Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Ungkapan perasaan Yandra


__ADS_3

Setelah mendapatkan hasil jepretan fotografer keliling itu. Yandra tersenyum puas melihat hasilnya. ia menatap wanita cantik disampingnya itu.


"Fa, lihatlah kita sudah seperti satu keluarga kecil yang utuh ya," ujarnya menunjukan pada Fatimah.


"Ya, tapi nggak enak saja jika dilihat orang,Bang," jawab Fatimah sembari mengamati foto yang berukuran 4x6 itu.


"Biarin aja, malahan aku bangga," jawab Yandra tersenyum semirk


"Kok bangga,Bang? malu nanti tumbuhnya fitnah," balas Fatimah


"Biar nggak tumbuh fitnah, bagaimana jika kita ujudkan kenyataannya?"


Fatimah yang sedang fokus dengan foto seketika menatap Yandra dengan tatapan tidak mengerti. "Maksud Abang?"


"Fatimah, apakah kamu masih mau menikah dengan Abang?" tanya Yandra serius


Fatimah menjadi salah tingkah dan wajahnya berubah menjadi merah merona. apa yang barusan ia dengar rasanya bagaikan mimpi.


"Kenapa diam,Fa? apakah kamu tidak mau menikah dengan Abang?" kali ini pertanyaan itu semakin lembut


"Bang, apakah Abang serius dengan pertanyaan itu? terus bagaimana dengan hubungan Abang dan Widi?"


Yandra menghirup udara sepenuh dada. sepertinya sudah saatnya ia menjelaskan semuanya kepada wanita yang kini sudah memenuhi hati dan pikirannya.


"Fatimah, Abang sudah mengakhirinya. jujur selama kami menjalani hubungan singkat ini, Abang tidak merasakan apa-apa. bahkan hati Abang tidak bergetar saat bertemu dengannya. mungkin Abang hanya terobsesi tapi tidak ada cinta. lain halnya perasaan Abang denganmu. saat kita bersama, hati Abang selalu berdebar, Abang selalu cemburu dan takut kehilangan jika kamu dekat dengan Pria lain. jika kamu tanya perasaan apa itu? maka jawabannya adalah, Abang mencintai kamu,Fa. Abang ingin membuktikan janji yang pernah Abang ucapkan beberapa hari yang lalu dalam bentuk mewujudkan keseriusan Abang untuk meminang kamu. Fatimah, apakah kamu bersedia menikah dengan Abang?"


Pertanyaan Yandra membuat mata wanita itu berkaca-kaca, Fatimah masih belum percaya dengan semua ungkapan dari pria yang Amad dia cintai itu. hanya air mata yang terlebih dahulu mengekspresikan perasaannya yang terlalu bahagia.


"Fa, kamu kenapa nangis? apakah kamu tidak suka dengan ungkapan perasaan Abang? apakah ini terlalu menyakiti hati kamu?" pertanyaan Yandra beruntun, perasaannya was-was takut jika cinta wanita itu telah hilang.


"Bang, rasanya aku masih belum percaya dengan semua ini. apakah Abang serius dengan segala ucapan Abang?" ujar Fatimah sembari menghapus air matanya.


"Fatimah, insyaAllah Abang serius dengan segala ucapan Abang, niat Abang tulus ingin meminang dan menjadikan kamu bidadari surga dalam hidup Abang. apakah kamu masih mencintai Abang?" Pria itu balik bertanya tentang perasaan gadis itu


Fatimah tidak langsung menjawab tetapi wajahnya kembali merona. dan memalingkan dari tatapan Pria yang baru saja membuat hatinya bahagia luar biasa.


"Hei, kenapa berpaling muka? apakah kamu malu mengakuinya, tapi Abang ingin mendengarnya secara langsung dari bibir kamu!" Yandra menatap wajah gadis itu semakin dalam.

__ADS_1


Dengan perlahan Fatimah memberanikan diri menatap bola mata hitam kecoklatan itu. "Bang, sejak awal pertemuan kita, aku sudah jatuh cinta hingga sekarang perasaan itu belum berubah. aku pernah berusaha untuk menghapusnya saat Abang menolakku waktu Mama ingin kita menikah. namun semakin aku mencoba maka bathinku semakin sakit. hingga akhirnya aku mencoba mengikhlaskan segala takdir dari Allah, namun percayalah,Bang. namamu selalu ada dalam Do'aku.Terimakasih Abang sudah membalas perasaan yang ku anggap tak bertuan ini!"


