
"Apa yang kamu rasakan saat ini,Nak? katakan pada kami semuanya, kami akan membantumu!" Papa Malik kembali berusaha membawa Fatimah bicara.
Seketika itu Fatimah menegakkan tubuhnya dan mencari keberadaan sosok sang Ayah. ia segera beranjak dan menghambur dalam pelukan Ayahnya. Pak Eko memeluk erat anak gadisnya itu penuh haru dan kasih sayang.
"Ayah... aku malu, aku takut, aku marah, kecewa, aku sedih pada diriku sendiri,Yah! aku takut bayangan itu akan menjadi penyakit yang tak bisa aku sembuhkan... hiks..." ujarnya dengan tangis pilu, mengeluarkan semua yang ia rasakan kepada sang Ayah.
Bu Ida dan Mama Anggi, tak bisa menahan tangisnya saat mendengar Fatimah mengadu pada sang ayah. gadis itu terlihat begitu kacau.
"Tenanglah,Nak. kamu pasti bisa menyembuhkan. percaya dengan Ayah, yang harus kamu lakukan saat ini adalah tidak perlu menoleh kebelakang. Lihat Ayah,Nak!" Pak Eko merangkum kedua pipi Fatimah. "Kamu hanya perlu fokus dengan kebahagiaanmu. Bukankah sebentar lagi kamu akan menikah dengan Pria yang kamu cintai? apakah kamu tidak merindukan putramu setelah beberapa hari kamu meninggalkannya?"
Fatimah segera melerai pelukannya. ia menghapus air mata yang masih setia mengalir. "Yanju! ah, ya. Aku sangat merindukannya. Ma, mana putraku?" tanya Fatimah seakan pikirannya teralihkan oleh Yanju.
"Ada,Nak. sebentar Mama ambil Yanju ya, tadi dia sedang main dengan Bundanya." Dengan tergesa-gesa Mama Anggi naik ke atas untuk mengambil Yanju.
Tidak berapa lama Mama sudah turun dengan menggendong bayi mungil yang sudah beberapa hari ini tidak Fatimah temui. walaupun dia tetap mengirimkan ASI untuk putranya itu.
Fatimah segera berdiri dan menyongsong bayi itu. ia segera mengambil Yanju dari gendongan sang Mama.
"Sayang,ibu. Apa kabar,Nak? Maaf ya, ibu tinggalkan Anju. Ibu kangen banget,Nak." Fatimah mendekap tubuh bayi itu dengan sayang, dan mengecup seluruh wajah mungilnya
Yanju yang sudah merindukan sang ibu maka dia membalas pelukan Fatimah dengan tangan menggapai sembari merengek-rengek untuk meminta sumber kehidupan dari ibunya.
"Adek haus? Kita nen,dulu ya." Fatimah segera meminta izin untuk memberi bayinya itu ASI ke kamarnya yang ada dilantai dua.
Melihat keadaan Fatimah yang tidak stabil maka Bu Ida segera mengikuti Fatimah untuk menemaninya. sementara itu yang lainnya masih berada di ruang tamu.
"Yan, kami semua minta maaf karena telah berprasangka buruk padamu. Khusus diri Ayah, mengucapkan terimakasih karena telah menjaga Fatimah dengan sepenuh hati," ujar Pak Eko memohon maaf dan berterima kasih kepada calon menantunya itu karena telah menyelamatkan harga diri putrinya yang hampir ternoda.
__ADS_1
"Ayah tidak perlu minta maaf, karena itu sudah menjadi tanggung jawabku. Aku juga tahu segala kecemasan keluarga, tapi apa yang aku lakukan demi kenyamanan Fatimah, karena dia tidak siap bercerita masalah itu pada siapapun. Dia juga tidak mau jika keluarga disini merasa cemas dengan keadaannya."
"Baiklah, mulai sekarang kita jangan bahas itu di depannya. Kita tunggu rasa traumanya hilang, maka baru kita pikirkan kasus ini kembali!" jelas Papa Malik
***
Siang ini Fatimah baru selesai mengikuti ujiannya di sekolah, walaupun semua keluarga meminta dirinya menunda ujian itu, agar ia istirahat saja dirumah, namun gadis itu masih bersikukuh untuk menyelesaikan secepatnya.
Fatimah menunggu Yandra datang, karena kejadian itu keluarga setuju jika Yandra harus antar jemput Fatimah selama mengikuti ujian.
