Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Capek membujuk


__ADS_3

Fatimah terbangun dari tidurnya, karena merasa ada yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang, sontak membuat wanita itu kaget alang kepalang. Mana mungkin suster berani memeluk dirinya.


Fatimah segera menyikut Pria itu dengan kuat sehingga yang punya badan meringis menahan sakit.


"Ya Allah, Dek, kalau mau balas dendam jangan kaya gini juga! Minat banget pengen bunuh suami sendiri!" sungut Yandra sembari mengusap dadanya yang terasa ngilu.


"Abang! Kamu? Kenapa ada disini? Mana suster?" Tanya Fatimah memberondong


"Udah aku suruh pindah ke kamar kita," balas Yandra masih meringis menahan sakit


"Sakit benaran ya, Bang?" Tanya Fatimah sedikit khawatir


"Benaranlah Dek!"


"Maaf deh, siapa suruh datang-datang main peluk aja!"


"Abang pengen minta maaf, benaran nggak enak banget marahan seperti ini! Abang janji nggak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi! Tolong maafkan Abang ya Dek, please!"


Fatimah tidak menjawab, ia beranjak duduk di balkon, hatinya masih terasa ngilu saat teringat semua tuduhan yang di lontarkan oleh Yandra.


"Dek, please! Jangan marah lagi. Kita niatnya liburan untuk senang-senang lho Dek, bukan marahan begini!" Yandra masih mengekor ikut duduk disisi Fatimah


"Kamu sendiri yang memulainya Bang! Aku sudah jujur tetapi Abang tidak pernah percaya! Apa arti sebuah pernikahan jika tidak saling percaya!" Aurel sedikit ngeggas karena sangat sulit menjelaskan pada suaminya itu.


"Oke, aku salah! Berapa kali sih Dek, aku harus mengakui kesalahanku dan meminta maaf?!" Pria itu mulai hilang kesabaran.


"Mengakui tanpa merubahnya sama saja bohong Bang!"


"Ck, susah sekali bicara padamu Dek!" Yandra berdecak kesal dan segera beranjak keluar dari kamar itu.


Kini kapal sudah sandar di Thailand, mereka bersiap untuk turun, namun, Fatimah dan Yandra masih perang dingin.


Pengumuman dari awak kapal bahwa kapal akan sandar selama tiga hari di Thailand. Maka para pelancong bisa menikmati wisata alam di kota itu.


Yoga dan Zahra bingung melihat hubungan suami istri itu yang belum juga membaik, Zahra sudah meminta maaf pada Fatimah, begitu juga dengan Yandra, dia sudah minta maaf pada Yoga, mereka sudah baik-baik saja. Tetapi Hubungan Fatimah dan Yandra masih hambar, kalaupun bicara mereka hanya sekedarnya saja.


Ya tak bisa dipungkiri begitulah sikap Yandra, jika wanitanya tidak mau dibujuk maka dia akan ikut diam, karena baginya percuma membujuk jika yang punya badan tak peduli, walaupun dihatinya sangat sulit menahan perasaan setengah mati.


Mereka mencari hotel, setelah itu mereka istirahat sejenak untuk melepaskan penat sebelum menikmati keindahan wisata yang ada di kota Bangkok itu.


Tak terasa hari sudah siang maka, mereka mencari kuliner halal. Mereka di pandu dari pihak tour guide.


Sampailah mereka di sebuah restoran seafood. Bermacam olahan ikan laut dan seafood. semua makan di meja besar, suster juga ikut makan bersama mereka.

__ADS_1


"Dek, mau pesan apa?" Tanya Yandra memecah keheningan.


"Apa sajalah," jawabnya singkat.


"Apa saja itu apa, Dek? Yang jelas dong!"


Fatimah membaca deretan menu yang tertera. wanita itu tidak berselera makan, hatinya masih galau, ditambah lagi sikap Yandra yang ikutan cuek.


"Aku nggak makan!" Ucapnya yang tiba-tiba semua orang menatap.


"Kenapa Fa? Ini makanannya enak-enak kok," tanya Zahra mencoba mencairkan suasana yang tampak semakin kacau.


"Tidak apa-apa, Zahra. Aku hanya tidak selera makan," jawab Fatimah datar.


"Aku balik ke hotel duluan ya, aku ingin istirahat," ujar Fatimah segera beranjak dan menemui supir yang mengantar mereka tadi.


"Ga, Zah, aku duluan ya, titip Yanju dan suster," ujar Yandra yang ingin pergi


"Baiklah, kamu tidak perlu khawatir. Setelah makan kita balik ke hotel." jawab Yoga.


