
Setelah merasa lega dan tenang, bang Yandra segera keluar menggitari mobil dan membuka pintu untukku. aku hampir tidak percaya dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah manis seketika.
Aku masih canggung menyikapi perlakuannya. aku hanya membalas dengan senyum simpul dan segera ku ayunkan langkah untuk masuk kedalam.
"Kamu sudah pulang,Nak?" langkahku dihadang oleh Mama Anggi yang sedang menggendong Yanju. kulihat putraku itu seperti habis menangis terlihat dari matanya yang masih menyisakan air mata.
"Ah iya. maaf,Ma. aku telat karena tadi bawa ayah ke RS dulu," jelasku
"Benarkah? bagaimana keadaan ayah kamu,Fa? apakah parah?" tanya Mama cemas
"Tidak apa-apa,Ma. sekarang ayah sudah dirawat di RS. kondisinya sudah mulai stabil," bang Yandra menjawab pertanyaan Mama.
"Syukurlah. semoga cepat pulih. nanti habis magrib mama dan papa akan ke RS menjenguk ayah kamu,"
"Terimakasih,Ma. kalau begitu aku naik dulu,Ma. ayo Sayang sama Ibu," aku mengambil Yanju dari gendongan Mama.
"Fa, kamu habis nangis?" langkahku terhenti saat akan menapaki anak tangga karena mendengar pertanyaan Mama. kenapa Mama tahu bahwa aku habis menangis.
"Ti-tidak,Ma. aku nggak nangis kok," jawabku berbohong tanpa sengaja aku menatap bang Yandra juga masih berdiri disana
"Nggak nangis gimana? itu mata kamu sembab begitu." tatapan Mama silih berganti menatapku dan bang Yandra. aku jadi bingung harus jawab apa.
"Naiklah,Fa. biar Abang yang menjelaskan kepada Mama," seketika ucapannya membuat aku tak percaya. apa yang ingin dia bicarakan pada Mama. apakah dia akan mengatakan yang sebenarnya? entahlah aku tidak tahu, aku hanya mengikuti perintahnya untuk membawa Yanju naik ke atas. sepertinya putra kecilku ini sudah haus.
***
Malam ini aku tidak kembali ke RS, entah kenapa Yanju sedikit rewel. dia begitu manja tidak ingin kutinggalkan walau sebentar saja. aku gemes sekali dengan bayi mungil ini.
"Anju kenapa,Sayang? ibu sholat sebentar ya. nggak lama kok, Nak." aku mencoba membujuknya tetapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk dia begitu cengeng. "Kenapa, Nak? Anju kangen ama Bunda ya? nanti ya, sayang. kita vc sama Bunda."
Aku membawa Yanju turun kebawah untuk minta tolong bibik pegangin sebentar, aku ingin sholat isya. karena Mama dan Papa sudah pergi ke RS sehabis magrib tadi.
"Yanju kenapa,Fa?" ternyata ayahnya dirumah
"Nggak tahu sepertinya malam ini dia agak rewel. mungkin dia kangen kak Lyra, Abang bisa pegang Yanju sebentar, aku mau sholat isya dulu," ujarku
"Yasudah, bawa sini. biar Abang telpon Bundanya." aku memberikan Yanju pada ayahnya dan segera kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat isya.
Setelah selesai sholat. aku duduk di balkon menghirup udara malam dan menatap indahnya pijar rembulan yang di kelilingi bintang-bintang.
Dalam lamunanku sekelabat peristiwa tadi siang Kembali menghampiri. aku tidak tahu statusku saat ini dengannya. dia belum mengatakan cinta, tetapi melarangku untuk dekat dengan Pria manapun. masih pantaskah dia kusebut Pria egois. padahal aku mengetahui hubungannya dengan Widi.
Haruskah aku menuruti permintaannya. tapi sampai kapan dia akan memperjelas statusku?ya, aku memang tidak ingin pacaran. tapi aku juga tidak ingin menjadi wanita bodoh menantikan Pria yang sudah jelas menjalin hubungan dengan wanita lain.
"Belum tidur,Fa?"
Tiba-tiba Pria yang sedang memenuhi pikiranku sudah berada dibelakang. dia menggunakan kaos oblong dan celana jeans tiga perempat, potongan rambutnya yang paling aku sukai tampak begitu rapi. dia memang tampan, tapi apakah aku pantas bila menjadi pendampingnya. apakah aku masih boleh berharap?
"Kok bengong, lagi mikirin apa sih? jangan mikir yang aneh-aneh ya. hahaha..." guraunya sembari duduk di sampingku.
"Apa sih,Bang. nggak mikir apa-apa. Oya, Yanju mana?" kucoba mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Yanju udah tidur di kamar Abang. malam ini dia biar tidur sama Abang saja ya,"
"Kok sama Abang. nanti kalau dia bangun ingin ASI gimana?"
"Ah iya, Abang lupa ternyata sumber kehidupannya ada sama ibunya," balasnya nyengir.
"Bang, kita duduk di balkon teras saja ya. nggak enak berduaan di sini. nanti kalau Mama lihat takutnya salah paham," ujarku sembari beranjak
"Biar saja salah paham biar kita cepat dinikahin,"
Deg!
Kembali ucapannya membuat jantungku berdebar dan rona wajahku berubah seketika. kenapa dia suka sekali menggodaku.
"Nggak usah ngarang deh! emang semudah itu nikah!" ujarku sewot.
