Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Minta maaf


__ADS_3

"Yandra! Ah, aku bisa jelaskan semuanya!" Ujar Yoga


"Apa yang ingin kamu jelaskan? Aku sudah melihat semuanya! Jadi ini alasan kamu tidak ingin menungguku,Fa?!" Tuding Yandra berapi-api pada Yoga dan Fatimah


"Astaghfirullah. Abang salah paham!"


"Sudah cukup! Ayo ikut aku!" Yandra meraih tangan Fatimah dan membawanya dengan kasar


"Yan, dengarkan aku dulu! Kamu jangan kasar begitu dengan Fatimah!" Sanggah Yoga mencoba menahan langkah Yandra


"Awas aku bilang! Apakah kau ingin aku menghajarmu disini!" Ujarnya pada Yoga dengan amarah.


Yandra segera membawa Fatimah naik ke Dek 10 Melalui pintu lift digunakan Yandra tadi yang ada di pojok kiri.


Saat Yandra dan Fatimah telah pergi Yoga berniat ingin mengejar mereka, ia harus menjelaskan yang sebenarnya, ia tidak ingin Yandra menjadi semakin salah paham.


"Mau kemana,Mas? Apakah kamu tidak rela melihat wanita yang kamu cintai itu di sakiti oleh suaminya?!"


Seketika langkah Yoga terhenti saat mendengar pertanyaan dan tudingan yang menyakitkan baginya.


"Zahra! Kamu sejak kapan disini? Apa maksud kamu bicara seperti itu?!" Tanya Yoga sedikit kesal


"Sejak kamu berbimbingan mesra!" Jawab Zahra sembari mendekati Yoga.


"Dek, kamu dan Yandra hanya salah paham! Apa yang kalian lihat tidak seperti yang kalian bayangkan!" Yoga berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya, tetapi sepertinya mereka tidak mempercayai.


"Benarkah begitu? Bukti apa yang bisa kamu berikan jika ini semua hanya salah paham? Mana ada semuanya serba kebetulan!" Zahra segera berlalu meninggalkan Yoga.


Ya, Zahra memang sengaja mencari Yoga karena tadi Pria itu pamit untuk membeli buah untuk Rara di minimarket, tetapi lama tak kunjung datang maka dengan menggendong Arfan ia turun untuk menyusul. Namum, di dalam lift ia bertemu dengan Yandra yang juga akan menyusul Fatimah.


Setibanya di lantai tujuh mereka berjalan bersama karena tujuannya sama yaitu ke mini market, tetapi mereka sama-sama terperangah melihat pemandangan itu. Zahra sedikit menjarak karena dia sedang membawa Arfan, dia tidak ingin suara ribut-ribut akan berpengaruh dengan bayinya.


***

__ADS_1


Setibanya di kamar Yandra menghempaskan tangan Fatimah dengan kasar. Amarahnya masih memuncak.


"Bang, dengarkan Adek dulu! Abang hanya salah paham! Tadi aku tidak sengaja...-"


"Tidak sengaja apa?! Tidak sengaja bertemu denganku dan menggagalkan rencana kencan kalian! Begitu 'kan?!" Potong Yandra dengan segala tuduhannya.


"Cukup, Bang! Kenapa kamu tidak mau mendengarkan semua penjelasanku?!" Fatimah tak kalah kesal menghadapi kecemburuan Yandra yang sudah menghilangkan akal sehatnya.


"Kamu mau menyangkal apa lagi, Fa?! Aku sudah melihat bagaimana kamu dan Yoga bergandengan dengan mesra! Bahkan Pria itu dengan mesra merangkulmu! Jika kamu memang masih mencintai Pria it'u kenapa kamu tidak menikah dengannya saja!!" bentak Yandra dengan segala tuduhan yang menyakiti hati sang istri.


"Buruk sekali pikiran kamu, Bang! Beginikah cara kamu menyelesaikan masalah tanpa harus memberi kesempatan dengan istrimu untuk menjelaskannya? Baiklah jika kamu tidak bisa memberiku kesempatan maka aku sendiri yang akan membuktikan bahwa tuduhan kejimu itu adalah salah!!"


Fatimah beranjak dan kembali keluar dari kamar hotel itu, Yandra yang melihat ekspresi sang istri begitu marah, ia bergegas mengejarnya


"Fatimah, tunggu!" Yandra berusaha mengejar Namun, wanita itu tak menghiraukannya


Saat Fatimah ingin masuk lift, Yoga dan Zahra keluar. Zahra menatap Fatimah dengan wajah datar, seakan dirinya merasa tersudutkan.


