
"Maaf, mungkin kamu salah bicara!" ucap Yoga
Seketika wanita itu merubah ekspresi wajahnya dengan rasa malu. "Maaf Mas," ia menunduk
"Boleh aku tahu namamu?"
"Andini Azzahra. Panggil saja Zahra,"
"Baiklah, Oya. Nama saya Yoga," ucap pria itu dan di balas anggukan oleh Zahra
"Apakah kamu sudah makan? Ini saya bawakan makanan, pegang dia sebentar," Yoga menyerahkan bayi itu pada Zahara, ia mengambilkan bubur ayam yang tadi ia belikan untuk wanita itu.
"Tapi tadi sore saya sudah makan," ucapnya ragu saat Yoga menyodorkan cup yang berisikan bubur itu.
"Makanlah, ini sudah malam jadi kamu butuh banyak asupan kalau tidak bayimu akan kelaparan. Sini biar aku taruh dia dalam boks." Yoga mengambil bayi itu dan memasukkan kedalam boks bayi yang ada disisi ranjang.
Zahra menerima bubur pemberian Yoga ia makan dengan tenang, sesekali tatapan mereka bertemu. Yoga ingin sekali mengetahui latar belakang wanita yang ada dihadapannya ini, tapi ia tidak mau terburu-buru dengan sabar menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.
Setelah selesai makan, Zahra menatap Yoga yang kembali duduk di hadapannya setelah menaruh mangkok bekas di meja.
"Mas Yoga, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak atas segala pertolongan yang begitu besar pada saya," ucapnya tulus
Yoga mengangguk tersenyum tipis menanggapi ucapan wanita itu. "Zahra, boleh aku tahu tentang kamu?"
Wanita itu menghela nafas sepenuh dada untuk memasok oksigen di rongga mulut. Sepertinya ia harus menceritakan nasib pilu yang sedang ia jalani.
"Mas, aku seorang yatim piatu. Sebelum menikah aku tinggal di salah satu panti asuhan sebagai pengasuh anak-anak terlantar yang di tampung oleh yayasan. Awal pertemuan aku dengan suami saat dia menjadi salah satu donatur di yayasan panti asuhan itu. Hanya dua bulan perkenalan dia meminta izin kepada ibu yayasan untuk meminangku. Akhirnya kami menikah tanpa restu orangtuanya.
Lima bulan kami menikah, Mas Arif mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Saat itu kehamilanku sudah berjalan tiga bulan, namun keluarga mas Arif datang mengambil semua barang peninggalan dari anaknya. Tapi aku masih bersyukur mereka mau membawaku tinggal dirumah orangtuanya.
Namun ternyata aku baru mengetahui bahwa mereka hanya menginginkan bayiku, saat aku mengetahui semua itu, aku tidak ingin memberikan anakku. Sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankannya karena hanya dia satu-satunya yang aku punya dari mas Arif!"
__ADS_1
Dengan buliran air mata mengiringi ucapan wanita itu. "Sekali lagi aku minta maaf terkadang tanpa sadar memanggil Mas Yoga sebagai mas Arif. Aku, aku hanya merindukannya. Andai saja dia masih ada hidupku tidak akan seperti ini." Zahra menangis pilu sembari meremat ujung selimut yang menutupi sebagian kakinya yang masih terbujur lurus.
Yoga menatap Zahra dengan prihatin. "Maafkan aku ya, aku tidak tahu perjalanan hidupmu begitu memilukan. Tenanglah kamu jangan banyak fikiran, fokuslah dengan bayimu!"
"Terimakasih ya,Mas. Maaf jika aku sudah merepotkan kamu," ucapnya sungkan
"Ah, tidak sama sekali. Kalau begitu aku pulang dulu, aku akan meminta perawat untuk menjagamu diruangan ini. Besok siang setelah aku pulang dari RS aku akan kesini lagi. Oya, aku lupa memberitahu mu, aku adalah seorang Dokter jantung yang bertugas di RS Malik Saputra." pamit yoga pada wanita itu.
"Iya, sekali lagi terimakasih. Semoga Allah membalas semua kebaikan Mas Yoga."