Yandra segera mengejar Fatimah, yang tampak sudah masuk kedalam mobil, ia juga ikut masuk.


Setibanya di hotel mereka masih saling diam. Fatimah lebih memilih tidur, sudah tak minat lagi untuk makan.


Fatimah masih diam, tak ingin menanggapi, hatinya sudah terlalu lelah untuk berdebat, Fatimah sudah tak menikmati liburan ini, ia ingin pulang sesegera mungkin.


"Dek, ayolah kita selesaikan masalah ini." Yandra ikut merebah di sisinya dan memeluk Fatimah dari belakang.


"Awas Bang! Adek ingin tidur," tolaknya melepaskan lilitan tangan sang suami.


"Nggak mau! Abang ingin kita bagikan, Adek nggak takut dosa apa? mendiami suami sampai ber hari-hari?"


Astaghfirullah...


Fatimah segera istighfar dalam hati, ia menyadari bahwa sudah hampir tiga hari ia mendiamkan suaminya. Sebesar apapun salah Yandra, tapi dia sudah mengakui dan berusaha meminta maaf.


Tapi kenapa sukar rasanya untuk memaafkan? Tapi ia juga tak ingin menjadi orang yang pendendam, apalagi pada suami sendiri.


Fatimah merubah posisi tidurnya dan menghadap kepada Yandra.


"Dek, Abang janji tidak akan menjadi lelaki egois lagi. Abang mohon beri kesempatan sekali lagi!" Pria itu menautkan kedua telapak tangannya memohon maaf kepada sang istri.


"Apakah Abang bisa berjanji tidak akan bertindak gegabah lagi?" Tanya Fatimah penuh harap.

__ADS_1


"Abang janji, Dek. Abang tidak akan seperti itu lagi. Udah ya, Adek jangan marah lagi!" Yandra merangkum kedua pipi Fatimah.


Pria itu sudah sangat merindukan sang istri. Beberapa hari ini mereka bagaikan orang asing, Yandra sudah tak ingin membuat masalah lagi.


"Bagaimana? Apakah Adek sudah bisa memaafkan Abang?"


Fatimah mengangguk dan tersenyum manis. Yandra sangat bahagia sembari memeluk sang istri.


"Terimakasih, Sayang, Abang janji tidak akan menyakiti perasaan Adek lagi."


Saat mereka saling berpelukan, Yandra mendengar suara riuh dalam perut Fatimah bertanda wanita itu sedang lapar.


"Adek lapar? Hmm?"


Dengan wajah merah Fatimah menggeleng. Padahal tadi ia sama sekali tak berselera makan tapi kenapa sekarang perutnya minta di kenyangkan.


Yandra tersenyum gemas menarik hidung mancung Fatimah dan mengecup bibirnya.


"Ayo kita cari makanan, Mumpung Yanju lagi sama suster, kita cari kuliner yang enak. Bagaimana jika kita ke floating market?" Bujuk Pria itu


"Pasar terapung? Emang ada disini?" Tanya Fatimah penasaran.


"Ada dong, Sayang. Ayo Abang bawa Adek kesana. Disana lengkap dari kuliner hingga oleh-oleh khas Thailand, dan juga ada souvenir nya disana," jelas Yandra


"Kok Abang sepertinya sudah sangat tahu. Apakah Abang pernah berkunjung kesana?"


"Sudah! Dulu saat Abang kuliah di Singapur waktu libur kami berkunjung kesini," Disini juga ada klinik gigi yang paling bagus.


"Hmm, anak sultan mah bebas mau berkunjung kemana aja," cebik Fatimah


"Eh, kok ngatain Abang begitu? Abang ini bukan sultan Dek, cuma pas kebetulan saja ada kesempatan," elak Pria itu tak ingin membanggakan diri.


"Pintar banget ngelesnya. Yaudah kita pergi sekarang! Apa tidak sebaiknya kita ajak Zahra dan yang lainnya ya Bang? Biar kita bisa sama-sama menikmati wisata kuliner itu."


"Tapi mereka sudah makan Dek, dan disana juga tidak bisa membawa bayi, pasarnya itu dalam perahu, kita juga naik perahu. Menurut Abang ribet bawa bayi, lebih baik besok kita cari tempat yang aman untuk membawa Yanju dan yang lainnya, untuk saat ini kita pergi berdua dulu ya!" Bujuk Pria itu lagi.


"Hmm, baiklah.Tapi jangan lupa kabari mereka ya, ntar nyariin."


"Oke, Sayang."


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2