
"Zahra!"
Suara seseorang membuat Zahra terperanjat ia menatap wanita yang berdiri dihadapan meja makan mereka.
"Mama!" Ucapnya dengan rasa takut begitu besar saat mengetahui mantan Mama mertuanya ada dihadapannya.
"Oh, bagus! Jadi sekarang kamu sudah menikah lagi? Atau kamu menjadi simpanan pria kaya!" Tuduh wanita itu dengan nada kesal
"Maaf Buk, tolong jaga bicara anda! Dia istri sah saya bukan simpanan!" Ujar Yoga dengan tegas.
"Heh! Istri sah? Benarkah itu? Bagaimana mungkin kalian bisa nikah resmi jika semua berkas wanita ini masih bersama saya! mungkin hanya nikah siri baru benar!" Ketus wanita itu dengan senyum mengejek.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Belum sampai setahun Putraku meninggal, tapi kau sudah bisa menikah dengan pria lain, sekarang berikan cucuku! Biarkan aku yang mengurusnya! Aku tidak percaya kau bisa mengurusinya dengan baik karena kau sudah sibuk dengan suami barumu!"
Ucapan wanita itu menohok di jantung Zahra. Tapi segala tuduhannya tidaklah benar. Bukankah dia meminta dirinya pergi dari rumah itu setelah anaknya lahir, jadi apa salahnya dia menikah kembali dengan pria baik yang menerima nasibnya.
"Tidak, Ma. Aku tidak akan memberikan putraku pada siapapun! Aku bisa merawatnya dengan baik!" Balas Zahra tegas
"Tidak bisa! Kamu harus menyerahkan cucuku! Jika tidak aku akan membawa kasus ini ke ranah hukum, karena dia adalah anak biologis dari putraku, maka hak asuh akan jatuh pada aku neneknya!"
"Silahkan saja, Bu! Saya akan tunggu anda di meja hijau! Arfan memang cucu Anda, tapi dia masih mempunyai Ibu, maka sudah pasti hak asuh jatuh ketangan Zahra!" Potong Yoga tegas
"Heh! Yakin sekali kamu! Walaupun dia masih mempunyai Ibu, tapi apakah menjamin masa depannya? Segala pendidikan dan nafkah yang cukup untuk cucuku?" Ujar wanita itu tak mau kalah
"Kalau soal itu Anda tidak perlu khawatir! Saya yang akan menjamin segalanya. Saya pastikan bayi ini tidak akan kurang suatu apapun, dari mulai kasih sayang hingga pendidikan akan saya curahkan sepenuhnya layaknya anak kandung saya sendiri!" Ujar Yoga kembali yang membuat wanita tua itu meradang
"Sombong sekali kamu! Kita lihat saja nanti!" Wanita itu segera beranjak dari hadapan mereka dengan hati yang jengkel.
Zahra terduduk lemas sembari memeluk erat tubuh bayinya. Rasa takut mulai menjalar dalam hatinya, bagaimana jika benar hak asuh jatuh ke tangan ibu mertuanya.
"Sayang, sini Arfan Mas yang gendong, tadi kamu bilang lapar 'kan? Ayo makanlah!" Yoga meraih Arfan dari pangkuan Zahra, namun, wanita itu enggan memberikan seakan ketakutan merasuki pikirannya.
"Dek, kamu tenanglah! Mas janji Arfan akan tetap bersama kita, kamu percaya sama Mas ya!" Ujar Yoga meyakinkan sang istri masih terlihat ketakutan yang mendalam.
"Terimakasih ya, Mas," Zahra memberikan Arfan pada Yoga dengan perasaan sedikit lega mendengar ucapan Pria itu.
__ADS_1
Setelah memberikan Arfan pada ayah sambungnya itu, Zahra kembali melanjutkan menyuapi kak Rara makan.
"Makanlah Dek, Kak Rara biar Daddy yang suapin!" Ucap Yoga meraih sendok ditangan Zahra.
"Tidak apa-apa Mas, biar aku selesaikan memberi kak Rara makan, Mas nanti susah pegang Arfan, lagian tinggal dikit lagi ya 'kan, Nak," ujarnya sembari mengusap pipi gadis istimewa itu.
Setelah selesai makan, Yoga kembali membawa istri dan anak-anaknya untuk berbelanja namun, sepertinya Zahra tidak bersemangat, mungkin moodnya sudah rusak semenjak bertemu dengan mantan Mama mertuanya.
"Dek, kamu nggak belanja sesuatu?" Tanya Yoga melirik wanita itu yang terlihat murung
"Nggak Mas, kita pulang saja ya. Aku capek ingin istirahat!" jawabnya datar
"Baiklah, tapi anak-anak belum beli apapun! Yasudah lain kali saja," ujarnya mencoba memahami sang istri.
"Mas, Yoga?"
