Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Trauma


__ADS_3

Setelah tiga hari mengikuti Diklat. malam ini Fatimah dan Yandra segera balik ke kota Medan. karena harus menyelesaikan segala sesuatu mengenai pekerjaan. terutama Fatimah. dia masih mempunyai empat hari lagi untuk mengikuti ujian.


Ditengah perjalanan pulang Yandra dapat telpon dari Papa Malik.


Kamu dimana Yan?


"Ini lagi dijalan, Pa. arah balik."


Apakah kamu bersama Fatimah?! tanya Papa dengan nada sedikit tinggi


"Ah, iya, Pa. kebetulan Fatimah juga sudah selesai dengan ujiannya disini jadi aku jemput dia sekalian." jawab Yandra berbohong


Segera bawa kerumah! sambungan telepon terputus secara sepihak. sepertinya Papa Malik sedang marah


Fatimah yang mendengar karena Yandra menloudspeakerkan ponselnya. ia menatap Yandra dengan raut wajah cemas, bahkan dia mendengar Papa Malik meminta mereka datang menghadapinya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja!" Yandra mengusap kepala Fatimah dengan lembut. ia tahu jika gadis itu sedang cemas.


"Tapi bagaimana jika mereka tahu bahwa Abang selama ini menemani Adek? Adek takut,Bang." lirihnya


"Jangan takut,Sayang. sudah! jangan pikirkan hal itu. kita akan tahu jawabannya nanti."


***


Membutuhkan waktu satu setengah jam perjalanan mereka sudah sampai dikediaman keluarga Malik Saputra.


Waktu menunjukkan pukul 21.15, Yandra dan Fatimah segera masuk untuk menemui sang Papa.


Saat mereka sudah berada di ruangan tamu, Fatimah terperanjat melihat kehadiran kedua orangtuanya disana ikut bergabung dengan calon mertuanya. Fatimah menatap wajah ayah dan ibunya terlihat sangat kecewa.


Fatimah sangat merasa bersalah, dia pasti sudah sangat mempermalukan mereka. tentu saja Ayah sangat malu melihat kelakuan anak gadisnya yang selama ini ia jaga dengan penuh kasih sayang dan ia jaga agamanya dengan baik tapi kenapa sekarang ia mencoreng malu diwajahnya.

__ADS_1


Begitu juga Papa Malik dan Mama Anggi. mereka juga menatap dengan kekecewaan. Fatimah hanya bisa menunduk, walaupun sebenarnya mereka tidak melakukan zi na tapi dengan tidur satu kamar akan menimbulkan dugaan. di jaman sekarang mustahil rasanya sepasang kekasih tidak bercinta saat mereka berada dalam satu kamar.


Mungkin sebagian orang memang begitu. tapi tidak dengan Fatimah dan Yandra. mereka benar2 tidak melakukan apapun. bahkan untuk berciuman saja mereka hindari. apalagi Fatimah ia sangat menjunjung tinggi harga dirinya. ia tidak akan melakukan hal itu sebelum menikah.


"Duduk!" titah Papa Malik dingin


Fatimah dan Yandra segera duduk. Yandra menatap Fatimah yang sudah menunduk. yandra menyadari bahwa Papanya sangat mudah untuk mencari tahu informasi tentang dirinya. ia sangat tahu sekali jika sang Papa orang yang sangat berpengaruh di kota ini.


"Katakan Yandra, kenapa kalian membuat malu keluarga kalian sendiri? apa yang ada dalam fikiran kalian itu? bukankah kalian sebentar lagi akan segera menikah! tapi kenapa kalian bersikap seperti ini?! benar-benar memalukan!" cecar Papa Malik dengan emosi.


Fatimah semakin takut mendengar suara Papa Malik yang begitu tinggi. baru kali ini ia mendengarkan Papa Malik bicara penuh emosi. dengan air mata berderai Fatimah meremat jemari-jemarinya untuk menghilangkan rasa takut dan gugup


"Pa, Ma. ini semua salah Aku. jangan salahkan Fatimah. aku yang meminta untuk menemaninya. tapi aku pastikan Fatimah masih suci. kami tidak melakukan apa-apa. aku hanya ingin melindungi calon istriku!" jelas Yandra dengan tegas.


"Benarkah? kamu kira kami sebagai orangtua akan percaya begitu saja? dengan mengatakan sedemikian agar kami tidak curiga toh sebentar lagi kalian juga akan dinikahkan, benar 'begitu?" tuding Papa Malik yang belum mereda


Sementara ayah dan ibunya Fatimah hanya bisa diam. karena mereka merasa bahwa putri mereka memang bersalah.


"Trauma...?" mereka serentak mengatakan hal itu


"Trauma bagaimana maksud kamu,Yan?!" tanya Mama Anggi dan di ikuti tatapan kedua orangtua Fatimah.


