Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Kembali berdebat


__ADS_3

"Apakah anda cemburu dengan kedekatan saya dan Fatimah?"


"Tutup mulutmu Dokter Yoga! jangan berlagak sok tahu!" ujarnya sengit memalingkan wajah. bang Yandra segera berjalan meninggalkan Dr Yoga.


Entah kenapa rasa kecewa menyelimuti hatiku saat mendengar jawabannya. apa yang aku kecewakan? apakah aku berharap jawaban yang seperti ini "Ya aku memang cemburu, aku mencintainya" hahaha ngehalu sekali! itu tidak akan mungkin. ah sudahlah hilangkan semua harap yang sia-sia itu.


Aku segera mengikuti langkahnya untuk masuk kedalam mobil. kulihat wajah kaku itu dengan air muka tak menyenangkan. kuhela nafas panjang untuk menetralkan perasaan yang sedikit kacau setelah melihat perdebatan kecil diantara kedua Pria dewasa itu.


Di perjalanan pulang dia masih diam membatu. tak sedikitpun pandangannya terlepas dari badan jalan yang ada dihadapannya. dia tak bicara apapun apalagi menatapku.


Entah kenapa moodnya selalu rusak setelah melihat aku bicara dengan Dr Yoga. aku semakin tidak mengerti dengan pemikirannya. jika aku berasumsi bahwa dia cemburu seperti yang dikatakan Dr Yoga, rasanya itu memang tidak mungkin. dan aku juga tahu bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan Widi.


"Apakah kamu masih sering bertemu dengannya?"


Tiba-tiba pertanyaan itu membuat aku terlonjak. kuberanikan menoleh dan menatap wajahnya.


"Kenapa diam saja. apakah itu benar?" kembali pertanyaan ia lontarkan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tidak. aku sudah tidak pernah bertemu dengannya. baru hari ini kami bertemu." jawabku jujur


"Kenapa kamu masih menanggapi obrolannya dengan baik?"


Kembali pertanyaannya membuat aku jengah. padahal aku sudah berusaha untuk mengalah menuruti semua keinginannya. tapi kenapa setiap membahas persoalan ini aku kembali tersulut emosi. karena aku merasa dia tak berhak mengatur hidupku, dia bukan siapa2ku


"Jadi aku harus bersikap seperti apa dihadapannya,Bang? apakah aku harus lari ngacir atau berlagak tidak mengenalnya atau mungkin aku harus memakinya, 'begitu?"


"Bisa santai ngomongnya? nggak usah ngegas!" balasnya sewot


"Aku muak dengan persoalan ini,Bang. emangnya Abang siapanya aku yang berani mengaturku untuk dekat dengan siapa saja!"


Tiba-tiba dia menginjak rem mobil dengan spontan sehingga wajahku hampir mengenai dashboard.


Dia menatapku dengan sorot menyala. aku terperanjat melihat ekspresi wajahnya yang begitu menakutkan, "Jika aku katakan padamu bahwa aku memang cemburu bagaimana? ya, aku cemburu melihat kedekatanmu dengan dia. aku ingin kamu menjauhinya atau aku perlu memutasinya untuk pindah ke RS yang ada diluar kota ini! 'iya?!"


Suaranya menggelegar sembari memberi pengakuan yang aku sendiri belum bisa menyikapinya. apakah aku harus bahagia mendengarnya? atau aku akan sedih karena dia mengatakan hal itu dengan cara yang emosional seperti ini.


Aku menatap matanya yang masih menyimpan kemarahan disana. tanpa terasa cairan asin sudah mengambang disudut mataku.


"Benarkah Abang cemburu? benarkah aku tidak boleh dekat dengan Dr Yoga? haruskah aku bahagia dengan pengakuan Abang ini? aku tidak tahu mau kamu itu apa, Bang?" kucoba mengurai pertanyaan beruntun padanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya dia inginkan.


"Ya, aku mau kamu jauhi dia!"


"Benarkah? bisakah Abang juga menjauhi Widi dan menghapus atau memblokir kontaknya?!" kali ini kuberanikan memberinya penawaran. aku ingin tahu perasaannya yang sebenarnya padaku. apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya sekedar obsesi saja.


Dia tidak berani menatap wajahku. heh! aku sudah tahu dia tidak akan mampu lakukan itu. dia hanya pria egois yang ingin menang sendiri.


"Kenapa? Abang tidak bisa 'kan?"


