Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Menghindari


__ADS_3

Fatimah memilih keluar dari kamar dan menuju kamar suster anaknya itu. Sepertinya bicara dengan seorang lelaki egois sangat menguras emosi.


"Dek, tunggu dulu!" Yandra meraih tangan Fatimah.


"Lepas,Bang! Aku mau menenangkan diri dulu!"


"Iya, tapi jangan keluar kamar dong! Kamu bisa menenangkan diri di kamar!" Sentak Yandra


"Tidak! Aku tidak mau! Lepas!" Fatimah melepaskan tangan dari pengangan Yandra. Wanita itu segera berlalu dan masuk kedalam kamar suster.


Yandra hanya bisa tertegun dan mengusap wajahnya dengan kasar. Rumit sekali mengendalikan emosi jiwa yang selalu membuatnya berada dalam masalah.


Dengan langkah gontai Yandra kembali ke kamarnya, ia tidak mungkin mengejar Fatimah yang masuk kedalam kamar suster. Pria itu mencoba menahan emosi agar tak membuat keadaan semakin buruk, ia membiarkan agar Fatimah sedikit lebih tenang dulu.


Sementara itu di kamar sebelah. Yoga duduk melamun di balkon, ia menatap lautan luas. Tak menyangka pada akhirnya menjadi begini. Seharusnya mereka menikmati liburan ini dengan bahagia, kini malah timbul masalah.


Zahra mendekati Yoga dengan rasa bersalah. Ia duduk disampingnya dengan memeluk Arfan. Seharusnya ia tidak langsung menuduh sang suami sebelum mengetahui yang sebenarnya.


"Mas, maafkan aku! Maaf, aku sudah menuduhmu," ucapnya dengan lirih.


Yoga menatap sang istri, lalu merangkul bahu Zahra dan membawanya masuk kedalam dekapan.


"Sudah, Sayang, Mas sudah memaafkan kamu. Aku tahu perasaan kamu, karena kamu juga mengetahui bahwa aku dulu pernah ada perasaan pada Fatimah, jadi hal yang wajar jika kamu cemburu. Tapi jujur, sekarang perasaan itu sudah tak ada lagi. Aku hanya mencintai kamu, Dek. Jadi aku berharap kamu mengerti dan jangan bertindak gegabah yang akan melukai perasaan orang lain juga, tentu saja Fatimah sangat kecewa kepadamu," jelas Yoga


"Aku akan meminta maaf kepadanya nanti, Mas. Aku tahu aku salah."


"Sudah jangan sedih begitu! Kamu harus percaya kepadaku bahwa sekarang hati dan pikiranku hanya berpusat kepadamu dan juga anak-anak kita. Aku tidak akan mungkin tega menyakiti perasaan wanita yang selama ini kucari sangat kusayangi, kamu adalah cinta pertamaku," ucap Yoga dengan jujur


Zahra menatap Yoga dengan penuh haru mendengar ungkapan perasaannya. Tanpa terasa cairan bening itu menetes di sudut matanya.


"Terimakasih, Mas. Aku juga sangat mencintai kamu. Jujur aku sangat takut harus kehilanganmu untuk yang kedua kalinya."

__ADS_1


Zahra menangis didada Yoga. Tak terbayangkan jika dirinya harus kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya, jika suami pertamanya meninggalkannya karena ajal menjemput maka dia masih bisa ikhlas, karena Allah yang menghendaki. Tapi jika suaminya pergi karena wanita lain, sungguh itu sangat menyakitkan.


"Udah, jangan nangis lagi dong! Ini semua hanya salah paham. Kita jangan merusak momen liburan karena masalah ini," ujar Yoga menenangkan sang istri sembari mengecup seluruh wajahnya dan menghapus air mata Zahra yang masih menetes.


Zahra mengangguk tersenyum tipis, dan membalas kecupan itu. "Jangan tinggalkan aku, Mas. Aku sangat takut kehilanganmu! Aku tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Hanya kamu tempat aku mengadu dan membagi segala suka dan duka, hanya dirimu tempat aku bersandar."


Yoga kembali mendekap wanita itu penuh haru. Ia dapat merasakan karena dirinya juga tidak mempunyai siapapun di dunia ini.


