
Zahra bagaikan batu, persendiannya kaku dan bibir tak mampu bicara, yang ditakutkan oleh wanita itu adalah akan kembali kehilangan suaminya itu. Karena Zahra masih menyimpan semua perbuatan Mama mertuanya itu di memory kepalanya.
Zahra masih mengingat jelas bagaimana Mama Runi mendesak Arif untuk menceraikannya, dan berusaha memisahkan mereka. Sehingga membuat pikiran Arif tak tenang setiap harinya mendapat tekanan dari orangtuanya. Hingga suatu hari Arif mengendarai mobil dengan keadaan emosi karena baru saja bertengkar dengan sang Mama sehingga tabrakan maut itu tak bisa terhindarkan menyebabkan nyawanya melayang.
Jika benar Yoga anaknya, berarti ia kembali masuk dalam keluarga itu, dan tak menutup kemungkinan nasib yang sama akan menimpa dirinya. Sungguh rasanya ia tak mampu menerima kenyataan itu.
Zahra sungguh tidak ingin berpisah dengan sang suami yang begitu dicintainya. Zahra berdiri dan meminta Mama mertuanya untuk pergi saat itu juga, seakan ia telah kehilangan sikap ramah dan adab terhadap wanita itu.
"Aku mohon pergi dari sini sekarang juga, Ma. Untuk kali ini aku tidak akan mau mengalah dan membiarkan suamiku Mama perdaya. Aku tidak percaya dia anak Mama!"
"Zahra, kamu kenapa bicara seperti itu! Mama tidak bermaksud..."
"Sudah! Aku minta Mama pergi dari rumahku!" Usir Zahra dengan air mata jatuh berderai.
"Zahra, dengarkan penjelasan Mama dulu!"
Tetapi wanita itu sudah menutup pintu rumah itu dengan Isak tangisnya. Dan segera membawa kedua buah hatinya masuk kedalam kamar dan mengunci kamar itu dengan rapat.
Zahra menangis histeris, rasa trauma berada di dalam keluarga itu masih menghantui, tetapi apa yang baru saja ia dengar dari pengakuan wanita itu membuatnya semakin takut.
Zahra takut akan kehilangan suaminya kembali, sungguh rasanya takdir mempermainkan hidupnya. Saat Zahra sedang menangis ponselnya berdering.
Zahra melihat panggilan dari suaminya yang sedang ia pikirkan saat ini. Pria yang amat dicintainya.
"Ha-halo Mas," Ucapnya dengan suara tercekat
Halo Sayang, kamu kenapa?" Tanya Yoga khawatir mendengar suara tangis istrinya.
"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa." Zahra berusaha untuk tetap tenang, tetapi entah kenapa rasa takut kehilangan membuatnya tak bisa menahan tangis mendengar suara lembut suaminya itu.
Yoga mematikan sambungan ponselnya, dan segera pulang, sebelumnya ia meminta dirubah jadwal prakteknya untuk sore. Yoga tahu sudah terjadi sesuatu, karena ia tidak pernah mendengar istrinya menangis seperti itu.
Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga sebentar saja mobil itu sudah terparkir di depan rumahnya.
Yoga turun dengan tergesa-gesa, ia sudah tak sabar ingin mengetahui hal apa yang terjadi sehingga istrinya menangis.
__ADS_1
"Zahra..." Panggil Yoga sembari berjalan dan mencari keberadaan sang istri.
Yoga mencari Zahra ke kamar Rara, tapi kamar itu kosong, rasa cemas dan takut menyelimuti hatinya.
"Ah, Bik. Mana Zahra dan anak-anak?" Tanya Yoga pada Bibi Nur.
"Non Zahra ada di kamar. Bibi melihat Non Zahra menangis setelah bertemu dengan seseorang," jelas Bibi Nur.
"Seseorang? Siapa Bik?" Tanya Yoga penasaran
"Bibik tidak tahu siapa, Tuan, tapi Bibi dengar dia mengatakan Nenek den Arfan."
Yoga segera menuju kamarnya, ia takut terjadi sesuatu, Yoga sudah tahu siapa tamu yang dimaksud oleh Bibi Nur.
Tok! Tok!
"Sayang... Buka pintunya, ini aku." Yoga masih menggedor pintu kamar itu.