"Fatimah, itu tak semudah yang kamu bayangkan. aku perlu waktu untuk itu." jawabnya seenaknya saja.


Jawaban apa itu? aku tidak tahu sebenarnya dia menganggapku apa sekarang. dia hanya mengakui bahwa dirinya memang cemburu. tapi dia tidak mengatakan apapun selain itu.

__ADS_1


Kucoba untuk menahan segala sesak di dada. Ayo Fatimah jangan baper. kamu harus tegar. jangan merasa dia mencintaimu.


"Baiklah. kalau begitu Abang juga tidak berhak melarangku untuk dekat dengan siapapun yang aku mau!"


"Tidak! kamu tidak boleh dekat dengan Pria manapun!" ujarnya Kembali dengan suara tinggi


"Aku tidak akan menuruti keinginan Abang lagi! terserah Abang mau suka ataupun tidak!" sanggah ku tak mau kalah


"Sekali kukatakan tidak. ya tidak boleh Fatimah! kamu ngerti nggak sih apa yang aku katakan?!"


Kali ini suaranya begitu tinggi sehingga membuatku semakin takut. sebenarnya dia tipikal pria seperti apa? kenapa bicaranya Begitu penuh emosi dan kenapa dia begitu egois.


"Sebenarnya apa mau kamu,Bang? katakan?!" aku menatap wajahnya dengan seksama untuk meminta jawaban yang sebenarnya. air mata sudah tak mampu aku tahan.


Dia menghela nafas dalam. perlahan dia menggenggam tanganku. "Fatimah..." ucapnya dengan suara berat. "Aku, aku suka sama kamu!"


Deg!


Jantungku berdegup tak karuan. semua rasa bercampur baur jadi satu. tapi kembali aku mencerna kata-katanya itu. dia hanya mengatakan suka tapi tidak cinta. bukankah rasa suka bisa dimiliki oleh semua orang.


"Abang hanya suka, tapi bukan cinta. mungkin rasa suka Abang hanya bentuk obsesi saja karena tertantang oleh dokter Yoga," jawabku Kembali ingin mendengarkan pengakuan yang sesungguhnya.


"Fatimah, kenapa kamu bicara begitu?"


"Sudahlah Bang, sekarang tidak usah bahas ini lagi," aku ingin mengakhiri perdebatan ini karena mobil yang dikendarainya sudah berhenti di kediaman keluarga Malik.


Aku segera membuka pintu tetapi dia masih menguncinya. rasanya aku kesal sekali. apalagi yang ingin dia bicarakan? aku merasa pembicaraan ini tak ada ujungnya jika dia masih mempertahankan Widi. aku tidak mau hanya dijadikan tempat pelarian saja saat hatinya sedang sepi karena berjauhan dengan sang kekasih.


"Tidak. kamu harus berjanji padaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Yoga!" ucapnya Kembali dengan penuh penekanan


"Aku tidak akan mengikuti keinginan kamu,Bang!"


"Harus!"


"Tidak!"


"Fatimah!"


"Apa? cukup ya,Bang! aku tidak ingin menjadi wanita bodoh. mungkin Abang juga sudah tahu bagaimana perasaanku,tapi secinta dan sesayang apapun aku tidak ingin menjadi bodoh. aku tidak ingin kamu manfaatkan!"


Kali ini aku tak bisa menahan gejolak hatiku. aku tidak tahu lagi harus menjaga sikap atau bicara dari hati ke hati. aku benar-benar sudah emosi.


"Fa, dengarkan Abang!"


"Apa yang ingin aku dengarkan lagi,Bang? bukankah sedari tadi aku sudah mendengarnya. aku mohon, Bang. jika Abang tidak bisa membalas cintaku tapi jangan memberiku harapan apapun dengan alasan Abang menyukai aku. sementara aku tahu Abang dan Widi menjalin hubungan. tolong jangan manfaatkan perasaanku. aku tidak pernah berharap apapun dari Abang. karena aku menyadari hati Abang sangat sulit untuk kusentuh.karena perbedaan diantara kita sangat jauh. jadi aku mohon. biarkan aku menghapus perasaan ini dengan perlahan,karena aku juga ingin bahagia, Bang!"


Akhirnya dengan derai air mata aku mengeluarkan segala beban dalam hatiku. aku mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini aku pendam.


Dia menatapku dengan dalam, tatapan itu begitu lembut kembali dia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya dengan lembut. "Fa, maafkan atas segala ego,Abang. maaf jika Abang sudah menyakiti perasaanmu. tapi bisakah kamu beri Abang waktu untuk menyelesaikan hubungan Abang dan Widi?"


