
Aku masih diam tertunduk tak bisa bicara apapun. ada rasa bersalah, kini aku menyadari bahwa cinta memang tak bisa dipaksakan. begitu juga perasaanku pada bang Yandra.
Aku tak bisa memaksakan kehendak. apakah sudah seharusnya aku mencoba membuka hati untuk Dr Yoga. tapi kembali lagi, aku tak bisa menjalani hubungan tanpa ada rasa cinta.
Entahlah. biarkan saja nanti waktu yang akan menjawabnya, yang jelas sekarang aku tak ingin memberi harapan apapun pada Pria baik ini. aku tak ingin membuat dia semakin berharap padaku.
Setelah mengungkapkan perasaan ia kembali menjalankan mobilnya untuk mengantarkan aku pulang, disepanjang perjalanan kami hanya diam, kini sudah tak seperti biasanya kecanggungan diantara kami semakin terasa . aku tidak tahu entah bagaimana perasaannya saat ini.
Maafkan aku, Dokter. aku tak bisa menjanjikan apapun tentang perasaanku.
***
"Terimakasih ya,Dok. apakah dokter ingin mampir dulu?" ujarku menawarkannya untuk mampir
"Lain kali saja,Fa. aku sedang ada urusan," tolaknya
"Oya,Dok. bagaimana kabar Rara?" tanyaku tiba-tiba teringat dengan gadis kecil periang itu.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja. yasudah kalau begitu aku pergi dulu, ya. sampaikan salamku untuk ibu," ucapnya menghindari percakapan panjang denganku.
Wajah kekecewaannya masih terlihat jelas. aku tahu tidak mudah menyikapi keadaan hati yang sedang kacau. tak ada yang bisa aku perbuat. aku hanya bisa bergumam dalam hati dengan satu kata yaitu Maaf.
Setelah aku turun. sedikit senyum ia ukirkan untuk menutupi rasa kecewa dan segera pergi membawa segala lara di hati.
Kenapa aku bisa mengatakan hal itu? seolah aku tahu sekali perasaannya. ya, tentu saja aku tahu, karena aku lebih dulu berada di posisi itu. saat Pria yang aku cintai menolakku secara terang-terangan di depan semua orang. meskipun dia tidak tahu perasaanku yang sesungguhnya sangat mencintainya.
Ya Allah. maafkan aku yang telah menyakiti perasaan Dr Yoga. sungguh aku tak bisa membalas perasaannya bila tak ada cinta dihatiku. kini kuserakahan semua takdir hidupku padamu ya Rabb. engkaulah yang maha membolak-balikkan hati hambaMu.
Kuhela nafas dalam untuk menghilangkan rasa bersalah yang bertumpuk dalam qalbu, ku ayun langkah pasti untuk masuk kedalam rumah. haruskah aku ceritakan semua kegalauan hatiku pada ibu?
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Fa, kamu pulang,Nak? kok tumben. anakmu gimana?" tanya ibu
"Iya,Bu. tadi aku sudah nyetok ASI untuk Yanju. aku kangen sama Ibu dan juga adik-adik. loh ayah tidak masuk kerja hari ini?" tanyaku saat melihat ayah sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Ayahmu izin hari ini tidak kerja karena sedang tidak enak badan," jelas Ibu
Aku menghampiri ayah yang terduduk lemas. "bagaimana keadaan ayah? apakah ayah sudah minum obat? kita berobat ke klinik terdekat saja ya,Yah?" tanyaku sembari duduk disisinya dan merasakan suhu tubuh ayah cukup tinggi.
"Tidak perlu,Nak. ayah sudah minum obat, ayah hanya butuh istirahat," ujar ayah menolak ajakanku.
"Baiklah, sekarang ayah istirahat ya. jika nanti sore kondisi ayah belum membaik, maka tidak ada alasan lagi ayah menolak untuk ke RS," aku segera memapah ayah ke dalam kamar untuk istirahat.
__ADS_1
***
Sore ini aku sudah bersiap untuk kembali ke kediaman keluarga Malik. namun sebelum kembali aku memastikan kondisi ayah terlebih dahulu. sebenarnya tidak tenang meninggalkan ayah dalam keadaan sakit, tapi aku juga mempunyai tanggung jawab pada putra kecilku.
Saat aku menemui ibu untuk menanyakan kondisi ayah,ibu mengatakan jika suhu tubuh ayah semakin tinggi panasnya.
"Sekarang kita bawa ayah ke RS terdekat saja ya,Bu." ujarku merasa cemas dengan keadaan ayah.
"Yasudah ibu ganti pakaian ayahmu terlebih dahulu." ibu mengikuti keinginanku untuk membawa ayah ke RS.
Aku segera keluar, duduk di teras sembari membuka aplikasi taksi online memesannya untuk membawa ayah ke RS. namun bang Yandra sudah datang menjemputku.
"Kamu sudah siap?" tanyanya berjalan mendekati aku.