Panggil seseorang dari belakang saat mereka sudah menggitari pusat perbelanjaan itu untuk keluar menuju parkiran.
Yoga dan Zahra serentak menoleh mencari sumber suara itu. Tampak seorang wanita cantik seksi nan modis.
"Alda?" Seru Yoga balik menyebut nama wanita cantik itu
"Hai, Al. Alhamdulillah seperti yang kamu lihat!" Jawab Yoga datar
Alda menatap Zahra yang sedang mendorong kursi roda Rara, dan sekilas wanita itu juga menatap gadis kecil itu.
"Wah, sepertinya sudah punya kehidupan baru. Kok nggak ngundang nikahnya?" tanya Alda sedikit senyum ia ukirkan kepada Yoga.
"Maaf, mungkin saya lupa! Kalau begitu kami permisi dulu. Soalnya Rara ingin minum obat," ucap Yoga mencari alasan berharap dapat sedikit perhatian dari Alda untuk putrinya.
Namun, semua tak sesuai harapan, Alda sama sekali tak merespon ataupun bertanya bentuk rasa peduli pada buah hatinya yang tak sempurna itu. Hati Pria itu terasa sakit, maka secepatnya ia pergi dari hadapan mantan istrinya itu.
"Tunggu Mas!"
Teriak wanita itu menghentikan langkah Yoga dan Zahra kembali.
__ADS_1
"Mas, ini ada undangan makan malam di keluarga Hery. Kamu datang ya, ada syukuran atas pembukaan cabang RS yang ada diluar kota."
Wanita itu menyodorkan sebuah undangan kepada Yoga, namun, Pria itu bergeming tak menerimanya.
"Maaf, saya tidak bisa datang, Permisi!" Yoga kembali menggandeng Zahra untuk beranjak dari hadapan wanita itu.
"Kenapa, Mas?! Apakah kamu tidak mau untuk bertemu dengan keluarga mantan istrimu? Bukankah dulu mereka juga keluarga kamu, mereka yang memberikan kamu Keluarga yang utuh! Kenapa sekarang kamu seperti orang asing!"
Ucapan wanita itu membuat hati Yoga begitu sakit dan meradang. Pria itu menyorot Alda dengan tajam.
"Seharusnya pertanyaan itu lebih tepatnya untuk dirimu Alda! Tentu saja aku bisa melupakan keluarga mantan istriku, sedangkan kamu saja bisa melupakan darah dagingmu sendiri, padahal diantara kalian tidak mempunyai istilah mantan! Sampai kapanpun kamu tetap ibu dari putriku yang tidak sempurna ini!"
Yoga segera membawa Zahra dan anak-anaknya pergi tanpa peduli lagi apapun yang akan dikatakan oleh mantan istrinya itu.
Kini mobil Pajero sport itu melaju menuju kediaman mereka. Zahra menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sangat kacau.
Dan menoleh kebelakang menatap Putri kecil yang malang itu sedang tertidur di kursi yang dikhususkan untuknya. Zahra tahu apa yang sedang dirasakan oleh sang suami.
Tangan Zahra mengulur mengusap lengan Yoga dengan lembut. "Mas, sabar ya! Semoga suatu saat Mbak Alda terbuka hatinya," ucapnya memberi penenangan.
Tiba-tiba saja Yoga menepikan mobilnya, Pria itu memeluk Zahra dengan erat mencari ketenangan saat jiwanya sedang kacau.
"Dek, terimakasih sudah menyayangi Putriku yang malang itu dengan sepenuh hati. Apakah aku salah berharap Alda bisa menerima kehadiran Rara walau sedikit saja?" Tanyanya lirih dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Pria itu terlihat begitu sedih
Dengan tangan sebelah Zahra membelai pipi suaminya dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.
"Tidak, Mas! Kamu tidak salah. Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan, kamu tidak perlu khawatir Mas, aku janji akan memberikan kasih sayangku untuk kak Rara. Dia itu putri Aku, bukankah kamu memberikan namaku kepadanya? Hmm? Kamu bisa kena pasal memberikan nama mantan pada anakmu. Hehehe...." Zahra berusaha menghibur hati suaminya yang sedang gundah.
Yoga melerai pelukannya dan menatap wajah cantik istri kecilnya itu, beberapa kecupan hangat mendarat di bibir Zahra, dan sebuah senyuman ia ukirkan.
"Terimakasih, Sayang, aku sangat mencintai kamu. Tetaplah selalu bersamaku, meskipun suamimu ini banyak kekurangan," ujarnya kembali mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Kamu dan Rara adalah keluargaku orang yang aku sayangi. Kamu sudah cukup sempurna dimataku Mas, aku juga sangat mencintaimu."
Bersambung....
__ADS_1
Maaf satu episode ini untuk Dr Yoga dulu ya 🥰
Happy reading 🥰