Hatiku menghangat saat mendengar penuturannya. apakah dia akan menerima diriku? ah kenapa dia bicara masih saja abu-abu. apakah dia tidak bisa bicara pada intinya saja, agar aku paham dengan maksudnya.

__ADS_1


"Apa maksud Abang?" akhirnya aku beranikan untuk bertanya. aku ingin jawaban yang pasti.


"Biarkan Abang bicara dengan Widi tantang hubungan jarak jauh ini,"


Lagi-lagi jawabannya membuat aku geram. dasar Pria aneh bin kaku. aku kesal dengannya. aku tidak ingin berharap jika tak ada kepastian.


"Silahkan Abang selesaikan hubungan Abang dan Widi. aku tidak ingin menunggu yang tak pasti. jadi sekarang tolong buka pintunya, Bang!"


"Nggak!"


Ya Allah, aku harus bagaimana menghadapi orang yang satu ini! kenapa sikapnya meresahkan sekali.


"Bang, buka! kalau nggak aku telpon Mama sekarang!" ancamku yang segera mencari kontak Mama Anggi.


"Silahkan saja!" jawabnya enteng


Aku segera menelpon Mama. tetapi dia meraih ponselku dan merijek nya.


"Abang! kamu sebenarnya mau apa sih, Bang? jangan membuat aku seperti ini. kenapa kamu menyebalkan sekali! aku benci sama Abang! aku benci!"


Kini tanganku memukuli bahunya dengan emosi dan air mataku kembali mengalir, aku benar-benar kehabisan cara untuk menghadapinya.


Dia menhan kedua tanganku sembari membawaku kedalam dekapannya. hatiku yang benar-benar kacau tak kuasa menolaknya. aku menumpahkan segala tangisku didalam dekapannya. aku tahu seharusnya aku menolak dekapannya karena dia bukan muhrimku tapi aku tidak tahu hati dan logikaku tak sejalan. apakah karena aku sangat mencintainya.


"Kenapa Abang jahat sekali. aku punya salah apa dengan Abang? jangan sakiti aku seperti ini,Bang. jangan mempersulit perasaanku untuk menghapus cintamu dalam hatiku. hiks...."


"Fatimah... aku tidak akan membiarkan itu terjadi. mungkin saat ini jawabanku tidak membuat hatimu puas. tapi percayalah tidak akan lama lagi aku akan membuatmu bahagia. tolong berikan aku waktu,Fa. aku akan buktikan semua ucapanku."


Kulerai dekapannya. kali ini ucapannya membuat aku sedikit lega meskipun dalam mode tidak pasti alias abu-abu. tetapi dia menjanjikan kebahagiaan walaupun aku tidak tahu kebahagiaan apa yang akan dia berikan.


"Udah jangan menangis lagi ya. Abang minta maaf atas segala kesedihan yang telah Abang berikan. Abang janji akan menggantinya nanti dengan kebahagiaan. sekarang senyum dulu dong." ujarnya tersenyum menggodaku sembari menghapus air mata dipipi ku.


Entah kenapa aku mengikuti pintanya, aku tersenyum. aku tidak tahu entah apa penyebab senyumku itu. apakah aku bahagia mendengar jawabannya atau memang karena hatiku sudah lega.



Fatimah Humaira. gadis cantik berprofesi seorang guru. sifatnya periang juga tegas. tapi jika berdebat dengan Dokter kutub selalu kalah dan berakhir dengan tangisan.



Nah kalo yang ini para raeder sudah pasti tahu dong🤗 dokter Tampan sikapnya dingin dan kaku bikin emak-emak esmosi, termasuk author sendiri 🤭 (Maaf ya Dok pinjam fotonya)



Nah ini adalah visual Dokter Yoga 🤗 seorang duda berprofesi sebagai dokter jantung, juga seorang ayah menyayangi anaknya yang berkelainan khusus. walaupun author tahu mungkin para raeder sudah tak asing lagi dengan Dokter tampan yang satu ini🤭🥰


Bersambung...


NB: Semoga visualnya tidak mengecewakan ya. jika ada yang tak sesuai dengan pemikiran para raeder. Monggo ngehalu sendiri dengan porsi sendiri 🤗 bebas ngehalu tak dilarang 🤭🥰 jangan lupa kasih dukungan buat author ya🙏🤗🥰


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2