Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Menerima tawaran sang dokter


__ADS_3

Sore ini Zahra sedang menyuapi Rara puding buah yang di buatnya. Gadis kecil itu terlihat begitu bersemangat memakan puding buatan calon ibu sambungnya itu.


Yoga yang baru saja pulang melongok ke dalam kamar putrinya ia melihat pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Zahra begitu telaten dan sabar memberi Rara makan.


"Hai, lagi makan apa itu,Sayang? wah sepertinya enak nih, Daddy nggak di kasih?" Tuntut nya entah pada siapa.


"Ini tadi aku masak puding buah. Mas Yoga, mau?" tawar Zahra sedikit ragu, takut jika sang dokter menolak.


"Mau dong, kalau di kasih."


"Serius?" Tanya wanita itu tak percaya


"Ya serius, kok kamu seperti tidak percaya begitu? 'kan kamu nawarin makanan, bukan racun!"


"Bu-bukan begitu,Mas, takutnya kamu tidak menyukai masakan aku," ujarnya jujur


"Mulai sekarang aku akan menyukai semua masakan kamu,"


Kata-kata Yoga membuat Zahra sedikit heran. Ada apa dengan dokter itu? Tumben sekali bicara begitu.


"Yaudah bentar ya,Mas, Aku ambilkan puding buat kamu," ujar Zahra sedikit gugup menanggapi ucapan sang dokter.


"Zah..."


"Ya..."


"Pudingnya bawa ke Taman belakang saja ya, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu," jelas Yoga


"Oh, baiklah," wanita itu semakin bingung dan bertanya-tanya dalam hati. kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Dr Yoga.


Tak berselang lama, Zahra sudah membawa beberapa potong puding buah dalam piring kecil dan secangkir kopi hitam.


"Silahkan,Mas." Zahra menyuguhkan di atas meja bundar yang ada di taman belakang.


"Terimakasih ya." Yoga menerima pemberian dari Zahra.


"Duduklah!" titahnya kembali

__ADS_1


Zahra segera duduk disamping Yoga, wanita itu merasa gugup baru kali ini mereka bicara berdua.


"Mas Yoga, mau bicara apa?"


Yoga mencoba untuk menghirup udara sepenuh dada, terasa begitu gugup untuk menyampaikan. Tapi ini sudah keputusan bulat baginya, diterima atau tidak itu urusan belakangan.


"Zah, tadi ketua RT dan beberapa warga menemui aku. Mereka menanyakan perihal hubungan kita,"


"Terus gimana,Mas? Jujur aku merasa tidak nyaman dengan anggapan warga disini, mereka tidak tahu yang sebenarnya. Mas, lebih baik aku dan Arfan pergi saja, agar mereka tidak beranggapan buruk pada Mas Yoga," ucap Zahra mencari solusi


Yoga menatap wanita cantik bermata teduh itu. Apakah dia akan menerima tawaran darinya?


"Zahra, maaf sebelumnya mungkin aku sudah terlalu lancang memberi pengakuan palsu pada Pak RT dan warga lainnya jika kita memang sudah menikah," jelas Yoga dengan tenang sembari menatap wajah Zahra


Wanita itu begitu terkesiap mendengar pengakuan sang dokter. "Kenapa mas Yoga harus berbohong? bagaimana jika nanti mereka tahu yang sebenarnya, maka akan tumbuh fitnah lebih keji,Mas," jelasnya tidak setuju


"Zahra, agar tak tumbuh fitnah. Aku ingin kita benar menikah," balas Yoga


"Tapi,Mas?"


"Dan satu lagi, kamu tidak perlu khawatir Zahra, aku tidak akan menyentuhmu sebelum rasa cinta tumbuh diantara kita," ujarnya memperjelas agar wanita itu tidak takut


Zahra terdiam tak mampu bicara apapun, dia tidak tahu perasaannya saat ini. Apakah ini jodoh yang dikirimkan Allah untuknya? tapi jujur hatinya masih belum bisa terlepas dari bayangan almarhum sang suami, namun dibalik itu dia juga memikirkan masa depan sang putra, hidup akan terus berjalan ia tidak mungkin harus larut dalam masalalu.