"Dek, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu! Kita sama-sama tidak memiliki siapapun di dunia ini. Akupun sama sepertimu. Terkadang aku juga rapuh tanpa ada tempat berbagi. Semenjak kehadiranmu maka aku merasa duniaku kembali berwarna. Mulai sekarang jadilah penguat satu sama lain! Mas percaya kita pasti bisa bahagia meskipun tanpa ada orangtua lagi. Tapi kita akan menjadi orangtua yang lengkap untuk anak-anak kita kelak."


Zahra menguatkan pelukannya, kata-kata sang suami membuatnya semakin terharu. "I love you my husband," lirihnya dengan kalimat itu


"I love you too my wife. You are everything to me!" Pria itu mengecup wajah Zahra dan bergantian dengan sang putra. Yoga mengambil Arfan dari pelukan Zahra.


"Anak Daddy tambah pintar sekarang. Badannya juga tambah jelek aja, kebanyakan mimik cucu nih! Bagian Daddy juga dihabiskan," selorohnya yang membuat Zahara mencubit pinggangnya.


"Ish... Ngomong sama anaknya begitu! Nggak sopan banget!" Protesnya pada sang suami.


"Tuh, benar 'kan? Adek Arfan aja tersenyum, Mamanya saja yang terlalu malu mengakui," ejeknya pada sang istri.


"Ish... udah ah. Aku mau buat minum. Mas mau minum apa?" Tanya Zahra ingin beranjak


"Minum kamu boleh nggak?" Jawabnya sembari mengerlingkan mata dengan genit.


"Ya, ampun nih Bapak orang kenapa genit banget sih?"


"Hehehe... Jangan cemberut begitu dong Mamak orang! Sini kasih aku kecupan dulu!"


Zahra tersenyum segera mengecup wajah suaminya dengan gemas dan bergantian dengan sang putra.


"Terimakasih,Sayang, Mas pengen kopi hitam saja seperti biasanya, gulanya dikit aja. Tapi banyakin senyum kamu biar nggak terasa pahit tuh kopi!"

__ADS_1


"Ya ampun meleleh aku, Mas, garing gombalan kamu itu! Muuuaachh..." Zahra tersenyum gemas sembari berlalu meninggalkan Yoga untuk membuat minuman.


Yoga hanya terkekeh mendengar jawaban sang istri. Memang dirinya selama ini tidak pandai menggombal. Hari-harinya banyak memikirkan urusan medis tidak sempat memikirkan hal yang romantis.


Dikamar Yandra tak tenang, perasaannya kacau balau. Ingin marah dan mengamuk tapi tak ada gunanya. Ia ingin meminta maaf kepada sang istri yang kini menghindarinya tak minat untuk di ganggu.


Ia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan perasaannya yang sedang ramas, campur aduk. Tetapi emang dasarnya pikiran dan hati tak ingin kompromi, maka Yandra memutuskan untuk keluar.


Tok! Tok!


Yandra mengetuk pintu kamar suster anaknya. Tidak berapa lama pintu itu terbuka.


"Sus, mana istri saya?" tanyanya dengan nada kacau


"Ibu, didalam lagi beri Adek Yanju ASI, Pak," Jawab suster.


"Saya ingin menempati kamar ini dan istri saya. Kamu dan temanmu bisa pindah di kamar saya sementara!" Perintah Yandra


"Baiklah, Pak. tapi kami tidak enak sama Ibu Fatimah," ujar suster itu.


"Tidak apa-apa, nanti saya yang bicara. ayo pergilah!"


Akhirnya sang suster menemui suster yang merawat Rara, mereka pindah ke kamar Yandra dan Fatimah. Sementara itu Fatimah tidak menyadari bahwa suster telah pindah, karena dia juga ikut terlelap bersama putranya.


Yandra menatap wajah Fatimah dengan penuh rasa penyesalan. Terlihat diwajah itu sisa kesedihan, matanya masih sembab.


Yandra mengecup kening Fatimah dengan pelan, dan ikut merebah di belakangnya. Yandra memeluk Fatimah dari belakang dan mengendus puncak kepalanya yang masih berbungkus oleh hijab.


Ternyata tidur berpelukan begini sungguh menenangkan jiwa. Ternyata pertikaian itu benar-benar tidak enak. apalagi jika ibu negara sudah marah maka kapal pesiar sebesar itu sunyi bagaikan tak berpenghuni!


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2