Yoga mengaminkan Do'a Zahra dengan senyum simpul sembari melangkah meninggalkan ruangan itu.
***
Ini hari terakhir Fatimah mengikuti ujiannya. Tadi pagi mereka sudah buat janji, setelah pulang sekolah Yandra akan menjemput Fatimah untuk fithing baju akad di salah satu butiq.
Dek, langsung pulang naik taksi online saja ya. Nanti Abang jemput dirumah saja, soalnya Abang masih ada pasien, jadi nggak sempat jemput kita perginya agak sorean saja.
Begitulah pesan yang diterima oleh Fatimah disela penantiannya di depan gerbang sekolah. Akhirnya gadis itu memahami kesibukan calon suaminya. Ia segera memesan taksi online.
"Pak, bisa ikuti mobil yang di depan?" tanya Fatimah pada pengemudi
"Bisa Mbak." Pengemudi itu menambah sedikit kecepatannya agar tak kehilangan jejak oleh mobil yang di depannya.
Gadis itu mulai banyak pertanyaan berseliweran di otaknya. Dia kembali memeriksa pesan yang tadi dikirim oleh Yandra. Masih tak ada yang berubah ucapan di pesan itu, bahwa ada pasien yang harus ia tangani, tapi kenapa berada di luar RS. Apakah pasiennya ada diluar RS? ah entahlah Fatimah tidak ingin pusing memikirkannya ia hanya ingin memastikan kemana Yandra pergi.
Matanya masih fokus menatap bodi mobil itu dari belakang tak sedikitpun terlepas darinya, ia takut kehilangan jejak. Tidak berapa lama mobil itu melambat dan masuk di sebuah Cafe yang cukup terkenal mewah.
Fatimah melihat Yandra keluar sembari menelpon seseorang, dan masuk kedalam Cafe itu.
Setelah membayar tarif taksi online itu, Fatimah segera keluar. Pelan tapi pasti langkahnya ikut masuk kedalam Cafe itu. Fatimah melihat Yandra masuk ke Private room .
__ADS_1
Seketika jantung gadis itu berdetak. Untuk apa Pria itu masuk kedalam ruangan khusus di Cafe itu. Ah mungkin saja dia akan bertemu klien atau temannya. Tapi kenapa dia harus berbohong?
Dengan tingkat kekepoan gadis itu yang begitu meronta, maka dengan buru-buru ia membuka pintu ruangan itu. Fatimah sudah pasrah jika nanti dia akan menanggung malu atau akan di marahi oleh calon suaminya yang penting segala kekepoannya terjawab.
***
"Mas, kenapa kamu tega sekali? kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Ini hanya masalah waktu saja! bahkan aku bisa resign dari kepolisian jika kamu mau! Aku tidak mau berpisah denganmu, aku sangat mencintai kamu Mas!"
"Maaf Wi, ini bukan masalah waktu, tapi aku sudah nyaman dan aku mencintainya. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku!"
"Tidak. Aku tidak mau berpisah denganmu Mas!" Widi segera berdiri dan memeluk Yandra dengan Erat. "Aku sangat merindukan kamu, Mas!"
Cklekk!
Pintu ruangan itu terbuka. Fatimah tertegun melihat pemandangan yang membuat matanya panas. bibirnya tak kuasa bicara apapun.
"Fatimah!" Yandra segera menjauhkan tubuhnya dari dekapan Widi.
Fatimah segera meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan begitu cepat sembari menghapus air matanya yang sudah membasahi pipi.
"Fatimah.... tunggu Abang!" Yandra berusaha mengejar gadis itu.
Fatimah tak lagi menoleh kebelakang, ia fokus dengan sakit yang dirasakan. Sehingga panggilan Yandra tak ia hiraukan lagi.
"Fatimah.... Awas!!"
Brakkk!!
Dengan tergesa-gesa Fatimah menyebrang tak melihat kiri dan kanan, sehingga sebuah sepeda motor menabraknya dari samping.
"Fatimah. Dek, kamu tidak apa-apa..." Yandra merangkul tubuh gadis itu yang masih merintih menahan rasa sakit.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