Didalam lift mereka hanya diam seribu bahasa. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Fatimah untuk membuktikan bahwa mereka memang salah paham.


Setibanya di lantai 7, Fatimah bergegas menuju resepsionis. Wanita itu tampak berjalan begitu tergesa-gesa dengan air mata masih menetes. Hatinya begitu sakit karena orang yang begitu ia cintai tidak mempercayainya.


"Selamat sore Nona! Ada yang bisa kami bantu?" Pegawai resepsionis itu menyapa dengan ramah.


"Begini Mbak, sore ini sekitar kurang lebih 20 menit yang lalu saya hampir dilecehkan dengan segerombolan turis asing! Apakah bisa dilihatkan rekaman cctv nya?"


"Benarkah? Dimana posisinya Nona?" Tanya pegawai itu terkejut. "Kenapa tidak membuat laporan saja, karena pihak kami menyediakan layanan untuk laporan tindak kriminal di awak kapal ini!" Jelas pegawai itu.


"Saya, pikirkan nanti Mbak, saya ingin melihat rekaman cctv itu sekarang! Kejadiannya di depan pintu lift Nomor 3," jelas Fatimah.


"Baik, sebentar kami periksa ya!" Yandra dan yang lainnya segera menatap layar monitor itu


Benar terlihat jelas disana ada empat orang WNA yang akan memasuki lift bersamaan dengan Fatimah Keluar. Salah seorang dari mereka meraih tangannya dan salah satunya lagi mencolek hidung mancung Fatimah.

__ADS_1


Direkaman itu terlihat Fatimah memberontak dengan wajah ketakutan saat mereka memaksa menariknya untuk masuk kedalam lift kembali.


Di menit kemudian Yoga datang dan menolong Fatimah untuk lepas dari gangguan turis asing itu.


Seketika wajah Yandra dan Zahra berubah.Tak bisa di gambarkan, rasa bersalah dan malu. Fatimah menatap Yandra dan Zahra secara bergantian.


"Sudah puas? Seharusnya kamu berterima kasih kepada dokter Yoga Bang! Bukan bertindak mengemukakan amarahmu! Bahkan sebelum dia memegang tanganku dokter Yoga sudah meminta maaf kepadaku, dia hanya ingin melindungi aku! Untuk Zahra, aku minta maaf telah membuat kekacauan ini! Tapi demi Allah aku tidak bermaksud untuk menggoda dokter Yoga. Sekali lagi atas diriku. Aku ucapkan terimakasih banyak Dok, maaf sudah membawa dokter dalam masalah ini!"


Fatimah segera meninggalkan mereka, hatinya begitu sakit, rasanya ia ingin pulang saja. Sayangnya kapal sudah berada di tengah lautan. Fatimah duduk di balkon sembari menangis terisak-isak.


Kenapa Pria itu masih belum berubah? Kenapa dia masih selalu egois. Kata-kata tuduhan Yandra sangat menyakitkan.


Saat Fatimah masih larut dalam kesedihan, Yandra duduk disisinya. Wanita itu menggeser duduknya, hatinya masih sakit, tidak semudah itu memaafkan.


"Dek, Abang minta maaf," lirihnya


"Tidak semudah itu,Bang! Apakah Abang tahu bagaimana sakitnya perasaanku saat ini? Bahkan Abang tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan! Abang tega menuduhku tanpa perasaan!" Ujar Fatimah dengan berapi-api.


"Iya, Abang tahu, Abang salah! Tolong maafkan Abang! Semua yang terucap karena Abang cinta dan terlalu takut kehilanganmu! Tolong mengerti perasaanku Dek!"


Fatimah menyorot Yandra dengan tajam. "Benar-benar egois kamu, Bang! Dengan beralasan cinta Abang minta di mengerti? Terus... Bagaimana dengan diriku? Apakah dengan mengerti dirimu Aku harus menerima segala tuduhanmu? Heh! Itu bukan cinta Bang! Bulshit! Cinta tak se egois itu Bang, bahkan cinta tak akan tega menyakiti pasangannya!"


Fatimah beranjak meninggalkan Yandra, wanita itu benar-benar kesal mendengar kata-kata sang suami, sudah tahu salah masih saja minta di mengerti.


Bersambung....


Jangan lupa kasih dukungannya ya. Tekan vav juga 🙏


Happy reading 🥰


Jangan lupa mampir di karya baru author yang tak kalah seru 🙏


__ADS_1


__ADS_2