
Setelah membantu Fatimah menggunakan daster dan hijab instan, Pria itu segera mengemasi barang-barang perlengkapan yang harus dibawa ke RS.
"Dek, tunggu sebentar ya, Abang beritahu Mama dulu. Makin kuat sakitnya, sayang?" Tanya Yandra penuh perhatian, sembari mengelus perut Fatimah dengan lembut.
"Sssh... Sakit banget, Bang, ini lebih sakit dari yang tadi." Keluh Fatimah bergelayut di leher Yandra.
"Iya, memang begitu, Sayang, semakin lama sakitnya memang bertambah. Memang sakit itu yang di cari agar pembukaannya lengkap." Yandra menjelaskan agar istrinya tahu bahwa sakitnya akan terus bertambah.
"Bang, demi Allah, ini sakit banget! Aaa...!"
"Sabar ya, istighfar, Dek. Nggak boleh jejeritan begitu." Intrupsi Yandra sembari mengelus pinggang Fatimah.
"Ini sakit lho,Bang, bagaimana nggak menjerit! Abang sih nggak ngerasain gimana sakitnya! Abang sih cuma tahu enaknya saja!" Fatimah balik ngomel pada Yandra.
Pria itu hanya diam mendengar omelan sang istri, Yandra sebagai seorang suami sekaligus dokter, maka harus pandai menyikapi antara pasien dan istri
Yandra harus berperan ganda. Yaitu sebagai Dokter yang harus tegas memberi arahan, agar si pasien bisa menjalani lahiran normal dengan baik tidak terlalu gelisah.
Namun, dia juga sebagai seorang suami yang harus siap mental terkena amukan dan omelan sang istri yang terkadang tak mengenakan. Bagaimana tidak, saat Fatimah mengatakan Abang sih tahu enaknya saja. Padahal waktu memprosesnya sama-sama merasakan enaknya.
Hah, harus bisa sabar. Wanita memang selalu benar. Yandra juga memahami bagaimana sakitnya saat kontraksi, dia adalah wanita yang berjuang bertaruh nyawa demi menyelamatkan nyawa keturunannya.
"Sudah marahnya, Sayang?" Tanya Yandra sembari mengecup kening Fatimah.
"Belum..." Jawab wanita itu masih menahan sakit tak terkira.
"Sebentar ya, Abang kasih tahu Mama, kita harus cepat ke RS." Yandra segera keluar untuk menemui Mamanya.
"Ada apa, Yan?" Tanya Mama Anggi dengan mata berat membuka pintu kamar.
"Ma, Fatimah ingin lahiran, sudah bukaan 5, aku ingin bawa Fatimah sekarang ke RS. Mama tolong beri kabar Ibu ya.
"MasyaAllah, benaran kamu? Yaudah sekarang bawa ke RS, nanti mama nyusul. Mama jemput Ibu kamu dulu, biar barengan ke RS."
Yandra segera beranjak dan membopong Fatimah untuk ke mobil. Sesampainya di RS. Beberapa Dokter jaga dan Bidan sudah menanti.
Fatimah segera dibawa ke ruang bersalin. "Kak, tolong periksa lagi ya, tadi dirumah sudah buka 5," ujar Yandra hendak pergi, ia memerintah Bidan untuk memeriksa.
"Abang, mau kemana?" Fatimah meraih tangan Yandra.
"Abang ada perlu sebentar, Dek. Kamu diperiksa Bu Bidan dulu ya."
"Nggak, aku nggak mau! Abang gimana sih, tadi janjinya Abang yang akan menangani aku sendiri!" Protes Fatimah
__ADS_1
"Awwhh... Sakit banget!" Ia meremat lengan Yandra dengan kuat.
"Ayo baring, Sayang, biar Abang periksa. Kak, sediakan semua peralatannya. Biar saya yang menangani istri saya." Akhirnya Pria itu mengalah. Jujur saja ia belum pernah menangani pasiennya saat melahirkan normal, kecuali darurat yang tak bisa bidan lakukan maka baru dia yang ikut andil, itupun hanya kasus yang sulit seperti mengambil plasenta yang lengket di dinding rahim.
"Baiklah, Dok," Sang Bidan segera menyediakan semua alat bersalin seperti gunting, jarum dan yang lainnya.
"Bang, kenapa ada gunting dan jarum? Bukankah ini lahiran normal? Abang gimana sih?" Kembali wanita itu protes dalam keadaan sakit ia masih bisa menawar.
Yandra menghela nafas panjang untuk memasok rasa sabar tak terkira. Ternyata istrinya yang selama ini sangat kalem, tak banyak bantahan, tapi kini sungguh begitu parno. Yandra maklum ini adalah pengalaman pertama bagi Fatimah.
"Sayang, gunting itu hanya untuk memotong Plasenta saat bayi kita lahir. Udah, ayo baring. Biar Abang periksa sekarang."
"Hiks... Sakit, Bang
"Iya, sabar ya. Ayo tekuk lututnya." Yandra segera memeriksa kembali.
"Sudah, buka tujuh, Dek. Nggak akan lama lagi."