Lama wanita itu berpikir apakah dia harus menerima tawaran dari seorang lelaki yang begitu baik padanya dan juga sangat menyayangi putranya.Karena ia juga merasa Yoga memang orang yang tepat menjadi ayah sambung untuk Arfan.


Dengan sabar Yoga menunggu jawaban dari Zahra, ia pasrah apapun keputusan wanita itu akan ia terima, karena sesungguhnya dirinya tidak mempunyai hak untuk memaksa.


"Baiklah Mas, aku terima tawaran kamu," jawab Zahra menunduk tidak berani menatap mata sang dokter.


"Alhamdulillah. Terimakasih Zah, aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak-anak kita," ujarnya mantap


Zahra hanya mengangguk dan tersenyum, lidahnya terlalu kelu untuk berbicara. Entah ekspresi apa yang ia perlihatkan diwajahnya saat itu.


"Baiklah, kapan kamu habis masa nifas?" tanya Yoga memastikan


"Hari ini sudah 40 hari, Mas," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Kalau begitu besok kita bisa melaksanakan ijab qobul, untuk sementara kita nikah secara siri dulu, menjelang kita mengurus surat menyurat, kamu juga harus mengambil surat kematian dari almarhum suamimu, agar kita bisa mengurus surat nikah asli menurut hukum,"


"Tapi, bagaimana caranya aku mengambil semua surat-surat berharga itu Mas, semuanya berada dikediaman orangtua mas Arif," jelas Zahra ragu


"Zah, kamu jangan takut ya. Aku akan menemani kamu untuk datang dan mengambil semua berkas itu,"


"Tapi bagaimana jika nanti mereka mengambil Arfan dariku?" Zahra begitu cemas


"Tenanglah, mereka tidak akan berani. Setelah kita menikah mereka tidak punya hak atas Arfan, karena nafkah dan pendidikan Arfan aku yang akan memenuhinya. Hak asuh Arfan akan jatuh di tangan kita,"


Zahra begitu terharu atas segala kebaikan Yoga, "Terimakasih ya, Mas. Kamu begitu baik, mungkin aku orang yang beruntung bisa bertemu denganmu," ujar Zahra tak kuasa menahan air mata.


"Jangan menangis, mari kita mulai dari awal. Semoga kebahagiaan meliputi rumah tangga kita." Yoga menghapus air mata Zahra dengan lembut.


Wanita itu merasa gugup ini kali pertama mendapatkan perhatian dari Pria yang telah banyak membantu dirinya, dan rasanya seperti mimpi sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan suami istri.


Setelah merasa cukup lega dengan pembahasan mereka, Yoga mengambil piring kecil berisikan puding yang belum tersentuh karena serius dengan pembahasan penting.


"Aku boleh cobainnya sekarang?" tanyanya dengan senyum manis


"Hmm, maaf jika tidak sesuai selera kamu," balas Zahra dengan senyum tak kalah manis melebihi madu.


Yoga memasukkan potongan puding buah itu kedalam mulutnya. "Mantap manisnya pas," pujinya dengan jempol mengacung


Kembali Zahra menjadi salah tingkah dan wajahnya bersemu merah mendapat pujian dari sang dokter.


"Mas, apakah kamu tidak ingin mengenalkan aku kepada kedua orangtua kamu?" tanya Zahra, ia juga ingin tahu tentang keluarga calon suaminya itu. Rasanya cukup mengganjal pikiran, sudah sebulan lebih ia tinggal dirumah itu tapi tidak pernah melihat keluarga dari dokter jantung itu datang berkunjung ataupun sebaliknya.


Pertanyaan Zahra membuat Yoga menghentikan aktivitas mulutnya yang sedang mengunyah makanan lembut itu. Sepertinya dia juga lupa memberi tahu calon istrinya itu tentang kehidupannya mempunyai nasib yang sama seperti Zahra.


"Zah, aku tidak mempunyai keluarga. Aku juga seorang yatim piatu."


Bersambung...


NB: Episode ini bahas Duda tampan dan Janda cantik dulu ya🤗 jangan lupa dukungannya.


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2