
"Jam berapa sidang pra nikah nya,Yan?" tanya Ayah di sela sarapan.
"Jam sembilan,Yah. Tapi nggak tahu juga soalnya ada empat pasangan yang sidang hari ini," jelas Yandra
"Kalian sudah tahu semuanya 'kan? Ayah harap kalian sudah mempelajari sebelumnya," ujar ayah menatap Fatimah dan Yandra secara bergantian.
"insyaAllah sudah,Yah." jawab mereka bersamaan.
"Alhamdulillah... Semoga semua lancar tanpa ada kendala apapun lagi,"
"Aamiin..." Mereka semua mengaminkan
Setelah selesai sarapan Fatimah dan Yandra pamit pada Ibu dan Ayah. Rencananya setelah menghadiri sidang pra nikah, mereka akan melakukan fithing baju pengantin yang sempat tertunda waktu itu.
"Bu, Yah. Kami pamit dulu," mereka menyalami tangan ayah dan ibu secara hikmat.
"Ya, hati-hati semoga Allah lancarkan segala urusan kalian. Kamu jalannya hati-hati Fa," pesan ibu.
"Baik, Bu."
***
"Dek," panggil Yandra tanpa mengalihkan pandangannya dari badan jalan
"Ya,"
"Kamu udah hafal Do'a mandi wajib?" tanyanya, membuat Fatimah terkesiap dan wajahnya bersemu merah
"Kok diam? nanti ditanya saat sidang lho," ujar Yandra menakuti
"Hah? emang harus ditanya ya,Bang?"
"Iyalah! namanya juga sidang pra nikah jadi yang ditanya seputar orang berumah tangga, dari mulai agamanya,sholat, baca Qur'an, juga hadap mandi wajib dan bacaannya," jelasnya kembali
Fatimah masih bengong, sebenarnya dia sudah mempelajari tetapi dia cukup malu untuk mengatakannya.
"Jangan-jangan kamu belum hafal ya?"
__ADS_1
"Udah, Adek sudah hafal!" jawabnya memalingkan wajah
"Masa sih? kayaknya niat banget ya sampai udah hafal bacaan yang wajib," ujar Yandra tersenyum membuat gadis itu menjadi malu
"Apa sih Bang. Udah ah, nggak usah bahas yang begituan!" ujarnya sewot
"Hahaha... ngapain malu, toh kita juga akan melaluinya nanti."
Fatimah menatap Yandra dengan wajah kesal. "Emang Abang udah hafal?" gadis itu balik nanya
"Wuih, udah dong! dua-duanya Abang hafal," jawabnya dengan semangat
Ya ampun nih orang benar-benar deh, Dasar Domes nggak ada ja'im sedikitpun. gregetan banget soal yang begituan.
Fatimah masih bengong menatap pria yang disampingnya itu. Sedikit ngeri membayangkannya.
"Kenapa bengong Dek? Ada yang salah?" tanyanya
"Ganti topik boleh nggak,Bang?" tawar gadis itu tidak nyaman dengan topik utama
Yandra tersenyum gemas melihat tingkah calon istrinya yang selalu malu membahas tentang itu.
Akhirnya pasangan calon pasutri itu membahas hal-hal yang membuat Fatimah tertawa dengan tingkah kekonyolan Yandra. Memang benar, Pria itu terlihat hangat dan penuh perhatian jika dia sudah melabuhkan hatinya pada wanita yang benar-benar dicintainya.
Tanpa terasa mobil yang dikendarai Yandra sudah sampai di kantor urusan agama. Yandra membantu memapah Fatimah jalan dengan perlahan.
***
Cuma makan waktu dua jam, mereka sudah selesai menghadiri sidang pra nikah. Alhamdulillah semua lancar. Fatimah masih menyimpan rasa kagum pada calon imamnya itu. Ia yang semula ragu saat pak KUA meminta Yandra membaca ayat suci Al-Qur'an, dengan lancar Pria itu melafazkannya.
"Kenapa Adek senyum-senyum begitu?" tanyanya heran
"Adek masih kagum dengan bacaan Qur'an,Abang. Ternyata suara Abang juga merdu banget," puji wanita itu
"Apaan sih,Dek. Pintar banget kamu nyanjungnya."
"Eh, benaran! Aku kagum ternyata dibalik sikap Abang yang dingin dan kaku banyak tersimpan sisi baiknya. Semoga ilmu yang ada di diri Abang bisa menuntun aku dan anak-anak kita kelak," ujar gadis itu terdengar begitu manis dengan harapannya.