"Aaaa... Ya Allah, sakit banget, Bang! Hiks.."
"Sabar, Sayang, istighfar ya."
"Astaghfirullah, ya Allah, sakit sekali...." Fatimah duduk
"Adek, mau turun, Bang, ini sakit banget... Haa. Hiks...!"
"Sudah hampir buka delapan, Dek, nggak boleh turun lagi." Intrupsi Yandra.
"Benar, Bu, tidak bisa turun lagi. Takutnya pas bukanya lengkap, nanti bayinya jatuh. Ibu tidur dan bawa miring biar cepat bukaannya lengkap."
Bidan yang mendampingi Yandra ikut memberi penjelasan pada Nyonya Yandra itu, karena sang Bidan dan Dokter cukup riweh menghadapi Ibu muda yang baru mengalami lahiran normal.
"Bang, sakit banget... Hiks, Astaghfirullah, astaghfirullah ya Allah sakit banget." Fatimah berusaha untuk tenang dengan membaca kalimah Allah, dan banyak meminta ampunan.
Tidak berselang lama, Ibu dan Mama Anggi sudah datang, Mereka segera masuk kedalam ruang bersalin.
"Yan, bagaimana? Apakah bisa lahir normal?" Tanya Mama Anggi dan Ibu Ida berbarengan.
"insyaAllah bisa, Ma, Bu. Letak kepalanya bagus, dan pembukaannya cepat. Kepala sudah masuk jalan lahir."
"Syukurlah, sabar ya, Nak. Banyak-banyak istighfar, Sayang." Ibu Ida menggengam tangan Fatimah.
"Astaghfirullah, sakit banget, Bu. Maafkan aku bila selama ini pernah membuat hati Ibu atau Mama tersakiti," ucap Fatimah memohon maaf disela menahan sakit.
__ADS_1
"Tidak ada, Nak, kamu tidak pernah menyakiti hati kami. Kalaupun ada sudah dimaafkan terlebih dahulu," Sahut Mama Anggi ikut mengelus perut Fatimah.
"Aaaa....! Hah, hah!"
"Jangan ngeden dulu, Dek? Ayo Abang periksa lagi. Kayaknya sudah lengkap ya, Kak? Udah ada angin ngedennya?" Tanya Yandra minta pendapat pada Bidan pendampingnya.
"Coba periksa lagi, Dok, Udah kelihatan kepalanya belum." Bu Bidan memberi saran.
Yandra segera memeriksa kembali. "Belum, Kak, masih buka sembilan," lapor Yandra.
"Jangan ngeden dulu ya, Bu, pembukaan belum lengkap, bawa miring lagi ya. Sebentar lagi baru boleh ngeden." Intrupsi Bu Bidan.
"Tapi, nggak bisa ditahan, Bu Bidan, ini ngedennya datang sendiri." Jawab Fatimah memang begitu adanya.
"Iya, benar, tapi sebelum lengkap belum boleh ngeden, nanti vagi na nya bengkak, bisa robek juga, dan kepala bayi bisa panjang, sabar ya Bu, tetap miring ya."
Dengan sabar sang Bidan menjelaskan. Yandra beralih posisi di samping Fatimah dan meminta Bidan yang menangani, ia akan menjadi penyemangat sang istri. Dalam keadaan seperti itu, Fatimah tak ingin lagi protes ataupun berdebat, terserah siapapun yang membantunya, yang penting bayinya segera lahir.
Mama Anggi dan Bu Ida, sudah keluar, mereka memberi ruang untuk anak dan menantunya berjuang, agar Fatimah nyaman, tidak terlalu banyak orang didalam, yang penting mereka selalu memanjatkan Do'a keselamatan untuk cucu dan ibunya.
"Bang, sakit banget... Haa...!" Fatimah meraih kerah baju Yandra saat sakit mendera. Pria itu membalas merangkul sang istri, sembari berbisik. "Sabar ya, Sayang, sebentar lagi anak kita lahir." Kecupan hangat selalu mendarat diwajah Fatimah. Yandra begitu kasihan sang istri sudah terlihat lelah. Ingin rasanya membagi rasa sakit itu, tapi harus bagaimana lagi sudah kodratnya seorang wanita.
"Sudah lengkap ya, Bu, ayo tarik nafas dalam-dalam buang perlahan dari mulut. Saat ngedennya datang, pegang kedua pahanya ya, ngeden lihat keperut panggulnya jangan di angkat." Intrupsi Bu Bidan.
Fatimah mengikuti segala arahan dari Bu Bidan, ia menarik nafas dalam-dalam dan membuang dari mulut dengan perlahan.
"Aaaaa.....!"
"Iya, bagus Bu, ayo kuat, jangan putus-putus!"
"Ayo, Sayang, kamu pasti bisa." Yandra menggenggam tangan Fatimah.
"Sakit, Bang. Aaaakhh....!"
"Iyaa, teruskan jangan berhenti, kepala bayinya sudah kelihatan. Baik, jeda sebentar ya, Bu, ayo ambil nafas lagi, sekali lagi harus keluar dedeknya ya."
"Aaaakhh....!"
"Oeek! Oeek! Oeek!
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1