja, ayo silahkan masuk,Ma." Zahra membawa Mama Runi masuk kedalam rumah dan segera mengambil Arfan yang sedang berada di kamar Rara bersama Bibi Nur.


Zahra membawa bayi mungilnya untuk bertemu dengan Mama Runi, ini adalah kali pertama Arfan bertemu dengan sang nenek secara baik-baik, walau sebelumnya pernah bertemu dalam suasana tidak tepat kala itu Mama Runi penuh dengan emosi jadi tidak sempat memegang cucunya.


"Arfan, ayo lihat siapa yang datang, Nak. itu Nenek kamu, Sayang," ucap Zahra memperkenalkan Arfan pada neneknya.


Mama Runi membawa Arfan kedalam pelukannya, kecupan sayang selalu mendarat diwajah bayi mungil itu.


"Oya, Zahra. Bukankah Yoga juga mempunyai anak? Mama pernah lihat waktu kita bertemu di mall, benarkah itu anak Yoga?"


"Benar,Ma. Namanya Rara," jawab Zahra dengan jujur.


"Mana dia Rara? Mama juga ingin bertemu dengannya."


"Baiklah, sebentar ya,Ma." Zahra segera membawa Rara untuk bertemu dengan Mama Runi.


Mama Runi mengusap wajah Rara dengan lembut sembari memberi kecupan di kedua pipi gadis kecil itu. Terlihat wanita itu meneteskan air mata.


Zahra merasa aneh melihat perhatian Mama Runi yang begitu besar terhadap Rara, sampai harus meneteskan air mata. Begitu besarkah rasa sayang wanita itu?


Cukup lama mereka berbincang dan bermain bersama kedua anaknya. Mama Runi memperhatikan seluruh isi rumah itu dan menatap foto Yoga terpajang di setiap dinding.


"Zahra, boleh Mama tanya sesuatu?"

__ADS_1


"Boleh, apa itu Ma?"


"Apakah benar kamu dan Yoga pernah satu yayasan?"


"Benar, Ma. Waktu itu aku tinggal di yayasan dua minggu sebelum keberangkatan Mas Yoga ke kota ini untuk melanjutkan kuliahnya," jelas Zahra.


"Kalau boleh Mama tahu, apa nama yayasan panti asuhan itu?"


Zahra menyebutkan nama yayasan itu, dan menceritakan peristiwa kebakaran yang terjadi sehingga dirinya harus di pindahkan ke panti asuhan yang berada diluar kota dan disanalah dirinya bertemu dengan Arif yang mana suaminya itu sebagai donatur terbesar setiap bulannya.


Seketika Mama Runi menangis, setelah mendengar penjelasan Zahra dan mengetahui alamat panti asuhan yang sudah diyakini itulah panti asuhan yang sama saat dia menitipkan putranya.


"Ma, kenapa menangis?" Tanya Zahra memegang tangan Mama Runi. Sedikit bingung melihat sikap mantan Mama mertuanya itu.


"Zahra, Mama ingin memberitahu kamu tentang sesuatu," ujarnya sembari menghapus air mata.


"Apa itu, Ma?"


"Yoga adalah anak Mama," ucapnya dengan suara serak


Seketika tubuh Zahra membeku, dia tidak percaya begitu saja. Bagaimana mungkin itu terjadi. Tidak, itu tidak mungkin, pasti hanya akal-akalan wanita itu saja.


"Maaf, Ma. Aku tidak percaya dengan apa yang Mama katakan."


"Zahra, Mama tidak berbohong. Yoga benar anak Mama. Dia adalah bayi laki-laki yang Mama titipkan 30 tahun yang lalu di panti asuhan, Mama terpaksa melakukan hal itu karena Mama saat itu bingung harus berbuat apa, karena Pria yang menghamili Mama tidak mau bertanggung jawab.


"Mama sengaja lari dari rumah hingga bayi yang Mama kandung lahir, karena semua keluarga besar Mama tidak ada yang tahu jika Mama sedang hamil. Bahkan mereka sudah menjodohkan Mama dengan Pria pilihan mereka.


"Pada akhirnya Mama melahirkan dan menitipkan bayi itu ke panti asuhan, Mama berniat akan menjemputnya kembali setelah urusan selesai, Mama menerima tawaran keluarga untuk menikah dengan Pria pilihan mereka.


"Tapi Mama sudah mengatakan kepada Pria yang akan menikahi Mama bahwa Mama sudah tak suci lagi, tapi Mama tidak mengatakan jika Mama mempunyai anak. Saat itu Mama masih takut, tidak mempunyai keberanian, maka Mama memutuskan akan mengatakannya nanti setelah menikah.


"Pria itu sangat mencintai Mama sehingga dia rela menerima segala kekurangan Mama, Namun setelah menikah, suami Mama membawa kami pindah keluar negeri dan menetap disana.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2