"Sudah, tapi aku ingin membawa ayah berobat ke RS sebentar,Bang. nanti aku pulangnya biar naik taksi aja." jelasku
"Ayah sakit? apakah keadaannya parah?" tanyanya terlihat sedikit kaget.
"Suhu tubuhnya masih panas. mungkin ayah kecapean," jawabku
"Yasudah ayo kita bawa ayah ke RS sekarang,"
"Tapi aku sudah pesan taksi online,Bang,"
***
Kini aku sudah berada di RS Prof Malik. bang Yandra membawa ayah kesini. dan dia meminta agar ayah di rawat inap dan melakukan MCU (Medical check up) agar mengetahui penyakit ayah, dan menghindari dari penyakit komplikasi.
Setelah pemeriksaan selesai. kini ayah dibawa ke kamar rawat inap. bang Yandra menempatkan ayah di kamar VIP. dia begitu baik dengan keluargaku.
"Yah, aku pamit pulang dulu ya. nanti malam aku kesini lagi, aku tidak enak meninggalkan Yanju terlalu lama," ujarku pada ayah yang mulai membaik dan suhu tubuhnya sudah mulai normal. mungkin karena beliau mendapatkan penanganan yang intensif. ya, semua itu tak terlepas dari perintah bang Yandra pada pihak Dr yang menangani ayah.
"Pergilah,Nak. ayah sudah tidak apa-apa. kamu tidak perlu khawatir, ayah baik-baik saja,"
"Bu, aku pulang dulu ya. ibu tidak apa-apa aku tinggal sendiri 'kan?" tanyaku pada ibu
"Tidak apa-apa,Fa. nanti sebentar lagi Yusuf dan Najuwa datang menemani, Ibu."
"Bu, Yah. aku pulang nganterin Fatimah dulu ya. jika nanti ayah perlu sesuatu. telpon saja aku," bang yandra pamit pada ibu dan ayah dengan sopan.
Tapi aku heran, sejak kapan dia menukar panggilan yang biasanya Pak Eko, kini berubah menjadi "Ayah" ah entahlah. mungkin saja dia hanya ingin lebih akrab lagi dengan ayah dan ibu. lagipula apalah artinya sebuah panggilan
Aku dan bang Yandra menyusuri lorong RS untuk menuju lobby. namun kami berpapasan dengan dokter umum yang tadi merawat ayah. maka bang yandra menyuruhku menunggu di loby. dia masih ada urusan dengan Dokter itu.
__ADS_1
Aku duduk di kursi kosong yang ada di lobby RS, sembari menunggu bang Yandra, aku memainkan ponsel pintarku untuk menghilangkan kejenuhan. karena menunggu itu adalah hal yang sangat membosankan walaupun hanya sebentar.
"Fatimah..."
Suara itu mengalihkan perhatian dari layar pipih yang ada ditanganku. kuangkat wajah untuk melihat siapa orang yang berdiri dihadapanku.
"Ah, Dr Yoga. kok masih di RS?" balasku dengan senyum simpul.
"Iya, ada pasien yang harus aku tangani. kamu lagi ngapain disini? lagi nunggu siapa?" tanyanya
"Aku, lagi bawa ayah berobat. dan sekarang ayah sedang dirawat di RS ini," jelasku dengan jujur
"Benarkah? ayah sakit apa,Fa?"
"Tadi dari hasil pemeriksaan, ayah hanya kecapean. jadi imun tubuh ayah menurun sehingga ayah mengalami demam tinggi,"
"Jadi sekarang bagaimana dengan keadaan ayah?"
"Alhamdulillah sudah mulai membaik,Dok. hanya menunggu pemulihan saja,"
"Syukurlah. semoga ayah cepat sembuh. nanti aku akan jenguk ayah. di kamar mana ayah dirawat,Fa?" tanyanya
"Ayo pulang sekarang!"
Tiba-tiba suara itu memotong pembicaraanku dengan Dr Yoga. aku tidak jadi memberitahukan kamar rawat inap ayah. karena ajakannya yang menuntutku untuk segera beranjak.
"Dok, aku pulang dulu,ya," pamitku pada Dr Yoga.
"Iya, hati-hati. tapi tadi kamu belum menjawab pertanyaanku,Fa. ayahmu dirawat dikamar mana?" dr Yoga masih menanyakan hal itu. mungkin dia ingin menjenguk ayah.
"Maaf Dr Yoga. kami pulang dulu!" ujarnya ketus
"Dokter Yandra. saya tidak sedang bicara dengan anda. jadi biarkan Fatimah menjawab pertanyaan saya. kenapa sikap Anda berunjuk tidak suka dengan saya? apakah anda juga yang membuat jarak antara saya dan Fatimah?!"
Aku tidak menyangka Dr Yoga akan bicara seperti itu. aku hanya diam sembari menatap ekspresi wajah bang Yandra saat menanggapi ucapan Dr Yoga.
"Jika itu benar,Kenapa?" balas bang Yandra dengan datar
"Apakah anda cemburu dengan kedekatan saya dan Fatimah?"
Bersambung....
NB: jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🤗
__ADS_1
Happy reading 🥰