__ADS_1
"Udah serius nih bicaranya, udah mikirin anak-anak kita kelak. Adek pengen punya anak berapa?" Goda Pria itu kembali
"Ck, Abang nggak erius ih. Malas ngomongnya!" sungut gadis itu.
"Hehehe... Jangan ngambek dong,Sayang. Jujur Abang sangat terharu dengan harapan kamu, Abang juga sangat berharap begitu. Mungkin kamu ragu dengan sikap Abang selama ini, tapi apakah kamu tahu? Abang tidak pernah ragu untuk memilih kamu sebagai calon ibu dari anak-anakku kelak. Kamu sudah cukup sempurna dari segi apapun," jelas Yandra dengan sungguh.
Fatimah tersenyum malu mendapat pengakuan dari Pria yang semakin hari membuatnya semakin jatuh hati.
"Terimakasih ya Bang, sudah mau menerima segala kekuranganku. Aku berharap semoga kelak rumah tangga kita selalu bahagia,"
"Aamiin... insyaallah. Abang juga berterima kasih karena kamu sudah ikhlas menerima diri Abang yang sangat banyak kekurangan ini, dan terimakasih juga kamu sudah mau menerima masalalu Abang yang sampai kapanpun akan Abang sesali segala dosa yang pernah Abang perbuat, terimakasih lagi kamu sudah mau menyayangi Yanju layaknya anak sendiri."
Yandra bicara dengan mata berkaca-kaca. Pria itu sepertinya sangat menyesali masalalunya. Kenapa Allah tidak secepatnya membertemukan dirinya dan Fatimah. Seorang gadis sederhana yang mampu membuat hidupnya menjadi lebih berarti.
"Bang, mulai sekarang kita akan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Semua orang pernah berbuat dosa maupun itu di sengaja ataupun tidak, namun ampunan Allah sangatlah luas bagi hambanya yang benar-benar bertaubat. Yuk kita memulai kebahagiaan ini tanpa harus menoleh lagi kebelakang. Jadikan aku jalan untuk melihat dunia baru, pengalaman baru, dan harapan baru, tersenyumlah menyambut kebahagiaan kita. Karena Abanglah tempat kisah cintaku dimulai."
Mobil itu tiba menepi, Yandra merasa tidak percaya dengan semua ungkapan perasaan dan pengertian yang begitu besar.
Yandra menatap Fatimah dengan dalam. Kata-kata gadis itu benar-benar menyejukkan hatinya, andai saja dia sudah halal maka di pastikan Pria itu tidak akan mampu menahan rasa haru dalam dekapannya.
"Dek, Abang tidak tahu harus bicara apa? yang jelas Abang sangat bahagia dengan kata-katamu yang menyejukkan sanubariku. Terimakasih,Sayang." Sebuah senyum bahagia ia ukirkan untuk gadis yang sudah menempati hatinya seutuhnya.
Siang ini mereka pulang dengan membawa kebahagiaan yang begitu besar. Semua urusan sudah selesai, tanggal dan bulan sudah di tentukan, fithing baju juga sudah beres. Hanya menunggu hari itu tiba.
***
Jika Yandra dan Fatimah sedang diliputi kebahagiaan, lain halnya dengan dokter Yoga.
Dokter jantung itu sedang bimbang setelah pagi tadi di datangi oleh ketua RT untuk meminta penjelasan tentang hubungannya dan Zahra yang sudah tinggal seatap.
Dan yang membuat Yoga semakin bingung, pasalnya dia mengakui kepada Pak RT bahwa mereka memang sudah menikah, namun nikah siri, dan beralasan surat nikah sirinya belum keluar dan akan di berikan besok lusa.
Entah apa yang membuat duda satu anak itu bisa membuat pengakuan sendiri tanpa meminta pendapat kepada orang yang bersangkutan. Jadinya dia bingung juga sendiri.
Lama Yoga memikirkan hal itu. Maka tak ada cara lain dia harus menikahi Zahra, lagipula dia juga ingin melupakan Fatimah, tidak ada salahnya mencoba memulai kehidupan baru walaupun belum ada cinta namun ia berharap seiring berjalannya waktu cinta bisa tumbuh karena seringnya kebersamaan tercipta.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya 🙏🤗
Happy reading 🥰