"Menikah kalau didasari cinta sama cinta, mudah kok," jawabnya enteng
"Benarkah? tapi sayangnya Abang sudah pernah menolaknya karena kita tidak saling cinta!" sindirku sembari berjalan keluar menuju balkon teras. sementara dia bengong mendengar ucapanku
"Fa, keluar sebentar yuk, cari makan," ajaknya sembari mensejajarkan jalannya denganku
"Cari makan? tapi ini sudah malam,Bang. bagaimana jika nanti Yanju bangun?"
"Nggak lama kok, dibungkus nanti makannya dirumah saja. Yanju minta tolong bibik jagain sebentar," balasnya
"Hmm, baiklah."
***
Akhirnya kendaraan roda empat itu menepi dan berhenti di sebuah warung bakso yang bertuliskan BAKSO MARGOROSO.
"Yuk turun," ajaknya di iringi dengan senyum. sepertinya dia sudah tahu makanan favorit ku.
"Abang serius kita makan bakso?" tanyaku masih belum percaya. karena aku tahu dia kurang menyukai menu khas Jawa tengah itu.
"Iya seriuslah! masa nggak. udah ayo turun."
Akhirnya aku mengikutinya untuk masuk ke warung bakso itu. karena ini malam Minggu maka pengunjung cukup ramai. mereka menikmati waktu bersama. ada yang dengan keluarga, teman, pasangan. hampir semua meja terisi.
"Mau makan disini atau di bungkus,Fa?" ujarnya berbisik begitu dekat sehingga sapuan nafas hangatnya begitu mengena di telingaku. aku mencoba bersikap sewajarnya menutupi jantungku yang jedag jedug. jika aku sering pergi berduaan dengannya akan menambah dosaku.
Inilah yang sebenarnya membuat aku tidak ingin pacaran sebelum menikah. karena aku tak ingin munafik, aku seorang wanita yang normal dan berjalan dengan Pria yang aku cintai. tentu saja bisikan atau sentuhan darinya akan berunjuk ke arah negatif.
Benar yang dikatakan Ibu. pacaran itu tak ada yang lebih indah setelah menikah, karena tidak akan berbuat dosa tetapi akan menambah pahala karena kita mampu membuat pasangan bahagia.
"Kayaknya dibungkus aja deh,Bang. soalnya terlalu ramai," jawabku
"Kalo bungkus kurang enak, kita makan disini saja ya. itu dipojokkan ada meja kosong. kita duduk disana saja ya, Fa,"
"Baiklah," aku menuruti
__ADS_1
"Yaudah kamu tunggu disana Abang pesan dulu,"
Aku menuruti perintahnya untuk menempati kursi kosong yang ada di pojokan. aku duduk sembari netraku menyapu setiap pengunjung yang ada disana. tanpa sengaja aku melihat seorang Pria yang tak asing lagi dan bersamaan dia juga sedang menatapku.
"Fatimah..." ujarnya menyambangi dimana aku duduk.
"Narwan, kamu lagi ngapain?" pertanyaan yang cukup konyol kulontarkan, mengurangi sedikit canggung.
"Ya makan bakso lah,Fa. nggak nyangka bisa ketemu kamu disini. kamu apa kabar?" tanyanya sembari duduk di kursi yang ada dihadapanku.
"Alhamdulillah aku sehat. kamu kerja dimana,Wan?"
"Aku kerja sesuai jurusan yang aku ambil, Fa. yaitu di Kejari,"
"Wah hebat ya. sekarang udah jadi pak jaksa. hehehe..." ujarku dengan tawa ringan. ya, dia adalah narwan teman waktu di kampus. dia adalah Pria yang baik juga ramah.
"Oya, kalau kamu sendiri kerja dimana?" dia balik nanya profesiku.
"Aku mengajar sebagai guru honorer, Wan,"
"Wah, sekarang udah jadi cikgu dong. hehehe... Oya, kamu udah ikutan CPNS belum?"
"Sudah, Alhamdulillah aku sudah lulus seleksi,"
"Alhamdulillah... biasanya jika sudah lulus seleksi tinggal nunggu saja, tidak akan lama lagi jadi ASN,"
"Ah kamu sok tahu banget,"
"Eh benaran, nggak percaya banget,"
"Aamiin Do'ain aja ya,"
"Yup. aku selalu Do'ain kamu. dan sekarang Alhamdulillah Do'aku terkabul akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi,"
"Apaan sih kamu segitunya, lebay deh."
"Nggak lebay ini serius, Fatimah. dan aku..-"
"Sayang, ini pesanan kamu. nggak pake sayur dan bakso urat," Aku terperanjat saat mendengar panggilan bang Yandra. sembari meletakkan bakso pesanan ku.
Dia kesurupan dari mana. kenapa panggilannya berubah begitu. apakah dia sedang cemburu dengan narwan?
Narwan menatapku. dia seperti meminta penjelasan tentang Pria yang baru saja memanggilku "Sayang" bahkan pria itu tanpa sungkan duduk di sampingku dengan tangan sebelah kirinya berada diatas sandaranku.
"Oya, Wan, kenalkan dia...-"
"Hai, kenalkan namaku Yandra, tunangan Fatimah," kembali ucapan ngarang keluar dari bibirnya. aku benar-benar gregetan dengan pengakuannya. mending kalo benaran. kenyataannya masih abu-abu. hah, dasar Kutub!
"Ah ya, aku Narwan. teman kuliah Fatimah," serunya menerima uluran tangan bang Yandra.
"Ah, maaf kalau begitu kami makan dulu. apakah kamu sudah makan?" basa basinya yang ingin menyudahi perbincangan dengan narwan.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