Akhirnya Yandra tidak bisa menutupi peristiwa itu. ia tidak ingin orangtuanya dan orangtua Fatimah semakin salah paham. dan ia juga tidak ingin Mama dan Papa hilang kepercayaan pada gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


Yandra menatap Fatimah. sementara mata Fatimah seakan ingin minta jawaban atas apa yang harus mereka katakan. namun Yandra sedikit mengangguk untuk meyakinkan gadis itu bahwa mereka tidak bisa menutupi masalah itu.


"Sebenarnya, malam pertama Fatimah berada di sana. aku memang menyusulnya karena merasa cemas saat aku tidak mendapatkan kabar dari Fatimah. namun saat aku sudah berada di hotel tempat Fatimah menginap. maka aku mendengar teriakan Fatimah melalui ponselnya yang belum sempat ia putus setelah kami selesai bicara. dan ternyata Fatimah hampir saja ingin di perkosa oleh seorang Pria mabuk saat dia ingin turun menemui aku.


Dan Fatimah sangat syok. dia benar-benar ketakutan. terus aku berniat untuk menemani Fatimah selama dia mengadakan ujian. karena aku tidak berani meninggalkannya sendirian disana." akhirnya Yandra menjelaskan semua peristiwa itu


"Astaghfirullah... Nak, kamu tidak apa-apa? kenapa kamu tidak beri kabar ibu?" uajr Bu Ida segera memeluk putrinya sedari tadi sudah terisak saat mendengar Yandra menceritakan peristiwa yang begitu menakutkan baginya.

__ADS_1


Fatimah kembali takut saat mengingat malam itu. ia berusaha untuk melupakan kejadian itu. namun malam ini ia seperti memutar rekaman di memory otaknya.


Mama Anggi segera menyongsong Fatimah. dia melihat kembali wajah trauma gadis itu saat mendengar Yandra menceritakan hal itu. sementara Papa Malik menggeram. sembari kembali duduk.


"Siapa pelakunya,Yan?" tanya Papa Malik


"Ternyata pelakunya adalah pemilik hotel itu sendiri,Pa." jawab Yandra


"Apakah kamu sudah membereskannya?"


"Aku ingin melaporkannya malam itu juga, tetapi Fatimah meminta untuk tidak memperpanjang kasus itu, karena dia tidak sanggup untuk bertemu dengan pelaku itu di persidangan nanti. aku terpaksa mengikuti keinginan Fatimah,Pa. aku tidak ingin rasa traumanya datang kembali saat bertemu orang itu!" jelas Yandra panjang lebar.


"Bagaimana, Eko? apakah kita lanjutkan kasus ini? kalau soal persidangan kita bisa membuat surat pernyataan dari RS jika Fatimah mengalami trauma berat agar tidak datang di persidangan!" Papa Malik meminta pendapat kepada calon besannya.


"Saya sebagai seorang ayah tentu saja menginginkan keadilan untuk Putri saya, tapi kembali lagi kepada Fatimah. apakah kamu bersedia,Nak?" tanya Ayah mengusap lembut kepala sang anak.


Fatimah segera menggelengkan kepalanya. "Aku mohon, tolong jangan bahas itu lagi! aku mohon!!" ia memohon untuk tidak lagi menyebut masalah itu. dia kembali terbayang bagaimana Pria itu merobek pakaiannya dengan penuh hasrat dan menjamah area tubuh sensitifnya. rasanya itu bagaikan momok menakutkan bagi Gadis itu.


Fatimah menangis tergugu sembari menunduk menyembunyikan wajahnya di kedua lipatan tangan yang bertumpu di lututnya, dengan mata tertutup rapat.


"Pa, sudah. jangan bicarakan hal itu lagi! sepertinya Fatimah sangat ketakutan dengan kejadian itu. jangan membuatnya semakin trauma mengingat hal itu!" ujar Mama Anggi.


Papa Malik yang melihat keadaan calon menantunya itu segera mendekati Fatimah. Mama Anggi bergeser memberikan ruang untuk Papa duduk disisi Fatimah.


Sementara itu Ibu Ida tak bisa menahan tangisnya. ia menatap keadaan Fatimah. gadis itu tidak ingin membuka matanya dia menutup mata itu dengan rapat. kejadian itu menjadi trauma berat dalam hidupnya.


"Nak, ini Papa. ayo buka mata kamu. kamu marah dengan Papa 'kan? ayo lihat Papa sekarang!" ujar Papa Malik dengan suara bergetar, ia merasa bersalah sudah membuat rasa trauma gadis itu datang kembali.


Yandra tak kuasa menahan air mata. ia mengepalkan tangannya menahan gejolak hati yang terasa sakit melihat keadaan calon istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2