Zahra mendengar suara Yoga bergegas membukakan pintu, ia ingin menumpahkan tangisannya di dada Pria itu.
Yoga memberi waktu sang istri untuk menumpahkan segala tangisnya agar merasa lega sembari mengusap rambut dan memberi kecupan berulang kali di puncak kepalanya.
Setelah merasa tenang, Yoga membawa Zahra untuk duduk, wanita itu mengikuti langkah sang suami menggiringnya duduk di bibir ranjang.
"Sudah tenang?" Tanya Yoga sembari menghapus air mata sang istri
Zahra mengangguk pelan dan menetap wajah tampan yang ada dihadapannya. Bagaimana jika suatu saat Pria itu pergi meninggalkannya.
"Cerita yuk, biar kamu lebih tenang lagi," ucap Pria itu dengan suara lembut dan mengecup kening Zahra dengan sayang.
"Mas, seandainya kamu bertemu dengan keluargamu, dan jika keluarga kamu tidak merestui pernikahan kita, apakah kamu akan meninggalkan aku?"
Yoga terkejut mendengar pertanyaan Zahra. Kenapa wanita itu tiba-tiba bertanya sedemikian? Apa yang telah terjadi.
"Bicara apa sih, Dek? Siapa yang ingin meninggalkan kamu? Aku lebih memilih kamu daripada keluargaku. Karena menurutku kamu lebih berharga dari mereka, sudah terlambat bagi mereka untuk mencariku.
__ADS_1
"Jadi kamu jangan berpikir yang aneh-aneh ya. Tidak ada yang akan meninggalkan kamu. Aku sudah berjanji dalam hati yang seharusnya tak perlu aku beritahu pada dirimu, tetapi aku harus meyakinkan kamu.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu kecuali tembilang yang memisahkan kita. Aku tidak akan sanggup berpisah darimu. Kamu tahu, rasa cintaku semakin hari semakin besar kepadamu bahkan saat aku di RS selalu merindukan kamu, aku selalu ingin cepat pulang hanya untuk bertemu denganmu dan juga anak-anak kita.
"Dek, aku tidak menginginkan hal lain selain dirimu dan anak-anak kita. Aku sudah tak berharap kehadiran keluargaku. Jika mereka menyayangi aku, mereka tidak akan pernah membuangku. Jadi aku minta kamu jangan memikirkan hal itu ya!"
Zahra menjadi serba salah mendengar ucapan sang suami, yang seharusnya ia memberi dukungan buat Yoga untuk berdamai dengan masalalunya agar dia mempunyai keluarga yang utuh.
"Mas, aku tidak bermaksud kamu harus membenci keluargamu. Tapi aku hanya berharap kamu bisa mempertahankan aku tanpa harus membenci orangtuamu."
"Dek, aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan kamu ini kemana? Kamu bicara seakan telah mengetahui siapa orangtuaku yang sebenarnya," ujar Yoga bingung.
"Mas, aku memang sudah mengetahui siapa orangtuamu," ucap Zahra seketika membuat Yoga melepaskan pelukannya dan menatap wajah Zahra dengan dalam.
"Apa maksud kamu, Dek?" Tanya Yoga masih tidak mengerti.
Zahra masih ragu dan bimbang untuk menyampaikan yang sebenarnya. Tapi ia harus memberitahukan kepada Yoga. Walau setakut apapun dirinya, tetapi Yoga berhak tahu yang sebenarnya.
Zahra mencoba menghirup udara sepenuh dada untuk memasok oksigen lebih banyak agar ia mampu mengatakan hal yang sebenarnya.
"Mas, tadi Mama Runi datang, dia menemui Arfan dan Rara."
"Terus...?" Tanya Yoga penasaran.
"Dia menanyakan tentang dirimu, dan dia mengatakan bahwa kamu adalah anaknya," ujar Zahra dengan tenang.
"Hahaha.... Kamu lucu sekali, Dek. Aku benar-benar lucu mendengar ceritamu itu. Hahaha... Aku rasa mantan Mama mertuamu itu sudah gila." Yoga menganggap Mama Runi tidak waras dengan pengakuannya.
"Mas, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku serius dengan ucapanku, Mas!"
Yoga yang masih tersenyum seketika senyum itu pudar melihat keseriusan sang istri.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1