Kini giliran Yandra yang terharu dengan ungkapan perasaan gadis itu. dia merasa bersalah pernah membuat wanita yang ia cintai berada di dalam kekecewaan.


"Maafkan Abang,Dek. maaf jika Abang pernah menjadi lelaki bodoh yang pernah mengabaikan perasaan wanita cantik nan Sholeha sepertimu," sesal Yandra sembari mengusap kepala Fatimah yang ditutup hijab itu dengan lembut.


Fatimah tersenyum malu mendengar panggilan Yandra dengan sebutan "Adek" hatinya benar-benar bahagia.


"Kenapa tersenyum? apakah kamu senang dengan panggilan baru dari Abang?" ujar Pria itu kembali menggodanya


"Apa sih, Bang. lagian kenapa Abang menukar panggilan?" tanya Fatimah malu


"Mulai sekarang itu adalah panggilan Sayang Abang untuk kamu."


"Abang bisa aja,"


"Serius, itu panggilan Abang dari sekarang hingga kita sudah menikah dan walaupun nanti kita sudah punya banyak anak dan cucu, panggilan itu tidak akan pernah berubah," ujar Yandra serius


"Terimakasih Bang, sudah membuat aku bahagia,"


"Jangan berterima kasih,Dek. bukan kamu saja yang bahagia tetapi Abang juga sangat bahagia dengan hubungan kita ini."


Mereka saling bertatapan dan mengukir senyum kebahagiaan untuk menggambarkan hati mereka masing-masing.


"Sekarang kita pulang yuk. nanti Abang akan bicarakan hal ini dengan Mama dan Papa, untuk menentukan kapan hari yang pas untuk kami datang meminang adek."


Fatimah tersenyum dan mengangguk patuh. semabari mengekor dibelakang Yandra yang menggendong Yanju.


***


Setelah sampai dikediaman keluarga Malik. Fatimah segera bergegas untuk turun. namun niatnya urung.


"Fa, tunggu sebentar!" ucap Yandra


"Ada apa,Bang?" tanya Fatimah


"Kok buru-buru Amad? nggak pengen kasih hadiah dulu buat Abang?"

__ADS_1


"Hadiah? maksud Abang?"


"Cipika-cipiki gitu!" ucap Yandra absurd


"Ya ampun, Abang!" mata gadis itu melotot


"Hehehe... Abang bercanda,Dek. santai Sayang. jangan terlalu serius,"


"Abang ih, ngeselin!" gadis itu memberengut


"Ngeselin tapi cinta 'kan?"


"Udah ah, aku mau turun. nanti nggak enak dilihat Mama!"


"Eh,eh... tunggu dulu! kalau Adek tidak mau kasih Abang hadiah, tapi Abang yang akan kasih Adek!"


Fatimah menatap seram pada Yandra. jantungnya mendadak cenat cenut. entah apa yang sedang ia bayangkan hadiah yang akan diberikan oleh Pria yang sedikit mesum itu.


Yandra menjangkau paper bag kecil yang ada di bangku belakang kemudi. "Dek, ini buat kamu," Pria itu menyerahkan pada Fatimah


"Ini buat aku,Bang?" tanya gadis itu sumringah


"Iyalah buat Adek. nggak mungkin buat Widi," goda Yandra


"Ish, nggak asyik ah bawa-bawa nama mantan!"


"Hehehe... bercanda, Sayang. gimana suka nggak?"


"Ya, suka banget. malahan pilihan sendiri," ujar Fatimah mengingat calon imamnya itu saat meminta pendapat tentang parfum itu.


"Syukurlah jika kamu suka. tapi jangan lupa dipakai saat malam pertama kita nanti ya!" kembali jiwa mesumnya keluar yang membuat gadis itu mencebik kesal


"Ya Allah,Bang. istighfar! mesum banget tuh otak. belum juga nikah pikirannya udah kesana aja!" geram gadis itu dengan mimik wajah menggemaskan


"Hahaha... ya nggak apa-apalah,Dek. belajar dari sekarang memikirkan hal itu biar nanti nggak terlalu canggung saat tiba hari H nya!"


"Ya Allah,Bang. udah ah. aku mau keluar, kalo lama-lama aku dengar cerita Abang, otakku bisa terkontaminasi oleh pikiran mesum!" sungut gadis itu segera keluar dari mobil, dan di ikuti oleh tawa Yandra yang tak henti melihat wajah calon istrinya itu yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2