Saat ia sedang sibuk berbalas pesan dengan calon suaminya, sebuah mobil berhenti. Dokter Yoga turun dan menghampiri Fatimah.
"Mau pulang,Fa? Mari aku antar!" Ajak Dr Yoga.
"Maaf,Dok. Aku sudah ada yang jemput." Tolak Fatimah
"Hmm, ya." Fatimah membenarkan
"Fa, apakah benar kalian akan menikah?" Tanya Dr Yoga, karena merasa sudah tak mempunyai kesempatan lagi untuk bicara maka di pertemuan singkat itulah ia ingin memastikan berita yang ia dengar di RS tentang akan dilangsungkan pernikahan Dr Yandra dan Fatimah dalam waktu dekat ini.
Fatimah memberanikan diri untuk menatap Dr Yoga. Terlihat diwajah Pria itu kekecewaan yang mendalam. Namun Fatimah harus jujur dia ingin Dr Yoga segera melupakannya.
"Dok, memang benar. Aku dan Dr Yandra akan segera menikah. Mulai sekarang tolong lupakan perasaan Dokter padaku, karena sebentar lagi aku akan menjadi istri orang lain maka tidak baik jika Dokter masih menyimpan perasaan itu. Sekali lagi aku minta maaf jika aku tidak bisa membalas perasaan,Dokter. Cinta tidak bisa dipaksakan."
Fatimah menegaskan ucapannya agar Dr Yoga segera melupakan dirinya. Walau terdengar egois namun demi kebaikan bersama. Fatimah tidak mau di saat dia sudah menjadi istri Yandra, tetapi diluar sana masih ada lelaki yang mengharapkan cinta darinya atau masih berhayal, itu akan menambah dosa untuknya.
Yoga menatap wajah teduh Gadis itu. "Apakah kamu bahagia menikah dengannya?"
__ADS_1
"Tentu saja dia bahagia! Karena kami saling mencintai. Aku minta mulai sekarang, Anda jangan pernah datang menemui calon istriku lagi!" Tiba-tiba Yandra menyela pembicaraan mereka.
"Ayo, Sayang. Kita pulang sekarang!" Yandra segera membawa Fatimah berlalu dari hadapan Yoga.
***
Yoga menatap kepergian sepasang kekasih itu dengan sendu. Tidak berapa lama hujan turun begitu deras namun Pria itu belum beranjak dari tempat ia berdiri. Sepertinya ucapan dan peringatan dari mereka membuat Yoga menelan pahitnya kenyataan.
Hujan mengguyur tubuhnya dan angin menghembus dengan lembut sehingga rasa dingin itu menusuk ketulang. dengan langkah gontai Yoga meninggalkan pekarangan sekolah.
Dibawah derasnya hujan. Yoga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, entahlah dia tidak bisa menahan rasa sakit dihatinya, kata-kata Fatimah begitu menyakitkan baginya.
"Begitu tidak berartikah diriku dimatamu Fatimah? Bahkan untuk mencintaimu secara sepihak saja aku tidak di perbolehkan! Haaahh!!" Yoga memukul stir mobilnya berulang kali dengan mata memerah dan cairan asin itu merembes di sudut matanya.
Yoga menepikan mobilnya, ia menungkupkan wajahnya di stir mobil, sesekali Pria itu mengadu kepalanya dengan roda bulat itu dengan Isak frustasi.
Batinnya terasa sakit, karena ia sangat mencintai Fatimah sejak pandangan pertama. jujur saja Yoga tidak pernah jatuh cinta semenjak perceraiannya dengan mantan istri. Karena rasa trauma gagalnya dalam berumah tangga membuat Pria itu menutup pintu hati untuk wanita manapun, namu kehadiran Fatimah menggoyahkan hatinya.
Yoga masih larut dalam lamunan dengan tatapan hampa, ia berusaha untuk mengatur nafas untuk menetralkan perasaan yang sedang membuncah.
Merasa sudah cukup tenang. Yoga kembali ingin melajukan kendaraannya,namun niatnya urung saat matanya tanpa sengaja melihat seorang wanita hamil tua yang sedang di kejar oleh beberapa orang preman jalanan.
Wanita itu terlihat begitu sulit untuk berlari karena perutnya yang sudah membesar maka membuat langkahnya tak bisa lebih cepat.
Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya 🙏🥰🤗
__ADS_1